
Grand Duke menyematkan cincin berlian bermata hijau ke jari manis Lady Anna. Ia mencium tangan gadis itu.
"Hari ini aku mengumumkan pertunanganku dengan Lady Anna Elizabeth Morratz, dan semua yang hadir di pesta ini diundang pada pesta pernikahan kami minggu depan." Ucap Grand Duke di tengah pesta yang diadakan di kediaman Hannover. Suaranya menggelegar ke penjuru ruangan. Malam itu adalah pesta pertunangannya dan Lady Anna. Seluruh bangsawan dan anggota kerajaan hadir kecuali sang raja yang dikabarkan sedang tidak sehat.
Banyak dari tamu pesta yang sudah tidak heran dengan hubungan mereka, tapi beberapa masih tercengang dengan keputusan sang Grand Duke. Mereka bertanya-tanya apakah berarti aliansi antara fraksi bangsawan dan anggota kerajaan sudah dimulai. Tapi tentu saja Grand Duke sengaja membuat semuanya hanya bisa menyimpan pertanyaan mereka di dalam hati.
Tidak ada yang berani menghancurkan suasana pesta tersebut dengan pertanyaan bodoh itu. Terlebih melihat ekspresi Grand Duke yang benar-benar berbeda dengan biasanya kepada tunangannya itu. Mereka tidak pernah melihat pandangan penuh kasih Grand Duke seperti itu sebelumnya. Ditambah sikap over protective-nya terhadap sang calon pengantin. Pria itu mengikuti kemana saja gadis itu pergi dan tidak pernah mengalihkan pandangannya barang sejenak. Lengannya juga selalu melingkar di pinggang Anna.
"Selamat, Lady Anna. Akhirnya pamanku mengakui hubungannya denganmu. Dan maafkan, Baginda Raja tidak bisa hadir karena Beliau sedang kurang sehat. Yah mengingat pamanku juga terburu-buru menyelenggarakan pertunangannya—" Lucas datang menghampiri keduanya sambil mengangkat gelas anggur miliknya, ia melirik ke arah Jacob yang tepat berada di samping Anna. Berusaha memancing amarah sang paman dengan ucapannya.
"Yang Mulia, terimakasih atas ucapan Anda. Anda benar, akhirnya tiba juga hamba bisa mendapat selamat dari Anda karena menjadi tunangan Grand Duke. Sampaikan salamku pada ayahanda Yang Mulia, Baginda Raja." Jawab Anna tersenyum dengan bijak. Ia tahu sang pangeran sering dengan sengaja menguji kesabaran sang paman di depan umum.
"Grand Duchess, Lucas. Kau sendiri yang mengantarkan izin pernikahanku dari ayahmu." Ujar Jacob menekankan. Ia sedang tidak ingin menanggapi anak ini. Bahkan urusan mereka saat penculikan Kate pun tidak ingin ia ungkit di pestanya malam ini. Ia tidak ingin pestanya terganggu. Lagipula ia juga masih ingin terus mengagumi gadis cantik yang sekarang sudah resmi menjadi tunangannya. Alih-alih mengurusi sang keponakan.
"Maaf, Paman. Aku akan menunggu sampai hari pernikahanmu tiba untuk melakukan apa yang kau minta." Balas Lucas enteng, "Biar bagaimanapun, aku tulus mendoakan kebahagiaan kalian."
Jacob tersenyum dingin.
"Terimakasih kalau begitu, keponakanku tercinta."
Lucas beranjak meninggalkan pasangan itu. Sembari berlalu ia berkata, "Ah. Dan satu lagi paman. Setelah merayakan pernikahanmu, luangkan waktumu ke istana, kau harus bertemu dengan saintess sebelum aku menjadikannya putri mahkota kerajaan kita."
Senyum tersungging dari bibir Lucas penuh arti.
Jacob hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya ringan. Membiarkan pemuda itu hilang dari pandangannya. Ia ingin membawa Anna ke balkon untuk beristirahat.
"Yang Mulia, Anda...... sudah mengetahui tentang saintess itu?" tanya Anna polos saat Jacob berjalan mendampinginya ke balkon. Tatapan mereka saling berharap dengan prasangka masing-masing di benaknya.
......................
__ADS_1
Grand Duke memeluk tubuh sang Lady yang sudah terbaring di ranjang. Mereka berada di kamar pribadi Anna yang sudah Jacob siapkan untuknya di kediaman Hannover. Jemarinya sangat aktif menyentuh bagian atas gadis itu, luwes seperti koki yang sedang menguleni adonan roti. Bergerak memutar, meremas dan kadang memilin. Anna menutup mulutnya menahan suara. Gadis itu tidak tahan dengan sensasinya.
Setelah puas dengan bagian empuk itu, jemari Jacob kini secara terang-terangan berpindah tempat menelusuri bagian bawah, kearah bagian terintimnya sebagai seorang wanita. Tanpa aba-aba ia langsung menyusuri permukaannya sambil sesekali mempermainkannya seperti sedang memetik alat musik.
Anna terus mengerjap disentuh oleh Jacob. Suaranya lirih dan gelisah. Tangannya meremas selimut dan bantal bergantian. Pikirannya hilang dan kosong.
Tahan dirimu, Jake. Setidaknya untuk malam ini ayo kita lihat gadis ini merasakan kenikmatan duniawi yang kau berikan. Batin Jacob sambil menatap Anna intens. Senyum nakal menghiasi wajah pria itu.
Anna yang menyadarinya pun mulai merasa panik. Ia bisa merasakan dengan jelas jemari sang Grand Duke yang telah menyentuh daerah kewanitaannya. Tubuhnya mulai menegang dan menahan gelombang aneh di sekujur bagian bawah tubuhnya. Ia berusaha mendorong Grand Duke untuk menyingkir, tapi tentu saja sia-sia. Kekuatan Grand Duke lebih besar dibandingkan dirinya.
Tidak. Tidak mungkin kami melakukannya sebelum upacara pernikahan. Jerit Anna panik dalam hati.
"Jacob. Kumohon lepaskan! M-mh...hh" racau Anna yang meronta di pelukan Jacob. Tubuhnya mendorong pria itu hingga bergerak tak karuan mengacaukan sprei ranjang mereka.
Jacob memegangi lengan Anna dan mulai bersiap-siap menekan jemarinya di bawah, "Tenanglah. Aku tidak akan memasukkan milikku, Ann. Aku hanya ingin membuatmu merasa— relax."
Bleshhh.
Jacob menyeringai kecil. Jemarinya sekarang keluar masuk memainkan bagian sensitif Anna. Rasanya hangat dan lembab. Gadis itu terus gelisah menggerak-gerakkan bagian bawah tubuhnya mengikuti jemari Jacob diiringi suaranya yang meracau tertahan. Jacob bahkan bisa merasakan tubuh Anna berkedut-kedut di permukaan jarinya. Tidak lama cairan hangat mengalir keluar dari sana.
"..Uughh... Y-yang Mulia....Mmhhmp..." ucapnya tertahan. "Eughhh...kumohon...uughh..."
Jacob tertawa tanpa suara melihat ekspresi Anna yang sedang menahan merasakan kenikmatan darinya.
Argh. Kau bahkan sudah sangat basah di bawah sini, Ann. Akan kubuat kau semakin menikmatinya. Aku akan mengajarimu mulai dari sekarang.
Jacob merasa semakin bersemangat. Gerakan tangannya menjadi semakin cepat mengaduk-ngaduk bagian bawah gadis itu. Kedua paha Anna kini bahkan menjepit tangannya yang keluar masuk sehingga ia sedikit kesulitan menggerakkannya. Ia memutuskan untuk memutar-mutar jemarinya saja di dalam walaupun tetap dengan tempo yang cepat.
Efeknya sungguh luar biasa bagi Anna. Gadis itu langsung merasakan gelombang hebat yang menjalar datang ke arah daerah tempat Jacob menyentuhnya. Ada dorongan yang kuat dan terasa ingin keluar dari sana setiap jemari Jacob beraksi. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Ia benar-benar seperti merasa ingin buang air kecil.
"Eugghhh....Arghhh.....aghhh...hh. A-apa yang.... Hentikan, Yang M-m..." Punggung Anna melengkung terangkat ke atas. Ia bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
"Eugghhhhhhhhhhh.....hhhh...hhh"
Bagian bawah gadis itu bergetar hebat beberapa kali diiringi ******* keras dari mulutnya. Cairan hangat lagi-lagi menyembur keluar membasahi tangan Jacob dan sprei tempat tidur mereka.
Dua kali. Jacob tersenyum melanjutkan hitungannya.
Nafas gadis itu terengah-engah sambil mengerjapkan matanya, tangannya mencengkeram pundak Jacob. Suara racauannya juga terus terdengar tanpa henti. Jacob sengaja tidak menarik jemarinya keluar, ia tetap memainkan kembali bagian intim calon istrinya itu secara instens.
"..Y-yang Mulia... Aahh ..ah ..." Anna menjerit sembari berusaha menahan sentuhan Jacob di bagian bawah tubuhnya.
Ann, Kau benar-benar sudah banjir di bawah sini. Bagaimana aku bisa berhenti kalau begini. Gumamnya sambil tersenyum menggoda.
Jacob segera menambah ritme gerakannya lagi. Kedua jarinya terus keluar masuk dengan cepat. Membuat tubuh gadis itu berguncang dengan hebat hingga melengkung ke udara lagi menahan gelombang kenikmatannya sendiri. Sampai akhirnya gadis itu berteriak kecil dan tubuhnya bergetar hebat beberapa kali hingga tersendat-sendat, "Henti...kan...Ahh..hh.. Tidakk... Eughh..hh... Ughhh.....ughhh"
Ini yang ketiga, Ann. Padahal aku hanya menggunakan jariku. Tapi kau sudah keluar sebanyak ini. Bisik Jacob di telinganya.
Jacob tersenyum tipis penuh kemenangan dan langsung mencium kembali sang Lady, menuntut lidah gadis itu lagi. Cairan bening dan hangat kembali keluar membanjiri jemarinya dari bagian tubuh Anna yang ia sentuh, menandakan bahwa sang Lady benar-benar sudah mencapai klimaksnya. Tubuhnya menegang diiringi dengan suara lirihnya yang terlepas.
......................
Jacob menatap gadis yang kini tertidur dalam pelukannya itu. Ia membelai lembut pipinya. Rambut peraknya terurai di lengan Jacob.
Maafkan aku. Bisik Jake.
Malam itu Grand Duke memaksa Anna untuk bercumbu. Ia memang laki-laki brengsek. Sudah beberapa kali ia melakukan perbuatan sepihak seperti itu kepada sang Lady. Gadis itu hanya bisa mengikuti kemauannya dengan pasrah.
Ia berhasil menahan nafsunya untuk tidak meniduri calon istrinya itu sebelum hari pernikahan. Tapi dirinya juga tidak bisa menahan keinginannya untuk menyentuh tubuh sang Lady. Setelah melihat Anna dalam balutan gaun tidurnya yang tipis, Jacob benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Sekarang ingatan akan suara dan ekspresi Anna saat mencapai puncaknya selalu terngiang-ngiang di benak Jacob, membuatnya semakin terobsesi dengan gadis itu.
Hah! Ia bisa gila kalau begini. Bahkan Anna sangat cantik walaupun sedang menjerit seperti tadi.
__ADS_1
Aku akan menunggu sampai hari pernikahan kita. Setidaknya kau bisa tenang sampai hari itu. Bisiknya sembari mengecup kening Anna dan mengeratkan pelukannya. Malam itu Jacob tertidur dengan tetap dalam posisi memeluk sang Lady hingga pagi tiba.
...****************...