
Anna bersimpuh di depan kobaran api yang ia buat di dalam kuil cahaya. Ia teringat tawaran Arthur kepadanya. Berulang kali ia memanggil sang raja spirit api itu. Hingga akhirnya warna api tersebut berubah menjadi biru dan Arthur muncul dari lidah-lidah apinya.
Kau harus memutuskan dengan benar Ann. Jangan biarkan keputusasaan menjebakmu. Suara Shayn sayup-sayup terdengar di benak Anna. Gadis itu tidak menghiraukannya, ia sudah membulatkan tekadnya kali ini.
"Aku akan ikut denganmu ke alam spirit." Ucap Anna bergetar. Matanya nanar memandang sang raja yang telah mewujud sempurna dari dalam api yang ia buat.
Arthur mendekati sang saintess. Berdiri di hadapan gadis itu, "Kau harus memutuskannya tanpa paksaan dariku, Ann."
"Ya. Aku yang menginginkannya." Anna mengangguk tegas. Terlihat jelas di pipi jejak-jejak tangisannya sebelum ini.
"Apa permintaanmu? Kau tidak mungkin melakukannya tanpa imbalan apapun." Tanya Arthur lagi.
"Kembalikan kehidupan Grand Duke." Jawab Anna datar.
"Untuk apa? Kau bahkan tidak bisa bertemu dengannya karena akan pergi bersamaku." Arthur menyentuh dagu Anna dengan telunjuknya.
Gadis itu memalingkan wajahnya.
"Tidak bisakah kau hanya mengabulkannya? Kegelapan itu. Singkirkan kegelapan dari Lawrence dan biarkan Grand Duke menjalani lagi hidupnya dengan normal."
"Dengan satu syarat lagi kalau begitu. Menikahlah denganku." Mata Arthur berbinar-binar menatap sang saintess.
__ADS_1
Anna mengangguk. Ia tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi padanya. Telah banyak kematian akibat kegelapan yang menelan Lawrence. Ia telah gagal sebagai saintess cahaya.
Arthur mengenang kembali masa-masa dimana ia hampir bahagia bersama fragmen jiwa murninya itu. Pada kehidupan itu ia berhasil membuat Anna dengan sukarela menikahinya. Ia juga menepati janjinya dengan menghidupkan kembali Grand Duke dan melenyapkan kegelapan di Lawrence. Tapi satu hal yang tidak ia duga.
Anna memang kembali bersamanya ke alam spirit. Tapi tidak dengan hatinya. Gadis itu terpuruk dan menyebabkan dirinya termakan oleh kekosongan. Menggerogoti fisik dan jiwanya hingga menyisakan keputusasaan. Sang saintess akhirnya tenggelam dalam kolam pemurnian dan jiwanya kembali menjadi seberkas cahaya.
Arthur yang jiwanya tertaut dengan sang saintess begitu menikah dengannya bisa merasakan bagaimana pedihnya keputusasaan gadis itu saat ia tenggelam. Bahkan Anna tidak menyadari dirinya yang telah tenggelam. Ia hanya merasa kehilangan dan akhirnya kehabisan nafas di dasar kolam. Sang raja spirit seharusnya ikut mati juga bersama saintess. Namun ternyata konsekuensi itu tidak berlaku baginya yang merupakan raja spirit. Ia adalah makhluk mitos yang abadi. Saintess mati sendirian dalam kesedihannya.
......................
Anna terbaring lemas usai pemanasan yang dilakukan Jake. Jantungnya masih berdegup kencang. Cairan bening dan licin masih mengalir keluar dari bagian bawah tubuhnya. Laki-laki itu tetap konsisten mengeksplor daerah intim sang istri menggunakan jemarinya.
"Tidak. Aku sudah siap, Jake." Anna menjawab pelan. Tubuhnya pasrah berada di bawah sang Grand Duke.
"Awalnya mungkin akan sedikit sakit, tapi setelahnya kau akan merasa nyaman, Sayang." Ucap Jake menenangkannya. Anna mengangguk kecil. Ia tampak terkejut melihat ukuran kejantanan milik Jake yang panjang, besar dan berurat. Matanya terbelalak dan mulai membayangkan rasa sakitnya.
Apakah ukurannya selalu sebesar itu? Ini pertama kalinya ia melihat bagian intim pria. Ia tidak pernah ingat pernah melakukan hubungan suami istri dalam sembilan kehidupannya terdahulu. Tengkuknya merinding membayangkan benda itu memasuki tubuhnya. Bagaimana jika itu tidak muat di tubuhnya. Bukan hanya sakit, rasanya pasti mau mati.
Jake melihat kekhawatiran di wajah Anna. Ia mencoba menggoda istrinya itu agar tidak tegang
"Kau harus relax, Anna. Apakah aku perlu menjilatimu lagi di bawah sana?", ujar Jake sambil terkekeh dan tersenyum nakal. "Aku bisa melakukannya sepanjang malam kalau kau mau."
__ADS_1
Anna tersenyum tipis menanggapinya.
Jake menindih tubuh sang istri perlahan. Tangan Anna menahan bahunya, sementara tangan yang lain melingkari leher suaminya itu. Ujung kejantanan Jake menyentuh bibir daerah intim Anna yang sudah basah. Pelan-pelan ia menggesekkannya dan menggoda Anna dengan menyusuri belahannya agak dalam. Anna menggelinjang geli. Wajahnya merah padam, ia merasa malu dan memalingkan pandangannya ke samping ranjang.
"Tidak, jangan malu, Sayang. Aku butuh melihat kedua matamu saat kita melakukannya nanti." ujar Jake sembari memegang dagu Anna, membuat mereka saling berhadapan lagi. Ia merasa tenang melihat kedua mata hijau yang kini memandang lirih padanya, gairahnya langsung bangkit, "Fokus saja padaku, Ok?"
Jake memperbaiki posisinya dengan menggenggam tangan Anna. Pelan tapi pasti miliknya mulai memasuki tubuh istrinya itu. Anna tercekat merasakan benda besar itu memaksa masuk. Perutnya seperti dibelah paksa dengan benda tumpul.
"Ugghhhh.....hhhh"
Jauh lebih sempit dari yang kukira. Jake berusaha berkonsentrasi penuh untuk memasukinya. Padahal baru sepertiga miliknya yang berhasil dimasukkan.
"Ngghhh... Ahh..hhh..." Anna meringis menahan sakit dan pedih yang datang bersamaan. Jake bisa melihat gadisnya itu menggigit bibirnya dan matanya sedikit berkaca-kaca. Suaranya hampir berubah menjadi isak tangis kecil.
Perjuangan Jake baru setengah jalan untuk mengantarkan kejantanannya ke dalam, "Relax, Ann. Jangan tegang, itu hanya akan membuatmu semakin sakit. Kau harus menyerahkan dirimu padaku sepenuhnya dan biarkan aku memasukimu. Percaya padaku." Ucap Jake meyakinkan.
"Ugghh...hh..." Anna menarik napas lega ketika milik Jake sudah masuk sepenuhnya ke dalam tubuhnya. Rasanya benar-benar sesak dan penuh saat benda itu berada di dalam dirinya.
Rasanya lembab dan hangat. Ahhh...nikmat sekali di dalam sini. Padahal aku baru memasukkannya saja. Jake bergumam di pikirannya.
Jake juga bisa merasakan ada yang robek di dalam sana. Ia sudah berhasil mengambil kesucian sang saintess rupanya. Pelan tapi pasti pria itu mulai menggerakkan batang kejantanannya maju mundur dengan perlahan. Menggali liang milik istrinya hingga ke dalam.
Anna tampak memejamkan matanya dan meringis menahan perih. Gadis itu benar-benar mencekik batang milik Jake. Sempit dan erat. Jake akhirnya mencabut miliknya yang kini berlumur darah perawan Anna.
__ADS_1
...****************...