
Jake membuka matanya ketika terdengar suara berdenging keras di kepalanya. Cahaya silau menyorot tepat di hadapan wajahnya. Rupanya seorang laki-laki sedang memaksa membuka kelopak matanya.
"Argghh!!" pekiknya kesakitan.
"Yang Mulia, Anda sudah bangun. Apakah Anda bisa mendengar saya?", panggil seorang laki-laki muda dengan rambut diikat duduk di kursi samping ranjangnya.
"S-siapa kau—" gumam Jake.
Laki-laki muda itu menyilangkan tangannya ke dada memberi hormat, "Hamba Darren, seorang penyembuh, Yang Mulia. Apakah anda tidak mengenali saya?"
"Penyembuh? Yang Mulia? Kalian pasti bercanda kan. Oke-oke kuakui itu sangat lucu." Jake tersenyum miris. Dahinya mengernyit.
Jake memaksakan tubuhnya untuk bersandar dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Butuh beberapa waktu baginya untuk beradaptasi dan menyadari ia sedang berada di sebuah kamar tidur mewah bergaya klasik dengan warna hitam yang dominan.
Beberapa pria dan wanita berpakaian pelayan terlihat berdiri berjajar di ambang pintu ruangan tersebut. Sementara itu penyembuh bernama Darren yang tadi pertama kali menyapanya berdiri berdampingan dengan dua orang berpakaian ksatria.
Really?
T-tapi tunggu, kenapa wajah mereka terlihat familiar?
"Ok Darren, katakan, dimana aku sekarang?"
"Ini adalah kamar tidur Anda, Yang Mulia. Anda berada di Kastil Hannover"
"Kastil? Berhenti bicara omong kosong, kalian benar-benar orang yang kurang kerjaan ya sampai membuat cosplay seperti ini!"
Darren dan ksatria di sampingnya saling melemparkan pandangan. Beberapa pelayan juga ikut berbisik-bisik.
Hannover? Bukankah itu?—
__ADS_1
"Tunggu! Kenapa kau memanggilku Yang Mulia?" tanya Jake lagi. Ia harus memastikannya.
"Karena ... Anda adalah Yang Mulia Grand Duke of Hannover?" Darren menjawab pertanyaan tuannya itu.
"Grand Duke of Hannover??" Jake mencoba mengingat-ngingat nama yang Darren sebutkan.
Ha! Gila. Grand Duke of Hannover yang itu? Game of Powers? Bagaimana bisa aku ada di tengah setting sebuah series film.
Salah satu keluarga bangsawan yang merupakan adik tiri raja kerajaan Lawrence namun memiliki kekayaan melebihi anggota kerajaan itu sendiri.
Walaupun Jake sudah pernah mendengar konsep manusia yang berpindah dimensi sebelumnya, tapi tetap saja hal itu merupakan pengalaman yang janggal baginya. Bahkan otaknya masih berpikir kalau ia sedang di prank dalam sebuah acara reality show. Dimana kira-kira mereka menyembunyikan kameranya.
Jake tidak mau tinggal diam. Ia beranjak dari tempat tidurnya dengan terburu-buru, menyingkirkan selimut di tubuhnya dan berjalan ke tengah ruangan.
Dimana? Dimana kru dan peralatan syuting sialan mereka?
Kegaduhan pun terjadi. Jake memeriksa semua sisi ruangan itu, menyingkirkan semua barang yang ia yakini merupakan tempat menaruh kamera tersembunyi. Semua orang di ruangan itu kini menatapnya keheranan. Mereka saling menatap bingung dan tak percaya, beberapa diantaranya bahkan menunduk ketakutan melihat ulah Jake. Tetapi semuanya sia-sia. Hanya ada barang-barang antik dan mewah di ruangan itu, semuanya kini hancur berantakan dibuatnya.
Mungkin saja ruangan ini hanya studio syuting yang disulap sedemikian rupa hingga terasa benar-benar nyata, pikirnya.
Ia menyusuri ruangan besar itu ke arah pintu dan melintasi sebuah cermin besar di dinding. Tubuhnya kini terpaku menatap cermin itu. Bukan wajahnya yang ia lihat di sana. Melainkan wajah tampan yang dingin dan kejam, yang ia kenali sebagai pemeran Grand Duke of Hannover.
What?! Jadi sekarang aku benar-benar menjadi si brengsek sialan itu! Ahh— Siapa namanya? Jacob Rothesand yang itu? Sial! Maki Jake dalam hati.
Kenapa harus dia?!
Walau begitu, dilihat bagaimana pun Jake langsung merasa lebih baik saat melihat penampakannya sendiri di cermin itu. Ia terkesima melihat sosoknya yang terlihat seperti seorang ksatria bertubuh besar, tinggi menjulang. Posturnya tegap dengan dada yang bidang dan otot terlatih di seluruh tubuhnya.
Wajahnya bahkan lebih membuatnya terkejut lagi. Rasanya ia tidak ingat kalau Grand Duke diperankan oleh aktor setampan ini. Yang ia ingat hanya para tokohnya memang memiliki visual yang indah, tapi melihatnya dengan mata kepalanya sendiri benar-benar merupakan perasaan yang berbeda. Rambut cokelat yang lebat, alis tebal dengan mata berwarna biru, hidung yang mancung, garis rahang yang kuat dan maskulin membingkai keseluruhan wajah tampan dan berkharisma pria itu. Setahu Jake, Grand Duke baru berumur awal tiga puluhan di episode pertama series tersebut, namun tidak ada satupun tanda-tanda penuaan di wajahnya. Bahkan disaat sekarang ia baru bangun tidur saja, ketampanan wajahnya masih menggambarkan sosok pria dewasa yang elegan dan menarik.
__ADS_1
Baiklah, penampilannya benar-benar tidak mengecewakan. Lagipula, kalau aku sekarang ada di Game of Powers, bukankah berarti aku bisa bertemu si cantik Anna? Jake teringat akan aktris favoritnya di series itu.
Smirk
Ia tersenyum menyungging. Pikiran-pikiran nakal mulai memenuhi otaknya.
Tunggu sebentar, sudah sampai mana ceritanya sekarang? Jangan-jangan aku merasuk disaat pria bodoh ini sudah menjadi villain. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Ia tidak boleh mati konyol hanya karena cinta butanya terhadap Kate.
Maaf Jacob, tapi kali ini aku tidak akan mengikuti alur ceritamu. Aku sudah tahu kau akan berakhir dimana jika terus memaksakan dirimu mengejar-ngejar si gadis modern itu. Aku rasa aku bisa membuat takdirmu jauh lebih baik, Bro. Tenang saja, tidak akan kubiarkan kau menyia-nyiakan kesempatan yang pernah kau buang sebelumnya.
Jake menghampiri Darren, "Ehmm... Apa yang terjadi denganku? Kenapa kalian semua ada disini?"
"Anda baru saja pulang dari Perang Regen, Yang Mulia. Pengawal Anda mengatakan kalau Anda jatuh pingsan di perjalanan pulang, ini sudah hari ketiga Anda tidak sadarkan diri. Syukurlah Anda sudah membuka mata Anda, Yang Mulia. Dan selamat karena telah memberikan kemenangan pada Kerajaan Lawrence sekali lagi" terang Darren kepadanya.
Perang Regen?— Ah, perang terakhir yang diikuti Grand Duke tepat sebulan sebelum kemunculan si gadis modern.
Baiklah, kalau begitu ini masih belum terlambat. Cepat berpikir Jake, berpikir.
"... Anna. Bukan, Lady Anna. Dimana dia sekarang?" tanyanya tanpa membuang-buang waktu. Ia ingin segera melihat gadis itu.
"Maaf Tuanku, Lady Anna, mungkin sekarang sedang berada di Ibu Kota, Yang Mulia. Apa Anda ingin bertemu dengannya?" jawab seorang ksatria yang sejak tadi berdiri di belakang Darren.
Ah aku kenal siapa dia. Dia adalah Sir Phillip, salah satu komandan pasukannya, dan yang disebelahnya adalah Markus. Mereka berdua merupakan kaki tangan Jacob di medan perang.
Jake mengangguk pelan, "Benar. Surat— " gumam Jake, gadis itu selalu mengirimkan surat-surat yang menanyakan kabar Grand Duke setiap bulannya. "Bawakan surat-surat darinya selama aku di medan perang."
"I‐itu... Anda sendiri yang menyuruhku untuk membuangnya sebelum kita kembali pulang, Yang Mulia..." jawab Phillip sedikit gugup.
Grand Duke bodoh. Kebodohanmu benar-benar mengakar sampai ke tulang rupanya. Desis Jake.
...****************...
__ADS_1