
Tidak lama setelah berteleportasi menggunakan batu sihir, akhirnya Jake dan rombongannya sampai ke tepi wilayah Northern di senja sore itu.
"Kita akan berkemah di luar Northern, Markus. Aku akan masuk sendiri ke wilayah itu." Perintah Grand Duke kepada kepala pasukan ksatrianya.
"Apakah Anda tidak ingin beberapa dari kami mendampingi Anda, Yang Mulia?" Sir Markus menawarkan pada tuannya itu. Ia tidak mungkin meninggalkan tuannya dalam bahaya yang mungkin datang begitu saja.
Grand Duke menggelengkan kepalanya mantap, "Tidak perlu. Lagipula aku juga punya tugas untuk kalian."
"Baik, Grand Duke." Sir Markus terlihat kecewa beberapa saat dengan keputusan Grand Duke, namun ia tetap mengangguk mengikuti perintah sang tuan.
Arthur, naga itu masih mengikuti kita juga? Tanya Jacob dalam hati kepada spiritnya setelah ia hanya sendiri saja di depan api unggun.
Masih. Suara Arthur menjawab di dalam kepalanya. Spirit itu segera hadir di sampingnya.
Grand Duke menyadari kalau sang naga mengikutinya setelah prajuritnya melaporkan bahwa setiap mereka mendirikan kemah, maka ada beberapa hewan hasil buruan yang ditaruh di dekat tungku perapian.
Awalnya ia mengira itu sebagai bentuk teror seseorang, tapi ternyata bukan. Arthur mengatakan itu adalah ulah sang naga yang ingin berterimakasih padanya.
Bukan hanya sekali dua kali sang naga melakukannya, tapi se.ti.ap. ka.li. mereka mendirikan tenda untuk beristirahat, maka setiap kali itu juga akan ada setumpuk hewan liar yang sudah mati tergeletak begitu saja.
Jacob mengerutkan kedua alisnya. Sudah kubilang padanya untuk pergi. Kenapa dia masih bersikeras ikut bahkan setelah kita menggunakan portal sihir?
Kau memberitahukan namamu padanya. Gumam Arthur.
Apa maksudmu? Tentu saja, itu sopan santun kan. Tegas Jacob merasa bingung, ia hanya menjawab pertanyaan sang naga waktu terakhir kali—memperkenalkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Dia sudah mengikatmu dalam perjanjian sihirnya. Naga adalah makhluk yang suci. Dia bisa mengetahui posisimu hanya dengan mengetahui namamu. Sang raja spirit api menatap Jacob. Ia tersenyum menyeringai kepadanya.
Apa? Mengapa info itu tidak muncul di episode yang ku tonton? Ah iya, dia mati di tangan Lucas. Pikir Jacob dalam hati. Ia tampak sedang mengingat beberapa informasi terkait sang naga.
Kau mau aku menyingkirkannya? Tawar sang raja spirit tersenyum simpul.
Apa? Lalu untuk apa aku menyelamatkannya kalau kau juga membunuhnya. Jacob mengernyitkan dahinya, tertawa terkekeh pada sang spirit.
Juga? Tanya Arthur keheranan.
Ah sudahlah. Apa kau tahu apa yang dia inginkan? Jake dengan cepat mengalihkan pembicaraan mereka. Walaupun Arthur adalah raja spirit, tapi sepertinya sang dewi cahaya masih memihak pada Jake dengan tidak membiarkan raja spirit itu tahu siapa dia sebenarnya.
Arthur menatap Grand Duke dingin sambil menjawab dengan datar. Naga itu ingin berterimakasih padamu. Bicaralah lagi padanya. Ada yang ingin dia sampaikan secara langsung.
......................
Betapa terkejutnya Jake saat yang muncul di hadapannya malah seorang pemuda tampan dengan rambut putih dan mata emas menyala. Wujud fisik manusia sang naga putih tersebut.
"Aku Percy, naga yang kau selamatkan. Percy memberi hormat kepada Tuan Jacob Rothesand. Aku memutuskan untuk menjadikanmu masterku, Tuan." Sang pemuda membungkuk ringan menunjukkan hormatnya kepada Grand Duke.
Jake berusaha untuk tetap tenang di hadapan makhluk suci itu. Ia tidak menyangka akan berbicara dengan wujud manusia sang naga.
"Bukankah kau benci dengan manusia? Kau pasti tidak suka jika ada manusia yang memerintahmu. Lagipula aku sudah menyuruhmu pergi ke dataran monster. Kau bisa beristirahat dengan aman dan nyaman disana. Tanah itu sudah menjadi kekuasaanku. Tidak ada yang akan mengganggumu di sana. Kau tidak berhutang apa-apa padaku."
"Aku tahu kau menikah dengan seorang saintess cahaya. Aku bisa membantumu membangkitkan kekuatannya." Tukas Percy singkat tanpa disangka-sangka. Ekspresinya tegas dan tidak ragu sedikitpun.
__ADS_1
Jake tersenyum tipis. Ia berusaha menutupi keterkejutannya. Tidak mungkin Arthur yang memberi tahu naga ini. "Darimana kau mengetahuinya?" Ungkapnya berusaha memancing sang naga.
"Ada jejak kekuatan suci pada dirimu." Sang naga tersenyum membalas Jake, "Kalian telah terikat. Aku melihat ikatan itu."
Ahh.... Makhluk mitologi memang memiliki level kekuatan yang berbeda. Jake berbisik dengan kagum.
"Lalu..... Apa maksudmu dengan membangkitkan kekuatannya?" Jake bertanya dengan mimik keheranan.
"Blessing of Dragon, Master. Aku akan memberikannya padamu, istrimu dan semua keturunanmu selama aku masih hidup. Efeknya pada istrimu nanti bisa membangkitkan kekuatan sucinya sebagai seorang saintess." Urai sang naga.
"Tidak. Hey, jangan panggil aku master. Mengapa kau ingin menjadikanku mastermu?" Jake bertanya dengan nada kebingungan.
"Kebebasan. Aku berhutang budi padamu." Balas Percy singkat.
"Lalu tidakkah kebebasanmu menjadi tertawan kembali jika kita melakukan perjanjian? Aku bisa saja memintamu untuk melakukan kejahatan atau apapun untuk kepentinganku sendiri. Bukankah kau tidak bisa menolak perintahku jika aku sudah menjadi mastermu?" Sangkal Jake tegas sekaligus menguji tawaran sang naga padanya.
"Saintess cahaya akan membimbingmu. Aku melihatmu dan dirinya dalam penerawanganku. Sudah lama aku tidak mendapatkan kekuatan—penerawangan itu. Tapi kau masih lemah. Aku bisa membantumu. Dan aku juga ingin bertemu saintess." Ujarnya Percy menambahkan
Jake tampak berpikir dengan keras. Ia memang sedang membutuhkan lebih banyak kekuatan. Blessing of Dragon. Ia pernah mendengar kekuatan itu sebelumnya di episode-episode terakhir series film Game of Powers. Tapi tetap saja ia masih belum tahu sejauh mana kekuatan itu bisa ia manfaatkan dan apa resikonya.
"Baiklah, aku menerima tawaran dragon of blessing mu. Menetaplah di kediamanku kalau begitu. Tidak perlu sampai menjadikanku mastermu. Dan jangan ikuti aku masuk ke wilayah Northern besok pagi. Atau kau bisa menungguku disini bersama pasukanku." Kilah Jake pada akhirnya.
Percy tersenyum menyungging dari balik bibirnya, "Anda masih lemah, Tuan. Aku bisa membantumu. Kekuatan kuno di menara batu. Aku mengetahuinya."
"Bagaimana bisa—"
...****************...
__ADS_1