Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
The Deal


__ADS_3

Menara Batu.


"Kau bukan dia, Aunthera. Aku tidak akan mengikuti permainanmu." Jake tertawa terkekeh dan dengan lugas menunjukkan penolakannya.


Sang dewi terdiam. Wanita itu membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi tidak ada yang keluar ketika dia melihat tekad di wajah Grand Duke. Ia menghela napas dan pasrah pada kekeras kepalaannya.


"Bukankah kau menginginkan anugerahku? Aku akan memberikannya padamu." Bisik sang dewi di telinga Jake. Matanya berkilat lagi ke arah sang Grand Duke.


Jake tetap berbicara dengan nada datar. "Aku memiliki tawaran yang lebih baik untuk mu."


Sang dewi tampak tersenyum masam dan tidak bergairah dengan tawaran Grand Duke. Ia menyeringai kembali.


"Apakah aku tidak menarik di matamu? Sang saintess yang kau inginkan itu...."


Jake menoleh dan bertatapan langsung dengan kedua mata wanita itu. Menatap dalam tepat di iris matanya. Memotong pembicaraan sang dewi.


"Kau bisa pergi meninggalkan menara ini, kalau kau mengizinkanku untuk melanjutkan perjalananku ke lantai menara selanjutnya." Kilah Jake cepat.


Aunthera menggelengkan kepalanya, bibirnya tersungging dan dewi itu melangkah mundur sedikit. Ia mengibaskan tangannya dan memutar tubuhnya berbalik membelakangi Jake. Meninggalkan pria itu dalam keheningan sampai akhirnya ia berbicara dengan nada serius.


"Kau tahu? Aku harus tetap berada di sini." Ujarnya ringan.


"Kutukanmu, dewi Aunthera yang cantik, terkurung di menara karena ingin menyelamatkan kekasihnya yang hanya manusia biasa. Dan terpaksa meninggalkan putrinya di dunia manusia. Tidakkah kau merindukan gadis kecil itu?" Balas Jake tanpa memberikan sang dewi waktu untuk beralasan lagi.


Percy terkejut dan begitu juga dengan sang dewi Aunthera. Wanita itu berpaling murka dengan emosi yang tertahan.


"Kau..... Darimana kau .... tahu?" Ucapnya sedikit bergetar.


"Berikan anugerahmu padaku. Itu bisa berupa permintaan, bukan? Aku akan memintanya untuk pertemuanmu dengan putrimu."

__ADS_1


Keduanya saling terdiam. Jake menunggu respon sang dewi. Sementara dewi Aunthera sendiri tampak mencerna seluruh perkataan sang Grand Duke padanya.


"Siapa yang mengirimmu kesini wahai Grand Duke? Apakah kau hanya sedang mengujiku?" Lagi-lagi sang dewi tersenyum miris kepadanya. Ia kembali menghampiri sang Grand Duke.


Jake menggeleng dan terkekeh. "Tidak ada. Anggap saja pertemuan kita adalah takdir. Kau sangat cantik dewi, tapi aku tidak bisa menipu diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku memiliki muka bertemu dengan istriku lagi jika aku harus memuaskan nafsumu? Lagipula anugerahmu tidak berlaku untuk dirimu sendiri, kau hanya bisa mengabulkan permintaan manusia yang kau inginkan bukan? Anggap saja sekarang kita sedang bertransaksi."


"Hanya satu permintaan dan kau bisa memiliki dunia. Mengapa kau malah menukarnya dengan keinginanku?" Telisik sang dewi menatap tajam Jake. Mencoba kembali menggoda pendirian sang Grand Duke.


"Aku mengetahuinya Dewi. Tidak pernah ada manusia yang kau biarkan lolos dan berhasil mendapatkan anugerahmu sebelumnya. Mereka yang masuk lebih dulu ke tempatmu hanya berakhir dalam fantasi memabukkan yang membawa diri mereka sendiri kepada kematian. Itu semua hanya ilusimu. Dan lagi....... karena aku tahu kau adalah ibu yang baik. Serta aku hanya ingin melanjutkan perjalananku. So yeah—" Jake mengangkat bahunya.


Smirk.


"Baiklah. Aku harap kau tidak menyesalinya, Tuan." Aunthera tersenyum penuh arti membalas perkataan Jake.


"Tidak akan pernah." Jawab Jake tegas.


"Well. Segera katakan permintaanmu itu wahai manusia."


"Pertemukanlah dewi Aunthera dengan putrinya dimanapun dia berada dalam keadaan hidup sekarang juga, hanya jika..... Sang dewi membukakan pintu untukku ke tingkatan menara selanjutnya."


Sang dewi terhenyak sesaat menyaksikan Grand Duke yang benar-benar mengatakan permohonan terkait dirinya itu. Ia merasa takjub dengan ekspresi tak percaya. Bagaimana bisa ada manusia yang bersedia mengabulkan keinginannya. Selama ini semua manusia yang datang padanya ke menara itu hanya meminta untuk diri mereka saja.


Matanya hampir berair dengan tatapan penuh harap. Merasa bahagia sekaligus tidak percaya dengan apa yang ia dapatkan setelah sekian lama terkurung di dalam menara itu.


"Kau begitu bijaksana, Tuan. Terimakasih. Aku akan menghadiahimu satu anugerah lagi dariku." Ucap sang dewi pada akhirnya sembari mengangguk menghaturkan rasa terima kasihnya.


Aunthera menjentikkan ibu jarinya dan menunjuk Jake dengan jemarinya. Melambai ringan dan seberkas sinar berderak melayang menuju pria itu. Sang dewi tersenyum dan berkata.


"Benang ini akan selalu menghubungkanmu dengan wanita yang kau cintai. Seberapapun jauh jarak kalian terpisah, kau atau dia akan selalu bisa menemukan keberadaan satu sama lain."

__ADS_1


Wajah Jake berubah cerah dan berbinar. Ia membungkuk khidmat ke arah sang dewi. Tidak lama kemudian Aunthera pun menghilang dari tempatnya.


"Terimakasih, Dewi."


......................


Istana Rotha.


Sang raja termenung sedih duduk di singgasananya. Jarinya menopang dahinya yang kini mengerut semakin dalam. Sang ratu dan beberapa penasihatnya turut menemaninya di aula istana itu.


"Kemana dia? Apakah anak itu dibawa lari oleh entitas asing yang merasukinya lagi?"


Ratu menggeleng dengan lembut. "Tidak mungkin, Yang Mulia. Dayang pribadinya juga ikut menghilang bersamanya."


"Cepat kerahkan semua pasukan untuk mencarinya di segala penjuru. Kita tidak mungkin menunggu saja. Beberapa jam lagi malam akan segera turun." Sang raja menghela napas dalam-dalam sembari menunjuk ke arah komandan ksatria yang memang sedari tadi sigap menunggu titah sang baginda.


Setelah komandan ksatria istana keluar membawa pasukannya untuk mencari sang pangeran, tiba-tiba beberapa ksatria kerajaan lainnya merangsek masuk ke dalam aula dan berhadapan dengan sang raja.


"Yang Mulia." Pria itu bersimpuh.


Anna keluar menampakkan dirinya dari tengah rombongan. Pandangan mata semua orang kini tertuju kepadanya. Suasana menjadi hening dan senyap beberapa saat. Terdengar gumaman dan bisikan penasaran dari para bangsawan yang hadir di sana.



"Siapa wanita ini?" Sang raja menyipitkan matanya mengamati Anna dengan cermat.


Anna segera membungkukan badannya memberi hormat kepada penguasa Rotha itu. "Anna Elizabeth, Grand Duchess of Hannover memberikan salam kepada matahari Kerajaan Rotha."


Semua orang di dalam ruangan itu langsung melontarkan keterkejutannya dan terkesiap kaget mendengar nama keluarga Hannover keluar dari mulut wanita itu. Keluarga sekaligus istri sang Grand Duke dari Lawrence.

__ADS_1


Sang raja kembali mengerutkan keningnya. Tapi komandan ksatria yang membawa Anna segera maju dan membisikkan sesuatu ke telinga sang raja. Pria tua itu terhenyak dan mengatupkan mulutnya.


...****************...


__ADS_2