Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
The First Life


__ADS_3

Anna berlari sepanjang lorong menuju menara. Malam itu ia telah memutuskan untuk mempertaruhkan keselamatannya sendiri demi sang saintess palsu. Gadis itu sampai di depan pintu kamar dimana Grand Duke menyekap Kate.


Ia benar-benar mengandalkan kekuatan fisiknya sendiri sekarang, tidak ada siapapun bersamanya. Anna bahkan tidak bisa memanggil spiritnya, Shayn. Grand Duke membuat kastilnya dapat melumpuhkan kekuatan elemental apapun dan menjadi tidak aktif saat berada di dalamnya. Kekuatan bayangan pria itu sudah berkembang ke arah yang mengerikan, menjadi penghisap kekuatan lain.


Ceklek. Kriettt..


Suara pintu itu terbuka. Anna berhasil mencuri kunci dari kepala pelayan. Tapi mengapa ia bisa masuk begitu mudah sekarang? Ia bahkan tidak melihat ada ksatria penjaga di sekitar kamar itu. Batin Anna mulai curiga.


Mungkinkah Jacob sudah memindahkan Kate ke kamar lain? Tidak mungkin. Penglihatan cahayanya melihat dengan jelas adegan dimana Kate dikurung di kamar ini. Dan setelah itu tidak ada lagi peristiwa yang bisa ia telusuri.


Kate menggunakan penglihatan cahayanya sebelum memasuki kastil Hannover. Itu merupakan kemampuan menelusuri jejak-jejak peristiwa masa lalu. Selama ada cahaya di tempat itu, maka Anna dapat dengan mudah merekonstruksi kejadian yang terjadi di sana. Seperti layaknya teknologi kamera cctv di zaman modern.


Anna melangkahkan kakinya perlahan ke dalam ruangan itu. Suasananya hening dan gelap. Ia menelusuri ruangan hingga ke tengah. Tidak ada tanda-tanda keberadaan siapapun. Matanya mencari-cari sosok wanita dari dunia modern itu.


"Aku tahu kau akan datang kesini, Lady." Suara Grand Duke dingin. Pria itu tiba-tiba muncul dari balik perapian. Apinya langsung menyala berkobar di balik tungku. Membuat bayangan Jacob membesar di hadapannya.



Anna terkesiap, ia hendak melangkah mundur kembali ke arah pintu namun tubuhnya mematung tanpa bisa digerakkan.


"Apa yang Anda lakukan padaku, Yang Mulia?" Ucap Anna tenang sambil tetap mencoba menggerakkan tubuhnya. Sesuatu seperti mengikatnya dari dalam. Itu pasti kekuatan bayangan sang Grand Duke yang pernah ia dengar sebelumnya. Mengunci bayangan.


"Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu? Apa yang kau lakukan disini? Atau biar kukoreksi, siapa yang sedang kau cari?" Tanyanya sembari menempati kursi di dekat perapian. Ia duduk menyilangkan kakinya.


"Kau sengaja menjebakku rupanya." ujar Anna pelan.


Grand Duke menggeleng, "Kau yang terlalu ceroboh, Lady. Saat kekuatanmu terhisap oleh kekuatan bayanganku, saat itu juga aku bisa tau kau datang." Ia menghentakkan jarinya ke udara dan menghempaskannya turun.


Brukk!

__ADS_1


Seketika Anna langsung terduduk bersimpuh di lantai. Ia meringis kesakitan, lututnya menghantam keras lantai batu yang dingin itu. Jacob membuang pandangannya dari sang Lady.


"Dimana gadis itu, Yang Mulia?" tanya Anna langsung pada tujuannya.


Jacob tersenyum tipis. Ia menyeringai ke arah Anna, "Tentu saja aku menjaganya di tempat yang aman. Dia adalah milikku yang berharga."


Sial. Ini benar-benar jebakan. Desis Anna dalam hati.


Masih dengan tubuhnya yang kaku Anna mencoba untuk mengulur waktu, "Anda tidak bisa memaksakan kehendak Anda pada seorang wanita, Yang Mulia".


Dahi Grand Duke mengernyit, matanya menyipit ke arah Anna.


"Laki-laki tidak bisa, tapi wanita bisa. Apakah itu yang kau maksudkan, Lady?" ucapnya sinis.


"Apa maksud, Anda?" Anna melemparkan pandangannya ke pria itu. Raut wajahnya terlihat kebingungan.


Jacob mendengus, "Kau bahkan selalu mengejar-ngejarku, tapi aku bahkan tidak boleh melakukan hal yang sama pada wanita yang kucintai?" balasnya terkekeh.


Grand Duke tersenyum, sinis. Lalu ekspresinya berubah kembali menjadi dingin.


"Bukankah seharusnya aku yang marah?"


"Aku tidak menyangka Anda akan berpikir rendah seperti itu padaku." jawab Anna sembari memutar bola matanya.


Jacob tertawa terbahak, "Aku tidak menyebutmu demikian, Lady. Yang aku lakukan sekarang ini tidak jauh berbeda dengan apa yang selama ini kau lakukan padaku. Aku hanya mengingatkanmu." desisnya lagi.


"Jika itu sama, lalu apakah Anda jadi menerima perasaanku?" Anna tertawa miris, "sepertinya itu tidak akan pernah terjadi bukan, Yang Mulia. Apa anda pikir Kate juga akan menerima Anda?"


Sang Grand Duke terdiam dengan jawaban menusuk Anna. Wajahnya kembali tanpa ekspresi, lalu kegelapan tiba-tiba menyelimuti ruangan itu. Menelan Grand Duke, perapian dan Anna sekaligus.

__ADS_1


Anna terkesiap bangun dari tidurnya. Ia terlelap saat sedang menghabiskan waktunya membaca buku. Sinar matahari menembus jendela perpustakaan tempat ia tertidur. Ia memimpikan kehidupan lamanya lagi. Kali ini adalah ingatannya pada kehidupan pertama. Tepat saat ia ingin membebaskan Kate yang diculik oleh Jacob.



Percakapan mereka saat itu terpatri jelas dalam ingatannya. Kata-kata pria itu terdengar sangat kejam di telinganya. Jacob mengejeknya yang pernah mengejar-ngejar dirinya. Ia membandingkannya dengan perilakunya kepada Kate. Tapi ia tidak peduli dengan itu, prioritas utamanya kala itu adalah mengembalikan Kate ke istana sehingga Lucas tidak menyerang Grand Duke dan tidak ada yang akan terluka. Ia pikir dengan kekuatannya sebagai saintess cahaya yang asli bisa dengan mudah mengurus masalah itu. Namun ternyata ia salah. Ia tidak menduga kekuatan Jacob telah melampaui dugaannya.


Siapa sangka ia malah tertangkap dan disekap di kastil Hannover. Selama itu terjadi pihak istana benar-benar menyerang kediaman Grand Duke dan pertempuran berdarah tidak bisa dihindarkan.


Grand Duke tewas pada saat itu, bukan karena kekuatannya lebih lemah daripada Lucas dan anggota keluarga kerajaan lain yang menyerangnya. Melainkan karena melindungi Anna yang secara tidak sengaja dijadikan umpan oleh sang putra mahkota pada saat menyelamatkan Kate.


Tanpa Anna sadari air matanya mengalir.


................



Jake memandang pemandangan dari balkon ruang kerjanya yang menghadap ke arah danau. Perasaan aneh itu kembali datang. Ia yakin kalau inilah tempat yang muncul tiba-tiba dalam ingatannya semalam.


Kilasan memori itu datang tepat saat Jake menyentuh Anna. Ia sedang berjalan dengan gadis itu di taman. Tiba-tiba tergambar jelas dirinya, Anna, Lucas dan Kate yang sedang berada di atas atap. Lucas mendorong Anna jatuh untuk mengalihkan perhatiannya. Jacob yang kala itu sedang menahan Kate dipelukannya terkejut dan segera menolong Anna dengan mengunci bayangannya. Di saat lengah itulah Lucas menyerangnya untuk merebut Kate, tapi naas hal itu membuat Jacob menemui ajalnya.


Aku tidak pernah melihat adegan ini di dalam film. Bukankah Jacob mati ditelan kegelapan? Renung Jake.


Dalam ingatan yang datang padanya pertama kali itu, Anna langsung menghambur ke arah Grand Duke begitu Lucas melancarkan serangannya. Beberapa kali Jacob terkena serangan itu. Ia tersungkur dan darah segar keluar dari mulutnya.


"Yang Mulia! Yang Mulia! Pangeran apa yang anda lakukan? Hentikan!" Jerit Anna histeris langsung berlari ke arah Jacob. Air matanya mengalir deras, ia memeluk sang Grand Duke.


Lucas dan Kate juga saling berpelukan. Keduanya langsung menghilang dari tempat itu meninggalkan Anna dan Grand Duke yang sedang sekarat.


"A-annaa... M-ma..afkan aku.." ucap Grand Duke susah payah. Nafasnya tersengal dan wajahnya pucat. Tidak lama kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Anna. Anna terisak dan menjerit.

__ADS_1


"Tidak! Tidak Yang Mulia. Anda harus tetap hidup! Yang Mulia!" Anna berteriak. Ia mencoba mengeluarkan sihir penyembuhnya sekuat tenaga. Air matanya mengalir deras diiringi tangis sesenggukan.


...****************...


__ADS_2