
Alex berjalan santai melewati kubikel-kubikel para pegawai menuju gedung sebelah tempat hasil bumi import dikumpulkan dan disortir. Sebagian akan di pasok di supermarket-supermarket besar, sebagian lagi akan dikirim ke pabrik untuk diolah.
Sesekali menganggukkan kepala ke arah pegawai-pegawai yang menyapanya saat Alex melintas
Kesibukan di gedung sebelah sedikit ramai karena sepertinya barang hasil bumi yang diimport baru saja datang. Terlihat dari beberapa truk yang berjajar masuk
Mata Alex melebar karena menemukan sosok yang di carinya. Terlihat Reina sedang mengecek beberapa barang yang masuk dan mencocokkan dengan data di iPad miliknya. Keberadaan Reina amat menonjol karena Reina adalah satu-satunya wanita yang berada di tempat entry barang
Alex tertawa kecil mendengar Reina menyuruh beberapa orang untuk membawa barang-barang yang sudah diperiksanya. Suasana disana cukup berisik tetapi suara Reina cukup terdengar nyaring
"Pantas saja suaramu kencang sekali sayang.." bisik Alex sambil tersenyum geli melihat Reina
Tiba-tiba mata Alex memicing melihat seorang lelaki datang mendekati Reina. Keduanya sepertinya sudah saling mengenal. Tangan Alex mengepal melihat Reina tertawa dengan pria itu. Entah kenapa, dada Alex terasa panas melihat kedekatan Reina dengan pria itu Kaki Alex bergerak maju saat melihat tangan pria itu tampak membenarkan rambut Reina.
***
Bagian pengadaan barang, hari ini terlihat lebih ramai karena hasil bumi yang di import dari Indonesia baru saja tiba
Reina dengan cepat memeriksa surat-surat yang dibawa setiap sopir untuk mencocokkan nama dan barang bawaannya
"Untuk barang yang sudah diperiksa, segera di turunkan dan taruh di tempat sortir." Ucap Reina kencang.
Beberapa pegawai pria langsung sigap mengangkat barang-barang hasil bumi yang sudah di periksa Reina. Di gedung ini, sebagian besar pegawainya di huni oleh para pria.
Teman-teman divisi Reina menyebutnya surga pengadaan barang, tempat mencuci mata, atau apalah itu karena hampir semua pria di sana memiliki tubuh berotot. Kemungkinan karena sering mengangkat-angkat barang, entahlah.
Tetapi tidak ada yang menyamai badan Alex. Reina pernah menemani Alex berolahraga di ruang olahraga milik Alex dan Reina lebih banyak terpesona melihat tubuh Alex yang berkeringat daripada berolahraga
"Hey, kau melamun."
Reina mendongak dan mendapati Kirk Larsson, tetangga sekaligus temannya dari kecil, teman lelaki Reina satu-satunya. Mereka sudah lama bertetangga. Kirk lebih tua tiga tahun dari Reina dan Reina sudah menganggap Kirk seperti saudaranya
"Kirk, kau disini?" tanya Reina
"Iya, kan aku salah satu sopir yang mengantar barang-barang ini. Kau tadi sempat melihat surat-suratku."
"Oh, maaf. Aku nggak sadar." Reina memandang Kirk dengan perasaan tidak enak
"Tidak apa-apa. Aku tahu kau sedang fokus dengan pekerjaanmu." Kirk tertawa. Reina juga ikut tertawa, mentertawakan dirinya tepatnya
__ADS_1
"Kenapa kau yang membawa truk barang? Biasanya kau hanya diam di kantor kan." Tanya Reina
"Beberapa sopir sedang sakit jadi mau tidak mau aku yang menggantikan karena kalau ditunda khawatir barang ini akan membusuk. Lagipula.." Kirk tersenyum sambil memandang Reina
"Lagipula?"
"Lagipula..Aku tidak rugi karena bisa bertemu dengan dirimu disini. Kau terlihat semakin cantik, Reina." Ucap Kirk sambil membenarkan rambut Reina
Kirk biasa melakukannya dan Reina juga tidak canggung. Gadis itu tertawa kecil menanggapi pujian Kirk. Andai Alex yang memujinya, tentu pipi Reina sudah memerah
BUUGH!!
Reina terpekik saat seseorang tiba-tiba meninju Kirk hingga terjatuh ke aspal. Reina menoleh dan melihat Alex yang menatap Kirk dengan marah. Beberapa orang berkerumun melihat apa yang terjadi
"Apa yang anda lakukan?!" teriak Reina sambil menghampiri Kirk dan mengecek apakah Kirk baik-baik saja
Amarah Alex membuncah melihat Reina justru menghampiri pria yang di tinju nya tadi. Segera Alex mendekati Kirk untuk kembali meninju pria itu namun Reina dengan cepat mencegahnya. Reina segera berdiri dan menahan dada dan tangan Alex yang terasa sangat kuat
"Hentikan pak, dia temanku!" Ucap Reina mencoba mengalihkan perhatian Alex
Berhasil! Mata Alex tajam menunduk melihat Reina dengan sorotan amarah "Kenapa? Kau mengkhawatirkannya, sayang?"
Reina menoleh ke arah Kirk yang masih meringis sambil memegangi rahangnya. Pipi pria itu terlihat memar, Reina meringis melihatnya
"Maafkan aku, Kirk." Ucap Reina.
Mendengar ucapan Reina membuat dada Alex tambah panas. Dengan langkah lebar, Alex segera membawa Reina pergi dari gedung pengadaan barang
"Reina!" panggil Kirk. Pria itu mencoba berdiri dan menyusul Alex dan Reina. Namun dua orang itu sudah keluar dari gedung
Alex membawa Reina menuju mobilnya. Willy yang melihat kedatangan Alex dengan sigap membukakan pintu untuk Alpha nya
"Masuk!" perintah Alex
"Aku masih di jam kerja. Aku tidak boleh meninggalkan kantor begitu saja!" Ucap Reina sedikit keras sambil mendongak menatap Alex
"Aku yang akan mengurusnya. Sekarang masuk!" Alex mengulangi perintahnya
Reina ingin sekali membentak Alex. Gadis itu kesal karena Alex selalu berbuat semaunya. Tetapi Reina tahu kalau dirinya marah, akan membuat Alex tambah murka. Akhirnya Reina mengalah dan menuruti perintah Alex. Alex pun ikut duduk di samping Reina.
__ADS_1
"Jalan, Willy!"
"Anda mau membawaku kemana?" tanya Reina saat mobil Alex keluar dari gedung Wind-Corp cabang Kingston
Alex tidak bersuara. Hanya rahangnya yang masih terlihat mengerat. Akhirnya Reina pun terdiam. Gadis itu menyandarkan punggungnya di kursi sambil melihat ke luar mobil
***
Mereka kembali ke rumah Alex. Dengan cepat Alex menggandeng Reina naik ke kamarnya. Alex dengan cepat membawa Reina masuk dan mengunci pintu kamarnya. Sedetik Alex menatap Reina kemudian menyergap dan memeluk gadis itu erat-erat
"Apa yang.."
Suara Reina seakan hilang tertelan ciuman Alex. Alex mencium Reina seolah-olah Reina adalah satu-satunya wanita yang berada di bumi. Alex merasakan amarah dan kerinduan di saat yang sama. Rasanya sungguh menyesakkan. Alex melepaskan ciumannya dan menatap dalam ke netra amber milik Reina
"Kau pergi kemarin untuk bertemu dengan pria tadi?" bisik Alex. Walau bernada rendah, Reina tahu Alex sedang menahan amarahnya
"Aku baru hari ini bertemu dengannya." Jawab Reina. Walau mereka bertetangga, tetapi kesibukan Reina dan Kirk membuat mereka jarang bertemu, terlebih mereka bekerja di perusahaan berbeda
"Kau terlihat bahagia saat bersamanya. Kau tertawa saat bersamanya, kau mengkhawatirkan dirinya dan aku tidak menyukainya, kau tahu itu sayang?" Alex mengeratkan pelukannya di pinggang Reina, membawa gadis itu mendekat ke arahnya. Reina menahan tangannya di dada Alex agar tubuhnya tidak terlalu menempel dengan tubuh Alex
"Dia temanku, Alex. Kau juga berbuat begitu dengan Trixie, kan?"
Kening Alex berkerut mendengar ucapan Reina "Kenapa kau membawa-bawa Trixie?"
"Kenapa? Kau tidak menyukai kalau aku menyebut teman kesayanganmu?" Cibir Reina sinis
Alex menggeretakkan giginya. Pelukannya mengerat membuat Reina sedikit meringis
"Jelas-jelas kulihat sorot mata pria itu, dia menyukaimu Reina!"
"Kirk tidak menyukaiku. Dia hanya menganggapku adiknya. Berbeda dengan Trixie yang jelas-jelas menyukaimu dan kau tahu itu!"
Alex terdiam. Pria itu memang mengetahui kalau Trixie menyukainya sejak dulu. Tetapi Trixie bukan mate nya. Walaupun Trixie sering membantunya, tetapi Trixie tidak bisa menemukan jiwa serigala di dalam tubuh Alex. Hanya mate nya yang bisa, dan mate Alex adalah Reina.
Reina menghela nafas. Perlahan Reina mendorong tubuh Alex untuk melonggarkan pelukan Alex
"Kalau kau masih belum mengerti, sebaiknya kita tidak usah bertemu. Kau pikirkan lagi, benarkah kau menyukaiku atau hanya karena aku mate mu padahal di dalam hatimu kau mencintai Trixie.."
Reina segera membuka kunci kamar dan pergi, meninggalkan Alex yang hanya menatap kosong ke arah pintu
__ADS_1