Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
A Doubt


__ADS_3


Shayn? Anna memanggil spiritnya dengan suara yang lirih dan pelan. Ia telah mencari-cari Shayn sejak pagi.


Shayn?! Kau mendengarku? Ucapnya lagi, kali ini lebih keras. Anna sedang duduk di paviliun taman kediaman Hannover.


Shayn!! Dimana kau? Shayn—


Ck. Ribut sekali. Tiba-tiba spirit cahaya itu muncul di hadapannya.


Kemana saja kau Shayn? Aku memanggilmu sejak tadi. Ujar Anna sedikit sebal. Ia mengernyitkan dahinya.


Memangnya aku bisa kemana? Aku tidak bisa jauh-jauh darimu, Ann. Balas Shayn malas-malasan.


Lalu kenapa...... Potong Anna cepat.


Tiba-tiba spirit cahaya itu berteriak di wajahnya, Tentu saja itu karena semalam kalian sangat berisik. Aku tidak percaya kau membiarkannya menyentuhmu seperti itu. Sekarang aku jadi mengingat perkataanmu tentang dewi yang salah memilih saintess. Mana ada saintess yang melakukan hal mesum seperti kalian. Argghh pokoknya tidak tahulah. Terserah kau saja!!!


Anna tertunduk malu, wajahnya merah padam.


I-itulah yang ingin kutanyakan padamu, Shayn.


Apa? Suaranya terbata. Semua yang dikatakan Shayn membuatnya teringat dengan kejadian tadi malam.


Apa yang ingin kau tanyakan hah? Balas Shayn akhirnya.


Anna menatap sang spirit tajam.


Sebenarnya, di kehidupan mana aku dan Jacob sampai ke tahap hubungan seperti ini? Apakah ada ingatanku yang terhapus? Lontarnya.


Sang spirit tertawa enteng.


Tentu saja tidak ada. Sepertinya otak Grand Duke yang telah terhapus sampai separuh. Ejek Shayn.


Anna masih terlihat ragu.


Apa kau yakin, Shayn? Aku.....


Shayn menjawab cepat.


Dengar, Anna. Kekuatan saintess mu tidak akan bangkit jika kau kehilangan kesucianmu sebelum menikah. Aku ketakutan setengah mati melihat Grand Duke dan kau semalam. Untunglah dia tidak benar-benar menidurimu. Bahkan jika kau benar-benar menikah dengan seseorang, kau akan— Jawabannya tiba-tiba terpotong. Ia terlihat menyembunyikan sesuatu.


Apa? Aku akan kenapa, Shayn? Kenapa kau menghentikan kalimatmu menggantung seperti itu? Anna membalas penasaran. Ada yang Shayn sembunyikan darinya. Sesuatu yang penting mengenai takdirnya.


Sang spirit terdiam sejenak. Namun ia terus mengelak.


P-pokoknya kau harus menjaga dirimu sendiri dari Grand Duke mulai sekarang. Ia menjawab dengan hati-hati.

__ADS_1


Anna tidak suka dengan sikap Shayn yang mengabaikan pertanyaannya. Emosinya meluap.


Hah?! Apa ini, Shayn? Apa yang masih saja kau sembunyikan bahkan setelah kita melewati sembilan kehidupan bersama?? Cepat katakan padaku apa yang terjadi kalau aku menikah dengan seseorang!!. Tuntutnya pada sang spirit.


Spirit cahaya itu langsung menghilang entah kemana menghindari pertanyaan sang saintess padanya.


Shayn???!!


......................



"Apa yang ingin kau katakan, Lucas?" Grand Duke menatap sang keponakan. Mereka sedang bertemu di taman istana Lawrence. Grand Duke memenuhi undangan Lucas yang memintanya datang untuk bertemu Kate. Tapi tentu saja ia menolaknya dengan hanya datang menemui Lucas saja.


"Saintess. Dia belum menunjukkan tanda-tanda kekuatannya." Lucas menghelas nafas. Ia berjalan di samping pamannya.


Grand Duke tersenyum terkekeh.


"Apa hubungannya denganku? Kau telah begitu yakin ingin menjadikannya putri mahkota. Bahkan kakakku sudah menyetujuinya." Ujarnya sembari terus berjalan perlahan. Langit mendung menyelimuti istana.


"Aku belum mengatakan padanya, Paman." Balas Lucas. Kepalanya menggeleng perlahan.


"Memangnya ada yang bisa melarangmu?" Jacob kembali menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Status Lucas sebagai putra mahkota benar-benar membentuk kepribadiannya yang harus mendapatkan apapun yang dia inginkan dalam hidupnya.


Lucas berhenti berjalan, ia memicingkan matanya kepada Grand Duke, "Kenapa paman hanya terus bertanya sejak tadi?" tanyanya sebal.


"Lalu kenapa kau hanya terus berkata tidak jelas sejak tadi? Masih banyak urusan yang belum aku selesaikan. Jangan buang-buang waktuku." Sergah sang Grand Duke datar.


"Aku ingin Paman memancing kekuatan saintess dari dalam diri Kate. Kekuatan bayangan untuk menghisap kekuatan elemental lainnya itu. Ayah mengatakannya padaku. Hanya paman yang bisa melakukannya. Selama ini paman hanya menyembunyikannya dari para bangsawan dan anggota kerajaan lainnya." Ia memandangnya dingin.


"Apa maksudmu? Kau kira itu main-main?" Grand duke bertanya dengan tajam. Tidak ada yang tahu mengenai kekuatan penghisapnya kecuali sang kakak.


"Lakukan itu setelah pernikahan Anda. Dan sebelum pernikahanku dengannya." Lucas menegaskan dengan gaya memerintah.


Grand Duke menatapnya dalam dan berjalan meninggalkan sang putra mahkota.


"Kau pasti sudah gila, Nak. Aku akan menemui Ayahmu." Ia tidak suka itu.


......................



"Adikku yang berharga." Raja Edmund, King of Lawrence menyapa sang adik lembut.


Grand Duke memberikan salam hormat kepada sang raja.


"Salam kepada matahari Kerajaan Lawrence." Ujarnya sembari menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Mengapa kau belum membawa calon adik iparku ke istana? Maafkan aku yang tidak bisa hadir ke pesta pertunanganmu." Seloroh sang raja.


Grand Duke tersenyum tipis.


"Izin Anda sudah menjadi berkah bagiku dan Anna, Yang Mulia."


"Jadi ada apa? Aku yakin anak itu pasti sudah mengatakannya padamu." Ujar raja Edmund tenang.


Grand Duke sudah menyangka bahwa kakaknya lah yang memiliki ide itu, tapi ia tetap ingin memastikannya.


"Mengapa Anda menyarankan hal itu padanya, Yang Mulia? Biar bagaimanapun itu sesuatu yang akan membahayakan nyawa saintess."


Sang raja menghela nafasnya dalam.


"Belum. Dia belum tentu seorang saintess, Jacob." Suaranya berbisik kepada Grand Duke.


Bahkan raja pun sudah menduganya rupanya. Batin Jacob.


"Maksud Anda?" Ia pura-pura mengerutkan keningnya dan bertanya polos.


Sang raja tertawa terkekeh. Alisnya terangkat.


"Pendeta Agung mengatakan bahwa ia belum menemukan tanda-tanda suci dari dewi cahaya pada gadis itu. Hanya kemunculannya saja yang sesuai dengan ramalan. Gunakan kekuatanmu padanya." Pungkasnya pada akhirnya.


Wajah Jacob membeku.


"Bagaimana kalau aku gagal, Yang Mulia?" tanyanya hati-hati.


"Kau tidak pernah gagal. Aku akan menjaga Lady Anna untukmu jika kau gagal." Jawab sang raja penuh arti.


Jacob mencoba menahan ekspresinya untuk tetap tenang. Kakak dan keponakannya benar-benar menjadi sangat menyebalkan hari ini.


"Kalau begitu, biarkan hamba yang menentukan harinya. Segera setelah pernikahan hamba."


"Baiklah. Aku izinkan." ujar sang raja sembari mengangguk.


......................


"Yang Mulia, pasukan Kerajaan Rotha mulai bergerak memasuki perbatasan." ucap Claude menyampaikan info pada tuannya, Grand Duke.


Grand Duke mengangguk menerima info tersebut.


Alur ceritanya bertambah maju. Penyerangan ini seharusnya akan terjadi beberapa hari setelah ia menggelar pernikahannya. Gumam Jacob dalam hati. Ini baru tiga hari menjelang pernikahannya.


"Kalau begitu segera kabarkan kepada Putra Mahkota untuk bersiap-siap. Sampaikan padanya kalau dia harus segera mengevakuasi saintess. Aku akan mengulur waktu untuk memecah belah pasukan Rotha saat mereka mendekati istana. Sampaikan ini padanya." Perintah Grand Duke kepada sang kepala pelayan sambil memberikan secarik kertas yang menjelaskan situasi mereka saat ini.


Di cerita asli, kerajaan Rotha akan menculik sang saintess. Tapi rencana mereka gagal karena pada saat yang sama Grand Duke sedang berkunjung ke istana dan berhasil menyelamatkan gadis itu. Walaupun pada akhirnya ia terluka karena penyusupan itu. Namun disanalah takdir Jacob bertaut dengan Kate.

__ADS_1


Anak itu harus menyelamatkan wanitanya sendiri. Ia tidak mau ikut campur lebih dalam. Bahkan ia menolak untuk menemui saintess palsu itu. Ia hanya mencoba menyampaikan sedikit apa yang akan terjadi. Agar tidak ada lagi cerita Grand Duke terobsesi dengan sang saintess palsu.


...****************...


__ADS_2