Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
The King of Fire Spirit


__ADS_3

"Seharusnya aku tidak pernah membiarkanmu tinggal di dunia manusia itu." Gumam Arthur geram melihat Anna bersama dengan sang Grand Duke melalui api biru yang menyala di tangannya. Arthur adalah raja spirit api yang terikat perjanjian dengan sang dewi cahaya. Ia merupakan penjaga saintess saat masih berada di alam spirit.



Sebelum seorang saintess cahaya ditakdirkan turun ke dunia manusia, ia adalah jiwa murni yang hidup di alam spirit. Dewi cahaya memilihnya menjadi pewaris kekuatannya untuk menjalani kehidupan sebagai manusia. Namun berbeda dengan jiwa-jiwa murni lainnya. Anna adalah jiwa murni yang merupakan fragmen dari sang raja spirit api.


Api adalah sumber cahaya. Nyala api tidak pernah memiliki bayangan. Hal ini yang membuat dewi cahaya mengambil jiwa murni dari sang raja spirit api sebagai wadah kekuatannya. Tapi cahaya dan api adalah dua hal yang berbeda. Cahaya akan bersinar sedangkan api akan membakar.


Api seharusnya menjadi pembawa cahaya bagi kegelapan. Namun Arthur sangat menyukai fragmen jiwa murninya ini. Pada awalnya ia menciptakan jiwa murninya ini untuk menemani kesepiannya di alam spirit. Jiwa murni itu bukan hanya tumbuh menjadi apa yang dia inginkan tapi berkembang luar biasa hingga bisa menampung kekuatan dewa.


Dengan menyimpannya untuk dirinya sendiri, Arthur merasa bahwa ia tidak membutuhkan kekuatan spirit dan para dewa. Ia menjadi serakah dengan tidak mau berpisah dari jiwa murninya itu dan tidak mengizinkan sang dewi cahaya mengambilnya. Sang dewi pun mengatakan pada raja spirit api bahwa jika jiwa murninya tidak bisa dimanfaatkan sebagai wadah sang dewi di dunia fana, maka jiwa murni itu juga tidak berhak tinggal di dunia spirit milik para dewa. Raja spirit api harus memilih salah satunya.


Sang raja bersedih dan akhirnya membiarkan jiwa murninya turun ke dunia fana menjadi saintess cahaya. Dewi cahaya yang merasa kasihan akhirnya membuat perjanjian kepada sang raja. Ia memberikan satu kesempatan kepada sang raja untuk menjaga saintess juga di dunia manusia, jika dengan keinginannya sendiri sang saintess bersedia mengikuti sang raja kembali ke alam spirit, maka dewi cahaya akan mengizinkannya. Dengan kata lain raja spirit akan menjadi ujian bagi sang saintess di dunia manusia.


"Aku tidak akan menunggu di akhir lagi seperti sembilan kehidupanmu sebelumnya, saintess. Aku akan turun dan menemuimu sekarang." senyum tipis tersungging di bibirnya.


......................



"Lady, Grand Duke mengirimkan hadiah ini kepada Anda." Emily menunjukkan senampan penuh kotak perhiasan padanya dan sepucuk surat dari Grand Duke.


...Untuk wanita tercantikku. Walaupun tidak ada satupun yang seindah warna matamu....


^^^Milikmu,^^^

__ADS_1


^^^Jacob Rothesand.^^^


Anna tertegun, "Dimana dia sekarang?" tanyanya kepada sang pelayan.


"Di tempat latihan bersama dengan para ksatria, Lady." Jawab Emily sembari tersenyum.


"Siapkan beberapa camilan dan minuman untuk para ksatria, Emily. Kita akan mengunjungi mereka sekarang." Perintah Anna bersemangat.


Emily segera mengangguk padanya, dan beranjak melaksanakan perintah nona nya.


"Baik, Lady."


Anna dan beberapa pelayannya sampai di tempat latihan para ksatria. Mereka membawa camilan gurih dan minuman dingin dari dapur. Grand Duke masih belum melihat kedatangannya. Laki-laki itu sedang bertarung pedang dengan dua ksatrianya sekaligus. Dentingan pedang-pedang mereka memenuhi tempat latihan. Para ksatria yang lain riuh menonton sambil mengelilingi mereka.



Anna menyaksikan pertandingan Jacob dengan serius. Matanya mengikuti setiap gerakan sang Grand Duke yang luwes dan memamerkan otot-ototnya yang besar. Senyum merekah dari bibirnya setiap kali serangan calon suaminya itu berhasil mengenai lawan. Matanya berbinar-binar melihat kegagahan Grand Duke saat bertarung.


"Awasss!!" Pekik Anna segera saat pedang salah satu ksatria hampir mencoreng wajah tampan sang Grand Duke. Ia berdiri melompat kaget dari kursinya.


Jacob menghindar dengan cepat. Ia menyadari kehadiran Anna yang kini berada di belakangnya. Dengan satu gerakan ia segera mengayunkan pedangnya ke arah kedua ksatria itu hingga pedang mereka semua terlempar ke samping. Pertandingan berakhir dan Grand Duke segera memberikan pedangnya kepada anak buahnya dan menghampiri calon istrinya itu.


"Apa yang membuatmu kemari, Sayang?" Sapa Jacob lembut. Ia mengambil tangan Anna dan menciumnya lama di hadapan para pelayan dan ksatrianya. Seakan-akan tangan sang Lady adalah sumber kehidupan yang harus ia hirup dalam-dalam.


Anna tercengang melihatnya, "Aku membawakan camilan dan minuman untuk Anda dan para ksatria, Yang Mulia. Hari ini sangat cerah jadi aku memutuskan untuk melihat Anda berlatih", Jawab Anna cepat, ia mulai membiasakan diri menggunakan bahasa non formal kepada Grand Duke. Wajahnya tersenyum tulus dan hangat.

__ADS_1


Jacob segera menggamit pinggang sang Lady dan menuntunnya kembali ke tempat duduknya. Keduanya duduk berdampingan dan saling berhadapan satu sama lain. Tangan Jacob tidak melepaskan genggamannya di jemari Anna. Ia malah meletakkan tangan gadis itu di pipinya sendiri dan menciumi telapak tangannya.


Apa yang Grand Duke sedang lakukan sekarang? Dia lagi-lagi bersikap aneh. Batin Anna dalam hati.


Padahal ia sengaja datang untuk melakukan kebiasaan yang sudah dilakukannya sejak dulu. Mengagumi dan memuja sang Grand Duke dengan memberikan perhatian ekstra kepada pria itu. Tapi malah dirinya yang sekarang kelabakan menghadapi sikap manja sang Grand Duke yang tidak biasa.


"Yang Mulia, kumohon....." Ucap Anna lirih sambil berusaha menghentikan Jacob dengan tangannya yang lain. Ia risih juga menerima keromantisan pria itu yang kini tidak kenal waktu dan tempat.


Jacob tertawa melihat ekspresi Anna, "Itu karena aku sangat merindukanmu, sayang." Ucapnya tegas.


"Haha anda sangat suka sekali bergurau" Anna mengelak dengan pura-pura tertawa. Berusaha menutupi sikapnya yang mulai salah tingkah di depan Grand Duke.


"Mana mungkin aku bergurau. Ini, kau bisa langsung merasakan degup jantungku saat melihatmu." Jacob menjawab ringan sambil memindahkan tangan Anna dari wajahnya ke dada telanjangnya yang basah karena keringat. Ia melemparkan senyum nakal kepada gadis itu.


Anna terkejut dan langsung menarik tangannya dari dada Jacob. Kalau begini bisa-bisa ia yang terlihat mesum di hadapan para pelayan dan ksatria. "Yang Mulia!"


Anna benar-benar tak habis pikir. Sementara itu para pelayan dan ksatria hanya bisa tetap memasang ekspresi kaku menahan tawa melihat tuan mereka yang sedang aktif merayu calon istrinya.


"Tolong jangan menggoda aku lagi, kumohon." Ujar Anna sedikit mengiba, "Aku datang sekaligus ingin berterima kasih atas hadiah yang pagi ini Anda berikan."


Jacob menarik lagi tangan Anna, ia benar-benar seperti enggan melepaskannya, "Kau menyukainya? Itu hasil dari tambang berlian Queta. Aku baru saja mengubah kepemilikannya atas namamu." Urainya tersenyum dan mencium lagi jemari gadis itu.


Anna menelan ludah dan tertegun mendengarnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2