
Anna kini duduk berhadapan dengan sang raja di lounge istana Rotha. Ia baru saja selesai mengunjungi kamar sang pangeran yang ditinggal oleh pemiliknya.
"Dia menuju Menara Batu. Northern? Bersama seorang wanita. Mereka di atas kapal sekarang." Gumamnya dengan suara rendah.
Sang raja mendecakkan lidahnya resah. Kegelisahan terus tergambar di wajahnya sementara sang ratu juga ikut mengawasinya dengan cemas. Mereka berdua saling bertukar pandang.
"Wanita itu adalah pelayan pribadinya, Livy. Seorang calon pendeta muda, *s*aintess." Balas sang ratu yang duduk di samping sang raja sembari mencoba menjelaskan.
Anna mengangguk pelan namun kemudian bertanya, "Ada apa dengan Menara Batu?"
Mengapa semua orang ingin kesana. Sepertinya aku harus memeriksa tempat itu juga. Tidak ada cerita tentang lokasi itu dalam alur kehidupanku sebelumnya. Gumam Anna dalam hati.
"Kekuatan suci. Ada sumber kekuatan suci di sana. Dan beberapa bisa mengabulkan permohonan." Raja menjawab pertanyaannya sambil meremas genggaman tangan sang ratu.
Mengabulkan permohonan? Hal itu yang dibicarakan oleh Shayn juga. Batinnya.
"Jadi, apa mungkin dia ingin melepaskan kutukannya disana?" Tanya Anna lagi. Ia hanya menebaknya secara spontan setelah secara samar berhasil merekonstruksi percakapan antara sang pangeran dengan pelayannya tepat sebelum mereka pergi meninggalkan istana Rotha. Penglihatan cahayanya perlahan-lahan sudah mulai meningkat bersama beberapa kekuatan sucinya yang lain.
"Entahlah. Itu merupakan kemungkinan yang besar. Darimana kau bisa mengetahuinya, saintess?" Sang raja berujar heran. Ia kini memandang Anna dengan bingung.
"Aku hanya— menerawangnya." Jawab Anna singkat.
"Kau bahkan bisa menerawang jauh ke belakang?" Sang raja membalas dengan takjub dan penuh harap seolah-olah ia baru saja mendengar kemampuan sang saintess di hadapannya itu.
"Hanya karena ada wanita itu disampingnya. Pelayan sang pangeran sepertinya gadis itu memiliki sumber kekuatan yang sama denganku." Gumam Anna lembut.
Sebenarnya kekuatannya bisa digunakan dimanapun ada cahaya yang berpijar di tempat itu. Namun hanya berupa kilasan-kilasan adegan tanpa suara. Awalnya ia sedikit bingung karena bisa mendengar dialog diantara keduanya saat sedang merekonstruksi waktu, tetapi Anna yakin kekuatan pelayan itulah yang membuatnya bisa menerawang hingga kepada residu-residu suara di kamar milik sang pangeran.
"Ah maaf. Sudah jelas karena kau adalah saintess. Anda benar-benar keajaiban yang dikirim oleh dewi cahaya ke dunia ini." Ucap sang raja kagum sambil tersenyum muram dengan ekspresi bersalah di wajahnya.
Anna membalas dengan senyuman tipis di bibirnya. Ia tidak ingin kekuatannya terlalu terekspos oleh orang asing. Bahkan dari suaminya sendiri sang Grand Duke.
Gadis yang kumaksud ini benar-benar membuat perisai cahaya dari energi mana di sekeliling mereka, Shayn. Pikir Anna saat melihat Livy dalam penglihatan cahayanya.
Itu mungkin saja. Dia pasti salah satu jiwa yang terberkati. Pelayan sang dewi juga di dunia ini. Ujar Shayn menimpali pikirannya.
Di kehidupan sebelumnya Rowan tidak didampingi gadis ini. Apakah dia juga saintess? Tanya Anna kepada Shayn.
Bukan. Hanya kau sang saintess. Jawab spirit cahaya itu singkat.
Mungkin dewi tidak puas denganku. Anna terkekeh dalam hati. Tiba-tiba saja pikiran itu terlintas di kepalanya.
Haha sungguh lucu sekali, Anna. Shayn mendengus dengan sarkasmenya.
"Jadi apakah putraku sedang dirasuki atau bagaimana, nona saintess." Sang ratu tiba-tiba bertanya lembut kepadanya, kembali menyambung percakapan mereka. Membuyarkan mind link nya dengan sang spirit cahaya pendampingnya.
Anna menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan sang raja, "Gadis itu, tidak maksudku Livy. Dia membantu menahan kutukan pangeran dengan membuat perisai mana di sekeliling mereka. Mencegah entitas-entitas asing disekeliling pangeran untuk merasukinya. Aku bisa merasakan kekuatannya. Untuk sementara pangeran masih dalam kondisi stabil. Kalian mengetahuinya? Maksudku kekuatan Livy."
Sang ratu menggeleng cepat. "Jadi dia tidak mengamuk? Itu pasti hanya sementara. Kami tidak tahu kalau Livy bisa melakukan hal itu. Bagaimana mungkin kuil merahasiakannya dari kami."
__ADS_1
Anna tersenyum masam. Kuil adalah bagian paling abu-abu baginya. Tidak semua dari mereka bahkan memiliki keimanan pada sang dewi secara total. Duniawi masih menggenggam erat para pendeta-pendeta disana.
"Aku akan menyusulnya kalau Anda bersedia mengantarkanku bersama beberapa pasukan ksatria. Tapi hanya dengan satu syarat Yang Mulia." Sergah Anna memutuskan. Ia semakin dibuat penasaran dengan Menara Batu itu.
"Tentu saja apapun itu. Terimakasih jika kau mau membatu kami, saintess." Ujar sang raja dengan senyum tipis di bibirnya. Ia kembali mengusap genggaman tangan istrinya dan berusaha menenangkan wanita itu.
Anna menatap keduanya bergantian, kemudian ia berkata, "Tidak ada yang boleh tahu bahwa aku adalah saintess. Baik di Kerajaan Rotha maupun di Kerajaan Lawrence nanti. Aku akan membuat Anda melakukan perjanjian dengan kekuatan cahaya agar tidak ada dari kita yang bisa mengingkarinya."
Sang raja menganggukkan kepalanya tanda setuju.
......................
Penjaga jembatan tersenyum tipis sambil mengangguk ke arah Jake dan Percy. Keduanya telah berhasil melewati jembatan batu itu. Bahkan tanpa Percy harus berubah menjadi bentuk asli naganya.
"Perjalanan kalian akan semakin menantang, tetapi jangan pernah ragu pada dirimu sendiri. Kalian memiliki kebijaksanaan dan kekuatan untuk menghadapinya." Ujar sang penjaga tenang.
"Kau tidak menawarkan kami sesuatu?" Ujar Jake sengaja memprovokasi sang penjaga.
Penjaga itu tertawa terkekeh-kekeh. "Apa yang kalian mau?"
"Apapun yang Anda tawarkan adalah suatu bentuk kebijaksanaan untuk kami." Balas Jake dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Kalian manusia sungguh pandai berkata-kata."
Sebuah cahaya kini keluar dari dalam jurang di bawah jembatan. Melayang terbang ke atas sang penjaga dan berubah menjadi sebuah batu kristal berwarna putih ketika digenggam olehnya.
Jake dengan sigap menangkap batu tersebut dengan tangannya.
"Apa ini?" Jake bertanya singkat.
"Relik suci itu bernama Jembatan Waktu. Dengan itu kau bisa membuka jalan ke dimensi manapun yang kau inginkan dan memasukkan apa saja ke dalamnya hanya dengan menyebutkannya."
"Apa saja?" Mata Jake langsung berbinar mendengarnya. Mungkin itu jalan keluar baginya dari dunia ini. Terlintas di benaknya untuk kembali ke dunianya dengan menggunakan batu itu saja.
"Apa saja kecuali dirimu sendiri." Jawab sang penjaga yang langsung mematahkan harapannya.
Well. Tentu saja tidak semudah itu. Pikirnya sejenak dalam hati.
"Baiklah. Terimakasih." Balas Jake cepat memahami perkataan sang penjaga yang dengan samar menghilang entah kemana.
Sebuah gerbang terbuka di belakang mereka dengan perlahan. Jake dengan tenang berbalik dan menunggu gerbang itu benar-benar sepenuhnya terbuka hingga tiba-tiba muncul secercah kilat yang menyambar ke depan gerbang dan menyisakan sebuah sosok perempuan yang jatuh tersungkur di depan mereka. Sebuah sosok yang sangat ia kenali.
......................
"Lady Kate? Apa yang Anda lakukan disini?" Teriak Jake yang terkejut saat mengenali perempuan di depannya.
Jake menatap terbelalak, matanya melebar melihat kenyataan bahwa perempuan itu adalah sang saintess palsu. Refleks ia segera mendatanginya dan memastikan kondisinya dengan cepat.
"Grand Duke? Akhirnya!" Pekik Kate gembira. Ia tidak bisa menyingkirkan sorot mata bahagia dan penuh harap pada Jake. Gadis itu langsung saja mencengkram kedua tangan Jake yang berusaha mendukungnya untuk berdiri.
__ADS_1
Bagaimana bisa? Aku bahkan baru saja menyelesaikan tantangan Jembatan Rintangan. Tidak mungkin dia adalah bagian dari ujian di menara ini. Pikir Jake dalam kepalanya.
"Percy, bantu aku menopangnya." Ujar Jake cepat.
Ia buru-buru memberi sinyal kepada Percy untuk membantunya memapah gadis itu dan menyerahkan tubuh sang saintess sepenuhnya pada sang naga. Kate bukan bagian dari rencananya di Menara Batu. Bahkan hal itu tidak ada di episode manapun dalam series.
Ia seharusnya bisa menggantikan Lucas mendapatkan kekuatan-kekuatan di Menara Batu ini tanpa melibatkan siapapun. Apakah karena ia menambahkan Percy sebagai variabel tak terduga dalam kesempatannya kali ini sehingga alur ceritanya terus berubah. Jake berusaha mencerna semua yang sedang terjadi.
"Anda baik-baik saja? Bagaimana Anda bisa berada disini, Lady?" Kini Jake bertanya dengan khawatir dan menatap tajam ke arah Kate yang masih meringis karena rasa sakit yang mendera kakinya saat terjatuh tadi.
Sementara itu, sambil memapah Kate, Percy perlahan menunjuk ke arah gerbang yang masih bersinar terbuka namun kelihatan mulai mengecil.
"Master, sebaiknya kita harus meninggalkan tempat ini dulu ke lantai menara selanjutnya. Gerbangnya mungkin akan segera tertutup." Tukasnya kepada Jake.
"Kau benar. Ayo." Sergah Jake.
Ketiganya berhasil melewati gerbang lantai berikutnya. Sementara gerbang itu semakin mengecil dan menutup. Meninggalkan kegelapan di belakang mereka.
......................
"Tempat apa ini??" Kate bertanya sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Ruangan dengan cermin dimana-mana mengelilingi ketiganya. Mereka telah sampai di lantai menara berikutnya. Labirin Cermin.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu, saintess. Apa yang kau lakukan disini?" Desis Jake padanya.
Kate telihat gugup melihat Jake yang mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Ia tidak mungkin mengatakan tentang apa yang sudah terjadi padanya dan putra mahkota. Lucas sudah aman dikembalikan oleh pria berambut merah itu. Seharusnya ia tidak perlu khawatir lagi. Lucas tidak boleh terlibat dengan rencananya lagi. Apalagi sekarang ini.
"Aku.... Aku memasuki portal batu sihir. Lucas yang membawanya ke istana. Katanya portal itu bisa membawaku sampai kepadamu." Jawab Kate menjelaskan dengan terbata-bata berusaha meyakinkan sang Grand Duke.
Tiba-tiba ekspresi wajah Jake mengeras mendengar Kate menyebut nama keponakannya itu. "Lucas? Dimana dia sekarang, dia juga ikut denganmu?"
"Dia..... Dia di istana, sekarang." Kate menjawab dengan ragu-ragu.
Jake menatap tak percaya pada Kate. Pria itu mengeluarkan ekspresi dinginnya, "Kau datang sendiri kesini?"
"Ya?" Kate menelan ludahnya menjawab pertanyaan Jake.
Wanita ini pasti sudah gila. Bagaimana bisa dia menembus tempat yang bahkan tidak bisa ditembus oleh sihir. Bahkan batu sihir Queta tidak bisa membuka portal ke Northern. Pasti ada yang ia sembunyikan. Batin Jake tak percaya.
Grand Duke menggelengkan kepalanya. Bukan itu yang penting sekarang. Ia harus segera mengevakuasi Kate dari dalam menara itu. Dia bahkan belum menemukan kekuatan yang dia inginkan di sana. Tidak sampai ia mendapatkan kekuatan cahaya yang sama dengan milik Anna.
"Tidak bisa, Anda harus kembali ke istana, saintess. Disini terlalu berbahaya bagimu. Temanku akan segera mengantarkanmu pulang." Jake memalingkan pandangannya ke arah Percy.
Kate mengernyit kecewa dan dengan tergopoh-gopoh menarik lengan baju sang Grand Duke. "T-tidak! Apa yang kau katakan Grand Duke? Aku mau pulang ke tempatku. Bukan ke istana itu. Hanya kau. Hanya kau yang bisa mengembalikanku ke duniaku."
Jake memutar bola matanya ke arah Kate.
"Apa maksud Anda saintess. Maafkan aku, tapi aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan." Balas Jake datar.
Bicara apa gadis ini. Bahkan aku saja terjebak di dunia ini. Dan lagi tidak mungkin mengirimkan diriku sendiri kembali menggunakan Jembatan Waktu.
Ah itu dia. Bagaimana kalau orang lain yang menggunakan batu itu untukku. Mengapa baru terpikirkan sekarang olehku.
__ADS_1
...****************...