Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
Part Ways


__ADS_3


Pagi itu pasukan Grand Duke dan Lucas sudah membenahi perkemahan mereka di tepi hutan. Tidak ada tanda-tanda sang penyihir yang mengetahui perbuatan mereka dan mengejar keluar dari kastil. Sang naga juga entah bagaimana sudah dikirim ke dataran monster oleh Grand Duke.


"Kau kembalilah ke Lawrence, Lucas." Tukas sang Grand Duke saat mereka sedang menikmati sarapan terakhir di tempat itu. Grand Duke sendiri sedang mengasah pedangnya.


"Kau tidak ikut, Paman?" Lucas menjawab sambil mengunyah beberapa daging rusa yang mereka panggang dini hari tadi.


"Masih ada urusan yang harus ku tangani di suatu tempat." Ujar Jacob datar.


"Ah tapi bagaimana bisa aku meninggalkanmu begitu saja. Tidak bisakah aku ikut denganmu, Paman?" Lucas masih seperti anak yang merengek kepada ayahnya.


"Pergilah sebelum aku menghajarmu karena menerobos masuk ke kamarku tengah malam sebelum penyelamatan naga ini." Grand Duke menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari pedangnya.


"I-itu. Aku bisa menjelaskannya, Paman. Aku tidak bermaksud—". Lucas membalas tergagap. Ia sempat mengira kalau Pamannya itu tidak menyadari kesalahannya yang menerobos masuk ke dalam kamar pribadi sang paman. Tapi ternyata ia salah besar. Sang Grand Duke hanya menunda kemarahannya padanya.


Kali ini Jacob menghentikan kegiatannya dan menatap tajam sang keponakan tanpa berkedip, "Jangan pernah masuk ke kamarku lagi tanpa seizinku. Pulanglah. Aku tidak akan mengatakannya untuk ketiga kalinya."


"Baiklah." Lucas menunduk malu dan mulai beranjak ke arah kudanya.


"Tunggu."


Tiba-tiba sang Grand Duke memanggil pemuda itu. Lucas sedikit berharap, ia menoleh dengan senyum tipis yang mengembang, namun langsung dihancurkan oleh perkataan sang paman.


"Sampaikan juga pada kakakku tentang prospek investasinya ke bisnis batu sihirku." Urai Grand Duke menyeringai.


"Tentu saja. Itu mudah." Lucas mengangguk sembari mengatupkan bibirnya.


Sang Grand Duke berjalan ke arah berlawanan dengan Lucas dan berkata tanpa menoleh, "Oh ya Lucas. Kau tahu kalau..... ada waktu dimana hal tidak sesuai dengan keinginan, bukan? Sama seperti kau yang mungkin ragu atau berubah pikiran. Aku tidak akan mencoba melakukan hal ekstrim apapun. Tapi...... aku mungkin akan melakukan hal yang mengerikan jika kau mencoba menikamku dari belakang."


Sang putra mahkota itu terbahak dan menggelengkan kepalanya. "Aha. Anda mengancamku rupanya, Paman."


......................


Sir Markus menghampiri Grand Duke yang berada di dalam kereta dengan menunggangi kudanya di sisi jendela dan melapor kepada tuannya, "Yang Mulia. Pasukan mata-mata sang putra mahkota masih mengikuti kita di belakang."


Mereka sudah berpisah dengan rombongan pasukan Lucas sehabis sarapan pagi tadi. Kini matahari sudah lebih tinggi beberapa derajat dari sisi timur dan pasukan Grand Duke sedang mengarah menuju Northern.


"Anak nakal itu. Di depan sana ada bukit berbatu. Gunakan teleportasi dengan batu sihir untuk menghindari mereka. Mereka tidak boleh tahu kita menuju kemana." Jawab Grand Duke tanpa ekespresi. Ia sudah menduga Lucas akan tetap mengintainya. Anak itu lebih keras kepala dibandingkan kakaknya sendiri.

__ADS_1


Sir Markus mengangguk patuh, "Baik, Yang Mulia."


"Apakah Phillips mengirimkan berita dari kediaman kita?" Tanyanya lagi. Ia teringat dengan Anna yang masih berasa di sana.


"Tidak, Yang Mulia. Tidak ada pesan khusus dari kediaman Hannover." Markus menggelengkan kepalanya.


Grand Duke hanya mengangguk tipis. Sir Markus kembali lagi ke barisan depan untuk menyampaikan komando tuannya tadi.


Maaf Lucas. Aku tidak mungkin membiarkanmu mengetahui rencanaku. Gumam Jake dalam hati.


Lucas dan Grand Duke, dalam cerita asli, mereka memang memiliki unit pasukan mata-mata khusus yang beroperasi demi kepentingan masing-masing. Pasukan itu terdiri dari beberapa ksatria level atas dan memiliki kekuatan elemental.


Kekuatan elemental hanya dimiliki oleh para anggota kerajaan saja. Walaupun kasus-kasus kekuatan tertentu bisa dimiliki oleh sembarang orang sesuai takdirnya. Tapi perbandingannya bisa satu berbanding seratus. Lagipula tidak banyak pemilik kekuatan elemental di kerajaan Lawrence ini. Sehingga memiliki unit pasukan khusus beranggotakan pemilik kekuatan elemental adalah sebuah prestise khusus.


Dalam hal pertahanan pasukan mata-mata Lucas memang lebih unggul, namun untuk penyerangan, kekuatan mereka masih di bawah pasukan khusus milik Grand Duke. Pasukan Grand Duke lebih banyak memiliki pengalaman bersama tuannya di medan perang sehingga strategi mereka lebih fleksibel dan taktis. Mereka akan cenderung menyerang dibandingkan bertahan.


Sebenarnya Jake memiliki keinginan untuk membentuk satu unit pasukan rahasia lagi sebagai kekuatan keluarganya. Ide ini terbersit di benaknya sejak ia melakukan perjanjian kontrak dengan Arthur, sang raja spirit api.


Peluang ini tidak pernah muncul di cerita aslinya sebelumnya. Meskipun ia tidak berniat untuk menduduki takhta, tapi pasukan rahasianya ini bisa menambah pengaruh dan kekuatannya sebagai penguasa wilayah. Kekuatan Hannover tidak harus berfokus pada kekuatan yang bersumber di Lawrence. Dan lagi, unit pasukan itu, mereka tidak harus menjadi unit pasukan mata-mata.


Aku membutuhkan unit 'pasukan khusus' terkuat, yang bisa melakukan apapun. Dan tidak terbatas pada manusia saja. Monster dan spirit ya? Sepertinya terdengar bagus. Gumam Jake pada dirinya sendiri.


......................



"Yang Mulia, bukankah ini masih terlalu siang untuk minum anggur?" Pemuda itu menyeringai melihat sang ayah sedang menyesap secawan anggur sendirian. Mereka berdua saling mengangguk memberi hormat.


"Tidakkah kau tahu ini sumber kewarasanku, Nak. Darimana kau?" Jawab sang raja dengan suara berat.


Lucas menempatkan dirinya duduk di hadapan sang ayah, "Habis bermain dengan Paman. Yah. Mata-mata Anda juga pasti sudah melaporkannya."


Sang raja terbahak dan melambaikan tangannya, "Tidak. Untuk apa aku repot-repot mengirimkan orang untuk memantaumu saat sedang bersama dengan Grand Duke? Aku lebih mempercayai dia dibandingkan putraku sendiri."


"Cih. Bagaimana bisa Anda berkata menyakitkan seperti itu pada anakmu sendiri." Lucas berpura-pura tersungut-sungut kesal. Ia juga tahu bagaimana hubungan keduanya. Sang paman adalah aset ayahnya bahkan sebelum menjadi raja Lawrence.


"Tentu saja bisa. Pamanmu bisa menjadi raja menggantikanku dan membunuhmu jika mau Nak. Tapi dia tidak menginginkannya dan tetap setia pada kita. Apalagi yang membuatku ragu?" Sang ayah mengelus dagunya.


"Ah. Mungkin Ayah bisa berubah pikiran setelah melihat ini?" Senyum licik terukir di bibir Lucas.

__ADS_1


Ia mengangkat tangannya yang menggenggam sebuah batu sihir Queta dan membuatnya menampilkan pintu teleportasi.


......................


Kerajaan Rotha.



Seorang pelayan wanita sedang menemani tuannya duduk di taman istana kerajaan Rotha. Rowan masih dengan wajah pucatnya mendengarkan sang pelayan—melaporkan berita tentang sang saintess.


"Yang Mulia, saya ingin memberitahukan Anda berita menakjubkan. Tetapi mungkin seharusnya saya mengatakan ini lebih dulu kepada raja dan ratu."


"Pada akhirnya kau juga tidak pernah pergi kepada mereka setiap kali mengatakan hal seperti itu." Rowan menjawab dengan dingin.


Ia tidak pernah benar-benar suka menikmati pemandangan taman istana di pagi hari. Hanya ada pohon-pohon besar di sana. Tapi itu satu-satunya kesempatannya untuk keluar dari kamarnya yang selalu menjadi tahanannya ketika sore menjelang. Raja dan ratu hanya mengijinkannya berjalan di sekitar istana dari pagi hingga waktu makan siang. Itupun ditemani oleh pelayan pribadinya, Livy.


Livy, sang pelayan menyeringai tipis mendengar jawaban sang pangeran, "Ada dua info, Tuan. Kabar baik dan kabar buruk."


"Kabar baik dulu."


"Sang saintess dan putra mahkota Lawrence sudah berhasil ditemukan. Mereka kembali ke istananya."


"Benarkah? Akhirnya kita masih bisa berharap meski telah gagal sebelumnya." Akhirnya Rowan tersenyum miris mendengar kabar itu. Bagaimana tidak, ayah dan ibunya sampai nekat mengirimkan beberapa ksatria mereka untuk menculik sang saintess yang bahkan belum diperkenalkan kepada publik. Semua hanya karena rumor kemunculan saintess di Lawrence. Dan tentu saja pesan dari entitas asing yang pernah merasukinya beberapa waktu lalu.


Ia sendiri tidak terlalu berharap dengan kekuatan sang saintess. Jiwa dan raganya sudah lelah menjadi wadah mereka yang tidak terlihat. Hampir tidak ada lagi keinginannya untuk hidup.


"Hmm. Tapi mungkin terlalu awal untuk merasa bahagia, Tuanku." Livy membalas dengan serius.


"Kau benar. Masih ada kabar buruk juga. Katakan padaku."


"Putra mahkota kerajaan Lawrence itu akan segera menikahi sang saintess."


Mata Rowan menerawang kosong ke pemandangan di depannya, "Apakah saintess boleh menikah? Kukira dia wanita suci yang hanya mengabdikan dirinya pada dewi."


"Boleh, Tuan. Namun keputusan ini mungkin didorong oleh keinginan kerajaan Lawrence untuk memonopoli kekuatan saintess. Berdasarkan info yang didapat kemungkinan pernikahan mereka akan diselenggarakan setelah musim dingin."


"Secepat itu? Dia pasti sedang buru-buru."


"Apa yang Anda akan lakukan?"

__ADS_1


"Hmm..."


...****************...


__ADS_2