Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
The First Level


__ADS_3

Tunjukkan jalan untuk kami wahai menara. Teriak Jake di depan pintu menara. Dan tidak lama kemudian angin berputar melingkupi mereka. Menghempaskan mereka di dalam tingkat pertama menara yang gelap dan dingin.


Mulut kebenaran. Atau lebih tepatnya detektor kebohongan. Terdapat sebuah batu besar berbentuk kepala naga dengan mulut yang terbuka di tingkatan pertama menara itu. Hanya ada penerangan minim dari beberapa obor di dinding menara. Mata Jake berusaha beradaptasi dengan gelapnya ruangan itu.


"Dengan meletakkan tangan seseorang di mulut itu dan menyebutkan tiga kebenaran yang menyangkut diri sendiri, orang yang dicintai, dan orang yang dibenci, maka Anda bisa melewati tingkatan ini, Master. Jika orang itu berbohong maka mulut tersebut akan mengatup dan memotong tangan si pembohong. Namun jika ia mengatakan kebenaran, maka mulut itu akan membentuk pintu ke tingkatan selanjutnya." Percy menjelaskan panjang lebar kepada Jake.


Jake tersenyum tipis, sebenarnya ia sudah tahu instruksi tingkat pertama menara itu. Tapi tidak buruk juga baginya memiliki seseorang disampingnya yang bisa membantunya melewati ujian di menara itu lebih cepat. Ia berharap bisa keluar dari menara dalam waktu satu atau dua hari. Lebih cepat lebih baik menurutnya.


"Sepertinya kau mengenal naga ini, Percy?" Jake menyeringai ke arah pemuda itu. Menyadari ada dua naga sedang bersamanya di dalam ruangan sempit ini.


Percy terkekeh dan menggeleng pelan, "Tidak, Tuan. Tapi aku tahu cara ia bekerja."


"Benarkah? Menarik." Jake mengganggukkan wajahnya. Bibirnya tersenyum melengkung ke atas.


"Tentu saja, Master. Aku tidak akan membahayakanmu." Balas Percy polos.


"Hanya bercanda." Jake tersenyum simpul memandang sang naga yang tetap tenang.


......................


Jake mengeraskan ekspresinya. Keheningan masih meliputi ruangan tempat mereka berada.


"Percy, sebelum aku memulai ujian ini, bersumpahlah padaku."


Percy mengalihkan pandangannya ke wajah Grand Duke. Membuat tatapan bingung penuh tanda tanya. "Dan.... Tentang apakah itu, Tuan?"


"Apapun yang nanti kau dengar tentang kebenaran yang aku ucapkan, kau tidak akan mengatakannya pada siapapun. Naga seharusnya tidak akan melanggar sumpahnya bukan? Bagaimana?" Pandangan Jake menelisik.


Percy mengangguk, "Baik, Tuan. Saya bersumpah tidak akan memberitahukan siapapun tentang kebenaran yang nanti Tuan ucapkan. Jika saya melanggarnya, saya akan mati disambar petir saat itu juga."


Singgg.


Secercah hawa dingin bertiup di sekeliling naga itu dan berputar ke arah Jake. Tanda bahwa sumpahnya telah disahkan. Jake mulai memantabkan hatinya.


Jake mengangguk dan perlahan berjalan mendekati batu besar berbentuk kepala naga itu. Sesampainya di hadapan batu tersebut, ia mulai meletakkan tangannya di dalam mulut naga. Seketika telapaknya yang sedari tadi sudah basah oleh keringat dingin seperti terhisap ke atas batu dan melekat erat di sana.


"Kebenaran pertama adalah mengenai diriku. Aku......bukanlah berasal dari dunia ini." Jake berujar tenang.


Percy tampak tersenyum tipis, ia mengangguk seakan sudah meyakini hal yang sama dengan kebenaran yang diungkapkan oleh masternya. Kebenaran yang sudah tercium olehnya pada saat pertama kali mereka bertemu.


Tiba-tiba satu kelopak mata patung batu naga itu terbuka memancarkan sinar kemerahan. Tanda bahwa ucapan yang diungkapkan sang Grand Duke adalah kebenaran. Kebenaran pertama tentang dirinya.


"Kebenaran kedua, tentang orang yang aku cintai saat ini, Anna Elizabeth Morratz. Dia adalah ...... saintess cahaya." Jake mengungkapkan hal kedua yang Percy telah ketahui juga. Paparan kekuatan suci Anna begitu besar hingga Percy dengan mudah menyadarinya hanya dengan melihat keberadaan Grand Duke.


Kedua mata sang naga kini telah terbuka seutuhnya, mengeluarkan sinar kemerahan. Menatap garang ke arah Jake yang tangannya masih menempel erat di mulutnya.


"Kebenaran ketiga. Tentang orang yang kubenci saat ini. Dia adalah Arthur, sang raja spirit api. Kebenaran tentangnya adalah ia memiliki perjanjian dengan dewi cahaya, mengenai saintess cahaya yang diizinkan kembali ke alam spirit bersamanya apabila gadis itu sendiri yang menginginkannya." Ia menelan ludahnya dengan sulit.

__ADS_1


Jake merasakan telapak tangannya masih menempel erat di atas batu. Ia mulai gelisah jika ternyata kebenaran terakhir yang ia sampaikan salah atau kurang tepat. Sebenarnya ia tidak terlalu membenci Arthur, tapi hanya dia yang terlintas di pikirannya ketika membicarakan orang menyebalkan yang ia temui di dunia ini. Tanpa aba-aba muncul sinar kemerahan juga dari mulut sang naga. Menghempaskan tubuh Jake jauh ke belakang.


Jake menghela nafas dalam-dalam. Ia merasa lega karena meninggalkan Arthur di luar.


......................


Anna segera jatuh ke dalam rutinitas yang monoton. Para pelayannya rajin dan kompeten, sehingga hanya membutuhkan sedikit pengawasan darinya. Sebelumnya, dia telah mempelajari sihir cahaya di waktu luangnya tetapi sekarang ragu-ragu untuk memulai lagi.


Ia masih harus memperbaiki arus mana dalam dirinya. Ketidakstabilan mananya mempengaruhi kemampuan sihirnya, bahkan butuh waktu lebih lama untuk merapal sihir-sihir rumit tanpa antusiasme masa lalunya. Ia merasa lebih nyaman untuk langsung mempraktikkan sihir cahayanya kepada suatu objek.


Sebaiknya kau tidak terlalu sering keluar dari kastil untuk saat ini, Ann. Keluh Shayn.


Mereka kini sedang berkeliaran di ibu kota. Anna memutuskan untuk menggunakan kekuatan pengobatannya membantu orang miskin yang sakit yang bahkan tidak mampu mendapatkan perawatan dari kuil.


Tapi mereka membutuhkanku, Shayn. Bagaimana aku hanya bisa duduk santai di dalam kastil sedangkan banyak dari orang-orang di Lawrence yang bahkan tidak bisa mendapatkan pengobatan hanya karena ia miskin? Gerutu sang saintess yang mencoba membela diri. Ia baru saja keluar dari rumah salah satu pasiennya. Orang kelima yang ia obati hari ini. Seorang ibu dari lima anak yang menderita luka bakar permanen.


Shayn mulai berdecak kesal. Bagaimana kalau kau kehabisan mana mu? Mereka masih belum stabil.


Smirk.


Anna tersenyum menyungging di sudut bibirnya. Kan ada kau yang pasti akan memberitahukan seberapa batasku, Shayn.


Jauh lebih baik kalau kau berlatih di dalam kastil saja. Menstabilkan manamu maksudku. Spirit itu masih terus mengkonfrontasi pemiliknya. Bersikukuh tidak setuju dengan keputusan gadis itu.


Aku perlu praktik. Tidak banyak orang yang terluka di dalam sana. Lagipula mana mungkin aku mengungkap identitasku di kastil Hannover sebagai saintess. Mereka pasti gempar. Anna menggeleng ringan.


Tenang saja kita akan pulang setelah ini, Shayn.


Ya. Kalau itu katamu.


Tunggu. Aku punya ide bagus.


Apa maksudmu.


Bukankah kita berada tepat di samping tembok istana?


Umm..Yeah... Lalu?


Ayo kita mengunjungi saintess baru itu, Shayn!


A-apa.... Apa-apan ini maksudmu, Ann. Kau pasti bercanda—


Ssttt!!! Ikuti aku saja, kalau kau tidak mau membantu!


T-tapi—


......................

__ADS_1


Anna berhasil masuk dengan menyamar sebagai penyembuh yang ingin mengunjungi sang saintess. Ia kini berada tepat di tengah kamar gadis itu. Yang ternyata, kosong.


Kemana dia? Apakah ini jam makan siang. Baiklah Aku akan menunggunya dengan tenang di sini kalau begitu. Dia pasti akan segera kembali. Gumam Anna pada dirinya sendiri.


Aku rasa ini bukan ide yang bagus, Ann. Bagaimana jika ada pelayan atau penjaga yang memergoki kita?


Kalau begitu kita akan bersembunyi.


Tapi memangnya apa yang kau ingin bicarakan dengan gadis itu?


Kini kau bahkan sudah menikah dengan Grand Duke. Lebih baik jika kalian berdua tidak bertemu.


Bukan tentang itu, Shayn.


Lalu?


Aku ingin menolongnya.


Maksudmu?


Agar dia tidak terlalu bingung di sini. Tepatnya di dunia ini. Kate adalah orang yang baik. Pada dasarnya dia hanya tersesat di dunia kita—


Seorang laki-laki dengan tudung dan jubah hitam tiba-tiba turun dari atas langit-langit kamar tepat di hadapan Anna.


"Anda pasti saintess. Maafkan aku, tapi Anda harus ikut dengan kami." Ujar laki-laki itu langsung pada intinya.


"Tunggu. Kami? Apa maksudmu—" Anna tampak mencoba mencerna informasi yang baru saja ia dengar. Tanpa peringatan laki-laki itu melancarkan serangannya ke arah Anna untuk menangkapnya. Tapi tentu saja tidak semudah itu, Anna menghindar dan dengan refleks mengeluarkan selubung cahayanya. Pria asing itu tampak terperangah. Tidak lagi berusaha menyerang Anna dan langsung berlutut di hadapan gadis itu.


"Saintess, maafkan kami. Bukan maksud kami untuk mencelakakan Anda. Kami ingin meminta tolong."


"Siapa kamu? Darimana kamu berasal?"


"Saya Kiehl, ksatria kerajaan Rotha yang dikirim untuk membawa Anda, Nona saintess. Saya juga adalah pengikut dewi cahaya."


"Untuk apa kau mau membawaku?"


"Pangeran kami, Rowan Althea de Rotha. Anda harus menolongnya, Nona."


Anna terdiam beberapa saat. Ia masih ingat dengan nama itu.


"Baiklah. Bawa aku kesana."


Anna! Kau sudah gila? Bagaimana— Suara Shayn masih melalui pikirannya.


Sssttt.... Kau juga pasti ingat Shayn. Rowan adalah pangeran Rotha yang nantinya akan menjadi Ksatria Suci. Bagaimana mungkin kita tidak menolongnya?


T‐tapi...??!!

__ADS_1


...****************...


__ADS_2