
Pemilik kekuatan spirit ya? Aku memang tidak pernah mendengar Grand Duke memiliki kekuatan spirit. Jake bergumam dalam hati. Ia sedang melakukan inspeksi ke daerah kekuasaannya.
Jake terus memikirkan perkataan Shayn, spirit cahaya milik Anna. Spirit itu berkata bahwa hanya pemilik kekuatan spirit jugalah yang bisa mendengar spirit lain. Tapi bahkan ia tidak memiliki spirit apapun bersamanya. Mungkinkah sebenarnya dia merupakan pemilik kekuatan spirit juga? Satu informasi lagi yang tidak ia dapatkan dalam cerita asli series Game of Powers.
Sepertinya di dalam cerita series kekuatan Grand Duke berkembang murni karena kebangkitan yang dialaminya. Dia sudah dua kali mengalami kebangkitan. Kebangkitan ketiganyalah yang memberikan dampak paling besar untuk kekuatannya. Dia benar-benar dikuasai oleh kegelapan akibat obsesinya terhadap Kate.
Bagus. Sekarang aku tidak terobsesi dengan saintess palsu itu. Jadi seharusnya kekuatanku akan tetap stabil dan tidak membahayakan siapapun. Anna juga tidak perlu khawatir aku akan jatuh ke kegelapan.
Jake berusaha untuk tidak sampai mengalami kebangkitan ketiga di dunia ini. Ia merasa kekuatan itu hanya akan membuatnya dikelilingi banyak masalah. Hidup damai dan tentram dengan Anna adalah tujuannya saat ini.
Haruskah aku mencoba memiliki kekuatan spirit juga? Aku rasa aku perlu mencari tahu lagi tentang ini. Tapi kontrak dengan spirit biasanya dilakukan dengan kehendak spirit itu sendiri. Dimana aku bisa menemukan spirit yang dengan sukarela menawarkan kontrak denganku?
Malam itu sebuah ide gila tercetus di benak Jacob.
Mari kita panggil sang raja spirit itu. Senyum licik tergambar di wajahnya.
Grand Duke secara tidak langsung meminta Shayn mengkonfrontasikan dirinya dengan sang raja spirit. Ia mulai melakukan telepati dengan spirit cahaya itu.
Shayn. Kau pasti mendengarku. Katakan pada sang raja spirit api itu kalau aku memiliki penawaran untuknya. Minta dia menemuiku sebelum aku benar-benar menikahi fragmen jiwa murni kesayangannya itu. Ucap Jacob datar tertuju kepada sang spirit cahaya.
Tidak ada jawaban dari sang spirit cahaya. Tapi Jacob telah yakin kalau spirit itu pasti akan menyampaikan pesannya pada sang raja spirit api. Dia hanya perlu menunggunya sampai malam ini.
......................
__ADS_1
"Jadilah spirit pendampingku. Aku yakin kau akan menuruti perintahku, Arthur." Grand Duke menatap lurus ke arah sang raja spirit api.
Raja spirit itu benar-benar mendatanginya malam itu. Ia bahkan tidak repot-repot merubah wujudnya menjadi manusia. Hanya kobaran api besar menyerupai sosok sang raja di dalam perapian ruang kerjanya yang menjadi media mereka berkomunikasi.
Arthur tersenyum sinis padanya, "Ternyata Grand Duke Hannover adalah seorang manusia yang sombong. Kau bahkan tidak tahu siapa aku."
"Aku tahu dan aku akan memberitahukannya pada saintess jika kau menolak tawaranku." Ujar Jacob dingin dan langsung pada intinya.
"Aku tidak punya urusan dengan saintess baru itu." Jawab Arthur masih tertawa terkekeh. Sampai sang Grand Duke memotong omongannya.
"Bukan. Bukan Kate. Dia palsu. Ah aku yakin kau pasti juga sudah mengetahuinya. Tapi Anna. Maaf. Bukan hanya kau yang tahu kalau dia adalah saintess yang sebenarnya." Sang Grand Duke dengan nada mengejek.
Arthur terpaku dan langsung terdiam. Senyumnya masih tersungging di bibirnya, "K-kau..... Siapa kau sebenarnya?"
Dia tahu siapa Arthur. Tapi sepertinya raja spirit itu belum menyadari kedatangannya dari dunia lain, sampai hari ini.
"Hhahahha berani-beraninya kau. Kau bukan laki-laki itu." Sang Raja terbahak sembari menahan geram.
Jacob kembali tersenyum tipis, "Aku tahu perjanjianmu dengan dewi cahaya." Pria itu menjawab dengan tenang.
"Kau mau mengancamku dengan itu? Lakukan saja." Tukas Arthur tidak menghiraukannya.
Sang Grand Duke berkata santai, bahunya terangkat, "Baiklah. Aku sudah mendapat persetujuanmu kalau begitu."
__ADS_1
Seketika wajah Arthur berubah murka dan emosinya meluap ke permukaan.
"Aku akan membunuhmu sekarang juga." Geramnya kepada Jacob.
Jacob langsung memasang kewaspadaannya. Walaupun ia sudah menyiapkan rencana di dalam kepalanya, tapi ia tidak pernah tahu apa yang akan dilakukan raja spirit itu.
"Terlambat. Aku sudah mengatakan pada spirit sang saintess untuk memberitahukan tuannya tentangmu jika terjadi sesuatu padaku. Semuanya tanpa ada yang terlewat." Ujar Jacob berusaha menjaga nada suaranya tetap santai.
Mari kita lihat reaksinya. Bisik Jacob.
"Tidak mungkin. Spirit bodoh itu tidak diizinkan untuk membocorkan rahasia itu." Bantah sang raja masih mencoba bersikukuh.
"Tidak secara langsung. Aku sudah mengaturnya. Dengan cara yang tentu saja tidak dapat kau bayangkan. Kontrak kita. Datanglah setelah pernikahanku." Grand Duke tetap menatapnya dingin.
"Manusia kurang ajar." Arthur mendesis dan menghilang dari hadapan Jacob. Api di dalam perapian itu kini kembali normal.
Jacob tersenyum puas penuh kemenangan. Walaupun sejak tadi ia menahan detak jantungnya yang terus berdegup kencang tapi ia senang rencananya berjalan sesuai dengan keinginannya.
"Tidak. Aku hanya belajar darimu, Arthur." Gumam Jacob. Ia telah menang selangkah dari makhluk itu. Walaupun sang raja spirit itu kini menghilang dari hadapannya. Tapi ia pasti akan menjalin kontrak dengannya.
Memang rasanya agak sayang kalau takdirnya menjadi sedikit menyimpang di dunia ini, tapi hidupku lah yang paling penting. Aku tidak bisa hidup hanya sesuai dengan alur cerita. Batin Jake.
Jake belajar bahwa sangat penting untuk berkompromi secara wajar dengan kekuasaan dan menerima irasionalitas secukupnya. Lalu hidup sesukanya di tengah semua itu sampai batas tertentu.
Dibandingkan raja Edmund, Arthur merupakan bentuk real dari kekuasaan yang sebenarnya menurut Jake. Pria itu punya akses ke dua dunia dan bukan merupakan makhluk fana seperti dirinya. Ia harus memberi tali kekang kepada sang raja spirit itu jika hidupnya ingin tenang. Bahkan Jake menyadari kalau Arthur lah antagonis sebenarnya dalam series Game of Powers.
__ADS_1
...****************...