
Hari-hari berlalu di kastil Hannover, jauh di dalam hati Anna terjadi konflik yang rumit. Di dalam kamarnya yang tenang, ia duduk sendirian di kursi berlapis beludru, merenungkan perasaannya yang bergejolak. Matanya terpaku pada jendela yang memperlihatkan pemandangan taman kediaman Hannover yang indah. Kediamannya sekarang bersama dengan Grand Duke.
Anna mulai melakukan tugas-tugasnya sebagai Grand Duchess Hannover. Grand Duke menyerahkan pengelolaan internal kediaman Hannover sepenuhnya kepada istrinya itu. Tidak ada tugas yang terlalu sulit untuknya. Anna sudah pernah mengurus semua tugas itu di kediaman Morratz selama beberapa kehidupan terdahulunya. Kepala pelayan juga tidak membiarkan sang nyonya melakukan semuanya sendirian. Anna benar-benar nyaman menikmati peran barunya itu.
Perbedaan mendasar hanya pada jumlah kekayaan sang Grand Duke. Keluarga Hannover mengalami kemajuan pesat sejak kepemimpinan Jacob. Pria itu benar-benar membuat keluarganya menguasai sebagian besar perdagangan dan militer di kerajaan Lawrence. Kerajaan di dalam kerajaan. Hanya ketidaktertarikan Jacob pada takhta yang membatasi pria itu untuk menjadi raja.
Anna, apa yang sedang terjadi denganmu? Gumamnya pada dirinya sendiri. Mengapa perasaanku begitu rumit sejak menjadi pasangan Grand Duke? Aku merasa terkejut dan curiga dengan perubahan drastis ini, tapi juga merasakan kehangatan dan perhatian yang ia berikan kepadaku.
Anna mengelus dadanya, mencoba mengurai benang merah yang tersembunyi di dalam hatinya. Dia menyadari bahwa perubahan kepribadian Jacob telah mengguncang keyakinan dan ekspektasinya. Grand Duke yang dingin dan terobsesi dengan Kate telah berubah menjadi suami yang perhatian dan penuh kasih sayang.
Ia benar-benar syok saat mendapati dirinya terkungkung selama seminggu penuh di kamar bersama sang Grand Duke. Laki-laki itu tidak membiarkan dirinya pergi sekejap pun. Sepanjang hari hanya mereka habiskan dengan melakukan semua aktivitas di dalam kamar. Hanya beberapa pelayan yang terlihat keluar masuk mengantarkan kebutuhan mereka. Anna bahkan belum sempat mengirimkan surat kepada ayahnya, Marquess Morratz, mengabarkan keadaannya di kediaman Grand Duke.
Jacob terlihat sangat antusias dan bersemangat melewati momen-momen awal pernikahan mereka. Bahkan itu belum termasuk bulan madu mereka kata sang Grand Duke, suaminya itu berencana membawanya ke sebuah pulau pribadi saat musim panas nanti. Anna tak habis pikir bagaimana merespon Grand Duke yang sekarang begitu terobsesi dengannya. Bahkan Shayn, spirit pendampingnya pun sudah lepas tangan melihat kelakuan Grand Duke padanya.
Tapi apakah perasaan ini nyata? Ataukah hanya efek dari kekuatan suci yang kurasakan dalam diriku? Pikir Anna dalam kebingungannya.
Anna merenungkan momen-momen bersama suaminya itu, momen-momen ketika ia merasa terlindungi dan disayangi. Dia mencoba membedakan antara perasaan yang timbul karena kekuatan suci dan perasaan cinta yang sesungguhnya. Namun, semakin dalam dia menyelami pikirannya, semakin terasa kacau dan tidak pasti.
"Dewi Cahaya, tolong bimbing aku," bisik Anna dalam doanya. "Aku ingin tahu apakah perasaanku ini murni atau hanya hasil dari pengaruh kekuatan suci. Tolong berikan petunjuk, berikan aku kejelasan."
Anna melihat ke arah cermin di depannya, tatapannya tajam memandangi wajahnya sendiri. Dia melihat kilatan cahaya di matanya, mengingatkan bahwa ia adalah pewaris kekuatan suci yang telah hidup begitu lama. Namun, dalam keheningan kamarnya, suara hatinya terdengar lebih jelas daripada kilatan cahaya di matanya.
Mungkin aku harus mengenal Grand Duke lebih dalam. Pikir Anna.
Anna bangkit dari kursinya dengan tekad yang kuat. Dia memutuskan untuk membuka hati dan berusaha mengenal suaminya itu dengan lebih dalam lagi. Dia ingin menemukan jawaban atas perasaannya yang rumit, apakah itu cinta sejati atau hanya bayangan kekuatan suci.
Selamat. Kau berhasil merubah kehidupan kali ini, Ann. Tukas Shayn muncul di hadapannya. Spirit cahaya itu terlihat bersemangat. Ia terbang mengelilingi Anna.
__ADS_1
Shayn, tidakkah kau merasa aneh dengan perubahan ini? Anna mengulurkan jemarinya ke arah sang spirit. Membiarkannya berdiri di telapak tangannya.
Mengapa? Bukankah perubahan ini sejauh ini menguntungkanmu? Shayn terlihat bingung dengan pertanyaan Anna.
Anna mengangguk setuju. Memang hal tersebut juga tidak bisa ia pungkiri.
Ya. Kau benar. Lalu apakah kekuatanku dibutuhkan jika Grand Duke tidak terancam ditelan kegelapan? Cetusnya tiba-tiba.
Shayn melonjak terkejut. Spirit cahaya itu terbang ke wajah Anna dan berucap kesal. Bicara apa kau? Kau akan tetap menjadi saintess dengan atau tanpa adanya ledakan kekuatan Grand Duke. Itu takdirmu Ann.
Anna berubah gelisah. Ia memandang Shayn lemah, suaranya bergetar. Tapi..... Akhir-akhir ini aku malah merasakan ketidakstabilan aliran mana ku. Ini tidak seperti di kehidupan sebelumnya.
Perhiasan dari Queta yang diberikan Grand Duke. Kau bisa memakainya. Itu batu sihir yang sama dengan pemicu kebangkitan kekuatan sucimu pada kehidupan sebelumnya. Shayn terlihat khawatir.
Justru itu. Kekuatannya akan bersinggungan dengan ku. Kau tahu itu kan? Anna menjawab heran. Ia masih mengingat bagaimana ornamen pedang Grand Duke yang meledak karena bersinggungan dengannya. Lalu tidak lama kemudian dirinya mengalami kebangkitan kekuatan suci yang hampir tak terkendali.
Anna menatap Shayn dengan heran. Wajahnya terlihat bimbang. Maksudmu? Bagaimana kau tahu itu?
Shayn hampir membocorkan rahasianya dengan Grand Duke. Ia segera menjawab pertanyaan itu singkat dan menggantung. Karena aku spirit guide mu? Jawabnya sembari mengangkat kedua tangannya.
......................
Pagi itu, kegelapan masih menyelimuti kerajaan saat Meredith berjalan dengan anggun di lorong-lorong istana gelapnya. Wajahnya yang penuh kerutan dipenuhi senyuman jahat saat dia mendekati ruangan penjara bawah tanah miliknya. Dalam kegelapan yang menyelimutinya, makhluk itu terbaring dengan ikatan sihir yang membuat tubuhnya tidak bisa leluasa bergerak.
"Ah, Sang Naga, betapa indahnya kekuatanmu," bisik Meredith sambil mengelus jari-jarinya di sepanjang sisik putih sang naga. "Kau adalah makhluk magis yang luar biasa, sebentar lagi kekuatanmu akan menjadi milikku."
Sang naga menatap Meredith dengan mata berapi-api, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kekuatan magis penyihir itu yang membuat tubuhnya tak berdaya. Dia merasakan energi kegelapan perlahan-lahan merasuk ke dalam dirinya, mencoba memanfaatkannya untuk tujuan jahat.
__ADS_1
"Sebentar lagi kau akan keluar dan melaksanakan tugasmu, sayang," kata Meredith dengan penuh kegembiraan. "Aku akan membebaskanmu untuk menyerang kerajaan, menghancurkan apa pun yang kau temui. Kekacauan dan kehancuran akan menjadi tanda kehadiranmu."
Namun, dalam kedalaman hati sang naga, ada keinginan untuk kebebasan. Dia tidak ingin menjadi alat Meredith untuk menyebabkan kehancuran dimanapun itu. Seiring dengan kegelapan yang mengelilinginya, dia masih merasakan adanya harapan dan kekuatan yang tumbuh di dalamnya.
......................
"Kenapa kau membawaku bertemu di tempat ini— bukan di kediamanmu seperti sebelumnya, Jacob? Apa kau takut sang saintess memergoki pertemuan kita?" Arthur tersenyum menyeringai. Kata-katanya sengaja menyindir kelemahan sang Grand Duke.
Grand Duke memang memanggil sang raja spirit ke lounge yang ada di guild miliknya. Mana mungkin ia membiarkan pria itu berkeliaran di sekitar istrinya di kediaman Hannover.
Jacob hanya tersenyum tipis. Ia tahu bagaimana liciknya raja spirit api ini memainkan emosi seseorang. Jika sekarang ia marah dan tersinggung dengan kata-katanya, ia kalah.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Jacob mengalihkan pembicaraan mereka.
Arthur mengubah ekspresinya datar. Merasa canggung karena pria itu tidak menanggapinya.
"Naga itu masih dalam pengaruh sihir Meredith. Seperti yang kau katakan."
"Jadi sudah kau buatkan potion yang aku minta, Arthur?" Tukas Jacob langsung kepada intinya.
"Ini." Ujar Arthur meletakkan sebuah botol potion berwarna biru di atas meja, "Aku bisa langsung melepaskannya kalau kau mau, untuk apa repot-repot menyusup masuk ke tempat penyihir itu?"
Jacob tersenyum tipis di bibirnya.
"Anggap saja aku tidak ingin terlalu banyak berhutang padamu. Lagipula bukan hasil yang kuinginkan, aku membutuhkan prosesnya. Cukup lindungi aku nanti." Matanya menyorotkan binar-binar kegairahan yang tersembunyi.
...****************...
__ADS_1