
Anna menyerah pada keinginan Grand Duke, ia memberikan dirinya sepenuhnya kepada suaminya itu. Mereka terhanyut dalam momen keintiman yang melampaui kata-kata, saling menyampaikan cinta dan kepuasan melalui sentuhan dan pandangan yang penuh hasrat.
Anna merintih sambil berbisik. "Ahh Jake... Aku sepenuhnya milikmu."
Jake dengan penuh kelembutan meresponnya dengan mengeratkan pelukannya. Wajahnya tenggelam di tengkuk sang istri. Sedangkan bagian intim keduanya masih terpaut satu sama lain. "Ya, kau adalah segalanya bagiku."
Namun, ketika keduanya sedang berada dalam momen yang penuh gairah itu, tak terduga suara vas bunga yang jatuh ke lantai terdengar dari dalam kamar. Diikuti suara langkah cepat yang kemudian terdengar di luar pintu kamar mandi mereka. Anna terhenyak menyadari kalau ada yang tidak beres. Ia buru-buru mencengkram bahu Jacob erat.
"Siapa itu Yang Mulia? Ada yang masuk ke dalam kamar kita." Gumamnya khawatir. Nafasnya masih terengah-engah meladeni suaminya itu.
Jake yang sedang memeluk Anna dari belakang menggelengkan kepalanya berusaha untuk tidak menghiraukannya, "Mungkin salah seorang pelayan, Ann." Ia kembali menghirup leher Anna dalam-dalam.
Wajah Anna berubah cemas, ia segera melepaskan tangan Grand Duke dari dadanya
"Tidak. Aku telah mengunci pintu kamar kita sebelum ini." Ujarnya panik.
Sigh. Jake menggerutu dalam hati. Ia sudah tahu siapa tikus yang datang ke kamarnya.
Anna segera menyambungkan pikirannya kepada spirit guide nya, Shayn. Ia bertanya cepat.
Siapa itu Shayn? Kau pasti melihatnya kan??
Ehmmm.....itu.... keponakan Grand Duke.
Shayn menjawab ragu-ragu. Ia tidak sempat memperingati Anna tadi saat pemuda itu tiba-tiba muncul menggunakan kekuatan teleportasinya ke dalam kamar Grand Duke.
Wajah Anna berubah pucat pasi. Ia memekik dalam hati. Apa?!! Putra mahkota maksudmu—
Y-yeah. Shayn membalas singkat.
......................
Sang putra mahkota kembali ke istananya dengan nafas yang memburu. Hampir saja ia mendapati dirinya tertangkap tangan memasuki kamar pamannya, Grand Duke tanpa izin.
Ia bermaksud menemui sang paman di kediamannya untuk memberitahukan suatu hal terkait rencana mereka membebaskan sang naga. Claude, kepala pelayan Grand Duke memberitahukan bahwa pamannya itu sedang berada di kamarnya sehabis memeriksa dokumen.
Keduanya memang terbiasa saling mengunjungi menggunakan kekuatan teleportasi masing-masing dan tentu saja tanpa pemberitahuan lebih dahulu. Ia pun langsung menuju ke kamar sang Grand Duke.
Begitu ia sampai di kamar sang paman, tidak ada siapapun disana. Ia hendak memanggil nama sang Grand Duke sampai terdengar suara bising dari dalam kamar mandi.
Ah. Pamannya itu sedang membersihkan diri rupanya. Ia pun berniat menunggunya saja di dalam kamar. Namun Lucas terkejut dengan apa yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan. Ia terperangah, mencoba mencerna suara apa yang baru saja ia dengar dari dalam kamar mandi sang paman.
Perlahan ia mendekatkan dirinya ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Ia menempelkan telinganya ke pintu dan menajamkan indra pendengarannya. Sayup-sayup Lucas mulai mendapati kalau suara bising itu lebih mirip ******* dan erangan pria dan wanita yang saling beradu. Sesekali ia juga bisa mendengar suara lenguhan sang paman yang diiringi jeritan dan rintihan seorang wanita.
Degh.
__ADS_1
SIAL!!
Lucas segera menyadari kesalahannya yang telah memasuki kamar sang Grand Duke tanpa izin. Tentu saja pamannya itu sedang bersama sang istri. Pria itu sudah bukan lagi pemuda lajang seperti dirinya. Kepala pelayan sialan itu juga tidak mencegahnya sama sekali. Atau dirinya saja yang memang tidak sopan datang di waktu istirahat?
Ia tidak pernah membayangkan bahwa Grand Duke, pamannya yang dikenal dengan sifatnya yang dingin dan kaku, dapat memiliki nafsu dan kegairahan yang demikian kuat terhadap istrinya itu. Suara keduanya benar-benar terdengar gila.
Kejadian ini mengganggu pikiran dan perasaannya. Lucas pun segera berjalan mundur perlahan dari balik pintu kamar mandi. Ia sedang mencoba berbalik sampai tiba-tiba sebuah vas terjatuh tersenggol lengannya.
PRANGG!!!
BR*NGSEK.
................
Dalam keadaan bingung dan dipenuhi dengan perasaan canggung, Lucas meninggalkan kediaman Grand Duke dengan langkah berat. Ia kembali ke istana dengan pikiran yang aneh dan hati yang gelisah. Sang putra mahkota itu merenung dengan pikiran yang kacau.
Lucas tidak bisa melupakan adegan yang tak sengaja ia dengar antara sang paman dan istrinya. Walaupun ia hanya mendengar suara mereka, tapi kini pikirannya terus berkembang liar. Perasaan cemburu dan kecewa bercampur aduk dalam hatinya.
Di tengah pikirannya yang gamang Lucas bertemu dengan sang saintess, wanita yang pernah menarik perhatiannya sebelumnya dalam perjalanan kembali ke kamarnya.
Lucas pun berusaha mencari pelarian dan pengalihan dari perasaannya yang terasa rumit karena kejadian tadi. Ia mulai mempertanyakan apakah kehadiran Kate dalam hidupnya hanya memenuhi rasa kesepian atau ada sesuatu yang lebih dalam.
Kate berdiri di ujung lorong istana dengan tatapan kosong di matanya. Raut wajahnya tampak cemas, seolah membawa beban pikiran yang berat. Lucas mendekatinya dengan hati yang berdebar, takut mengungkapkan perasaan yang baru saja menghantuinya.
Kate mengangkat wajahnya dan terkejut melihat Lucas di hadapannya. Tatapan mereka saling bertemu, dan dalam keheningan sejenak, suasana terasa tegang di antara mereka.
"Y-yang Mulia, apa yang sedang Anda lakukan di sini?" tanya Kate dengan suara gemetar. Ia sebenarnya belum siap berhadapan lagi dengan sang pangeran. Terlebih setelah percakapannya dengan pria berambut merah itu.
Kate berbalik dan tersenyum tipis saat melihat Lucas mendekat. "Ada yang bisa aku bantu, Pangeran?"
Lucas mencoba menenangkan dirinya, menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara.
"Mengapa kau berada di luar? Dan kemana para pelayan yang menemanimu? Hari sudah malam, saintess. Biarkan aku mengawalmu sampai ke kamar." Tanya Lucas.
Kate menggeleng pelan, "Tadi pagi Yang Mulia Raja sudah mengizinkanku berjalan-jalan di sekitar kamar. Aku...... hanya sedang melihat-lihat."
"Baiklah. Kebetulan aku sedang mencari teman bicara. Mungkin kau bisa menemaniku selama perjalanan ke kamarmu." Lucas tidak ambil pusing dan mempersilahkan sang saintess berjalan di sampingnya. Gadis itu pasti bosan terkurung di kamarnya. Keduanya berjalan perlahan kembali menuju kamar saintess.
"Aku... Aku baru saja mendengar hal yang tak seharusnya aku dengar," jawab Lucas memulai pembicaraan, suaranya masih terguncang.
Lucas mengambil napas dalam-dalam, mencoba menemukan kata-kata yang tepat. "Aku ingin tahu, saintess... Menurutmu apa yang membuat sepasang manusia yang berbeda karakter bisa memiliki hubungan yang begitu dekat?"
Kate menatap Lucas dengan kebingungan. Ia merasa ada sesuatu yang tak beres, tetapi belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Apa sih yang sedang laki-laki ini bicarakan? Kau tidak seharusnya menanyakan hal itu kepadaku. Gumam Kate membatin.
Lucas merasakan kebingungan yang semakin menggelayut di dalam dirinya. Kejadian di kamar mandi telah mengguncang keyakinannya tentang hubungan yang ia inginkan. Ia melihat pamannya, Grand Duke, yang begitu terobsesi dengan Lady Anna, menciptakan kedekatan yang dalam di antara mereka. Lucas merasa kecemburuan yang tumbuh di dalam dirinya, dan keinginannya untuk memiliki hubungan yang sama seperti yang dimiliki oleh kedua orang itu semakin kuat.
"Dalam situasi seperti ini, aku merasa semakin ingin menemukan seseorang yang bisa aku percayai sepenuhnya, seseorang yang bisa kucintai dan menjadi pendamping hidupku," ucap Lucas lagi, suaranya penuh dengan kepastian.
Kate terkejut mendengar kata-kata tersebut. Wajahnya mencerminkan kebingungan dan rasa tidak siap. Ia merasa terjebak dalam situasi yang rumit dengan sang putra mahkota.
"Yang Mulia, aku... aku tidak tahu apa yang harus kukatakan," kata Kate dengan suara gemetar.
Lucas mendekati Kate dengan hati yang terbuka. Ia ingin memberikan dukungan dan kepastian pada Kate, sekaligus mencari jalan keluar dari perasaannya yang rumit ini.
"Kate, aku tahu bahwa perasaan kita belum saling terikat. Aku hanya ingin tahu apakah kau juga merasakan hal yang sama. Aku ingin menjalin hubungan yang serius denganmu" ujar Lucas dengan penuh keberanian.
Kate terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Lucas. Ia melihat ke dalam dirinya sendiri, mencoba memahami perasaannya yang sedang bergejolak. Ia tidak pernah membayangkan bahwa situasi ini akan terjadi.
"Pangeran, ini situasi yang rumit, dan aku masih harus memikirkannya lebih dalam. Aku bahkan tidak memiliki keberanian setelah malam itu," kata Kate dengan suara pelan.
Dalam keheningan yang menghiasi jalur sepanjang lorong istana, Lucas dan Kate saling menatap dengan rasa harap dan ketidakpastian di dalam hati mereka.
Kate merenung sejenak, memikirkan kata-kata yang pria aneh berambut merah itu sampaikan kepadanya. Rencana yang diberikan pria itu terdengar menarik di telinganya sekarang. Ia melihat kesempatan untuk menggunakan situasi ini dengan Lucas, untuk mencapai tujuannya.
Dalam situasi ini, aku bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan keuntungan. Haruskah aku memulainya sekarang? Gumam Kate dalam hati.
Ia menyadari bahwa Lucas sedang terombang-ambing oleh perasaannya yang bergejolak, serta kebingungan yang baru ia alami. Kate merasa bisa mengambil peran yang lebih signifikan dalam perasaan Lucas, dan dengan itu, dapat mengendalikan situasi yang sedang berlangsung.
"Yang Mulia," panggil Kate dengan suara lembut, mencoba mengalihkan perhatian Lucas kepadanya.
Ah ia sangat menyukai suara sang saintess yang memanggilnya. Lucas menoleh ke arah Kate, matanya penuh dengan kebingungan dan keraguan. Ia masih mencoba memahami perasaannya sendiri, tetapi kehadiran Kate memberikan sedikit ketenangan dalam kekacauan emosional yang ia rasakan.
"Apa yang ingin kau katakan, saintess?" tanya Lucas dengan suara ragu.
Kate berjalan mendekati Lucas, memperhatikan setiap reaksi dan ekspresi wajahnya. Ia merasa bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengembangkan rencananya.
"Yang Mulia, aku melihat betapa sulitnya bagimu menghadapi situasi ini. Aku ingin membantumu, menjadi seseorang yang ada di sampingmu, seseorang yang dapat kau andalkan," ujar Kate dengan suara penuh kelembutan.
Lucas menatap Kate dengan campuran perasaan antara rasa lega dan keraguan. Ia mengerti bahwa Kate sedang mencoba memberikan dukungan kepadanya, tetapi ada sesuatu yang tidak sepenuhnya terasa benar.
"Apa yang kau maksud, saintess?" tanya Lucas, mencoba mencari kejelasan.
Lucas menatap sang saintess dengan rasa ingin tahu yang kian memuncak. Ada kehangatan yang ia rasakan saat berada di dekat Kate, sesuatu yang tidak pernah ia alami dengan yang lain. Mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk mempertimbangkan perasaannya terhadap Kate.
"Yang Mulia, cinta tidak bisa dipaksakan atau dibandingkan—" ucap Kate dengan bijaksana.
"Tunggu saintess, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya seperti yang aku lihat sekarang," potong Lucas dengan suara lembut. "Mungkin kita harus memberi kesempatan pada perasaan ini dan melihat apa yang akan terjadi di antara kita?"
Sorot mata mereka saling bertemu, dan saat itulah mereka berdua merasakan kilatan keinginan yang terpantul di antara keduanya. Ada magnet yang kuat dan tak terbantahkan antara Lucas dan Kate.
__ADS_1
Dalam benak Kate, ia menahan senyum kecil kepuasan. Rencananya berjalan sesuai harapan. Dia merasa yakin bahwa dengan menjaga hubungannya dengan Lucas tetap dekat, ia dapat mengendalikan jalannya rencananya sesuai keinginannya.
...****************...