Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
Come Late


__ADS_3

Kate datang membawakan beberapa ranting kayu yang kering dan tidak basah oleh hujan dari luar gua. Butuh beberapa waktu baginya untuk mengumpulkan batang-batang itu sambil tetap waspada dengan kemunculan monster yang mungkin ada di sekitar gua.


Gadis itu masuk ke dalam dan mendapati sang pangeran yang tergeletak lunglai dan pucat. Disampingnya duduk pria berambut merah panjang itu. Ia hanya bisa menutup mulutnya.


Tiba-tiba terpikir olehnya bahwa tidak semua orang akan menanggung penderitaan yang sama. Jika Lucas mati, semua orang akan meratapinya dengan sepenuh hati. Tapi itu tidak akan terjadi padanya, baik sang pangeran maupun orang-orang di dunia ini mungkin tidak akan berkedip pada mayatnya yang dingin.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya gadis itu pada akhirnya.


Pria yang bahkan enggan memberitahukan namanya itu muncul beberapa saat ketika ia sedang menangisi kondisi Lucas yang terluka parah setelah menghadapi monster setengah naga itu. Tanpa disuruh Kate langsung memohon pertolongannya sambil terus terisak.


Arthur hanya bisa terpana menyaksikan keduanya bersimbah darah di tengah hujan dengan mayat monster yang masih tergeletak di dekat mereka. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran keduanya saat sang Grand Duke memasuki menara batu. Namun di tengah hujan dari tempat ia berjaga, beberapa kilometer ia bisa mendengar suara familiar dari sang saintess palsu itu.


"Dia akan baik-baik saja ketika sadar nanti. Sekarang jelaskan bagaimana bisa kau berada disini?". Balas Arthur membentak dengan tajam. 


Merasa tidak nyaman di bawah tatapannya, Kate membuang muka. "Memangnya dimana tempat ini? Bukankah kau seharusnya lebih tahu."


"Kau tahu apa yang kutanyakan. Jangan berkilah lagi." Arthur memandang Kate dengan skeptis, gadis itu tampak gelisah menjawab pertanyaannya tetapi dia tidak punya pilihan lain.


"Grand Duke. Aku ingin menemuinya. Aku memasuki portal sihir dari batu yang dibawa putra mahkota. Dan dia, mengikutiku hingga kami bertemu dengan monster." Kate menggigit bibirnya.


"Jadi kau sudah memutuskan untuk meminta tolong pada Grand Duke."


Kate mengangguk perlahan dan dia melihat kelegaan mengalir di mata pria itu. Arthur melihat sekeliling lagi untuk memastikan kalau Lucas masih terbaring dalam mimpinya.


 


"Kau yang bilang hanya itu caraku agar bisa kembali ke duniaku." Sementara Kate tenggelam dalam pikiran depresinya, Arthur mulai berbicara tentang tujuannya.


"Aku akan membawamu kepadanya." Ia menghela nafas berat dan menatap Kate dari atas ke bawah.


"Bagus. Kita akan pergi setelah Yang Mulia siuman kalau begitu." Tukas Kate cepat.

__ADS_1


"Kau akan pergi sendiri bertemu dengan Grand Duke."


"Apa maksudmu?". Tiba-tiba, Kate merasa tenggorokannya tercekat. Suara sang putra mahkota yang mengatakan bahwa dia akan melindunginya bergema di telinganya.


"Aku akan mengurus laki-laki itu. Belum waktunya dia terlibat dalam rencanamu." Gumam Arthur.


"Rencanamu. Sejak awal ini adalah permainanmu bukan?" Gadis itu berkata sambil dengan keras kepala mengangkat dagunya.


Ada kemarahan dalam nada bicara Kate, dan Arthur melakukan yang terbaik untuk menenangkan kegelisahannya. "Kalau kau tidak berkenan aku bisa mengembalikanmu ke istana bersama pangeranmu itu. Kau tidak perlu repot-repot bertemu dengan Grand Duke."


Bibir Kate tetap tertutup. Rasanya seperti ada topan yang sedang mengamuk di pikirannya. Semuanya berteriak padanya untuk segera memaki laki-laki itu. "Sekalian saja mengembalikanku ke duniaku. Mengapa kau sangat bertele-tele."


Setelah ragu sejenak, Arthur berbicara lagi.


"Sudah kubilang. Grand Duke lah yang dapat menolongmu untuk kembali ke duniamu. Bukan aku, Nona."


Kate membuka mulutnya lagi, nadanya serak seperti ada duri yang tersangkut di tenggorokannya. "Terserah kau saja."


Bukankah Lucas telah menyelamatkannya dan melindunginya? Kate praktis bisa melihat wajah marah sang putra mahkota di depannya sekarang. 


Kate memiliki bakat luar biasa untuk menyiksa dirinya sendiri, dia akan membayangkan skenario terburuk dan masa depan yang gelap dan suram. Akan lebih baik untuk mencoba peruntungannya bertemu dengan sang Grand Duke daripada dikurung selama berbulan-bulan dengan mimpi buruk menjadi saintess.


......................


Sementara itu di kerajaan Rotha.


"Seandainya Anda datang lebih awal Nona." Raja berkata dengan suara tidak jelas.


Anna dengan hati-hati mengangkat kepalanya dan melirik sang raja, tetapi sulit untuk membaca apa ekspresi pria tua itu di atas jubah yang menghadap ke pangkal hidungnya. "Aku tidak mengerti, apa maksud Anda Yang Mulia?"


"Putraku baru saja meninggalkan tempatnya. Ia kini berkeliaran entah dimana." Sang raja mencoba bersikap sesopan mungkin tetapi pada saat yang sama juga berterus terang.

__ADS_1


"Dan sejak kapankah?" Gumamnya samar.


"Semalam dia masih berada di kamarnya. Dan pagi ini tidak ada siapapun di sana." Raja mengangkat bahu dan menarik napas dalam-dalam dengan kata-katanya yang serius.


Sang saintess terdiam saat dia memilih kata-kata selanjutnya dengan hati-hati. "Atau mungkin dia hanya sedang berjalan-jalan?"


Raja mengulurkan tangan untuk menggosok bagian belakang lehernya dengan wajah lelah. "Sebentar lagi malam akan tiba. Tidak mungkin anak itu belum kembali ke kamarnya kalau dia hanya berjalan-jalan seperti biasa. Tunggu, kau, sudah mengetahui kondisinya?"


"Kurang lebih. Komandan pasukan yang menceritakannya saat di perjalanan." Anna membalas dan menganggukkan kepalanya dengan lemah. Sebenarnya, dia tidak tahu harus mengatakan apa padanya. Ia tidak benar-benar tahu kondisi sang pangeran kecuali ingatan dari kehidupan sebelumnya.


"Jadi Anda akhirnya memutuskan untuk menolong putraku? Aku merasa seperti melakukan hal yang sia-sia saat mencoba menculikmu di waktu yang lalu, saintess. Dan setelah itu, kami dengar putra mahkota kerajaan Lawrence akan meminangmu. Sungguh maafkan kami. Andaikan aku bisa berbicara langsung dengan Anda waktu itu. " Sang raja menghela napas pasrah.


"Yang Mulia. Anda tidak perlu meminta maaf padaku. Sebenarnya yang kalian culik di waktu yang lalu bukanlah aku." Anna menggigit bibirnya, tidak tahu harus berkata apa untuk menjelaskan semua kekeliruan ini. Kate lah yang mereka culik bukan dirinya.


Di masa lalu ia bahkan tidak tergerak untuk menolong langsung sang pangeran Rotha, setidaknya bukan di waktu ini, melainkan takdirlah yang mempertemukan mereka. Tapi sekarang ia merasa terdorong untuk mempercepat bantuannya itu.


Di masa mendatang Rowan de Rotha akan mengalami ledakan energi mana akibat tidak sanggup menahan kekuatan entitas asing yang merasukinya. Energi mana dalam dirinya akan menjadi kacau dan memiliki kecenderungan melakukan kekerasan atau jatuh dalam kegelapan selamanya. Anna merasa kekuatannya sudah cukup menangani kondisi Rowan, setidaknya ia ingin mengurangi korban yang berjatuhan lebih banyak jika menunggu waktu asli dari ledakan mana sang pangeran.


Raja melihatnya dengan mata skeptis menuntut penjelasan. "Tunggu. Maaf?"


"Mari kita buat perjanjian antara Anda dan aku setelah aku mengunjungi kamar putra Anda." Anna tidak membantah atau menyangkal pertanyaannya, dia berubah menjadi ekspresi ambigu.


Raja memasang ekspresi kabur. Merasakan suasana berat yang dia ciptakan, pria itu dengan cepat mencoba mengubah topik pembicaraan. "Baiklah jika itu maumu. Kita bisa membicarakannya nanti."


......................


Grand Duke akhirnya sampai di tingkatan ketiga dari Menara Batu. Tempat itu merupakan jembatan rintangan yang terbuat dari batu, panjang dan bergerak. Jembatan ini melintasi jurang dalam yang gelap, dan batu-batu besar di sekitarnya akan bergerak tanpa pola tertentu.


Sang Penjaga Keseimbangan, makhluk kuno dengan penampilan anggun dan rambut panjang yang terbuat dari serabut batu berdiri tepat di samping pangkal jembatan. Dia adalah penjaga jembatan yang penuh kebijaksanaan dan memiliki kemampuan untuk bergerak dengan ringan dan lincah di atas batu-batu yang bergerak.


Jake sudah mengetahui itu dari cerita asli series. Dan kini mereka saling berhadapan langsung satu sama lain.

__ADS_1


Siapapun yang mencapai tingkatan ini harus menyeberangi jembatan rintangan ini dengan hati-hati, menghindari batu-batu yang bergerak secara acak. Jika mereka terjatuh, jembatan akan kembali ke posisi awal, dan mereka harus mencoba lagi.


...****************...


__ADS_2