Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
Before Leaving


__ADS_3

Jake kembali dari ruang kerjanya. Ia telah melewati jam makan malam dan lebih memilih langsung memasuki kamarnya. Di dalam kamar ia mendapati Anna sedang menyunting beberapa surat di meja. Gadis itu menghentikan aktivitasnya begitu menyadari kehadiran Grand Duke. Ia tersenyum lembut menyambut sang suami.


"Ann, aku akan pergi selama beberapa hari untuk urusan kerajaan. Perintah dari kakakku. Aku akan pergi bersama Lucas. Mungkin 5-7 hari?" Ujar Jake membalas senyumannya sembari melepaskan beberapa pakaian luarnya.


Anna langsung menghampirinya untuk membantunya dengan pakaiannya. Akhirnya ia bisa melihat wajah sang istri lagi setelah seharian ia berada di luar rumah. Ia mengecup lembut bibir istrinya itu.


Anna mengerutkan keningnya dan bertanya, "Kemana?" Tangannya sibuk melepaskan jubah dan sabuk yang dipakai Jake. Kemudian membawa pakaian itu dan menaruhnya di keranjang dekat kamar mandi.


"Northern. Ada yang harus kami bereskan disana. Aku akan meninggalkanmu disini sementara waktu, ada pasukan ksatriaku yang akan menjagamu." Tukas Jake berusaha menjelaskan secara umum. Ia tidak menceritakan detilnya terutama tentang sang naga, agar Anna tidak merasa curiga.


"Saya mengerti, Yang Mulia." Jawab Anna tenang. Tidak banyak bertanya lagi. Keduanya kini duduk berhadapan di meja dengan Anna yang cekatan menuangkan secangkir teh untuk mereka berdua nikmati.



Terkadang Jake merasa nyaman dengan sisi Anna yang seperti ini. Gadis ini tidak pernah meragukan apapun yang ia lakukan. Kecuali mungkin saat melamarnya waktu itu.


"Jadi, kapan Anda akan berangkat Yang Mulia?" Anna menyodorkan secangkir teh yang telah ia buat ke arah Grand Duke.


"Besok pagi." Balas Jake sambil mengucapkan terimakasih atas teh yang Anna berikan. Anna mengangguk tanda mengerti. Keduanya saling bertukar pandang—keheningan menguar di antara mereka.


"Aku akan segera menyiapkan pakaian dan barang-barang Anda kalau begitu." Balas Anna buru-buru yang segera beranjak dari tempat duduknya.


"Hey, tidak. Tunggu. Claude pasti sudah mengurusnya" Jake segera menarik lengan Anna yang melintas melewatinya dan mendudukkan tubuh wanita itu di pangkuannya, "Yang terpenting.....Jadi..... Kau tahu, aku tidak akan bisa melihatmu selama beberapa hari ini, Ann."


Suara Jake terdengar merajuk. Matanya menatap Anna penuh harap. Ia memeluk pinggang istrinya erat dan mengelus paha Anna dengan lembut. Anna berusaha untuk tetap tenang dan menghela nafasnya. Keduanya kembali bertatapan intens.

__ADS_1


"Jake, apa hari ini pun Anda mau melakukannya?" Tanya Anna sedikit gelisah. Ia meremas kedua tangannya di atas pangkuan Jake.


Jake tersenyum geli. "Hari ini pun? Bisa-bisa orang mengira aku memaksamu untuk melakukannya setiap hari. Apakah kau merasa terbebani sayang? Aku kira kita melakukannya atas dasar cinta."


Wajah Anna merah padam. Ia serba salah dan merasa salah tingkah. Bukan maksudnya untuk mempertanyakan hal itu. Ia hanya ingin memastikan gelagat sang Grand Duke. Ah kenapa juga suaminya itu malah menggodanya seperti ini?


......................


Anna dan Jake berendam dalam keheningan malam, dikelilingi oleh aroma harum lilin yang menyala di sekeliling mereka. Air hangat yang mengalir di dalam bathtub membawa sensasi relaksasi dan ketenangan.


Anna merasakan sentuhan lembut saat Jake mengelus punggungnya dengan penuh kasih sayang. Dia membuka matanya perlahan, memandanginya dengan kelembutan.


"Eughhhhhhh...hhhhhhh.... Jake, kau janji tadi yang terakhir...ahhhh...ahhhh..." Anna melenguh merasakan meriam kejantanan Jake yang tiba-tiba menerobos masuk ke daerah intimnya lagi. Keduanya sedang mandi bersama berendam di bak mandi sejak satu jam yang lalu. Dan sudah berulang kali mereka melakukan hubungan suami istri itu di dalam air dengan berbagai posisi. Kini Jake memangku istrinya itu sambil memeluk dan meremas kedua bukit susu Anna dari belakang.


Bibirnya mencium segel yang ada di leher Anna dan berbisik, "Ahhh... Aku tidak bisa menahannya jika sedang bersamamu, Ann. Kali ini benar-benar yang terakhir."


Anna bisa merasakan air hangat yang merembes masuk ke dalam lubang kewanitaannya setiap kali Jake mulai memompa tubuhnya naik turun. Batang keras dan kokoh itu mulai terasa mengaduk-ngaduk rahimnya kembali.


Ia kembali dibuat merasa bergairah—hanya bisa pasrah melebarkan kedua pahanya di dalam bak mandi. Tubuhnya sebenarnya sudah lemas karena telah mencapai puncaknya hingga beberapa kali sejak pertama sang suami mengajaknya mandi bersama.


"Aku tidak bisa merasakan lebih banyak kebahagiaan daripada saat ini," kata Jake sambil memegang tangan Anna. "Kau adalah milikku Ann dan aku janji akan menjaga dan mencintaimu sepanjang hidupku."


Jake merasakan api cinta yang membara di dalam dirinya saat ia memandang Anna dengan penuh keinginan di dalam bathtub. Kehangatan air dan kelembutan cinta yang mereka bagikan hanya memperkuat keinginannya untuk lebih mendekati Anna.


Dalam benak Jake, pikirannya terus berputar tentang hasrat yang tak terpuaskan. Ia ingin meluapkan kasih sayangnya kepada Anna berulang kali, memperdalam ikatan mereka dalam setiap momen intim yang mereka miliki. Satu kali tidak pernah cukup baginya.

__ADS_1


Tetapi, di balik keinginan yang membara, ada rasa kekhawatiran dalam pikiran Jake. Ia ingin memastikan bahwa Anna juga merasakan kepuasan dan kenikmatan yang sama. Keinginan untuk memberikan kebahagiaan dan kepuasan kepada istrinya menjadi prioritas baginya.


Jake sudah menjadikan kegiatan mandi bersama itu menjadi ritual intim mereka selain di tempat tidur. Tapi bahkan tidak cukup sekali dua kali sang Grand Duke membuat istrinya keluar, melainkan sampai berkali-kali.


Usia pernikahan mereka baru beberapa hari tapi Jake tidak pernah melewatkan kesempatan untuk bercinta dengan istrinya itu. Anna tidak menyangka sang Grand Duke menjadi sangat liar seperti sekarang. Pria itu benar-benar bertenaga dan tidak melepaskannya sedikitpun. Ia bahkan sudah tidak pernah bisa merasakan tidur dan mandi seorang diri lagi sejak hari pernikahannya. Jacob selalu memintanya untuk melakukan itu semua berdua tanpa terkecuali.


Bahkan pelayan-pelayan di kediaman Hannover sekarang sudah tidak terkejut lagi jika memergoki atasan mereka itu bisa melakukan hubungan suami istri dimana saja. Hampir semua tempat di dalam kastil telah menjadi lokasi keduanya memadu kasih. Kamar, perpustakaan, ruang makan, hingga kebun sudah pernah menjadi saksi cinta mereka.


Ah bahagianya menjadi pengantin baru, pikir para pelayan memaklumi. Bahkan sekarang para pelayan sedang menebak-nebak kapan kira-kira sang pewaris akan hadir di tengah-tengah mereka. Apakah akan ada bayi laki-laki atau perempuan.


Atau sekedar bertaruh sampai berapa lama sang Grand Duke mengurung Grand Duchess di kamar untuk melayaninya. Bahkan tidak jarang para pelayan juga malah merasa kasihan kepada Grand Duchess mereka yang sepertinya kewalahan menghadapi keperkasaan sang tuan.


Grand Duke selalu menunjukkan kepada semua orang bahwa ia sangat mencintai istrinya itu. Bahkan sangat terkesan terobsesi. Seminggu pernikahan mereka, Grand Duke benar-benar meninggalkan seluruh kesibukannya dan hanya fokus berbulan madu dengan sang istri. Sir Phillips dan Sir Markus sampai harus lembur menggantikan tugas tuan mereka itu selama masa-masa awal pernikahan.


Para pelayan yang melayani Grand Duchess bahkan bisa melihat keganasan tuannya melalui jejak-jejak kemerahan di sekujur tubuh nyonya mereka. Setiap hari mereka harus mengganti sprei di ranjang kamar Grand Duke yang selalu basah kuyup karena permainan keduanya.


Tidak ada yang berani masuk ke kamar mereka berdua jika Grand Duke tidak memintanya. Itu karena sang Grand Duke hampir setiap waktu selama seminggu tidak pernah tidak menggarap istrinya. Suara erangan dan rintihan kerap kali terdengar keluar di waktu pagi, siang, sore dan malam. Jacob tidak membiarkan Grand Duchess hilang sedikitpun dari pandangannya. Bahkan selalu memberikan banyak hadiah kepada wanita itu sebagai balasan telah melayaninya dengan baik sebagai seorang istri.


"Arrgghhh... Aagghhh...Jake... A-aku akan keluar lagi..." Lenguh Anna dengan tubuh terendam di dalam air. Desahannya menggema di dalam kamar mandi. Pinggulnya menggelinjang menahan orgasmenya sendiri sementara sang Grand Duke masih terus menggenjot tubuhnya.


"Aku juga....Eughhhh...hhhh..." Balas Jacob sambil melepaskan beberapa klimaksnya ke dalam rahim Anna berkali-kali.


Keduanya tersengal-sengal di dalam air bak mandi. Jake meraup bibir Anna dan mulai bergulat dengan lidah wanita itu. Ia bahkan sudah hampir lupa bahwa dirinya sedang terjebak di dunia lain. Hanya gairahnya terhadap Anna yang kini menguasai tubuhnya.


__ADS_1


Masa bodoh dengan dunia lain. Aku bahkan tidak punya kekasih di kehidupan lamaku. Siapa yang bisa menolak kenikmatan di depan mata. Bahkan jika Anna bukan saintess aku akan tetap menikahinya dan melahapnya setiap hari seperti ini. Tidak ada yang memberi tahuku kalau rasanya sangat enak dan membuatku kecanduan. Ia kembali menghirup tubuh Anna sepuasnya. Menanamkan feromon istrinya itu di benaknya dan tentu saja mengaktifkan energi dalam segel yang ia buat tepat di tengkuk sang istri.


...****************...


__ADS_2