Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
The Chance


__ADS_3

Malam itu adalah malam ketiga Anna berpisah dengan Grand Duke. Tidak ada sesuatu yang penting terjadi kecuali pemimpin pasukan tim beta milik suaminya, Sir Phillips, yang selalu mengecek keamanannya di kastil Hannover.


Shayn, bagaimana keadaan Grand Duke? Tanya Anna pada sang spirit cahaya. Mereka sedang duduk bermeditasi di atas ranjang untuk melatih penguasaan mananya terhadap kekuatan suci.


Shayn hanya bergumam pelan. Spirit itu duduk di pundak sang saintess. Dia baik-baik saja. Kau tahu dia ksatria terkuat di Lawrence. Apa yang kau khawatirkan?


Apa yang sebenarnya dia sedang lakukan di Northern? Bukankah pada kehidupan sebelumnya dia tidak pernah berhubungan dengan wilayah itu? Anna mulai penasaran dan mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan di benaknya. Kembali mengingat-ngingat memori kehidupannya dahulu.


Northern tidak pernah berkaitan langsung dengan sang Grand Duke. Justru Lucas lah yang pernah mendatangi tempat itu pada ingatannya sebelumnya.


Sang spirit hanya bisa menghela nafas panjang dan menjawab. Hmmmm..... Entahlah. Northern tidak bisa ditembus oleh kekuatan suci ataupun sihir, Ann. Ada kekuatan kuno disana yang melindungi wilayah itu. Aku tidak bisa menerawangnya di sana. Mungkin dia ingin memohon pada menara batu?


Tiba-tiba Anna menoleh ke arah Shayn yang membuat spirit kecil itu terjungkal dari pundak sang saintess. Apa maksudnya? Memangnya tempat apa itu?


Shayn dengan sigap mendarat di pangkuan gadis itu dan berdiri di atasnya. Menara batu, biasanya orang-orang memohon untuk mengabulkan permintaan mereka disana. Ada beberapa tingkatan di dalamnya. Kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan.


Memangnya siapa yang mengabulkan permohonan mereka disana? Tanya Anna heran. Kedua alisnya saling bertaut.


Shayn mengedipkan matanya. Ia duduk dan mengangkat bahunya. Hanya cerita lama. Northern adalah wilayah yang kabarnya sudah ditinggalkan oleh para dewa dan dewi. Sebanyak apapun mereka meminta kepada para dewa-dewi itu, tidak ada satupun permintaan yang terkabul. Pada akhirnya semua penduduk disana tidak ada lagi yang memiliki kepercayaan kepada entitas spiritual. Mereka menciptakan keyakinannya sendiri. Kepada kekuatan diri mereka sendiri untuk mewujudkan setiap keinginan mereka. Awalnya menara batu hanyalah bentuk representasi tantangan mereka ketika diri mereka berhasil mewujudkan keinginannya. Tapi kemudian entah bagaimana para dewa dan spirit mulai menjadikan setiap tingkatannya menjadi tempat kekuatan kuno untuk beberapa entitas spiritual yang menjaganya.


Permohonan apa yang ingin Grand Duke minta disana, Shayn? Balas sang saintess masih tidak mengerti. Ia mencoba meresapi perkataan sang spirit.


Mungkin dia ingin menemukan tambang batu yang lain? Seperti Queta. Kau tahu kan. Atau agar bisa bersatu dengan Kate? Shayn bergurau kepada Anna ingin melihat reaksinya.


Anna mendelik tajam ke wajah sang spirit.


Haruskah aku menyusulnya kesana? Ujar Anna yang kemudian bangun dari duduknya secara tiba-tiba. Shayn kembali terpental, tapi kini spirit itu dengan sigap membuka sayapnya dan terbang ke arah Anna.


Tidak perlu!! Justru sebaiknya kau harus terus berlatih mengontrol kekuatan sucimu. Kau bisa mulai dengan kekuatan penyembuhmu. Itu akan sangat berguna bagi Grand Duke suatu saat nanti. Teriak sang spirit kesal sambil menunjuk wajah sang saintess dengan telunjuk mungilnya.


Anna menghelas napasnya kecewa. Tapi ia mengangguk mendengar jawaban sang spirit.


Benar. Sebaiknya aku cepat menguasai kekuatan itu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya.

__ADS_1


......................



Raja masih terpukau dengan apa yang baru saja putranya perlihatkan di hadapannya. Sebuah benda sihir dengan kekuatan yang langka.


"Ini portal sihir, Ayah. Hanya dengan mengalirkan sedikit manaku kesini, maka akan terbentuk aliran energi yang akan membentuk portal teleportasi."


"Darimana kau mendapatkannya, Nak?" Sang raja mendekati portal itu dan mengamatinya dengan seksama. Kepalanya terus mengangguk-angguk.


"Grand Duke yang mengembangkannya. Pertambangan Queta. Apa Ayah ingat? Aku hanya meminjam satu darinya." Terang Lucas kepada Ayahnya.


"Kau pasti mengambilnya tanpa izin." Lagi-lagi sang raja menebak kelakuan jahil sang pangeran.


"Bukan tanpa izin, Ayah. Hanya saja memang dia tidak mengetahui kalau aku mengambil satu dari kantungnya. Lagipula dia sendiri yang bilang kalau aku harus memberitahu Ayah tentang ini agar Ayah berinvestasi di dalam pengembangannya." Lucas mencoba membela diri dan mengalihkan pembicaraan mereka.


Sang raja tampak sedang mencoba mengingat sesuatu di kepalanya. Benar. Grand Duke, adiknya memang meminta hak kepemilikan Queta setelah perang terakhirnya di perbatasan tempat itu.


"Aku yang memberikan hak wilayah Queta kepadanya. Tapi tidak pernah ditemukan pertambangan di daerah sana. Hanya tanah tandus kering."


Putra mahkota tersenyum licik kepada sang ayah. Ia mencoba untuk mengkonfrontasi sang paman dengan ayahnya sendiri. "Itu berarti Grand Duke menyembunyikannya dari Ayah."


"Dan...... Kemana portal sihir ini menuju sekarang?" Tanya raja lagi setelah mengamati portal tersebut beberapa saat. Haruskah ia berinvestasi dalam pekerjaan sang adik.


"Entahlah. Mungkin ke tempat Grand Duke sekarang berada? Dia yang mengatur koordinatnya." Lucas mengangkat bahunya.


Tiba-tiba ekor mata Lucas menangkap sosok seorang wanita yang familiar di matanya di balik pintu masuk lounge istana tempat mereka berdiskusi saat ini. Sang saintess, Kate.


Dia sedang berkeliling lagi rupanya. Pikir Lucas.


"Oh saintess! Senang bertemu denganmu—" Teriak Lucas gembira dan bersemangat ingin menyapa sang saintess.


Belum sempat Lucas menyapanya dan raja juga masih membelakanginya, Kate langsung berlari ke arah portal tersebut. Ia bahkan sama sekali tidak menghiraukan kedua orang ayah dan anak itu.

__ADS_1


"Apa? Saint.....tess?—" Sang raja baru saja ingin membalikkan tubuhnya dan menoleh ketika menyadari kehadiran sang saintess. Tapi tiba-tiba semuanya terjadi begitu singkat.


Sang saintess dengan cepat melesat dari ambang pintu dan berlari masuk menghilang ke dalam portal tersebut tanpa menatap ke arah putra mahkota dan sang raja sedikitpun. Menyisakan kedua laki-laki yang kini tertegun melihat kejadian itu dengan tanda tanya besar.


"Lucas, Gadis itu? Kemana dia berlari?" Hardik sang raja kepada anaknya.


"Ke...dalam portal?" Jawab Lucas ragu-ragu. Berusaha memahami apa yang sedang terjadi.


"Tentu saja aku tahu. Kau dan aku sama-sama menyaksikannya. Kemana tujuan portal itu? Cepat kau masuk juga!" Ucap sang raja sembari menunjuk ke arah portal dan menarik lengan putranya.


Lucas menyentuh rambut pirangnya dengan gugup, tangannya yang lain masih memegang batu sihir teleportasi itu. "T-tapi Ayah.... Aku juga tidak— Ah, sial! Baiklah! Aku akan masuk mengejarnya."


......................



Rencana Grand Duke adalah ia akan pergi ke dalam menara bersama Percy, sang naga, tentu saja dalam bentuk fisik manusianya. Arthur ia perintahkan untuk berjaga-jaga dari luar jika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan rencananya. Lagipula ia tidak ingin siapapun memiliki kekuatan itu kecuali dirinya. Arthur mungkin saja menjadi pemiliknya jika ia tidak hati-hati di dalam menara.


"Apakah ada orang di dalamnya?" Gumam Jake ke arah Percy. Mereka masih menatap menara itu dari luar di tepi danau yang luas. Tidak salah lagi, menara yang menjulang di tengah danau itu adalah menara batu tujuannya.


"Manusia? Tidak. Tempat itu sebenarnya adalah makam." Percy menggeleng matanya tertuju pada menara.


"Makam?" Jake merasa bingung dengan jawaban sang naga. Ia sebenarnya tahu apa yang berada di dalam menara itu. Tapi bukan makam. Hanya kekuatan kuno dengan penjaga-penjaganya.


Percy tersenyum tipis. Ia menganggukkan kepalanya kepada Jake. "Makam bagi beberapa entitas spiritual yang menjaga kekuatan-kekuatan kuno di dalamnya. Kekuatan apa yang Anda inginkan, Tuan?"


Ah. Begitu rupanya. Desis Jake dalam hati.


"Semua?" Jawab Jake singkat. Membuat Percy takjub dan terpana ke arahnya. Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya karena merasa bingung.


"Kau bisa mendapatkan kekuatan yang sebanding dengan Blessing of Dragon, Tuanku. Di sini. Di menara ini, Anda harus melewati beberapa ujiannya terlebih dahulu. Atau kau akan terjebak. Selamanya." Percy menunjukkan ekspresi murung setelah mengungkapkan hal tersebut.


"Aku tahu. Kau tidak perlu ikut denganku kalau takut." Balas Jake pasti.

__ADS_1


"Kalau begitu akan kupastikan kau tidak terjebak disana." Percy tersenyum sumringah ke arah Jake.


...****************...


__ADS_2