
Alex terbangun saat matahari belum sepenuhnya menerangi. Masih terlalu pagi sebetulnya untuk bangun apalagi aktivitas semalam cukup menguras energinya
Aktivitas semalam...
Tanpa sadar, Alex tersenyum senang mengingat peristiwa semalam bersama Reina. Apalagi saat ini gadis itu masih tertidur nyaman dalam dekapannya dengan selimut yang hanya menutupi tubuh polosnya sampai sebatas pinggang. Alex menghirup dalam-dalam wangi rambut Reina. Rasanya hari ini Alex begitu bersemangat menjalani harinya
Alex mengeratkan pelukannya sambil membayangkan peristiwa semalam yang terus membuatnya tersenyum. Jujur, Alex merasa bangga karena dirinya adalah lelaki pertama yang menyentuh Reina.
Gadis itu begitu nikmat, membuat Alex ketagihan dan ingin sekali menyentuh mate nya berkali-kali. Namun Alex menahan diri untuk melakukannya, ini pengalaman pertama untuk Reina. Alex tidak akan melakukan tindakan brutal
"Nggh.." Reina menggeliat merubah posisi tidurnya menghadap Alex sehingga Alex dapat melihat jelas tanda kepemilikan yang diberikannya di sepanjang leher dan dada Reina
Alex merapikan helaian rambut yang menutupi wajah Reina dan membelai pipi Reina yang terlihat merona saat Alex menggodanya semalam. Jempol Alex mengusap bibir Reina yang semalam meneriakkan namanya berkali-kali. Alex mendekat dan mengulum bibir merah muda alami yang terasa manis menurut Alex. Gadis itu hanya mengerutkan dahinya dengan mata yang masih terpejam. Sepertinya Reina kelelahan
"Kau milikku sekarang..Milikku seutuhnya.." Bisik Alex sambil terus menciumi bibir dan wajah Reina
Perbuatan Alex membuat Reina membuka matanya perlahan. Wajah tampan Alex yang pertama dilihatnya, kemudian adegan romantisnya semalam bersama Alex kembali terbayang dan membuat pipi Reina langsung memerah. Wajah tampan Alex terlihat begitu dekat dan langsung membuat jantungnya berdetak cepat. Reina memegang dadanya dan tersadar tidak ada kain yang menutupi. Segera Reina menarik selimut menutupi dadanya
"Mm..jam berapa sekarang?" Reina mencoba menutupi kegugupannya sambil mencoba melihat jam di dinding. Gadis itu sedikit meringis merasakan rasa tidak nyaman di bagian intinya saat mencoba bangun
"Kau menggemaskan, Rein."
Jawaban Alex yang melenceng jauh dari pertanyaan Reina membuat gadis itu makin malu. Wajah malu-malu Reina sukses membuat sesuatu di bawah tubuh Alex menggeliat bangun
"Mau mandi bersamaku?" Tawar Alex
Suara berat Alex terdengar begitu seksi di telinga Reina, suara yang memujinya sepanjang malam kemarin.
"Bagaimana?" Tanya Alex lagi, kali ini sambil membelai pipi Reina.
Gadis itu tahu ajakan Alex adalah sebuah modus yang dilancarkan untuk membuat Reina kelelahan. Reina khawatir dirinya tidak akan bisa bekerja hari ini
"Ng, kau duluan saja.." Tolak Reina, yang justru menbuat Alex semakin gemas.
Alex segera bangkit dan menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Reina. Lalu dengan sekali gerakan, Alex menggendong tubuh mungil Reina membuat gadis itu memekik sementara Alex tertawa-tawa
"Mana mungkin aku duluan sedangkan ada hal yang harus kita lakukan berdua di kamar mandi. Lagipula aku yakin kau tidak bisa berjalan saat ini." Ucap Alex nakal sambil menjilat bibir Reina dan menyesapi leher jenjangnya
__ADS_1
Reina melenguh dengan wajah kian merona membuat bagian bawah tubuh Alex kini tegak sempurna. Sepertinya akan butuh waktu lama untuk keduanya di kamar mandi
***
Penny memicingkan mata melihat sesosok pria yang di kenalnya sedang bersandar di rollingdor toko bunga miliknya.
"Ada apa lagi kau kemari? Bukannya sudah kubilang untuk menjaga rumah kaca? Minggir!" Usir Penny saat wanita itu hendak membuka toko miliknya
"Aku hanya bertanya, kapan kau akan mengenalkan aku pada anakku?" Jawab pria itu, membuat gerakan Penny terhenti. Wanita itu melihat beberapa saat kemudian melanjutkan aktivitasnya membuka toko
"Penny.."
"Dengar, aku sudah berbaik hati menerimamu bekeja denganku. Kau tidak perlu meminta lebih!" Ucap Penny keras
Pria itu menghela nafas berat lalu membantu Penny mendorong rolling door toko bunga milik Penny. Penny segera masuk dan mulai menata beberapa bunga untuk dipajang di luar
"Maafkan aku karena meninggalkan kalian, tetapi aku punya alasan melakukannya." Ujar pria itu sambil membantu Penny mempersiapkan tokonya
"Aku sudah tidak memikirkannya. Sekarang segera pergi dan berjaga di rumah kaca!" Usir Penny
"Penny.."
Pria itu mendesah sembari menunduk. Pria itu menuruti Penny untuk pergi. Baru beberapa langkah, pria itu berbalik menatap Penny
"Kau tahu Reina kemana?" tanya pria itu
"Dia sedang pergi bertugas di kantor pusat." Jawab Penny ketus tanpa melihat pria itu
"Kau pernah dengar Alexander Ulrich?" tanya pria itu lagi
"Tidak."
Pria itu mengangguk-angguk "Kupikir ini penting, aku melihat beberapa waktu lalu pria itu mengantarkan Reina pulang."
Penny pura-pura tidak peduli. Wanita itu terus saja menyiapkan bunga-bunganya. Pria itu menghela nafas dan berbalik pergi
Penny menghentikan aktivitasnya dan menatap punggung pria itu yang kian menjauh.
__ADS_1
"Alexander Ulrich? Apa ini ada kaitannya dengan lepasnya pagar penghalang yang kupasang?" Gumam Penny
Penny menggeleng-gelengkan kepalanya "Aiih, tidak mungkin Reina jatuh cinta pada pria itu, kecuali kalau..."
Mata Penny membulat seolah menyadari sesuatu. Penny segera berlari keluar toko mencari pria tadi. Nihil, Penny tidak menemukan pria itu.
Penny menangkupkan tangan di wajahnya "Aku kecolongan.." Desis Penny
Dalam hati Penny berharap, perubahan Reina adalah karena makeup yang biasa dipakai para gadis dan bukan karena hilangnya pagar yang diberikannya dulu
Penny kembali masuk ke dalam tokonya, tanpa disadari pria yang di carinya masih memperhatikan dirinya dari balik pohon
***
Hari ini Alex menghabiskan waktunya di kamar bersama Reina. Semua urusan Wind-Corp dan Wind Winders Pack hari ini diserahkan pada Evan dan Nick. Sepertinya semesta juga mendukung karena tidak ada rapat penting atau urusan mendadak mengenai Pack hari ini
Makanan dan minuman pun diantarkan pelayanan ke dalam kamar karena Alex menahan Reina untuk turun. Hari ini Alex benar-benar mendominasi Reina
"Reina.."
Suara Alex tertahan saat pria itu mencapai pelepasannya, memeluk tubuh mungil Reina yang sudah terlebih dahulu mencapai pelepasan yang entah ke berapa kali di hari itu. Peluh mereka menyatu dan menimbulkan sensasi tersendiri bagi keduanya
Alex membenamkan kepalanya di bahu Reina dan merasakan detak jantung gadis itu berdebar seirama seperti detak jantungnya. Terasa tangan Reina membelai rambut Alex
Alex mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Reina sembari tersenyum
"Kau menakjubkan. Terima kasih." Bisik Alex
Reina hanya tersenyum sambil mengecup kening Alex untuk membalas ucapan pria itu. Perlahan Alex berguling ke samping dan menarik tubuh Reina dalam dekapannya. Reina segera mencari posisi ternyaman di dada Alex. Tak lama gadis itu langsung tertidur.
Alex tertawa kecil mendengar suara helaan nafas yang teratur dari Reina
"Maafkan aku sudah membuatmu kelelahan hari ini.." Bisik Alex sambil mengecup kepala Reina
Alex bergerak perlahan agar tidak mengganggu tidur Reina. Segera Alex menyelimuti Reina dan mengecup pipi gadis itu kemudian pergi membersihkan diri
Di kaca wastafel kamar mandi, Alex melihat perutnya yang masih terbalut perban. Walau perbannya anti air, tetapi seharusnya Alex mengganti perbannya hari ini. Namun aktivitas bersama Reina telah membuatnya lupa. Lagipula Alex tidak merasa sakit sedikitpun
__ADS_1
Tidak sakit?? Kening Alex mengernyit
Bergegas Alex membuka perban yang menutupi luka perutnya dan tercengang...