
"Nona, Grand Duke mengirimkan banyak hadiah untuk Anda, ini surat dari Yang Mulia". Emily, pelayan pribadi Anna datang menyerahkan sepucuk surat dengan stempel keluarga Hannover.
Ia baru saja selesai berhias dan sedang mematut dirinya di cermin. Beberapa pelayan pribadinya mengelilingi sang Lady untuk menata rambutnya.
Anna tersenyum mengerutkan keningnya. Keheranan jelas tergambar dari raut wajahnya. Ia menerima surat itu dan segera membaca isinya.
Aku harap kau menyukai hadiah dariku. Calon suamimu. Tulis Jacob dalam surat itu.Singkat. Padat. Dan menuntut. Anna terdiam beberapa saat mencoba mencerna isi surat tersebut. Surat itu benar-benar tulisan tangan sang Grand Duke. Wajah Anna tersipu malu membaca tulisan di akhir surat. Bagaimana bisa laki-laki itu menyebut dirinya sendiri seperti itu. Benar-benar bukan gayanya.
Surat pertamanya dari Grand Duke! Ia pasti sedang bermimpi. Sejak kapan Grand Duke berkirim surat dan hadiah dengannya?
"Dimana hadiah-hadiah itu sekarang?" Kilah sang Lady cepat. Menyadari tidak ada benda apapun yang Emily bawa ke kamarnya sejak tadi.
"I-itu, masih di halaman, Nona. Di dalam kereta kuda. Kami masih mencarikan tempat untuk hadiah-hadiah itu karena Grand Duke mengirimkan puluhan kereta kuda penuh dengan barang-barang untuk Nona." Jawab sang pelayan.
"Apa??" pekik Anna terkesiap.
Ia segera beranjak dari duduknya. Gadis itu langsung melihat keluar jendela kamarnya dan mendapati rangkaian kereta kuda dari keluarga Hannover berkerumun di halaman kastil. Rumput pada halaman kediaman Morratz hampir-hampir tidak terlihat karena dipenuhi oleh kereta-kereta kuda itu. Anna memekik terkejut sambil menutup mulutnya sendiri dengan tangannya.
Apa maksud semua ini?? Apa Grand Duke sedang tidak waras?
Lady Anna benar-benar senang mengetahui kalau Grand Duke akhirnya melamarnya secara resmi kepada keluarganya. Walaupun sebenarnya ada secercah kecemasan yang terbersit di hatinya.
Grand Duke secara tiba-tiba meminta keluarga Morratz untuk menyetujui percepatan pertunangan antara sang putri dan dirinya dalam waktu dekat. Bukan hanya tiba-tiba, ia juga meminta agar sang Lady bisa segera datang dan tinggal di kastil Hannover untuk mempersiapkan pertunangan keduanya yang akan segera diselenggarakan dalam waktu kurang dari sepekan ini.
Sebenarnya bukan suatu hal yang aneh jika Lady Anna menikah dengan Grand Duke. Keduanya memang sudah dijodohkan secara politik demi kepentingan hubungan antara keluarga kerajaan dan keluarga bangsawan. Tapi hubungan Grand Duke dan Lady Anna bahkan lebih dingin daripada lapisan es beku yang menyelimuti danau Eyr di musim dingin. Bukan karena mereka saling membenci, tapi Grand Duke selalu memperlakukan Anna dengan acuh dan menghindari rumor kedekatannya dengan sang lady. Selama ini publik hanya mengetahui bahwa hubungan keduanya adalah strategi politik antar keluarga.
Grand Duke tidak pernah melibatkan dirinya dalam kegiatan keluarga Morratz. Perjodohan itu seakan-akan menjadi angin lalu dan omong kosong belaka. Kedua keluarga itu tetap berjalan sendiri-sendiri tanpa kesepakatan apapun. Walaupun begitu, berbeda dengan Grand Duke, Lady Anna tidak terlalu kaku dalam menanggapinya.
Sebagai pewaris utama keluarga Morratz, Anna telah mengetahui perannya seutuhnya. Ia bukan tipe gadis yang bergantung pada orang lain. Sebagai bangsawan ia telah mendapatkan pendidikan yang lebih dari cukup serta bisa memanfaatkan kedudukan dan kekayaan ayahnya dengan sangat baik.
__ADS_1
Secara fisik Anna adalah gadis yang sangat cantik dengan wajah rupawan bak malaikat. Rambut peraknya selembut sutera dan berkilau kontras dengan matanya yang berwarna hijau sebagai ciri khas keluarga Morratz. Ia mewarisi kecantikannya dari ibunya yang meninggal saat melahirkannya.
Walau begitu ia bukan hanya perempuan cantik tanpa kemampuan. Anna tumbuh menjadi bunga dalam pergaulan kelas atas para bangsawan. Ia bergerak luwes menjadi informan untuk ayahnya dengan menebarkan daya tarik alaminya di antara para bangsawan. Tidak ada yang bisa menolak pesona sang Lady, bahkan karena sikap Grand Duke yang dingin kepada Lady Anna, kini bangsawan mulai menyebarkan rumor bahwa Lady Anna lebih pantas menjadi pendamping Putra Mahkota dengan semua karakternya tersebut dibandingkan harus bersanding dengan Grand Duke yang kaku.
Gadis itu tidak menampik rencana perjodohannya dengan Grand Duke. Ia bahkan selalu bersikap hangat kepada Grand Duke dan mencoba bersikap realistis bahwa dengan adanya hubungan mereka mungkin akan menguntungkan banyak pihak. Putri semata wayang Marquess itu secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Grand Duke walaupun seringkali mendapat penolakan.
Grand Duke sendiri merupakan calon suami idaman favorit di wilayah kerajaan Lawrence bahkan melebihi putra mahkota. Tampan dan kaya serta merupakan penerus utama wilayah kekuasaan Duchy Hannover. Ia juga beberapa kali memenangkan perang di perbatasan dan memegang kekuasaan militer utama Kerajaan Lawrence. Grand Duke merupakan paman dari sang pangeran, walau begitu usia mereka hanya terpaut beberapa tahun saja.
Keluarga Hannover merupakan bagian dari fraksi anggota kerajaan dan Marquess Morratz sendiri merupakan bagian dari fraksi bangsawan. Kedua keluarga ini merupakan bagian dari lima keluarga besar pendiri kerajaan. Sehingga menjodohkan putrinya dengan Grand Duke awalnya merupakan rencana untuk mengurangi ketegangan dan perpecahan antar fraksi.
......................
Bagaimana bisa laki-laki yang selama ini selalu bersikap datar dan dingin padanya tanpa kabar apapun lebih dulu langsung mengirimkan permintaan pertunangan. Bukankah dua tahun lalu Grand Duke sampai meminta kepada raja agar diizinkan untuk memimpin para ksatria di perbatasan demi menghindari pembicaraan pernikahan dengan keluarga Morratz.
Bahkan surat yang secara rutin gadis itu kirimkan pada Grand Duke tidak pernah dibalas olehnya. Dua tahun lamanya Lady Anna secara konsisten terus berkirim surat hanya untuk tahu keadaan Grand Duke di perbatasan, tapi selama dua tahun itu pula komunikasi mereka hanya berjalan satu arah.
Grand Duke tetap menerima surat dari Lady Anna tanpa niat untuk membalasnya satu kalipun. Semua kabar tentang Grand Duke akhirnya hanya bisa Lady Anna dapatkan dari ksatria keluarga Morratz yang ikut bergabung dengan ksatria Grand Duke di perbatasan. Itupun hanya secara umum saja.
Lady Anna tidak pernah ambil pusing dengan semua penolakan yang diberikan oleh Grand Duke secara halus. Ia bertindak sesuka hatinya asalkan masih bisa mengagumi pria idamannya itu dengan caranya sendiri. Selama Grand Duke belum memutuskan akan menikah dengan siapa itu sudah cukup bagi Lady Anna untuk tetap bersikukuh menjadi penggemar sejati sang Grand Duke.
......................
Kediaman Morratz dikejutkan dengan surat permohonan pertunangan dari keluarga Grand Duke of Hannover untuknya. Lalu disusul dengan puluhan hadiah pertunangan yang datang beberapa jam setelahnya.
"Mereka hanya bilang bahwa Grand Duke secara tiba-tiba jatuh sakit sepulang dari medan perang. Dan setelah ia sadarkan diri, ia langsung memerintahkan kediamannya untuk mempersiapkan pernikahan dengan mu, Anna." Jelas sang Ayah.
"Apakah tidak ada tamu dari keluarga lain yang berkunjung, Ayah?" Tanya Anna sembari menghirup secangkir teh krisan di tangannya.
Marquess Morratz mengangkat cangkir teh miliknya sendiri, "Secara resmi tidak ada, tapi karena mereka anggota kerajaan dengan kekuatan elemental tentu saja mudah bagi mereka bertemu tanpa ada yang tahu. Ayah benar-benar khawatir. Bagaimana kalau ini semua hanya jebakan Grand Duke untukmu. Kita tahu selama ini dia selalu menghindari keluarga kita."
"........" Anna terdiam.
__ADS_1
"Hadiah-hadiah itu, apa yang ia sampaikan pada mu bersama semua itu?" Lanjut sang Ayah.
Anna menggenggam tangannya sendiri dengan gugup, "Itu, Ehhm, Grand Duke hanya menuliskan semoga aku menyukai hadiah darinya, Ayah. Apakah kita perlu mengembalikannya? Atau menolak lamarannya?"
Marquess Morratz menghela nafasnya dalam, "Hadiah-hadiah yang ia kirimkan semuanya merupakan barang langka berkualitas tinggi, Ann. Kepala pelayannya mengatakan kalau kau tidak mau menerimanya, maka barang-barang itu harus dibakar langsung di halaman kastil keluarga Morratz. Lagipula keluarga kita tidak mungkin menolak lamaran Grand Duke, kecuali kau telah menerima tawaran pertunangan dari.... Putra Mahkota."
"Tidak mungkin, Ayah. Aku dan Yang Mulia Lucas hanya teman satu akademi. Para bangsawan itu hanya membuat rumor tak berdasar." Anna melambaikan tangannya ke udara. Ia menggeleng pasti.
Sang Marquess kembali menghirup tehnya, "Kalau begitu tidak ada cara lain, aku akan segera membalas surat lamarannya. Tapi dengan satu syarat, ia harus datang langsung dan berbicara dengan ku. Jangan khawatir, lagipula aku sudah berniat menikahkanmu dengannya sejak awal. Ayah tinggal memastikan dia menandatangani surat perjanjian pernikahan yang tidak akan merugikanmu, Sayang." Ucapnya lembut pada sang putri.
Anna menggangguk pelan menatap ayahnya.
......................
Suara perapian di kamar Anna berdesis gemeretak membakar kayu bakar di dalamnya. Walaupun waktu baru menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Anna sudah tertidur lelap di ranjangnya. Ia begitu lelah dengan perbincangannya dengan Marquess dan segala persiapannya untuk pindah ke kediaman Grand Duke.
Sementara itu, pendar cahaya dari perapian tiba-tiba menyusut menghadirkan sesosok bayangan di samping jendela kamar sang Lady. Lama kelamaan bayangan itu berangsur-angsur mewujud menjadi bentuk fisik yang nyata. Menghadirkan Grand Duke Jacob di dalam kamar Anna.
Aku mulai suka dengan cara kekuatan ini bekerja. Jacob tersenyum menatap kedua telapak tangannya.
Menyusup seperti pencuri ke kamar gadis keluarga bangsawan. Ia akan dipenggal jika sampai ketahuan dan tertangkap. Laki-laki itu berjalan perlahan mendekati ranjang Anna. Duduk di kursi tepat di samping ranjang. Menatap sang Lady tanpa berkedip. Napasnya melambat beberapa saat.
Dia benar-benar gadis dalam film itu. Lady Anna yang sempat ia cari-cari siapa pemerannya di dunia nyata kini tampak terlelap di hadapannya. Gadis itu terlihat cantik seperti yang selalu ia bayangkan. Rambut peraknya terurai di atas bantal. Tanpa sadar sesuatu berdesir di dada Jacob. Ia telah terperangkap dalam kecantikan gadis ini.
Terlalu cantik. Aku tidak sabar menunggunya menjadi Grand Duchess ku. Atau aku culik saja dia sekarang? Bisik Jacob dalam hati.
Selama beberapa menit Jacob terus menatap tubuh Anna yang sedang lelap. Ia dengan seksama memperhatikan napas teratur gadis itu. Menikmati aroma tubuhnya yang menguar di dalam ruangan tersebut. Hingga tiba-tiba Anna merubah posisinya. Tubuhnya yang tadi terlentang sekarang berbalik menghadap ke arah Jacob. Selimutnya tersampir memperlihatkan bahu mulusnya yang putih tertimpa cahaya dari jendela.
Jacob menelan ludahnya sendiri. Tangannya perlahan hendak meraih tubuh sang Lady. Tapi dengan cepat ia tersadar dan menarik tangannya kembali. Ia segera berbalik dan menghilang dari ruangan tersebut.
__ADS_1
...****************...