Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
Obstacle Bridge


__ADS_3

Dalam kesadarannya yang samar-samar, Livy merasakan seseorang mengguncang bahunya. Dia dengan ragu-ragu membuka matanya, tetapi mendapati dirinya masih setengah tertidur. Ia berusaha mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya.


"Ha? Apa— Berapa lama aku tertidur?" Gadis itu bertanya-tanya sambil menggosok matanya yang bingung dan tiba-tiba mendengar suara mendesak sang pangeran meledak ke dalam ketidaksadarannya.


Livy dengan cepat turun dari tempat tidur dan kemudian suara keras yang memekakkan telinga terdengar di telinga. Gadis itu melihat sekeliling, bertanya-tanya tentang apa semua cuplikan itu. Ruangan itu temaram hanya dengan penerangan seadanya dari cahaya lilin di atas meja. Ketika dia fokus menuju sosok sang pangeran, matanya melebar.


"Liv! Aku, aku merasa tidak baik. Ada banyak suara aneh di kepalaku. Rasanya mereka— Aargh!! " Sang pangeran berteriak terengah-engah memegangi dahinya dengan ekspresi kesakitan. Wajahnya putih pucat dengan keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Pria itu terhuyung-huyung ke tengah ruangan.


Suara gedebum kencang terdengar. Sang pangeran kini terjatuh menghantam lantai kamar yang dingin dengan tubuh bergemetar hebat. Livy terpaku berusaha mencerna apa yang terjadi di hadapannya.


"Yang Mulia!" Jerit Livy yang langsung tersadar dan panik. Gadis itu menghambur ke arah tuannya dan berusaha mengguncang-guncang tubuh sang pangeran.


Ia mengecek suhu tubuh Rowan dan merasakan tubuh tuannya itu telah membeku sedingin es. Livy mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tidak jelas apakah sekarang siang atau malam karena kamar mereka ada di bawah kapal dan tidak ada sama sekali cahaya dari luar.


Sial. Aku pasti tertidur hingga malam. Desisnya dalam hati.


Gadis itu ingat kalau setelah makan siang ia merasa sangat lelah dan memutuskan untuk berbaring sebentar meluruskan pinggangnya. Sang pangeran yang masih sedikit mabuk laut juga bersandar di dipan sebelahnya. Duduk dengan mata tertutup dan mencoba mengabaikan rasa mualnya.


Saat itu Livy ragu dia akan bisa tertidur saat dia mulai berbaring di atas bantal dan menutup matanya. Menggosok kepalanya yang berdenyut-denyut, Livy menarik jubah ke atas kepalanya dan entah bagaimana, secara ajaib, tertidur lelap.


"Yang Mulia. Anda harus menahannya sebentar. Aku akan—" Livy berdecak berusaha menyangga kepala sang pangeran yang terkulai lemas. Pria itu tampak pingsan dan tak bergeming. Gadis itu berusaha mengumpulkan kesadaran tuannya saat ini.


Tidak lama sang pangeran meraih lengannya secara tiba-tiba, dia mencengkeramnya dan menggeram penuh amarah. Mata Livy terbelalak karena terkejut.


Pria muda itu tiba-tiba membuka matanya dengan pupil hitamnya yang menghilang sepenuhnya. Hanya ada warna putih di kedua bola matanya, dan Livy terkesiap saat dia mati-matian mencoba melepaskan cengkeraman tangan sang pangeran.

__ADS_1


"Apa ini?" Livy memekik penuh kengerian dengan suara melengking, tenggorokannya hampir robek sebagian. Matanya tertuju pada jemari sang pangeran yang menyentuhnya. Tangan yang dingin dan terlihat membusuk dengan tulang hitam yang melilit kulitnya sedang menariknya dengan sedih.


Dalam ketakutannya, Livy berteriak dan berusaha menendang, mencoba mendorong benda mengerikan itu menjauh. Gadis itu dengan cepat menepisnya dengan tangan gemetar dan melempar tubuhnya ke lantai. Perasaan jari-jari kurus yang menyentuhnya tetap ada menguasai indra perabanya, dan itu adalah perasaan yang pasti tidak akan pernah hilang selama sisa hidupnya nanti.


Bukan sang pangeran yang sedang berhadapan dengannya sekarang. Melainkan entitas asing yang sudah merasuki tubuh pria itu. Perasaan ngeri dan bergidik merambat di sekujur tubuh Livy. Ia berusaha keras menelan ludahnya sendiri.


Di tengah penderitaannya, dan menggosok kulit yang telah disentuh hantu itu, Livy langsung memfokuskan pikirannya untuk membentuk perisai mana di sekelilingnya, merambat menyelubungi sang pangeran juga.


Saat itulah dia menyadari bahwa bukan hanya satu hantu yang merayap kedalam ruangan mereka, sebagian besar berasal dari luar kapal. Di sekeliling mereka kini tercipta atmosfir dingin dan mencekam yang mengepung ke arah mereka dari segala penjuru. Mereka berkumpul di kamar itu dari dalam dan luar samudera.


......................


"Dua pelintas, selamat datang di Jembatan Rintangan," ujar penjaga dengan suara yang penuh hikmat. "Sebelum kalian melanjutkan, kalian harus menjawab pertanyaan yang akan kuajukan. Jawaban yang tepat adalah kunci untuk melewati rintangan ini."


"Nampaknya kita harus menghadapi rintangan yang menarik," ujar Grand Duke dengan suara tenang, menggeser pandangannya ke arah Percy.


Dengan hati-hati, mereka melangkah di atas jembatan. Di bawah mereka, jurang dalam dan misterius, seakan mencoba menggoda mereka untuk melihat ke bawah. Jembatan itu penuh dengan batu-batu yang tidak teratur, menuntut keseimbangan yang sempurna dalam setiap langkah.


Penjaga jembatan tidak menghiraukan kesiapan mereka sama sekali, ia melanjutkan, "Jadi, apa yang lebih berharga daripada harta karun dan lebih berat daripada gunung wahai para pelintas?"


Ha. Kau bahkan tidak menunggu kami untuk melangkah terlebih dahulu ke atas jembatan.


"Bagaimana kalau aku tidak mau menjawabmu, wahai penjaga." Ujar Jake sembari melangkahkan kakinya lebih dulu menuju jembatan.


"Terserah. Kau bisa mencobanya kalau mau." Penjaga itu tersenyum licik kepada mereka. Dan kemudian jembatan itu runtuh sebagian. Menyisakan jurang di tengahnya yang memotong jalur jembatan. Tidak ada tempat berpijak bagi siapapun.

__ADS_1


Rupanya pertanyaan itu merupakan bagian penting dari tantangan ini. Baiklah. Lagipula pasti pertanyaannya akan sama dengan yang kulihat di series. Gumam sang Grand Duke pada dirinya sendiri.


"Aku bisa membawa Anda terbang ke sana, Master."


"Tidak perlu. Ayo kita jawab semua pertanyaannya. Ini tidak akan memakan waktu lama. Aku akan maju lebih dulu, fokuslah pada langkahku dan jangan berubah menjadi naga."


Percy menganggukkan kepalanya.


Keduanya merenung sejenak, mencoba memahami arti di balik pertanyaan tersebut. Jake tersenyum tipis dan mulai berbicara, "Jawabannya adalah... sebuah rahasia. Sesuatu yang bernilai tak terhingga dan melebihi materi, tetapi juga bisa menjadi beban yang berat."


Batu-batuan di hadapan mereka kembali merubah formasinya. Kini membentuk keseluruhan lajur jembatan yang tadinya menyisakan ruang kosong di tengah-tengah. Mereka terus menghadapi potongan jembatan yang goyah itu. Jake memimpin jalan, menyeimbangkan langkahnya dengan penuh kehati-hatian.


Penjaga jembatan tersenyum puas. "Kamu telah menjawab dengan bijaksana. Bagaimana kalau satu lagi? Apa yang bisa dipegang tanpa disentuh, dan apa yang bisa dipegang sejenak namun sulit untuk dilepaskan?"


Mengapa tidak ada jeda waktu sedikitpun? Desis Percy yang masih melangkah di belakang Jake.


Kemudian, rintangan lain muncul. Jembatan merosot menjadi sangat sempit, menyisakan sedikit ruang bagi mereka untuk bergerak. Jake mengamati dengan seksama dan memilih langkahnya dengan bijaksana, sementara Percy melangkah mengikutinya di belakang. Sesekali mereka berhenti ketika jembatan terasa tidak stabil.


Percy mengambil bagian dalam pertanyaan kali ini, "Yang pertama adalah mimpi, sesuatu yang bisa dihayati tanpa menyentuhnya. Yang kedua adalah harapan, kadang-kadang mudah dipegang namun sulit untuk dilepaskan."


Penjaga jembatan mengangguk, memberikan lampu hijau untuk melanjutkan. "Kalian berdua telah menjawab dengan tepat. Kalian memiliki pemahaman yang mendalam. Lanjutkan perjalananmu dengan kebijaksanaan."


Rintangan terakhir muncul di hadapan mereka. Jembatan berubah menjadi spiral yang menanjak, mengharuskan mereka untuk memanjat dengan hati-hati. Grand Duke memegang tangan sang naga, mengandalkan kekuatan temannya untuk membantunya menaklukkan rintangan ini. Beberapa pertanyaan terus berlanjut dengan langkah-langkah di atas pijakan yang tidak stabil.


Akhirnya, mereka berhasil mencapai puncak spiral. Dengan langkah terakhir, mereka melangkah keluar dari Jembatan Rintangan, kembali ke tanah yang aman.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2