
Kerajaan Rotha.
Sebulan sebelum pernikahan Grand Duke.
"Mengapa aku tidak mati saja?" Gumam pemuda itu duduk di atas kursi meja tehnya.
Rowan memandang keluar jendela kamar tidurnya. Pandangannya kosong dan hampa. Kamar itu terkunci dari luar. Senja mulai merayap menyelimuti Rotha, ia benci malam yang akan datang setelahnya. Langit semakin memudarkan cahayanya—berganti ke kegelapan yang pekat. Diam-diam dirinya mulai tertawa terbahak-bahak. Makin lama semakin kencang dan berubah menjadi tangisan histeris.
Rowan adalah salah satu pangeran kerajaan Rotha. Walaupun dia tidak masuk ke dalam suksesi takhta, tapi dirinya merupakan keturunan langsung raja dan ratu yang sekarang sedang memimpin. Dia adalah anak laki-laki tertua dari keduanya. Harusnya dialah yang akan melanjutkan tampuk kepemimpinan kerajaan Rotha. Tapi dewa berkehendak lain.
Rowan Althea de Rotha, sejak umurnya delapan tahun ia menderita kutukan yang mengerikan. Tubuhnya berubah menjadi wadah para makhluk spiritual jika malam mulai datang. Para makhluk itu bukan hanya menguasai tubuh pangeran malang itu, tapi juga memanfaatkannya untuk hal-hal mengerikan. Dan sejak itulah ia dikurung dalam kamarnya yang disegel oleh para penyihir kerajaan untuk mencegah sang pangeran keluar dari istana Rotha.
Semua dokumen kuno sudah kedua orangtuanya telusuri mengenai kutukan anaknya tersebut. Tapi tidak ada satupun yang dapat menjelaskan cara pengobatannya. Hingga suatu hari sebuah entitas spiritual kuno berhasil merasuki sang pangeran dan secara langsung membawa tubuhnya keluar dari kamar berteleportasi ke hadapan raja—menembus segel sihir yang melingkupi kamarnya. Menyampaikan sebuah informasi yang sangat penting.
......................
Rowan muncul dari kegelapan ke hadapan sang raja dan ratu yang sedang berbincang di ruangan takhta. Keduanya tecekat dan segera merasa ketakutan. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, yang artinya seharusnya sang pangeran sudah menjadi media para makhluk itu.
Wajah putra mereka pucat pasi, seperti biasa ia sedang melawan entitas-entitas asing di dalam dirinya. Makhluk-makhluk itu selalu ingin menguasai tubuh sang pangeran dan melakukan apapun sekehendak mereka. Itulah alasan pahit mengapa keduanya tega mengurung putra mereka sendiri terutama saat malam datang.
Tapi kini walaupun wajahnya pucat dan lemah, tubuh sang pangeran terlihat tenang dan seimbang. Tampak hanya satu entitas saja yang sedang menguasai raganya. Ia berjalan mendekati kedua orang tuanya yang kini terdiam terpaku menatapnya.
"R-rowan. K-kau. Mengapa kau bisa keluar dari kamarmu? Bukankah. Pengawal—" Sang Raja terkesiap dan langsung berteriak memanggil pasukan pengaman. Sampai tiba-tiba putranya itu memotong teriakannya dan berkata dengan lantang ke arahnya.
"Anak ini tidak bersalah. Dia hanya belum kuat menjadi wadah kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri. Hanya saintess cahaya yang dapat membimbingnya keluar dari kegelapan." Ujarnya kepada sang raja. Jelas bukan Rowan, putranya, yang sedang berbicara dengannya.
Raja dan ratu saling berpandangan. Tidak lama setelah itu sang putra jatuh tersungkur ke atas lantai. Sang ratu berteriak refleks mengulurkan tangannya ke arah Rowan, "Anakku!!!" Namun keduanya masih ragu untuk menghampiri sang pangeran.
Tubuh pangeran tidak bergerak atau bergeming sedikitpun. Tidak ada tanda-tanda entitas lain yang merasukinya. Selama beberapa detik kedua orangtuanya itu saling tercekat. Hingga sang raja memutuskan untuk memberanikan diri menolong anaknya itu.
"Pengawal!! Panggil pengawal!!" Teriak raja sembari menghambur ke arah putranya. Ia memeluknya sambil berusaha membangunkan sang pangeran dengan mengguncangkan tubuh pemuda itu.
Sang ratu ikut memeluk anaknya dengan haru. Ia bersikeras menghilangkan rasa takutnya sendiri dan meratapi kondisi anaknya yang sangat malang.
__ADS_1
Para pengawal datang dengan cepat membantu keduanya membawa kembali sang pangeran ke kamarnya. Sang ratu masih menangis mengiringi putranya. Malam itu merupakan malam yang hening setelah sekian lama. Tidak ada makhluk-makhluk yang berebut ingin memasuki tubuh Rowan bahkan hingga pagi menjelang. Sang pangeran tertidur dengan nyenyak tanpa satu gangguan apapun.
Namun tentu saja hal itu tidak berlangsung lama. Malam berikutnya adalah malam yang sama mencekamnya seperti malam-malam sebelumnya. Pangeran Rowan kembali menjadi wadah bagi mereka. Rupanya efek menenangkan kemarin hanya hadiah sementara dari sang entitas yang merasukinya semalam. Satu yang kini menjadi harapan raja dan ratu adalah membawa sang saintess cahaya ke kerajaan Rotha seperti petunjuk yang diberikan sang entitas spritual itu.
......................
Kediaman Hannover.
Grand Duke kembali dari pertemuannya dengan Lucas. Keponakannya itu dengan mulus berhasil terpengaruh mengikuti rencananya. Sekarang Grand Duke tengah duduk di dalam ruang kerjanya merapihkan beberapa dokumen.
Aku harus pergi dulu ke tempat itu. Nothern, ada alasan mengapa aku harus pergi ke sana. Kekuatan kuno yang sama dengan kekuatan suci Anna. Aku harus mendapatkannya sebelum kebangkitan Anna dimulai. Gumam Jake merenung di ruang kerjanya.
Ia mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan sebuah pena yang ia pegang. Claude berdiri di hadapannya dengan takzim tak bersuara.
Sial. Aku tidak bisa menempuh daerah itu dengan teleportasi. Tempat itu tersegel dari segala kekuatan di luarnya. Tapi itu berarti aku akan meninggalkan Anna disini selama beberapa waktu. Apa aku bisa mempercayakannya pada Shayn dan Arthur? Mengapa hanya ada orang kuat yang mengesalkan itu di sisiku. Memang tidak bisa hanya mengandalkan orang lain saja. Tapi tujuanku pergi juga karena untuk mencari kekuatan itu. Batinnya lagi di dalam hati.
Baiklah. Hanya spirit cahaya itu satu-satunya harapanku. Arthur lebih baik ikut denganku untuk membantuku selama disana. Suara Jake masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Claude." Grand Duke menengadahkan kepalanya.
"Siapkan perjalanan dengan kereta untukku. Kurang lebih selama lima hari. Katakan pada pasukan ksatria alpha untuk ikut denganku. Dan tempatkan pasukan ksatria beta untuk tetap tinggal di kastil menjaga Grand Duchess." Titahnya segera dengan nada tegas.
Dengan nada yang datar Claude bertanya kepada tuannya, "Yang Mulia tidak akan membawa nyonya ikut? Tapi tuan, Anda baru saja menikah beberapa hari."
Jacob menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Perjalanan ini akan terlalu membahayakan dirinya, Claude. Aku tidak mau mengambil resiko. Jaga istriku dengan baik disini, kau mengerti?"
Segera Claude menganggukkan wajahnya dengan pasti. "Baik, Yang Mulia."
Kalau aku bisa mendapat kekuatan itu. Maka kekuatan bayanganku akan semakin kuat. Aku bisa mengimbangi kekuatan suci Anna nantinya dan tidak perlu mengandalkan si raja spirit itu untuk melindunginya. Gumam Jacob lagi.
Meski aku merasa bersalah karena mengambil harapan terakhir Lucas. Kekuatan itu lebih dibutuhkan olehku yang harus terus bertahan di dunia ini. Dalam cerita asli di series, Lucas lah yang mendapatkan kekuatan itu. Sang putra mahkota sudah tahu kalau itu adalah kekuatan khusus untuk daya tahan dan pemulihan. Tapi dia tidak tahu kalau kekuatan itu tidak bisa dipakai untuk tubuh yang sudah terluka.
......................
Jake menghubungi sang spirit cahaya dengan telepatinya. Dia pasti sedang bersama dengan istrinya di kamar.
__ADS_1
Aku minta tolong padamu untuk menjaganya selama kepergianku, Shayn. Ucap Jake langsung pada intinya. Ia tidak suka bertele-tele.
Memangnya apa yang kulakukan selama ini? Tukas Shayn datar. Ia merasa diremehkan sebagai spirit pelindung sang saintess.
Bukan begitu. Jaga dia juga dari Arthur. Aku akan menyuruh raja spirit itu untuk ikut denganku. Tapi kalau tanpa sepengetahuanku dia melakukan hal-hal yang—kau tahu berusaha menggoda dan memanipulasi Anna atau semacamnya. Aku harap kau bisa mencegahnya atau mengabariku. Urai Jake panjang lebar. Hanya Shayn yang bisa dia andalkan terkait informasi ini.
Baiklah. Gumam spirit itu malas-malasan.
Dan jangan pergi keluar dari kastil ini. Aku menempatkan pasukan ksatriaku untuk menjaga kalian disini. Tambah Jake lagi. Kali ini dengan nada menekan.
Kemana sebenarnya kau akan pergi? Belum apa-apa bahkan kau sudah tidak jujur dengan Anna. Balas Shayn yang telah mencium kebohongan sang Grand Duke.
Ini demi kebaikannya. Aku hanya tidak mau dia khawatir. Jake mencoba berkilah. Ia tahu kalau dirinya tidak mungkin bisa berbohong kepada spirit itu.
Northern. Kau pasti tahu tempat itu. Jawab Jake tanpa menyebut rencananya menemui sang naga. Anna pasti cemas kalau-kalau Shayn kelepasan memberitahukan rencananya itu.
Menara Batu ya? Ujar Shayn bertanya.
Ya. Jake menjawab singkat.
Kudengar disana bisa mengabulkan permohonan.
Memangnya apa yang mau kau minta disana? Kali ini spirit itu yang memberikan informasi kepadanya. Jake merasa percakapannya sudah terlalu jauh. Spirit ini lama kelamaan terlalu berisik buatnya.
Bukan itu. Ia menjawab singkat
Hmm. Bukan ya. Kalau begitu bisa aku titip permohonanku? Shayn berusaha terdengar memelas.
Kau ingin memohon apa? Tanya Jake penasaran. Memangnya apa yang diinginkan spirit suci sampai harus meminta kepada batu?
Supaya kekuatan suci Anna tidak habis terserap olehmu setiap malam. Pungkas Shayn polos.
Wajah Jake terkejut mendengar permohonan sang spirit. Mulutnya menggeram kesal.
Berhenti. Ia segera memutuskan telepatinya.
__ADS_1
...****************...