
"Reina.."
Reina menggerakkan bola matanya yang terpejam saat sebuah bisikan lirih terdengar di telinga Reina.
Bisikan suara berat seorang pria yang terdengar seksi di telinganya. Entah mengapa Reina bisa menyimpulkan seperti itu.
"Reina.."
Bisikan itu terus terdengar seiring kecupan-kecupan kecil yang Reina rasakan di seluruh wajah. Sebuah benda kenyal dan sedikit basah menggoda bibirnya. Bibir Reina seperti terhisap-hisap. Tanpa sadar, Reina sedikit membuka mulutnya membiarkan benda kenyal itu menerobos masuk dan mengabsen geliginya
Seumur hidup, Reina belum pernah merasakan gelenyar dan sensasi seperti ini..
Tidak, sampai hari ini. Saat seseorang dengan lembut menghujaninya dengan ciuman-ciuman.
Tidak buruk, pikir Reina. Malah terasa sangat menyenangkan dan nyata. Reina dapat merasakan hembusan nafas beraroma mint milik pria itu, apalagi saat bibir pria itu mulai menggoda bibirnya...
Tunggu! Seseorang? Pria?!
Reina tersadar! Gadis itu membuka matanya lebar-lebar dan mendapati Alex tengah menutup bibir Reina dengan bibirnya dan sedikit bermain di sana.
"Hmmpf.." Reina berteriak protes.
Namun teriakannya teredam oleh mulut Alex. Sekuat tenaga Reina mendorong tubuh Alex yang berada di atasnya, mencoba menjauhkan pria itu walau tidak ada perubahan berarti, tubuh Alex tidak bergerak sedikitpun. Tubuh Alex menjauh karena Alexlah yang melepaskan ciumannya dan menatap ke arah Reina
"Kau sudah bangun?" Tanya Alex lembut sambil membelai wajah Reina
Sesaat Reina terpana melihat CEO Wind-Corp dari jarak sedekat ini. Matanya yang tajam seolah mengunci netra Reina. Wajah Alex berpuluh kali lipat lebih tampan dalam jarak sedekat ini
Alex merasa senang saat Reina tak berhenti menatapnya. Alex kembali mencium bibir Reina dengan rakus. Reina seakan terhipnotis dan membalas ciuman Alex dengan gerakan amatir. Apa yang dilakukan Reina cukup untuk memancing gairah Alex. Pria itu mengerang, tangannya membelai wajah Reina dan turun ke dada gadis itu
Gerakan Alex membuat Reina tersadar. Mata Reina melotot. Gadis itu memberontak dan berusaha mendorong Alex untuk menjauh dari atas tubuhnya. Alex menghela nafas dan mengalah. Laki-laki itu bangkit menjauhi Reina. Reina langsung duduk dan beringsut ke belakang sambil memeluk bantal di dekatnya
"Apa yang anda lakukan! Menjauh dariku! Anda bisa saya laporkan atas tuduhan pelecehan dan tindakan tidak menyenangkan!" Teriak Reina marah.
Alex menaikkan satu alisnya mendengar ucapan Reina "Tidak menyenangkan? Bukankah tadi kau menikmati apa yang kulakukan?"
__ADS_1
"Anda..!"
Mata Reina melotot mendengar fakta yang diucapan Alex. Pipinya bersemu kemerahan. Gadis itu mengalihkan pandangannya untuk menutupi rasa malunya. Alex terkekeh melihat wajah memerah Reina
Reina menebar pandangan ke sekeliling dan tersadar dirinya berada di suatu kamar yang asing
"Ini dimana? Bapak menculik saya?!" Tanya Reina panik
"Tubuhmu kecil, tetapi suaramu kencang sekali? Bikin pusing saja." Kata Alex sambil menutup telinganya.
Reina terlihat ketakutan sambil sesekali mencuri pandang ke arah pintu. Alex bisa membaca kalau gadis itu menanti saat yang tepat untuk melarikan diri
"Tenang dulu. Kau berada di rumah. Tadi kau pingsan.." Kata Alex berusaha selembut mungkin.
"Pingsan..?"
Mata Reina menyipit. Gadis itu berusaha mengingat-ingat kejadian yang tadi dialaminya
FLASHBACK
"Ng.. Ada perlu apa bapak memanggil saya?" Tanya Reina gugup saat melihat Alex sudah berdiri menjulang di hadapannya
Bau wangi itu makin membuat Alex seperti tidak sadar apa yang dilakukannya. Alex hanya menuruti instingnya. Tangan Alex meraih helaian rambut Reina yang tidak ikut terjalin dan menyelipkannya di belakang telinga. Reina terlihat terkejut dengan wajah memerah. Gadis itu refleks mundur ke belakang, namun tubuhnya langsung menabrak dinding
Alex segera memanfaatkan kesempatan untuk memojokkan Reina dan mengurung tubuh gadis itu dengan kedua tangannya. Benar, wangi memabukkan ini belum pernah tercium sama sekali oleh Alex. Kemungkinan besar gadis manusia ini adalah mate nya, pikir Alex
Reina sendiri terlihat syok hingga tidak mampu bergerak. Tatapan mata Alex seakan mengunci semua sendi tubuhnya. Tatapan mata yang menggelap, seperti mata predator yang berhasil mendapatkan mangsanya
"Setelah ini, apa yang harus kulakukan?" Gumam Alex sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Reina.
Reina terkejut saat jarak wajah Alex hanya tinggal satu senti dari wajahnya. Dengan cepat gadis itu mendorong dada Alex untuk menjauhinya. Namun dorongan itu tidak berarti apapun, seperti mendorong pintu besi, tidak bergeming sedikitpun.
*Tiba-tiba Alex memeluk Reina, membuat gadis itu sedikit terkesiap. Reina sedikit memberontak, namun Alex mengeratkan pelukannya
Alex membisikkan sesuatu, bukan kalimat melainkan terdengar seperti geraman berkepanjangan. Hanya dua kata yang dimengerti Reina*
__ADS_1
"Mate ku, milikku.."
"Mate?!" Bathin Reina.
*Reina pernah membaca sebuah buku di perpustakaan nasional tentang LEGENDA WEREWOLF dimana ada beberapa kata yang diingatnya dari buku itu. Salah satunya adalah Mate yang disebutkan Alex. Tingkah Alex pun pernah Reina baca mirip dengan seorang Werewolf yang menemukan mate nya.
"Tetapi bukankah mereka semua hanya legenda yang tidak nyata? Lalu bagaimana dengan pria ini?" bathin Reina. Seketika rasa takut menyelimuti hati Reina*
Reina memberontak dengan kuat sehingga Alex terpaksa melonggarkan pelukannya. Hal ini dimanfaatkan Reina untuk melepaskan diri dan refleks mengambil pisau lipat kecil yang diselipkan di gelang tangannya
Alex terkekeh melihat Reina menodongkan pisau ke arah Alex "Kau mau menakutiku dengan pisau kecil itu?"
"Jangan macam-macam pak. Walau saya hanya seorang pegawai kecil, saya memiliki harga diri. Saya tidak terima diperlakukan seperti tadi!" Kata Reina keras
"*Bagus. Seorang Luna harus memiliki harga diri yang tinggi." Kata Alex sambil tersenyum.
"Mate..Luna.. Jangan bicara bohong ya pak!" Hardik Reina sambil terus menodongkan pisau lipat kecilnya
Alex sedikit tersinggung dengan ucapan Reina yang mengatakan dirinya berbicara bohong. Mata Alex memandang tajam ke arah Reina sembari menggeram membuat gadis itu terlihat gemetar ketakutan
Alex mengulurkan tangannya hendak meraih Reina. Reina mengibaskan pisau lipatnya untuk menakuti Alex. Sayangnya, pisau itu menggores punggung tangan Alex*
Alex terkejut dengan sengatan di tangannya. Namun pria itu hanya memandangi punggung tangannya yang terluka sementara Reina masih tetap waspada dan menodongkan pisau ke arah Alex
"Alex, kau sedang apa?.Kata Evan kau sedang ada meeting pen.."
Trixie tiba-tiba masuk ke ruangan Alex. Gadis itu terkejut melihat seseorang menodongkan pisau ke arah Alex dan melihat luka goresan di punggung tangan Alex. Trixie langsung memandang marah ke arah Reina
"Kau! Beraninya menyerang Alpha!" Teriak Trixie keras. Bersamaan dengan itu terdengar gemeretak suara tulang menandakan Trixie melakukan shift menjadi wujud manusia serigala. Trixie menggeram keras ke arah Reina
"Trix, stop. Kau tidak boleh menyakitinya." Teriak Alex sambil melompat ke depan Trixie, menghalangi gadis itu menerkam Reina
Mata Reina membulat melihat pemandangan di hadapannya. Tubuhnya langsung menegang. Baru kali ini ia melihat langsung wujud manusia serigala. Setelah itu Reina tidak ingat apapun
Gadis itu pingsan..
__ADS_1
FLASHBACK END