
"Sebuah jalan?" Gumam Alex
Setapak jalan terbentang menurun di balik batu karang besar, bagai sebuah gua yang tersembunyi. Alex melangkahkan kaki perlahan menyusuri jalanan tersebut. Tangannya mulai meraba-raba saat Alex sudah melangkah jauh turun ke bawah. Penglihatan Werewolf nya seakan tidak berfungsi, keadaan terlihat gelap gulita.
BLUP BLUP
Tiba-tiba keadaan terlihat terang benderang dengan nyala obor di tiap sisinya. Alex sedikit heran, darimana obor-obor itu berasal.
"Tempat apa ini.." Alex bermonolog dengan perasaan heran, namun tak urung pria itu mengambil sebuah obor untuk menerangi perjalanannya
Perjalanan Alex semakin jauh ke bawah. Mata Alex memicing melihat sebuah dinding besar yang ternyata adalah sebuah pintu batu yang tertutup rapat. Alex meraba-raba berusaha mencari celah agar dapat membuka pintu tersebut.
Tangan Alex mengusap pintu batu itu perlahan seolah membersihkan debu yang tebal menempel di sana. Mata Alex menangkap sebuah cetakan tangan yang berada di pintu batu itu.
"Apa ini kuncinya?" Gumam Alex sambil meletakkan tangannya
Cetakan tangan itu terlalu kecil, atau tangan Alex yang terlalu besar, yang jelas tidak pas saat Alex meletakkan tangannya untuk dapat membuka pintu tersebut. Alex mendengkus. Sejauh ini dirinya berjalan, hanya menemukan jalan buntu.
"Buang-buang waktu saja!" Gerutu Alex kesal.
Alex segera berbalik, namun dirinya dikejutkan oleh dua pasang makhluk yang berada di belakangnya. Refleks Alex mundur ke dan menabrak pintu batu di belakangnya
Dua sosok itu semakin mendekat dan terlihat. Alex melihat sosok serigala besar dengan bulu perak keemasan di tiap ujung helai bulunya. Sosok satu lagi adalah sosok wanita yang mengenakan jubah bertudung berwarna merah hingga wajahnya tidak terlihat. Wanita itu menaiki serigala berbulu perak keemasan dan memegang tongkat berwarna kuning emas kecoklatan dengan ukiran unik pada kepala dan badan tongkatnya
"Siapa kalian?!" Tanya Alex keras sambil maju menantang dua sosok tersebut
Keduanya seakan tidak menggubris kehadiran Alex. Serigala itu berjalan tenang melewati Alex yang terlihat kebingungan. Alex segera berbalik dan melihat keduanya tampak tenang berjalan menuju pintu batu
"Setelah ini kau harus langsung menyusul ayahmu. Kau perlu segera mengobati luka dalammu.." kata serigala berbulu perak keemasan itu.
Bibir wanita itu terlihat tersenyum saat turun dari punggung serigala berbulu perak keemasan itu Wanita itu memeluk serigala itu dengan erat
"Dengan begini, tidak ada yang bisa mengacaukan Vadre Land, suamiku.."
"Vadre Land? Siapa kalian?!" Teriak Alex. Namun kedua orang itu nampaknya tidak mendengar suara Alex
Sang wanita menempelkan tangannya ke cetakan yang berada di pintu batu. Tangannya pas menempel di cetakan itu. Wanita itu menekan sedikit sehingga terdengar bunyi GREEK dan memutarnya beberapa kali. Alex memperhatikan arah putaran tangan wanita itu
__ADS_1
DRAAAG
Terdengar seperti bunyi reruntuhan. Ternyata pintu batu itu terbuka. Keduanya masuk kedalam. Dari luar, Alex melihat wanita itu masuk dan menancapkan tongkatnya ke meja batu
"Sekarang pergilah.." Suara serigala itu terdengar lemah
Alex melihat luka tusukan di perut serigala itu. Luka dengan bercak keunguan di sekitarnya. Alex yakin serigala itu terkena racun wolfsbane
"Boleh aku menungguimu? Kau bisa menganggap ini adalah pengabdian terakhir seorang istri pada suaminya.." suara wanita itu terdengar bergetar
Serigala itu mengangguk. Terdengar suara menggeretak menandakan serigala itu kembali ke bentuk manusianya. Wanita itupun membuka tudungnya Alex tidak bisa melihat dengan jelas wajah keduanya karena satu-satunya pencahayaan adalah obor miliknya.
"Avare adeshite drown.." terdengar wanita itu mengucapkan mantra. Sinar keemasan menyelimuti tongkat miliknya dan membuat tongkat itu menancap dalam ke meja batu. Setelahnya, wanita itu roboh di samping pria serigala itu
"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau gunakan semua tenagamu, sayang?" Tanya pria itu dengan nafas tersengal
"Tidak apa-apa..Sudah tidak apa-apa.." Bisik wanita itu dengan suara lemah
"Aku adalah mate mu, aku hidup dan mati bersamamu, Argeronz.." lanjutnya lagi
Alex tersentak mendengar nama Argeronz disebut. Berarti orang ini adalah Argeronz, pemimpin Vadre Land di masa lampau. Ternyata legenda yang selama diceritakan turun temurun itu benar adanya
Saat pintu tertutup, obor yang dibawa Alex pun mati. Keadaan menjadi gelap gulita. Alex berusaha melihat ke sekeliling, namun matanya hanya menangkap kegelapan. Nafas Alex mulai terasa sesak, keringat membanjiri tubuhnya.
"Tidak..tolong..tolong aku.."
Tiba-tiba tubuhnya terguncang
***
Reina mengerjapkan matanya. Badannya sedikit penat saat gadis itu berusaha bangun. Reina melirik jam di dinding, sudah lewat waktu makan malam. Ternyata dirinya cukup lama tertidur di sebelah Alex
Tampak Alex tertidur pulas di sampingnya. Perlahan Reina bergerak agar tidak mengusik Alex. Gadis itu membenarkan selimut Alex dan menutup pintu balkon untuk menghalau dinginnya angin malam. Tampak bulan purnama indah menggantung di langit malam
Reina berinisiatif untuk menyegarkan badannya dengan berendam air hangat di bathtub sambil memakan strawberry segar yang berada di meja.
Wangi lavender memanjakan indera penciumannya. Reina mendesah pelan saat merasakan otot-otot nya sedikit rileks. Air hangat, lavender dan strawberry manis merupakan perpaduan yang sempurna menurut Reina. Setelah di rasa cukup, Reina segera menbilas tubuhnya di bawah shower air hangat
__ADS_1
"Tidak..tolong.."
Reina menegakkan telinganya. Sepertinya terdengar suara seseorang di luar kamar mandi
"Tidak..tolong..tolong aku.."
Suara Alex!
Dengan cepat Reina menyambar handuk besar dan melilitkan ke tubuh mungilnya. Reina segera keluar dari kamar mandi dan melihat Alex gelisah dalam tidurnya
"Alex! Bangunlah!" Reina segera naik ke tempat tidur dan mengguncang tubuh Alex untuk membangunkan pria itu
"Tolong aku.." Alex masih meracau dalam tidurnya
"Alex, bangun!" Reina menepuk-nepuk pipi Alex
"Haah!!" Alex tiba-tiba bangun terduduk dan membuka matanya. Nafasnya ngos-ngosan seperti habis berlari maraton
"Hey, hey..Tidak apa-apa." Reina berusaha menenangkan Alex dengan cara membelai kepala dan wajah Alex
Alex segera melihat ke arah Reina dan langsung memeluk gadis itu erat-erat sambil menghirup aroma tubuh gadis itu. Alex butuh Reina untuk menenangkan dirinya.
"Aku berada di dalam kegelapan, Rein..Aku tidak bisa bernafas.." Ucap Alex di perpotongan bahu dan leher Reina
Reina melingkarkan tangannya dan mengelus rambut dan punggung Alex yang terasa basah akibat keringat
"Tidak apa-apa..Sudah tidak apa-apa.."
Alex membuka matanya. Apa yang diucapkan Reina persis dengan apa yang didengarnya di dalam mimpi
Alex melonggarkan pelukannya dan menatap Reina. Sesaat Alex tersadar dengan apa yang di pakai Reina. Sepertinya gadis itu belum menyadari ke arah mana otak dan mata Alex tertuju
"Alex, kau baik-baik saja?" Tangan Reina terasa membelai wajah Alex dan seperti mengalirkan aliran listrik menuju ke satu tempat di bawah sana
Alex memejamkan mata sambil menahan nafasnya
"Alex?" Suara Reina seakan memancing sesuatu yang ada dalam diri Alex. Pria itu membuka mata dan menatap mate nya
__ADS_1
Reina sedikit begidik melihat mata Alex menggelap dan berkabut gairah saat menatap dirinya. Nafas hangat Alex terasa menerpa kulit wajah Reina
"Aku menginginkanmu malam ini, Rein..."