WIND WINDERS PACK

WIND WINDERS PACK
PART 13


__ADS_3

Pagi hari...


Alex membuka matanya perlahan. Hembusan lega keluar dari bibirnya


"Aku masih hidup.."


Ingatannya kembali terkumpul tentang penyerangan di taman semalam. Samar teringat Willy dan Reina membawanya, setelah itu dirinya tidak ingat apa-apa.


Tangan Alex meraba perban di dadanya. Pasti Willy sudah memanggil dokter Brian untuk mengobati lukanya. Alex beruntung, Willy termasuk cepat dan tanggap dalam menghadapi beberapa situasi genting.


Perlahan Alex mencoba menggerakkan tubuhnya. Keningnya berkerut, terasa ada yang aneh. Badannya terasa sangat bugar. Biasanya saat Alex terluka, sebagai Werewolf, ia dapat menyembuhkan dirinya dengan cara beristirahat dan saat bangun pun badannya masih terasa sakit. Namun kali ini tidak.


Pria itu tersenyum saat melihat sebuah tangan menggenggam tangannya. Alex menoleh dan mendapati Reina terlelap di sampingnya. Perlahan Alex merubah posisi tubuhnya berhadapan dengan Reina


Saat tertidur seperti ini, wajah Reina terlihat sangat polos. Alex tersenyum. Moodnya menjadi sangat bagus pagi ini.


"Melihatmu seperti ini, tidak akan ada yang percaya kalau kau yang menaklukkan Viperhell.." bathin Alex sambil menyingkirkan helaian rambut di wajah Reina


Gerakan tangan Alex terhenti. Apa yang dipikirkannya barusan? Mengapa tiba-tiba dirinya meracau tentang Viperhell, seekor monster buas dari cerita legenda di Vadre Land.


Alex tersenyum saat melihat mata Reina bergerak-gerak. Reina menggeliat lalu perlahan membuka matanya. Terlihat sosok pria tampan yang tersenyum di depannya. Reina tersenyum senang, mimpi kali ini indah sekali..


"Pagi sayang.."


Ah, suara pria itupun terdengar seksi dan nyata di telinga Reina. Bahkan belaian tangannya pun hangat..


Eh?


Reina langsung terlonjak bangun dari tidurnya saat menyadari itu bukan mimpi. Alex pun ikut bangun


"Hey, tenang sayang.." kata Alex sambil mengecup tangan Reina yang menggenggam tangannya semalaman


Mata Reina mengerjap. Badannya terasa agak lemas, kepalanya pun sedikit berputar. Mungkin efek dari terkejut saat bangun tidur. Perlahan Reina memijat keningnya


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Alex sambil menangkup tangannya di pipi Reina saat melihat wajah gadis itu sedikit pucat


"Aku tidak apa-apa.." Kata Reina pelan.


Gadis itu memindai wajah tampan Alex, matanya sedikit memicing. Dengan cepat Reina memeriksa wajah Alex dengan seksama. Gadis itu mengenyitkan keningnya saat menyadari bahwa luka di pelipis Alex menghilang. Bekas goresan di bahu pun menghilang


"Ini.. bagaimana bisa?" Tanya Reina sambil memandang ke Alex. Alex memperhatikan apa yang di tunjuk Reina. Keningnya pun berkerut


"Kenapa?"


"Aku ingat ada luka di sini.." Reina meraba pelipis dan bahu Alex


"Tetapi sekarang menghilang..."


Alex segera bangkit dan melihat ke cermin. Wajah dan bahunya terlihat mulus, tidak ada satupun bekas luka di sana. Perlahan Alex menyentuh kaki kirinya, Alex sangat ingat kaki kirinya terluka akibat hunjaman kuku Rouge yang menyerangnya. Mata Alex memicing, tidak ada rasa sakit di sana. Bergegas Alex membuka perban yang membebat kakinya. Alex ternganga, luka itu mengering dengan cepat


"Rein..tolong bantu aku buka perban di tubuhku." Kata Alex


"Eh, tapi kan.."


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan.* Ujar Alex lagi


Reina awalnya ragu membuka perban yang dipasang dokter Brian semalam. Namun Reina tidak bisa menolak Alex. Dengan hati-hati Reina membuka perban Alex


"Lukamu.." Suara Reina seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya


"Ada apa Rein?"


Reina ingat, punggung Alex tergores dalam oleh kuku serigala yang menyerang mereka semalam. Seharusnya luka itu masih basah dan baru, tetapi luka itu sekarang mengering. Reina perlahan menyentuh punggung Alex


"Sakit?" Tanya Reina


Alex menoleh ke belakang sambil menggeleng. Pria itu membalikkan badannya menghadap ke arah Reina


"Kau pulih dengan cepat. Aku pernah baca kalau Werewolf bisa menyembuhkan dirinya sendiri untuk luka-luka ringan. Apa ini termasuk luka ringan?" Tanya Reina sambil memindai lagi luka-luka di tubuh Alex


"Kurasa bukan. Ini termasuk luka sedang, akan memakan waktu untuk menyembuhkannya. Aku juga tidak tahu kenapa bisa terjadi. Sepertinya obat yang diberikan dokter Brian cukup ampuh." Kata Alex sambil memandangi kaki kirinya

__ADS_1


Terdengar Reina menghela nafas lega "Tetapi syukurlah kau sudah sembuh."


Alex mengerling ke arah Reina "Kau khawatir?"


"Tentu saja. Karena melindungi aku, kau jadi banyak terluka semalam."


Alex tersenyum senang mendengar Reina mengkhawatirkan dirinya. Dengan lembut Alex mengusap kepala Reina


"Kau mate ku, tentu saja sudah menjadi kewajibanku melindungi dirimu."


Pria itu menangkup wajah Reina dan melihat netra Amber Reina yang bening. Entah kenapa, Alex merasakan rindu yang teramat dalam saat melihat sorot mata Reina. Mata Alex turun ke arah bibir Reina.


Reina gugup saat Alex dengan intens memperhatikan dirinya. Reina segera menunduk sambil menggigit bibir bawahnya untuk menghindari tatapan Alex. Nampaknya Reina salah langkah karena justru tindakannya memancing gairah Alex


Alex menarik dagu Reina dan menempelkan bibirnya ke bibir Reina. Reina yang belum terbiasa masih terkejut dengan tindakan Alex, namun gadis itu hanya diam bahkan ikut memejamkan matanya saat bibir Alex bergerak mencecap dan menghisap lembut bibir Reina.


Alex menggigit pelan bibir bawah Reina dan menariknya ke bawah. Tanpa sadar Reina ikut membuka mulutnya, memberikan akses untuk lidah Alex masuk ke dalam mulut Reina dan membelit lidah Reina. Reina masih bingung harus berbuat apa selain membalas ciuman Alex dengan cara amatir. Alex tersenyum saat merasakan Reina membalas ciumannya. Badan Alex terasa panas seiring ciumannya yang kian menuntut. Apa dengan begini jiwa serigalanya akan muncul? Entahlah...


Perlahan, Alex membaringkan tubuh Reina di ranjang tanpa melepaskan ciuman mereka. Terdengar Reina mengerang dalam ciuman Alex saat pria itu meremas lembut dada Reina yang masih tertutup kain


Tangan Alex menarik turun dress Reina sementara bibirnya sudah menjelajahi leher Reina. Walau ini pertama kali untuk Reina, namun gadis itu bisa menebak ke arah mana bibir Alex di tujukan. Anehnya, Reina tidak mampu melawan dan justru menikmati perlakuan Alex pada dirinya


"Ngh..Alex.."


Suara Reina membuat badan Alex kian memanas. Alex makin bersemangat membuka penutup dada Reina dan bermain-main di sana. Semakin lama keduanya semakin larut dalam gairah, sampai tiba-tiba pintu kamar Alex terbuka lebar


"Alex, ibu dengar kau terluka.."


***


Alex tertawa kecil melihat Reina yang terus menunduk dengan wajah memerah. Gadis itu tidak berani mengangkat wajahnya di depan Robert dan Alicia yang juga tak henti tersenyum memandangi Reina


Reina pasti sangat malu karena Alicia memergoki apa yang mereka lakukan pagi tadi


FLASHBACK


"Alex, ibu dengar kau terluka!" Teriak seseorang bersamaan dengan suara pintu yang terbuka


Sedetik Alicia terkejut melihat putra sulungnya sedang bersama seorang gadis di ranjang besarnya dengan pakaian seadanya. Selanjutnya senyum mengembang di wajah Alicia sekaligus terkekeh melihat gadis yang bersama Alex terlihat malu sambil berusaha menutupi tubuhnya, sementara Alex memandang kesal ke arah Alicia


"Ibu, harusnya ibu mengetuk pintu terlebih dahulu!" Gerutu Alex sambil menutupi tubuh Reina dengan selimut


"Ibu hanya mengkhawatirkan dirimu. Lagipula mana ibu tahu kalau kau.." Alicia kembali mengamati wajah Reina dengan senyum lebar sementara Reina menunduk dan menggenggam selimut yang menutup tubuhnya erat-erat. Alicia pun mengurungkan niatnya untuk menggoda Alex


"Baiklah, ibu tunggu di bawah. Akan ibu suruh pelayan untuk menyiapkan sarapan." Ucap Alicia sambil berbalik pergi


Alex mendengkus kesal, lalu menatap Reina yang masih menunduk. Wajah gadis itu masih memerah


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Alex dengan lembut sambil mengangkat dagu Reina


"Aku malu.." jawab Reina pelan


Alex tertawa kecil lalu mendaratkan kecupan ringan di bibir Reina


"Ayo siap-siap. Sepertinya kedua orangtuaku sedang berkunjung kemari. Aku akan memperkenalkanmu pada mereka." Ucap Alex ringan


"Hah?"


Reina terkejut mendengar ucapan Alex. Bukan hanya dirinya belum siap, Reina juga malu bertemu lagi dengan wanita yang memergoki adegan panas dirinya dengan Alex. Reina khawatir kalau ibu Alex akan berfikir dan menganggap dirinya gadis murahan yang sedang menggoda CEO Wind-Corp di ranjangnya


"Jangan khawatir, mereka tidak akan berfikir macam-macam seperti yang kau takutkan." Kata Alex sambil membelai kepala Reina


Reina cemberut sambil menatap Alex "Berhenti membaca pikiranku!"


Alex terkekeh lalu bangkit dan membantu Reina untuk bangun.


"Mandilah. Aku akan mandi di ruang kerjaku." Kata Alex


Reina menatap dress nya teronggok di pinggir ranjang. Tampak kusut terlihat di bagian-bagian tertentu. Rasanya kurang pantas menemui keluarga Alex dengan pakaiannya sekarang. Alex membelai pipi Reina sambil mengangkat dagu gadis itu


"Jangan khawatir, aku sudah membelikan pakaian untukmu. Cari di lemari itu ya." Kata Alex sambil mengecup ringan bibir Reina lalu meninggalkan gadis itu ke ruang kerjanya melalui pintu khusus yang terhubung ke kamarnya

__ADS_1


Reina hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Alex. Bergegas gadis itu masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap-siap menemui keluarga Alex


FLASHBACK END


"Kau tidak memperkenalkan wanita cantik ini pada kami, Alexander?"


Suara Alicia membuyarkan lamunan Alex. Pria itu segera melingkarkan lengannya di pinggang ramping Reina untuk menarik gadis itu lebih dekat dengan dirinya


"Ibu, ini Reina mate ku. Reina, ini ibuku, Alicia."


Alicia tersenyum hangat sambil berdiri dan memeluk Reina. Kegugupan Reina sedikit berkurang karena sikap hangat Alicia


"Ini ayahku, Robert Ulrich. Dan itu adikku, Evander dan mate nya, Faye."


Robert juga tersenyum hangat sambil menjabat tangan Reina. Kegugupan Reina semakin berkurang dengan sambutan hangat dari kedua orang tua Alex


"Well, kita ketemu lagi nona Sterling. Kau terlihat lebih cantik dibandingkan pertemuan terakhir kita." Evan tersenyum lebar sambil menyalami tangan Reina erat. Sesaat Evan menangkap leher Reina yang tertutup perban


"Kau terluka, nona Sterling?" tanya Evan sambil menunjuk perban di leher Reina. Refleks Reina menutupi perban dileher dengan tangannya dengan wajah memerah


Alex berdehem dan makin mengeratkan pelukannya ke tubuh Reina. Evan mencibir melihat Alex yang begitu posesif. Sebagian besar Werewolf memang posesif terhadap mate nya, khususnya para Alpha.


"Aku Faye. Senang bertemu denganmu, Reina." Faye menyambut Reina dengan pelukan hangat.


"Ohya, katanya kau terluka?" Tanya Alicia sambil melihat tubuh Alex secara detil.


"Benar kah?" Tanya Robert sambil mendekati Alex.


Alex membuka kemejanya untuk memperlihatkan bekas luka di tubuhnya. Reina langsung mengalihkan pandangannya. Dirinya belum terbiasa melihat seorang pria bertelanjang dada di depannya, apalagi dengan tubuh seindah Alex. Sikap Reina tidak luput dari penglihatan Alicia. Wanita itu tersenyum lebar


"Di punggung ku tadinya ada luka cakaran, dan di kaki ada luka tusukan. Sekarang terlihat kering seperti sudah terjadi beberapa hari." Kata Alex sambil memperlihatkan punggung lebar nya


Kening Robert berkerut sambil meneliti tubuh putra sulungnya


"Aneh sekali.. Apa yang kau rasakan pagi ini?"


"Itu juga. Biasanya saat terluka, badanku masih terasa sakit. Tapi pagi ini aku merasa sangat bugar." Jelas Alex sambil kembali memakai kemejanya


Robert memandangi Alex. Pandangannya beralih ke Reina yang terlihat sedikit pucat "Apa kalian melakukan penyatuan semalam?"


Alex langsung menoleh ke arah Reina. Benar saja, wajah Reina terlihat memerah mendengar ucapan Robert. Terlihat menggemaskan di mata Alex


"Sepertinya belum, dilihat dari sikap Reina yang masih malu-malu dan menjaga jarak dengan Alex." Kata Alicia mencoba menengahi suasana. Alex hanya mengangguk membenarkan ucapan Alicia


"Wow, tidak kusangka kau tahan untuk tidak melakukannya kak." Goda Evan yang membuat pipi Reina semakin memerah


"Sayang.." tegur Faye. Sesama perempuan, Faye merasakan apa yang Reina rasakan saat. Evan hanya tersenyum lebar sambil memeluk Faye erat


"Sudahlah, jangan membahas hal-hal seperti itu. Yang penting Alex tidak apa-apa. Ayo duduk, kita sarapan." Ajak Alicia sambil menarik Robert menuju meja makan diikuti oleh anak-anak mereka


Alex menarik kursi untuk Reina dan Alex duduk di sebelahnya. Alicia, Faye dan Evan duduk di seberang, sementara Robert duduk di tengah diantara Alex dan Alicia. Beberapa pelayan mulai datang menghidangkan sarapan


"Jadi, kau tinggal di mana Reina?" Tanya Alicia membuka percakapan


"Saya tinggal di perumahan di kota Kingston, nyonya Ulrich. Dekat dengan kantor cabang Wind-Corp."


"Jangan terlalu formal. Panggil aku Alicia, atau lebih bagus panggil aku ibu. Kau kan juga menantuku." Ucap Alicia membuat pipi Reina kembali memerah


"Kau juga panggil aku ayah. Kita sudah satu keluarga kan." Robert ikut menimpali


Reina tersenyum. Terasa sekali kehangatan di dalam keluarga ini. Reina tidak pernah merasakan memiliki ayah dan saudara karena Reina hanya tinggal dengan Penny, ibunya. Walau begitu, Reina tidak pernah kekurangan kasih sayang dari Penny


Alex menyentuh tangan Reina lembut "Kau melamun, sayang?"


"Eh tidak. Aku hanya sedang memikirkan ibuku." Kata Reina


"Sepertinya kau harus segera menemui ibu Reina dan meminta ijin untuk membiarkan Reina tinggal di sini." Kata Robert pada Alex sambil mengunyah sandwich nya.


"Eh, sepertinya ibuku tidak akan mengijinkan hal itu, tuan Ulrich. Kami termasuk kolot dalam memandang hubungan pria dan wanita." Kata Reina cepat


Robert tertawa mendengar ucapan Reina "Kau tenang saja. Aku sudah mengatur pernikahanmu dengan Alex dua jam lagi."

__ADS_1


__ADS_2