Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
The Decision


__ADS_3


Lucas datang ke kastil Hannover lagi. Menemui pamannya di ruang kerjanya. Sudah lewat dua hari sejak misi penyelamatannya dan saintess berhasil. Grand Duke menemukan keduanya di dalam gua. Tapi satu hal yang disesali sang paman adalah ia datang pada saat yang tidak tepat.


Jacob datang dan menyaksikan Lucas tengah menindih tubuh sang saintess. Keduanya tidak mengenakan apapun. Hanya gaun saintess yang menjadi alas. Sang keponakan telah melakukan hal tidak senonoh pada Kate. Keduanya lalu pingsan dan tidak sadarkan diri hingga tiba di istana.


"Aku datang hanya untuk menyampaikan agar paman tidak perlu melakukannya lagi. Memancing kekuatan saintess. Segera adakan saja pernikahan anda dengan Lady Anna, Paman." Ujar sang keponakan datar. Ia masih belum bisa menutupi rasa malunya kepada sang Grand Duke.


Lucas diketahui telah mengalami kebangkitan keduanya. Hal itulah yang mendorong pemuda itu untuk menyalurkan energinya kepada sang saintess melalui cara yang tidak biasa. Tetap saja hal tersebut disembunyikan rapat-rapat. Hanya Grand Duke, saintess dan putra mahkota yang mengetahuinya. Selebihnya hanya mengetahui kalau sang pangeran telah berhasil menyelamatkan saintess.


Grand Duke mendapatkan pesan titik koordinat dimana mereka berada dari tunangannya Lady Anna. Gadis itu berdalih kalau ada ksatria keluarga Morratz yang memberikan informasi tersebut. Dan memang benar ia berhasil menemukan tempat Lucas dan Kate terjebak.


Walaupun Jacob membawa keduanya kembali dengan selamat. Ia tidak habis pikir harus melihat kondisi keduanya yang sedang tidak sesuai dengan norma saat itu. Jacob tahu kalau mereka adalah pasangan tokoh utama. Tapi tetap saja cerita di dalam series tidak pernah menggambarkan ada peristiwa seperti itu.


Bahkan Lucas digambarkan baru menyentuh Kate saat malam pernikahan mereka. Kebangkitan keduanya juga tidak pernah dimunculkan di season pertama series itu ditayangkan. Ia terpaksa merahasiakan hal itu bahkan dari sang raja. Kerajaan pasti gempar jika muncul rumor terkait saintess yang dilecehkan, apalagi oleh putra mahkota. Lucas akan kehilangan hak suksesinya. Walaupun menurut Jacob itu pasti terasa kejam bagi sang gadis modern. Tapi Lucas harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Jacob hanya akan memberikan saran padanya.


"Apa maksudmu?" tanya Jacob.


"Aku tidak peduli dia memiliki kekuatan saintess atau tidak. Aku akan bertanggung jawab padanya." Lucas menjawab dengan ringan.


Grand Duke melanjutkan pekerjaannya kembali di meja, "Penyembuh pasti sudah memberitahukan kepada ayahmu kalau kau belum menidurinya." Jawab Jacob ringan, "Selesaikan saja masalahmu dengan saintess. Dia yang dirugikan dalam kasus ini. Kau seharusnya tidak pantas menjadi putra mahkota setelah melakukan hal itu padanya. Kau harus meminta pengampunan dari gadis itu."


"Tetap saja, aku sudah menandainya. Aku akan memberikan hidupku padanya. Aku akan membuatnya menjadi pendampingku bagaimanapun caranya," Balas sang putra mahkota bagai petir di siang bolong.


"Apa??!! Bagaimana bisa kau begitu sembrono melakukan hal sepenting itu. Bahkan kau tidak bisa menandainya jika ia baru menjadi putri mahkota. Tanda itu untuk wanita yang telah menjadi permaisurimu." Semprot Grand Duke pada keponakannya itu.


Dasar anak gila. Setelah tahu posisimu terancam, kini kau mau memanfaatkan saintess untuk menjadi bidak caturmu. Gerutu Jacob dalam hati.

__ADS_1


Lucas mengelak dan mengalihkan pertanyaan sang paman, "Memangnya kau belum menandai Anna, Paman?" Ia tersenyum heran. Berusaha menggali kebenaran itu.


Jacob mendengus pada Lucas, "Itu hal yang berbeda. Aku hanya akan menandai gadis yang sukarela menyerahkan dirinya padaku. Lagipula aku berniat melakukannya setelah pernikahan kami. Bukan memaksanya seperti yang kau lakukan pada Kate." Jawabnya menusuk.


Lucas menghela nafasnya, "Aku terpaksa, Paman. Tubuhku bereaksi dengannya saat kebangkitan kedua itu." Gumam pemuda itu.


"Yah kau benar. Kau pasti mati saat itu jika tidak ada Kate. Kau berhutang nyawa dan pengampunan padanya, Lucas." Grand Duke membalas datar. Ia tidak mengingkari fakta itu.


"Dan aku pasti membayarnya." Pungkas sang putra mahkota tegas.


"Kuharap begitu."


......................


Lucas mengunjungi kamar sang saintess setelah kembali dari kastil pamannya. Ia memerintahkan seluruh pelayan dan pengawal untuk meninggalkan mereka berdua.


Saintess tidak bergeming dari posisinya. Gadis itu berdiri di samping jendela dan terpaku melihat kedatangan putra mahkota.


"Saintess, aku tahu Anda masih marah padaku. Aku benar-benar minta maaf. Aku berhutang nyawa dan pengampunan darimu. Aku melakukannya karena terpaksa dan hanya itu jalan satu-satunya." Lucas memohon-mohon pada gadis itu. Kecanggungan masih terasa diantara mereka.


Saintess yang masih terdiam melihatnya segera bersikap waspada dan ketakutan. Lucas menjelaskan tentang kebangkitan kedua dan efeknya baginya kepada sang saintess. Namun Kate masih tidak mau menatap sang putra mahkota. Gadis itu membalikkan tubuhnya membelakangi Lucas dan hanya menjawab dengan dingin.


"Kau sudah menyelamatkanku lebih dulu. Anggap kita impas. Aku sudah tidak berhutang apa-apa padamu. Tapi aku juga tidak mau melihat wajahmu lagi. Cepat lepaskan aku dan biarkan aku pergi dari sini." Ujar sang saintess.


Lucas merasa terluka dengan jawaban sang saintess. Walaupun ia juga merasa bersalah karena apa yang telah ia lakukan pada gadis itu.


Saintess pingsan saat Grand Duke berhasil menemukan mereka. Begitu juga dengan dirinya. Tapi gadis itu bahkan tidak sadarkan diri selama seharian. Lucas benar-benar dibuat khawatir oleh keadaannya.

__ADS_1


"Tidak, aku akan bertanggung jawab dan menikahimu." Ujar Lucas tegas. Ia menekankannya pada kata pernikahan.


Sang saintess terhenyak. Ia berbalik marah dan menunjuk sang pangeran.


"Kau— Lebih baik aku melompat dari jendela dan mati dibanding harus menikahi pria sepertimu!!" Makinya kepada Lucas. Wajahnya merah padam karena amarah.


Anggaplah itu hanya kecelakaan. Walaupun saat itu ia langsung pingsan begitu pasukan penyelamat datang. Kate ingat kalau sang pangeran tidak sampai memasukkan miliknya ke dalam tubuhnya. Ia masih perawan hingga saat ini. Bayangannya samar-samar mengulang peristiwa saat itu.


"Aku sudah menandaimu. Kalau kau mati, aku akan menghidupkanmu lagi dengan mengambil separuh dari umurku." Ujar Lucas tenang seraya menatap gadis itu.


"Apa maksudmu? Tanda apa?" Tanya Kate kebingungan.


"Tanda di atas rahimmu, kau pasti menyadarinya. Segel perak yang ada di sana. Itu membuat kau dan aku dapat berbagi kehidupan." Jelas sang putra mahkota.


"B-bagaimana bisa—" Air muka Kate berubah panik. Ia mengingat kembali perasaan saat Lucas membuat segel itu di tubuhnya. Rasa dingin yang menjalar dari rahimnya hingga ke seluruh tubuhnya. Ia tidak akan bisa melupakan hal itu. Kate baru menyadari kalau itu adalah sebuah segel setelah pelayan membersihkan tubuhnya saat sedang mandi.


"Tentu saja bisa, Saintess." Jawab Lucas sambil tersenyum menggoda gadis itu.


Kate memasang wajah cemberutnya. Ia muak dengan panggilan itu.


"Sudah kubilang aku bukan saintess yang kalian maksud. Aku hanya gadis biasa yang kebetulan tersesat di dunia kalian."



"Tidak, kau adalah saintess bagiku karena kaulah yang menyelamatkanku malam itu." Potong Lucas sembari menyambar tubuh Kate dan mencium gadis itu dengan ganas. Segel di tubuh Kate langsung bereaksi dengan mengeluarkan energi hangat ke dalam tubuhnya. Membuat sang saintess tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan sang putra mahkota menikmati bibirnya lagi sesuka hati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2