Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
Goddess Aunthera


__ADS_3


Rasa sakit yang menjalar itu membuatnya merasa seluruh tubuhnya akan pecah. Grand Duke membuka matanya.


“Argh.” Erangnya menahan sakit di belakang tubuhnya. Ia tidak sempat mengantisipasi ledakan kekuatan dari patung naga itu. Bahkan Percy pun tersungkur di sampingnya.


Apa yang keluar dari mulut Jake adalah suara retak dan kering yang sepertinya menguar setiap saat. Kepalanya bergemerincing.


Ada suara ‘berderak’ di telinganya. Tetesan keringat menetes di kulitnya, menambah ketidaknyamanannya, dan setiap kali dia menarik nafas, ada rasa sakit di dada yang membuat perutnya terbalik. Sensasi yang tidak menyenangkan dalam keadaan yang paling buruk.


Apa yang sudah terjadi? Gumamnya dalam hati.


Setelah membuat pemikiran seperti itu, Jake kemudian menoleh sedikit, dan melihat sekeliling. Percy tertegun menatap ke arahnya. Lebih tepatnya ke tubuh Grand Duke yang kini diselubungi cahaya merah yang serupa dengan sinar yang menghantam mereka tadi. Sinar itu kemudian menyatu menjadi seberkas garis yang masuk ke dadanya. Rasa hangat menjalar hingga ke seluruh tubuh laki-laki itu. Perlahan-lahan rasa sakitnya memudar digantikan dengan perasaan nyaman.


“Ini adalah......”


Perlindungan Suci.


Akhirnya ia mendapatkannya. Perlindungan mutlak terhadap dirinya yang bekerja melindungi jantungnya agar tetap berdetak. Perlindungan itu nantinya akan membentuk perisai energi yang menyelubungi tubuhnya. Menghindarinya dari kemungkinan terbunuh.


"Selamat, Tuan." Bisik Percy.


"Kau mengetahuinya?" Jake tersenyum tipis membalas sang naga.


"Tentu saja. Itu kompensasi untuk tingkat ini. Anda pantas mendapatkannya. Tidak semua kebenaran diterima oleh Kana."


"Kana?"


"Ruh naga yang mendiami patung mulut kebenaran itu."


Jake sudah tahu maksud Percy. Kebenaran yang diterima oleh sang patung naga harus berkaitan dengan kekuatan suci dan entitas spirit. Setidaknya dua dari tiga pernyataannya sudah merepresentasikan syarat melewati level pertama di menara itu.


Jake menghela nafas dalam. Belum selesai mereka berbicara, sebuah portal terbuka dari balik patung naga tersebut. Gerbang menuju level menara berikutnya.


......................


Itu adalah ruang yang sangat terang dibandingkan tingkat sebelumnya, tapi tetap saja, jejak keheningan terasa di mana-mana di ruang ini. Jake dan Percy mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling ruangan.


Tidak perlu waktu lama untuk saling bertanya, karena mereka segera dapat bertemu dengan entitas penjaga yang tinggal di sini. Jadi, Jake, yang menyelesaikan penilaiannya, menatap ke objek besar di tengah ruangan dan mulai tertegun. Sebuah patung wanita cantik berdiri tepat di sana. Percy juga membuka matanya terhadap keheningan itu dan melihat ke patung.


__ADS_1


"Seorang wanita?" Gumam Percy.


Patung di tengah ruangan itu menyerupai sosok manusia hidup. Seorang wanita dengan wajah cantik, ditutupi jubah, dan rajah di dadanya.


Rambutnya tergerai keluar melalui tudung jubahnya, dan kakinya tenggelam dalam air dari kolam tempat patung itu berdiri seolah-olah dia muncul dari dalam sana.


Patung dewi Aunthera. Patung ini akan menyerupai dewi cantik yang lama kelamaan akan mewujud menjadi orang yang disukai oleh sang pengunjung menara. Siapapun yang mencium patung itu dan membuat sang dewi puas, maka dewi akan memberikannya hadiah dan membukakan pintu ke level menara selanjutnya.


Setelah merenung sejenak, Grand Duke tersadar dengan suara gemerincing yang didengarnya dari patung dewi yang kini mulai mewujud menjadi manusia hidup itu. Sang saintess cahaya, Anna.


Ha. Sudah tentu itu akan menjadi rupa istriku, kan. Desis Grand Duke terkekeh. Senyumnya menyeringai ke arah sang dewi. Sambil menatap wanita itu dengan ketegangan di dalam dirinya, ia menghela nafasnya ringan.


......................


Segera, sang dewi yang telah merubah wujudnya menjadi saintess berjalan ke arah Grand Duke, mengangkat bagian atas tubuhnya dan menunjukkan sosoknya. Di bawah sinar matahari yang menyinari mereka dari arah jendela, rambut sang dewi melambai, bersinar.


“Kau sudah datang, Sayang.” Suara sang dewi menyerupai suara Anna, namun lirih dan mendayu.


Jake merasakan hatinya mengeras. Pikirannya berputar-putar, terkunci dalam kebingungan. Sirkuit pemikiran yang bertanggung jawab atas bagian rasional tampaknya dengan mudah meleleh dan tenggelam dalam kebingungan sama sekali. 


Dengan apa yang sedang terjadi sekarang, dia sama sekali tidak percaya situasi yang ada tepat di hadapannya. Rupa dan suara sang dewi benar-benar menyerupai sang istri. Jake tahu ini hanya ilusi, tapi betapa mengagumkannya wujud Anna dalam sosok sang dewi di hadapannya kini.


"Master....." Percy merespon untuk pertama kalinya ke arah tuannya. Ia seakan meminta izin untuk instruksi selanjutnya.


Sang dewi melihat sekeliling dengan santai dan tenang, seolah-olah dia adalah seorang bidadari yang turun di tengah dunia yang kacau. Mata hijau Anna yang indah pada dirinya tiba-tiba terasa lebih tenang dari yang dibutuhkan, seolah-olah telah tenggelam ke laut dalam dengan percikan. Segera dia membuka mulutnya lagi setelah tidak ada jawaban dari Grand Duke.


"Aku merindukanmu." Bisik sang dewi.


Jake, yang sedang menatapnya, tertawa terbahak-bahak bahkan sebelum dia menyadarinya. Bagaimana lagi dia bisa mengungkapkan situasi yang luar biasa ini?


Pada saat itu, tatapan sang dewi, yang tertuju ke depan, muncul dan mencapai wajah Jake, yang sudah berdiri selangkah dari posisinya.


Hanya untuk sesaat, mereka saling memandang, dan tak lama kemudian, Jake terkejut. Karena sang dewi, yang telah menatapnya, tiba-tiba menarik senyum yang dalam dan lembut kepadanya.


Sang dewi tiba-tiba melingkarkan tangannya di pergelangan tangan Jake. Terkejut dengan kontak tiba-tiba itu, dia mencoba mundur dengan cepat, tetapi tangan sang dewi dengan ringan menarik pergelangan tangannya lebih cepat.


Tatapan sayu sang dewi tertuju pada bibir Jake yang bergetar. Itu adalah tampilan yang penuh gairah, berlama-lama menatapnya seolah-olah dia adalah binatang buas yang membidik mangsanya.


Jake, yang tenggelam dalam tatapannya, menghela nafas, dan menarik lengannya yang sebelumnya dipegang oleh wanita itu. Sang dewi tiba-tiba mengulurkan tangannya padanya bahkan sebelum dia membuka mulutnya untuk bicara.


Jake diseret oleh tangannya, yang melingkari pinggangnya dan menariknya ke arahnya. Wanita itu melakukan kontak dengannya di atas dadanya yang bidang. Bagian atas tubuh sang dewi yang tertutupi oleh gaun putih tipis itu kini ditekan ke bawah mendesak tubuh Grand Duke. Alih-alih aroma manis dan sejuk yang biasa istrinya keluarkan, sang dewi mengeluarkan suasana dingin memabukkan yang sedikit merangsangnya.

__ADS_1


"Aku butuh kekasihku." Bisik sang dewi di telinga Grand Duke.


Sang dewi menunduk dan menyeringai nakal pada Grand Duke, yang memutar matanya dari sisi ke sisi. Dia memiringkan kepalanya dan menggigit daun telinganya. Jake merasakan embusan nafas yang lebih panas dari suhu yang seharusnya dan tersentak. Ujung jarinya digelitik oleh sentuhan asing.


Nada suara sang dewi yang rendah terselubung dan jauh seperti rubah licik. Wanita itu, yang diam-diam menggigit telinganya, menjulurkan lidahnya dan menjilat daun telinganya. 


Ini sensasi yang dia alami untuk pertama kali dalam hidupnya. Jake merinding karena sentuhan asing itu sampai-sampai bulu kuduknya berdiri sepenuhnya. Saat dia memprotes dan melakukan yang terbaik untuk menarik diri, lidah yang sangat lembut menembus bagian dalam telinganya yang sempit. Suara air liur lembab yang terdengar dalam jarak yang sangat dekat hanya membuatnya lumpuh. Kalau tidak, bagaimana mungkin pikirannya menjadi putih bersih seperti selembar kertas kosong?


"Aku tidak dalam keadaan normal sekarang." Desah sang dewi.


......................



"Tuan. Anda sudah bangun? Bagaimana keadaan Anda?" Livy menatap Rowan yang kini sedang mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Terbangun dari tidur lelapnya sejak dini hari.


"Ya, aku rasa baik-baik saja. Sudah sampai dimana kita?" Rowan menjawab lirih. Tenggorokannya kering dan serasa terbakar. Penglihatannya berusaha beradaptasi dengan suasana sekitar yang remang. Mereka sedang berada di dalam sebuah kereta kuda.


Livy mendongak ke atas jendela kereta mereka. Mengintip sekilas pemandangan di luar, "Kita sudah melewati gerbang Rotha satu jam yang lalu. Istirahatlah lagi, Pangeran. Tubuh Anda pasti lelah setelah digunakan oleh mereka."


Livy benar. Tubuhnya terasa seperti ditumbuk oleh puluhan karung beras. Ia merasa payah dan tak bertenaga. Pikirannya masih berkabut, berusaha mencerna kondisi sekitarnya yang masih temaram bercampur dengan suara serangga di pinggir jalan yang mereka lalui sepanjang hutan.


"Berapa lama untuk sampai ke Northern?"


“Sekitar dua hari. Butuh sehari semalam dengan kereta, tanpa istirahat, untuk mencapai perbatasan barat laut dari sini. Dari sana, kita harus melakukan perjalanan selama enam jam lagi dengan perahu menuju menara. Jika ada monster yang ditemui di jalan, itu akan memakan waktu lebih lama."


Suasana hati Rowan mendung dan dia menghela nafas hanya membayangkan perjalanan yang panjang itu. Tidak sulit jika ia adalah manusia normal. Namun kondisinya sangat rumit saat malam menjelang.


"Bagaimana dengan segelnya?" tanya sang pangeran.


"Sudah terikat di tangan Anda, Yang Mulia." Livy melirik ke arah pergelangan lengan sang pangeran.


Rowan menaikkan punggung tangannya— melihat ikatan halus dari benang tipis berwarna hitam yang dijalin dalam satu simpul dan mengangguk.


Benang itu adalah segel yang telah dimantrai dengan kekuatan suci yang dibuat oleh sang dayang pribadinya, Livy. Livy bukan hanya dayang biasa. Dia adalah calon pendeta di kuil cahaya Rotha yang ditugaskan untuk mengawasinya. Gadis itu memiliki kemampuan dalam menggunakan kekuatan suci walaupun masih dalam tahap pemula.


Walaupun gelang benang itu dapat menyegel entitas asing untuk merasuk di dalam dirinya, tapi sifatnya hanya sementara dan bertahan dalam semalam saja. Selain itu efek sampingnya akan sangat buruk bagi fisik Rowan yang lemah. Sehingga sihir dalam gelang itu sebenarnya tidak bisa digunakan terlalu sering.


Livy membuatnya selama beberapa minggu menggunakan kekuatan sucinya. Itupun dengan kondisinya yang harus terus mengunci kekuatan suci di sekeliling sang pangeran selama penggunaan gelang tersebut.


"Tidak perlu terlalu khawatir, Tuan.” Livy membalas dengan ekspresi menenangkan saat Rowan menatap gelang di tangannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2