Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
Second Awakening


__ADS_3

Malam itu Grand Duke akhirnya kembali ke kastil Hannover. Ia segera menemui Anna di kamarnya dan menceritakan apa yang dialami sang putra mahkota dan saintess.


Anna tidak perlu terlibat dalam hal ini. Batin Jake.


"Aku akan ikut denganmu untuk mencari mereka, Yang Mulia." Anna memaksa ikut.


Jacob memegang kedua tangan Anna.


"Tidak, kau akan tetap disini, Ann. Hatiku tidak akan tenang jika terjadi sesuatu padamu. Aku akan mencarinya sendiri bersama pasukan kerajaan Lawrence."


"Tapi berapa lama? Bagaimana kalau terjadi sesuatu juga padamu?" tanya Anna lagi.


Jake tersenyum melihat kelakuan menggemaskan gadis itu. "Aku akan segera kembali, Sayang." Ia mengecup kening sang Lady dan meninggalkannya untuk mempersiapkan pasukan.


Aku harus menahan diriku sendiri saat ini. Gumam Jake pada dirinya.


......................


Anna termenung duduk di dalam kamarnya sendiri. Malam ini Jacob meninggalkan kastil untuk mencari sang putra mahkota dan saintess palsu. Tidak banyak yang Grand Duke ceritakan padanya. Dan lagi-lagi ini bukan seperti cerita pada kehidupan-kehidupan sebelumnya. Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa kehidupan ini sangat berbeda dan begitu banyak yang berubah?


Apakah kau tahu dimana mereka, Shayn? Anna mulai berbicara dengan sang spirit.


Shayn langsung muncul begitu tuannya menyebut namanya.


Di wilayah Rotha. Tapi aku tidak tahu pasti tempatnya dimana. Jawabnya cepat.


Ia bisa tahu karena dapat mendeteksi lokasi terakhir kekuatan es milik sang putra mahkota. Tapi setelah keduanya jatuh dari tebing, kekuatan itu tidak bisa dilacak lagi.


Jacob juga sudah mengarahkan pencarian mereka kesana. Gumam Anna cemas. Ia menggigit bibir bawahnya.


Shayn mencoba menenangkan sang saintess.


Tidak usah khawatir, Ann. Grand Duke akan segera menemukan mereka.


Yah. Aku harap kau benar. Anna mengangguk dan menghela nafas dalam. Matanya terpejam sampai tiba-tiba ada suara asing terdengar di kamarnya.


__ADS_1


"Saintess....." Panggil suara itu


Anna terkejut dengan suara yang memanggilnya.


Seorang pria mewujud dari api di dalam perapian kamar itu.


"Siapa kau?" Ia terkejut melihat pria berambut merah panjang yang sudah berdiri di kamarnya itu.


Pria itu terlihat kecewa. Ia tersenyum masam mendapati sang saintess lagi-lagi tidak mengingat siapa dia.


Dewi cahaya sialan.


"Aku adalah penjagamu, Raja dari spirit api." ucapnya memperkenalkan dirinya kepada Anna, "Kau bisa memanggilku, Arthur."


Apa maksudnya, Shayn? Kau mengenalnya?


Anna berbicara melalui telepati dengan spirit cahayanya.


Yeah. Aku mengenalnya. Seperti katanya, dia adalah raja spirit api. Shayn membalas malas-malasan. Tidak seperti Anna, Shayn tidak melupakan semua kehidupan yang dilewatinya dengan tuannya. Ia tahu persis siapa Arthur dan apa maksud tujuan laki-laki itu menemui Anna.


"Karena aku adalah penjagamu?" Ucap Arthur tertawa ringan. Ia duduk di kursi dekat perapian.


"Tidak, kau tidak seperti spirit yang kutahu. Bentukmu sama seperti manusia lainnya." Balas Anna. Spirit biasanya bertransformasi ke bentuk yang lebih sederhana. Bukan seperti wujud manusia.


Arthur menggedikkan bahunya dan menjawab bangga, "Itu kelebihan dari raja spirit, Lady Anna"


Shayn, sebaiknya kau menjelaskannya padaku. Siapa laki-laki di hadapanku ini? Ujar Anna yang mulai merasa waspada.


......................


"Yang Mulia. Bertahanlah." Gumam Kate khawatir.


Ia terus membasuh dahi Lucas yang berkeringat. Kondisi laki-laki itu tiba-tiba berubah drastis sore hari tadi. Ini hari ketiga mereka di gua. Belum ada tanda-tanda pasukan penyelamat yang menemukan mereka. Badan Lucas panas dan menggigil. Hujan terus turun menambah buruk situasi mereka.



Entah bagaimana Lucas merasakan tubuhnya sangat kesakitan, tapi ia sendiri tidak berdaya untuk menggerakkan anggota badannya. Sang saintess masih terus merawatnya. Gadis itu berupaya menjaga kondisinya agar tetap stabil. Rasanya bagian dalam tubuhnya seperti terbakar, mengingatkannya pada kenangan masa kecilnya saat ia mengalami kebangkitannya yang pertama.

__ADS_1


Deg.


Tidak mungkin ini terjadi sekarang.


Ia membuang prasangkanya itu jauh-jauh. Tapi apa yang ia rasakan sekarang benar-benar mirip dengan ciri-ciri kebangkitannya yang kedua.


Kebangkitan kedua adalah kenaikan level seorang pemilik kekuatan elemental. Seumur hidupnya seorang pemilik kekuatan bisa mengalami dua sampai tiga kali kebangkitan. Biasanya hal tersebut dipicu oleh kondisi kritis tubuh sang pemilik kekuatan. Kebangkitan itu membuat mereka bisa mempertahankan kekuatannya di saat sekarat sekalipun asalkan tidak lebih dari tiga kali. Karena jika sudah melewati tiga kali kebangkitan, maka yang selanjutnya terjadi bukan kebangkitan level lagi melainkan kematian.


Lucas memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit itu. Salah satu efek dari proses kebangkitan adalah terkumpulnya energi yang berlebihan dan tidak stabil. Seluruh sel di dalam tubuhnya bergejolak merasa terbakar. Keringat dingin terus membasahi tubuhnya. Detak jantungnya berpacu kencang. Ia berusaha mengalirkan energinya ke pusat cakra miliknya.


Sementara itu Kate mulai merasa was-was. Ia berusaha semaksimal mungkin mempertahankan kondisi sang pangeran agar tetap normal. Hujan deras terus mengguyur di luar gua. Kate memutuskan untuk berbaring sambil memeluk Lucas yang menggigil kedinginan. Ia akhirnya tidak bisa menahan kantuknya dan jatuh tertidur.


......................


Sementara itu masih di kamar Anna.


"Untuk apa kau mendampingiku?" tanya Anna curiga. Ia menatap Arthur dengan tatapan tajam.


Arthur tergelak menertawakan kewaspadaan Anna. Tapi kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi serius.


"Dewi cahaya yang mengirimku untuk membantumu. Kau bisa minta apapun padaku."


Yeah. Biarkan aku menjual namamu sekarang, Dewi. Gumam Arthur walaupun hal itu juga merupakan fakta baginya.


Anna tersenyum heran. Ia berjalan menjauh ke arah pintu. Berjaga-jaga kalau pria itu bertindak mencurigakan.


"Apapun? Bagaimana dengan mencegah kegelapan di kerajaan ini?" tanyanya tidak yakin.


"Aku akan membantumu." Arthur tersenyum lebar. Rasanya mudah mengulang dialog yang sama dengan Anna seperti kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya. Jiwa murninya itu selalu menginginkan hal yang sama.


Anna menoleh ke arah Shayn lalu beralih lagi menatap Arthur.


"Tidak. Sebelum itu, bisakah kau membantuku menemukan putra mahkota?"


Arthur mengangkat kedua telapak tangannya. "Jika itu maumu."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2