WIND WINDERS PACK

WIND WINDERS PACK
PART 11


__ADS_3

Alex memandangi peta hologram yang terpampang di depannya. Semua wilayah Wind Winders tergambar jelas beserta garis perbatasan yang tegas, memisahkan kawasan Wind Winders dengan kawasan lainnya


"Beberapa Rogue sempat menyerang di perbatasan Schy Land, dekat dengan perbatasan wilayah kita. Mereka sepertinya bersembunyi dalam hutan sehingga keberadaannya sukar dilacak." Lapor Evan.


Alex mengangguk, semalam Aaron sudah menceritakan sedikit tentang serangan Rouge di perbatasan Schy Land dan Wind Winders sehingga dirinya tidak terkejut dengan berita yang dibawa Evan


"Apa ada yang tertangkap?" Tanya Alex tanpa mengalihkan pandangan matanya ke arah peta hologram di depannya


"Beberapa mati di penyerangan, sebagian besar melarikan diri. Paman Nick hampir menginterogasi salah satunya, tapi orang itu di bunuh dengan panah dari arah belakang."


Kening Alex berkerut. Seorang Werewolf tidak akan mati dengan mudah hanya karena tertusuk panah, kecuali..


"Panah beracun.." Alex berbalik menatap ke arah Evan. Pria itu mengangguk


"Dari baunya, paman Nick menyimpulkan itu adalah tanaman wolfsbane yang di campur sesuatu sehingga dengan cepat menyebar ke aliran darah dan menghambat pernafasannya." Jelas Evan


"Kejam sekali. Mereka membunuh anggota sendiri." desis Alex


"Mereka adalah Rogue, kak. Mereka lebih mementingkan diri sendiri." Ujar Evan


"Darimana mereka mendapatkan Wolfsbane? Sepengetahuanku tidak ada yang berani menanam tanaman itu.." gumam Alex bermonolog sambil mematikan peta hologram di depannya. Pria itu kembali duduk di kursinya lalu mulai mencari-cari sesuatu dengan laptopnya


"Apa yang kau cari, kak?"


"Aku sedang mencari tahu tentang wolfsbane dan penawarnya. Untuk berjaga-jaga kalau para Rogue akan menggunakannya lagi." Kata Alex tanpa mengalihkan pandangannya


Evan mengangguk-angguk. Pria itu menyibukkan diri dengan melihat-lihat beberapa file yang berada di meja Alex. Mata Evan tertumbuk pada satu CV lengkap dengan foto.


"Reina Sterling. Bukankah dia gadis yang kau temui kemarin, kak?" Tanya Evan sambil menunjuk foto Reina.


"Jangan dilihat terlalu dekat. Dia calon kakak iparmu." Kata Alex sambil menarik dan menyembunyikan foto Reina


Evan terkekeh sambil mengangkat tangannya. Pria itu duduk berseberangan dengan Alex


"Aku tidak pernah melihat gadis itu di Vadre Land. Darimana kau tahu dia adalah mate mu?" Tanya Evan mulai serius


Alex menghentikan pekerjaannya dan balik memandang Evan dengan tajam "Kau meragukan kemampuan ku?"


"Tidak, kak. Kau tahu aku tidak pernah meragukan dirimu."


Alex menghembuskan nafasnya sambil menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Mata Alex menerawang seolah mengingat kejadian kemarin. Sebersit senyuman terbit di bibirnya, sebuah pemandangan yang langka.


"Aku merasakannya, E. Wangi gadis itu bagaikan magnet yang membuatku ingin terus bersama dengan dirinya."


Evan tersenyum mendengar ucapan dan melihat mimik wajah Alex. Selama hidupnya, Alex adalah pribadi yang serius dan kaku. Alex memang dipersiapkan lebih dibandingkan Evan karena selain Alex adalah anak pertama, juga karena menutupi kekurangan yang dimiliki Alex yakni tidak bisa bertransformasi. Apalagi saat Alex memenangkan posisi Alpha, Evan merasa beban yang dipikul Alex bertambah


Kini dengan ditemukannya Reina, Evan dapat melihat sisi lain dari Alex. Sisi yang hangat dan lembut. Mungkin benar Reina adalah mate Alex yang akan menyempurnakan hidup Alex.


"Jadi, dimana dia sekarang? Aku tidak melihatnya." Tanya Evan


Biasanya saat seorang Werewolf menemukan mate nya, mereka selalu menempel layaknya perangko di beberapa bulan pertama


Wajah Alex seketika muram "Dia butuh waktu untuk menerima diriku.."


Seketika wajah Evan ikut berubah "Dia tidak menolakmu kan kak?"


Alex menggeleng "Dia bukan bangsa kita. Dia manusia, E."


Alex tahu, perasaan seorang Werewolf kepada mate nya memang selalu lebih besar. Akan bagus kalau mate nya berasal dari jenis yang sama karena perasaan cintanya pun akan sama besar. Namun kasus Reina berbeda. Reina bukan seorang Werewolf. Akan butuh waktu dan proses yang lebih panjang sebelum mengikat Reina menjadi mate nya.


"Kata Elder Eqwin, kami harus saling mencintai terlebih dahulu baru dia bisa memanggil keluar jiwa serigalaku." Ucap Alex lagi


"Kau mencintainya?"


"Kupikir begitu, ternyata kata Elder Eqwin itu hanyalah perasaan in heat saat Werewolf bertemu mate nya."


Keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing. Wajah Alex kembali datar dan dingin.


"Berarti kau harus berusaha menaklukkannya seperti kau menaklukkan Trixie dan beberapa gadis yang memujamu." Kata Evan berusaha mencairkan suasana


Alex hanya memutar bola matanya. Pria itu memandangi langit senja yang mulai memancarkan pantulan warna merah kekuningan yang indah


"Aku harus pergi, aku akan menemui Reina. Ia mengatakan kalau aku dapat menemuinya kapanpun." Kata Alex sambil bangkit dari kursinya dan segera menyambar jasnya.


Sedetik Evan hanya bengong memperhatikan Alex. Alex tidak pernah meninggalkan kantor sebelum jam tujuh malam, suatu kemajuan. Tiba-tiba Evan menyadari sesuatu


"Sebentar.. Bagaimana dengan pekerjaan itu?" Tanya Evan sambil melihat tumpukan berkas di meja Alex. Alex menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Evan sambil menarik ujung bibirnya

__ADS_1


"Kau bisa membereskannya." Kata Alex sambil keluar ruangan, meninggalkan Evan yang sedikit menggerutu karena Alex meninggalkan setumpuk pekerjaan padanya.


***


Reina membalik halaman demi halaman dari buku tebal di genggamannya. Buku bersampul hard cover hitam yang dipinjamnya dari perpustakaan nasional. Sepulang dari kantor, Reina langsung mampir ke perpustakaan nasional


Penny yang baru saja pulang melihat Reina begitu serius membaca. Bukan pemandangan aneh, karena sedari kecil Reina memang gemar membaca. Yang menjadi perhatian Penny adalah judul buku yang sedang di baca Reina


"Legenda Werewolf?" Tanya Penny


Reina mengangkat kepalanya saat mendengar suara Penny "Mom sudah pulang? Aku tidak mendengar kau masuk."


"Kau terlalu sibuk membaca, wajar saja kau tidak dengar." Dengkus Penny sambil duduk di samping Reina. Penny memandangi Reina yang masih asyik membaca


"Kau tertarik dengan Werewolf? Sejak kapan?" Tanya Penny dengan tatapan menyelidik


Reina hanya mengangkat bahunya sambil kembali meneruskan bacaannya. Penny menghela nafasnya, sepertinya saat ini Reina memang senang membaca hal-hal berbau manusia serigala


"Tidak ada yang harus di khawatirkan.."


"Kau mengatakan sesuatu, mom?" Reina melirik sekilas ke arah Penny. Penny hanya tersenyum sambil menggeleng


"Kau tahu nak, buku ini ditulis oleh manusia yang mungkin melakukan penelitian dan beberapa riset tentang serigala dan membandingkan dengan kehidupan manusia juga beberapa mitos-mitos yang tersebar di masyarakat.."


Kini Reina menoleh ke arah Penny yang masih memperhatikan buku di tangannya


"Contohnya ini, manusia serigala akan berubah wujud saat melihat bulan. Itu adalah mitos yang dikembangkan. Memang kekuatan mereka menjadi berkali lipat saat bulan muncul, apalagi saat purnama. Tetapi mereka masih bisa berubah tanpa melihat bulan." Ujar Penny lagi


"Sebagai seorang florist, sepertinya mom tahu banyak ya tentang Werewolf." Kata Reina dengan tatapan kagum bercampur heran.


Penny adalah seorang florist yang menanam dan mengembangkan sendiri bunga-bunga nya di lahan yang dimilikinya di luar kota. Namun Reina tidak menyangka ternyata pengetahuan Penny bukan hanya terbatas soal tanaman dan bunga.


Penny tersenyum. Wanita yang masih terlihat cantik itu beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur. Reina kembali menekuni buku miliknya


Menurut buku yang dibaca Reina, untuk mate atau pasangan, biasanya para Werewolf dijodohkan oleh Dewi mereka bernama Moon Goddess semenjak mereka di lahirkan.


Ada yang cepat, ada juga yang harus menanti hingga kelahiran berikutnya. Beberapa Werewolf ada yang menentang keputusan Moon Goddess dengan cara menolak mate nya dan memilih sesuai nafsunya. Hal ini biasanya tidak berjalan baik, namun ada pula yang mendapat restu dari Moon Goddess


Mate seorang Werewolf pun tidak hanya berasal dari bangsa serigala. Walaupun sedikit, ada beberapa serigala yang menemukan mate nya berasal dari bangsa penyihir atau manusia


Lalu…


Konsentrasi Reina buyar saat Penny menerima sebuah telepon. Wanita itu sedikit gusar dengan peneleponnya, terlihat saat Penny memutuskan hubungan telepon sambil menggerutu. Wanita itu segera masuk ke dalam kamarnya dan kembali keluar dengan jaket lengkap


"Mom, mau kemana?" Tanya Reina heran sambil melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam


"Ada sedikit masalah di rumah kaca. Aku harus mengeceknya sendiri. Kau tidak apa-apa kutinggal malam ini?" Tanya Penny sambil memandang Reina


Reina tersenyum kecil melihat perhatian Penny. Mungkin usianya sudah 21 tahun, tetapi bagi Penny, Reina tetaplah gadis kecilnya


"Tenang saja. Aku bisa menjaga diriku." Ujar Reina. Penny mengangguk lalu mengecup kening Reina


"Aku pergi dulu. Kunci pintu dan perhatikan kompor. Jangan tidur terlalu malam, lalu.."


"Mom.."


Penny terdiam sesaat lalu tertawa kecil saat menyadari kekonyolannya "Maaf, aku pergi dulu ya sayang."


Reina mengantar Penny sampai ke depan pintu dan menunggu mobil Penny menghilang di persimpangan. Reina segera mengunci pintu dan kembali meneruskan bacaannya


Kriing..kriing


HP milik Reina berdering. Sebuah nomor asing membuat kening gadis itu berkenyit. Akhir-akhir ini banyak terjadi telepon penipuan berkedok hadiah. Tetapi teringat beberapa kali rekan kerjanya menelepon dan Reina tidak menyimpan nomor mereka membuat Reina dan tim bermasalah keesokan harinya di kantor. Gegas Reina menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan telepon


"Halo.."


"Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?"


Dahi Reina berkerut sambil memandang handphonenya kemudian kembali meletakkannya di telinga


"Siapa ini?" Tanya Reina dengan judes. Suara di seberang terdengar tidak senang


"Kau lupa suaraku, sayang?"


Reina memutar bola matanya saat mendengar suara peneleponnya. Suaranya sama sekali jauh dari kata ramah


"Jangan main-main! Aku tidak.."

__ADS_1


"Katamu kita bisa bertemu lagi kan? Keluarlah. Aku sudah menunggu di seberang jalan." Si penelepon memotong ucapan Reina


Mata Reina membesar. Dadanya berdegub kencang saat mencoba menebak seseorang yang meneleponnya. Reina hanya memikirkan satu orang dan berharap tebakannya tidak salah saat membuka gordyn jendelanya.


Tebakannya benar. Terlihat Alex bersandar di mobilnya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Anda.."


"Keluarlah, aku ingin mengajakmu berjalan-jalan." Kali ini suaranya terdengar jauh lebih lembut


Reina mengangguk pelan lalu membuka pintu sambil mematikan sambungan teleponnya. Reina berjalan mendekati Alex yang masih terlihat tampan dengan jas nya. Alex menyambut Reina dan segera membukakan pintu mobil untuk Reina


"Masuklah." Pinta Alex.


Reina langsung memindai dirinya. Dress bunga-bunga peach selutut dengan lengan pendek dan flatshoes. Walaupun pakaiannya cukup sopan, tetapi terlihat terbanting saat bersanding dengan Alex


"Sebentar, aku ganti baju dulu.." kata Reina hendak berbalik namun Alex menarik lembut tangan Reina


"Tidak usah, kau sudah cantik." Kata Alex sambil memindai penampilan Reina lalu mengacungkan jempolnya.


"Yang benar saja? Dia nampak rapi dan gagah sementara aku seperti ini.." Kata Reina dalam hati


Sepertinya Alex faham dengan pikiran Reina. Pria itu langsung membuka jas kantornya dan menggulung lengan kemeja linen birunya hingga ke siku dan membuka dua kancing teratas kemejanya sehingga menampakkan sedikit rambut-rambut dada yang mengintip genit


Alex menyesuaikan penampilannya untuk membuat nyaman gadis itu. Dalam hati, Reina mengakui kalau Alex berkali-kali lipat lebih tampan dengan tampilannya saat ini


Tanpa Reina sadari, Alex mengetahui apa yang gadis itu pikirkan. Sebersit senyum mengembang di bibir Alex


***


Alex mengajak Reina berjalan-jalan ke sebuah taman. Tadinya Alex akan mengajak gadis itu untuk makan malam di sebuah restoran, namun Reina menolak. Reina lebih tertarik ide berjalan-jalan sambil saling mengenal satu sama lain


Keduanya berjalan bersisian memasuki taman. Alex memilih duduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke arah danau buatan. Tak lama Willy datang membawakan dua potong roti isi, kentang goreng dan minuman


"Anda belum makan?" Tanya Reina saat Willy meninggalkan mereka berdua.


Alex hanya tersenyum. Reina tersadar, tempat tinggalnya memang berada di kota lain tempat kantor cabang Wind-Corp. Boss nya ini menempuh perjalanan jauh untuk bisa bertemu dengannya, pastilah Alex belum makan malam. Seketika Reina merutuki kebodohannya menolak ajakan makan malam Alex.


"Kau tidak suka makanannya? Aku akan menyuruh Willy membelikan yang lain." Tanya Alex saat melihat Reina hanya menatap makanan di depannya


"Eh, aku suka kok. Cuma aku tidak terbiasa minum soda.." Kata Reina sambil menggigit roti isinya.


Keduanya makan dalam diam. Tak lama Willy datang membawakan jus jeruk untuk Reina. Gadis itu mengucapkan terima kasih sambil memandang heran ke arah Willy.


"Sepertinya Willy bisa mengetahui keinginan seseorang ya? Apa itu salah satu keahlian Werewolf?" Tanya Reina. Alex tertawa mendengarnya


"Kami bangsa Werewolf bisa melakukan telepati antar sesama kelompok kami. Tadi aku sengaja me mind-link Willy untuk membawakan jus jeruk karena kau tidak terbiasa minum soda." Jelas Alex


Reina hanya ber ooh panjang. Gadis itu menyeruput jus jeruknya


"Apa kau masih takut padaku?" Tanya Alex memandangi Reina dengan lembut


Reina balas menatap Alex sambil menggeleng "Sudah sedikit berkurang. Tetapi aku hanya sedikit bingung saja."


"Bingung kenapa?"


"Kemarin-kemarin aku hanyalah gadis biasa yang hanya tahu bekerja bekerja dan bekerja. Aku tidak punya teman dekat, apalagi teman lelaki. Tetapi hidupku berubah setelah menabrak anda. Aku seperti ditarik masuk ke dalam babak baru kehidupan dimana aku tahu ternyata di dunia ini bukan hanya dihuni oleh bangsa manusia.." kata Reina panjang lebar.


Gadis itu berhenti sejenak untuk menyeruput jus jeruknya


"Aku adalah gadis jelek yang selalu paling belakang mendapatkan perhatian dari laki-laki. Jadi aku sedikit heran kalau ada seorang lelaki yang tiba-tiba mendekatiku dan mengatakan kalau dia menyukaiku.." Reina melirik ke arah Alex


Alex tertawa. Pria itu memindahkan makanan mereka yang berada diantara keduanya ke samping sehingga Alex dapat menggeser duduknya mendekati Reina. Alex menyentuh pundak Reina dan menghadapkan tubuh mungil gadis itu ke arahnya


"Karena kau adalah mate ku. Pasangan yang ditakdirkan untukku. Lagipula.."


Alex menjeda ucapannya sambil membuka kacamata Reina. Alex tersenyum melihat netra Reina


"Siapa yang bilang kau jelek?"


Reina tersipu. Gadis itu menundukkan wajahnya untuk menghindari tatapan Alex, namun Alex menarik dagu Reina ke atas. Alex menyukai tatapan mata Reina, terlebih melihat rona merah di pipi gadis itu. Mata mereka saling mengunci. Reina seolah seperti tersihir, tidak dapat bergerak


Alex menundukkan wajahnya untuk mencium Reina. Tiba-tiba telinganya menangkap sesuatu. Alex segera menegakkan kepalanya sambil mengedarkan pandangan waspada ke sekeliling


"Ada apa?" Tanya Reina.


Alex tidak menjawab, hanya meletakkan telunjuknya di bibir Reina sementara matanya masih menyorot waspada ke sekeliling. Pegangan tangannya pada bahu Reina menguat. Yang terdengar hanyalah gesekan dedaunan yang di tiup oleh angin semilir.

__ADS_1


Tidak di sangka, sesuatu melompat dari arah belakang Alex!


__ADS_2