Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
Rotha Intruders


__ADS_3

Kerajaan Rotha adalah kerajaan dimana saintess cahaya muncul pertama kali. Namun itu beberapa ribu tahun yang lalu, sebelum benua terpecah belah dan terbagi menjadi beberapa kerajaan seperti sekarang. Mereka juga memiliki ramalan yang sama terkait kemunculan saintess.


Namun mereka mengingkari bahwa saintess akan muncul selain di kerajaan Rotha. Ketika kabar saintess Kate terdengar ke kerajaan mereka. Para anggota kerajaan bekerja sama dengan perwakilan kuil mereka untuk membawa saintess cahaya ke kerajaan Rotha.


Lucas memegang pesan dari pamannya, Grand Duke. Ia baru membaca pesan itu saat tiba di istana. Hari ini tiba-tiba sebuah tebing longsor menutup jalan utama pendistribusian perdagangan kerajaan Lawrence. Ia segera melakukan inspeksi bersama pengawalnya di pagi hari dan baru kembali ke istana sore ini.


Rotha membawa sepuluh ksatria pasukan elitnya dan dua grup ksatria pengawal. Mereka menyusup melalui sungai di perbatasan dan memasuki gerbang ibukota. Segera bawa saintess ke tempat aman.


^^^**Grand Duke of Hannove**r^^^


Lucas segera menuju bagian istana tempat saintess berada. Ia mendobrak masuk ke kamar saintess yang hening dan sepi. Tidak ada kehidupan di kamar itu. Bahkan jejak-jejak bayangannya pun tidak terlihat.


Sang putra mahkota meremas kertas dalam genggamannya itu. Wajahnya pucat pasi menahan amarah. Ia segera berteriak memanggil para pengawal. Grand Duke sudah mencoba memberitahukannya, tapi ia terlambat.


Pasukan Rotha diam-diam telah menyusup sebagai dayang istana. Mereka adalah ksatria wanita kerajaan Rotha yang telah dilatih khusus untuk pengintaian dan penyusupan. Kate dibuat tidak sadarkan diri. Ada rekaman dari cermin sihir yang dipasang di setiap sudut istana sebagai pengaman yang memperlihatkan pergerakan mereka.


"Kalian benar-benar cari mati." desisnya saat menyadari sang saintess telah dibawa sejak siang hari. Sudah lewat beberapa jam dari waktunya kembali ke istana.


......................


Malam harinya Lucas mendapatkan laporan kalau para pasukan Rotha sudah melewati perbatasan dan kembali ke kerajaan mereka. Ia segera menyusul dan mendapati kalau pamannya juga ikut mengirimkan pasukan bantuan untuknya mencari sang saintess. Bersama-sama mereka berhasil mengalahkan para komandan pasukan dan tersisa beberapa prajurit pengawal saja.


Sang putra mahkota berusaha mengejarnya hingga berhasil menyudutkan para ksatria yang bertugas membawa sang saintess. Ia bisa melihat sang saintess yang terikat dan tak berdaya. Sepertinya kesadaran gadis itu sudah kembali sejak ia dibius di istana.


Lucas meneriakkan aba-aba untuk menahan pergerakan mereka karena para ksatria Rotha sudah mencapai bibir jurang dari tebing yang sangat tinggi di tepi sungai. Langit sudah berangsur-angsur kehilangan cahayanya menuju malam. Ditambah dengan hujan yang mengguyur kerajaan Rotha seharian. Membuat tanah licin dan batu berguguran dari atas tebing.


"Menyerahlah!!" Seru sang pangeran. Ia perlahan mendekati mereka menuju sang saintess.


Tiba-tiba salah satu ksatria wanita itu melemparkan tubuh Kate ke jurang yang langsung memecah konsentrasi Lucas.


Tidakkk!!! Lucas berteriak

__ADS_1


Tanpa pikir panjang ia segera ikut terjun ke pinggir tebing itu dan menangkap tubuh Kate. Beberapa detik sebelum tubuh mereka menghantam batu-batu dan pepohonan.



Keduanya terperosok ke dalam lembah di bawah jurang. Di dalam celah sempit yang membentuk gua alami. Lucas memeluk kepala dan tubuh Kate agar terhindar dari benturan. Sebagai gantinya tubuhnya sendiri terluka cukup serius saat menghantam bebatuan dan tergores akar pohon.


Lucas memastikan bahwa sang saintess masih bernafas walaupun setelah itu ia kehilangan kesadarannya. Kepalanya sakit dan seketika penglihatannya memudar. Kegelapan menyelimuti pandangannya.


......................


"Yang Mulia! Untunglah Anda sudah sadar." teriak Kate. Gadis itu menatap Lucas dengan cemas. Tangannya sibuk mengecek pelipis sang pangeran.


"Saintess. Apakah Anda baik-baik saja?" gumam Lucas kepadanya.


Kate mengangguk cepat dan tersenyum.


"Ehm. Aku baik-baik saja, Yang Mulia. Berkat Anda yang melindungiku."


Lucas tercekat melihat senyuman indah sang saintess. Ia benar-benar khawatir jika tidak bisa mendapatkan kembali gadis itu hidup-hidup. Ia hampir saja kehilangannya.


"Jangan bergerak dulu, Yang Mulia. Anda masih terluka." ujar Kate menahan sang pangeran untuk tetap berbaring.


Hujan masih terdengar di luar dengan petir yang menggelegar. Mereka sudah terjebak selama dua hari di celah gua itu. Pintu gua menghadap langsung ke tepi jurang sehingga tidak memungkinkan mereka untuk keluar dengan kondisi sang putra mahkota yang sedang terluka. Keduanya bertahan hanya dengan meminum air hujan dan memakan beri liar.


"Aku merasa seperti sedang mengikuti survival variety show" gelak tawa menghiasi bibir saintess. Ia mencoba berkelakar untuk menghibur diri.


Lucas bertanya keheranan, "Apa itu?"


"Itu kondisi ketika kau dilepas di hutan atau alam liar dan harus bertahan di dalamnya selama beberapa hari" terang Kate menjelaskan.


"Kami melakukan itu semua saat kontes berburu", ujar Lucas senang mengetahui ada kesamaan antara kehidupannya dan saintess.

__ADS_1


"Tidak. Tidak seperti itu, Yang Mulia. Itu bukan bertahan yang sesungguhnya. Kami hanya dibuat seolah-olah sedang hidup di alam terbuka. Tapi sebenarnya ada beberapa orang yang akan mengawasi kami dan menyiapkan segala hal di belakang kamera." potong Kate.


"Kamera? Apa itu?" Lagi-lagi Lucas bingung dengan kata-kata yang diucapkan Kate.


"Ehmm.. Alat yang bisa merekam gambar dan suara. Apakah tidak ada yang seperti itu disini?" balas Kate berusaha menemukan kalimat yang bisa menjelaskan.


"Tentu saja ada. Kami menggunakan cermin sihir untuk itu." angguk sang pangeran bangga.


"Sihir? Bahkan ada sihir di dunia ini??" tanya Kate polos.


"Tentu saja! Lihat ini—" Lucas membekukan sekeliling dinding di gua menjadi es. Kate tercengang dengan apa yang dilihatnya.


Untungnya sang saintess tanpa diduga bisa membuat api unggun sebagai penghangat mereka. Ia benar-benar mengurus Lucas dengan telaten. Memberikan sang pangeran perawatan dasar pada lukanya dan melayani makan minumnya. Tidak ada keluh kesah keluar dari mulut gadis itu. Ia juga memperlakukan Lucas dengan sangat lembut. Tidak jarang Lucas mendapati gadis itu sedang melamun saat mereka saling bercerita tentang kehidupan masing-masing.



......................


"Aku tidak bisa menemukan jejak kekuatannya, Yang Mulia." Lapor Jacob kepada kakaknya sang baginda raja. Ia sudah beberapa hari ini tinggal di istana Lawrence. Tepatnya sejak penyusupan Rotha ke istana.


Padahal ia telah mengirimkan pasukan bantuan karena Lucas terlambat menggagalkan penculikan sang saintess. Tapi pemuda itu malah dikabarkan terjatuh ke jurang bersama dengan gadis itu. Entah apa yang terjadi dengan mereka malam itu. Pencarian sudah dilakukan tapi hasilnya masih nihil.


"Sudah lewat dua malam mereka menghilang. Mungkinkah Lucas sudah mati bersama saintess itu?" gumam sang raja menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Mereka pasti bisa bertahan, Yang Mulia." Grand Duke masih mencoba menghibur sang kakak yang sedang bingung memikirkan nasib penerusnya.


Oh ayolah, anak itu punya kekuatan es. Lagipula mereka berdua adalah tokoh utama film ini. Mana mungkin mati di awal cerita. Batin Jake tertawa miris.


Baginda raja menarik napas panjang, "Aku berharap padamu, Jacob. Kau yang akan memimpin pasukan pencari." ucapnya lemah


Jacob mengangguk dan pamit undur diri dari hadapan sang raja.

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia. Aku akan memperluas pencarian hingga ke wilayah Rotha."


...****************...


__ADS_2