
Cornell University Hospital, awal musim gugur.
"What the— Oh really! No!! Grand Duke! Kau benar-benar sudah menyia-nyiakan gadis yang salah, Dude. Sudah kuduga dari awal!! Lady Anna bahkan terlalu cantik untuk hanya menjadi pemeran tambahan, dia yang seharusnya menjadi tokoh utama wanitanya!!" ujar Jake sembari tertawa keras di atas ranjang ruang rawat inapnya.
" Tuan Lautner, Anda sebaiknya beristirahat dan tidak banyak beraktifitas dulu", ujar perawat yang tiba-tiba datang mengecek keadaannya.
Jake hanya tersenyum tipis padanya, "Tidak, Suster. Ini hanya hiburan untuk mengatasi kebosananku di masa pemulihan ini."
Perawat itu kemudian mengganti cairan infusnya selama beberapa menit saat ia sedang menonton film di salah satu platform streaming berbayar. Segera setelah perawat tersebut mengakhiri pemeriksaannya ia pun kembali ke layar laptopnya untuk melanjutkan adegan dari series Netflix yang sedang ia tonton.
Jake benar-benar sial, seminggu yang lalu ia sangat kelelahan hingga jatuh dari tangga di kantornya. Beruntung staff di perusahaan start up miliknya segera membawanya ke Unit Gawat Darurat dan mendapatkan pertolongan. Sehingga sudah seminggu ini ia terjebak di ranjang rumah sakit karena ada beberapa tulang kaki dan tangannya yang retak.
Dokter melarangnya untuk bekerja walaupun di atas tempat tidur, jadi ia hanya bisa menonton film untuk membunuh waktu-waktu panjang yang membosankan itu.
"Well, siapa yang mengira kalau akan muncul seorang saintess baru yang akan merubah alur ceritanya!" Kekeh Jake lagi, kembali mengomentari film yang baru saja ia tonton.
Ia membuka tab baru di mesin pencari onlinenya.
"...pemeran Anna Elizabeth Morratz..." gumam Jake sambil mengetik.
__ADS_1
Nihil
Aneh. Ah benar, tambahkan judul filmnya!
"...bagaimana dengan pemeran Lady Anna Elizabeth Morratz dari Game of Powers?—"
Huh?!
Bagaimana bisa tidak ada satupun info yang tercantum? Sial. Pasti ada yang salah dengan mesin pencari ini!
Jake benar-benar penasaran dengan nama asli dari pemeran Lady Anna. Tapi bahkan nama gadis itu tidak muncul di bagian credit filmnya ataupun mesin pencari.
Ia tidak memungkiri kalau salah satu alasan yang membuatnya tertarik menonton series ini hingga akhir adalah karena visual para pemainnya yang direpresentasikan bak dewa dan dewi. Series ini menceritakan romansa tokoh utama pria yang merupakan putra mahkota suatu kerajaan di dunia fantasi dengan tokoh utama wanita yang merupakan gadis yang berasal dari dunia modern.
Alurnya sederhana, sang putra mahkota dengan kekuatan es nya jatuh cinta kepada tokoh utama wanita yang merupakan wanita biasa namun diramalkan akan menjadi saintess pembawa kedamaian di kerajaan tersebut. Lalu ada tokoh utama pria kedua yang merupakan seorang Grand Duke pemilik kekuatan bayangan yang juga jatuh cinta pada si tokoh utama wanita. Padahal ia sudah memiliki tunangan yang cantik dan benar-benar mencintainya, tapi rupanya ia lebih tertarik kepada tokoh utama wanita yang pernah menolongnya sekali dan malah menjadi terobsesi karenanya. Hingga akhirnya Grand Duke berubah menjadi villain dalam series tersebut dan berakhir terbunuh ditelan oleh kegelapan miliknya. Tentu saja dengan tambahan bumbu intrik-intrik khas cerita kerajaan.
Pada episode tambahan setelah series berakhir barulah terungkap bahwa saintess yang sebenarnya bukanlah sang tokoh utama wanita, melainkan tunangan Grand Duke yang ia tinggalkan demi sang tokoh utama wanita.
Lady Anna Elizabeth Morratz muncul sebagai tokoh sampingan, yaitu putri tunggal Marquess Morratz yang menjadi tunangan politik sang Grand Duke. Grand Duke selalu bersikap dingin dan sinis padanya karena pria itu menganggap sang Lady hanyalah boneka para tetua dari fraksi bangsawan. Tidak demikian dengan yang dilakukan Grand Duke, Lady Anna tetap bersikukuh mengejar perhatian pria itu walaupun Grand Duke selalu menghindarinya dengan berbagai cara.
__ADS_1
Tidak seperti tokoh utama wanita, Kate, yang merupakan gambaran gadis modern Amerika cantik berambut cokelat dengan postur tinggi langsing seperti model. Lady Anna memilik wajah cantik bermata hijau yang klasik dan polos. Rambutnya panjang ikal dan berwarna silver, sangat tidak umum karena memang series ini bergenre fantasi. Belum lagi dilengkapi dengan tubuh putih sexy yang bisa menggoda pria manapun.
Tapi tentu bukan itu saja yang menjadi perhatian pria itu pada awalnya. Mata laki-laki Jake tidak bisa menghindari godaan visual yang menariknya secara seksual. Bagi pria seperti dirinya yang sekarang berusia 29 tahun dan bahkan tidak memiliki kekasih, siapa yang tidak akan tergoda dengan sepasang bongkahan payudara sebesar buah melon yang selalu menyembul-nyembul ingin keluar saat gadis itu berjalan menggunakan gaun abad pertengahannya. Belum lagi lekuk pinggang yang menyerupai gitar klasik dan pantat bulat padat berisinya.
'Kau benar-benar laki-laki yang mesum, Jake. Pikiranmu pasti sudah rusak karena terlalu lama tinggal di rumah sakit.' Gumamnya pada diri sendiri.
Tubuh Lady Anna benar-benar direpresentasikan sebagai simbol kesempurnaan putri bangsawan pada setting film itu. Proporsinya bisa dibilang sangat pas dari segi manapun, bahkan ia tidak yakin bisa menemukan aktris yang menyerupainya di masa sekarang.
Secara karakter pun, tokoh Anna berkembang pesat di setiap episodenya. Ia berubah menjadi female character yang cerdas dan mandiri tidak seperti tokoh utama wanita yang terkesan manja dan menyusahkan semua orang. Tidak heran karakter Anna akhirnya menjadi tokoh kunci yang menentukan kemana jalannya alur cerita mereka. Dan tidak satupun dari para tokoh utama yang dibuat menyadarinya. Para tokoh utama pria terlalu fokus dengan si gadis modern, yang bahkan sampai akhir benar-benar tidak memiliki kekuatan apapun.
'Sempurna'. Gumam Jake, 'Kalau aku jadi Grand Duke, sudah pasti aku tidak akan pernah melepaskan gadis seperti Anna. Apalagi demi mengejar tokoh utama yang menurutnya hanya sekedar cantik'. Lagi-lagi ia mengomentari tokoh Grand Duke dari series tersebut.
Nyut!
Kepala Jake tiba-tiba berdenyut seperti tersengat. Pandangannya mulai samar.
'Ah, sepertinya aku benar-benar harus istirahat seperti yang perawat tadi katakan.'
__ADS_1
...****************...