Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
First Kiss


__ADS_3

Marquess Morratz telah mengirimkan jawaban persetujuannya kepada Grand Duke of Hannover dan mengundang laki-laki itu datang untuk pembicaraan lebih lanjut. Keesokan harinya Grand Duke benar-benar hadir ke kediaman Morratz.


Sore itu ia datang dengan kereta kuda berlambang serigala hitam, simbol keluarga Hannover. Grand Duke membawa beberapa ksatria pendampingnya. Kini mereka semua duduk bersama dengan Marquess Morratz dan putrinya, Lady Anna di ruang keluarga kediaman Morratz.


Kau masih saja cantik, Anna. Bisik Jacob dalam hati saat melihat Lady Anna duduk di samping sang Ayah. Gadis itu memakai gaun berwarna beige yang kontras dengan warna bola matanya. Rambut peraknya digelung ke atas, membuat tengkuknya terekspos hingga ke bagian punggungnya. Kekecewaan muncul di wajah Jacob saat melihat bagian depan gaun Anna yang tidak terlalu rendah.


Sayang sekali hari ini aku tidak bisa menyapa kedua bukit kembarnya yang indah itu. Gumamnya. Lalu pandangannya beralih ke bibir ranum kemerahan sang Lady. Ia tersenyum tipis membayangkan dirinya yang sekarang bernafsu ingin mencium dan ******* bibir gadis itu. Penasaran bagaimana seandainya ia bisa menandai leher jenjang Anna dengan ciumannya.


Smirk. Jacob kembali tersenyum saat pandangan Anna bertemu dengannya. Sepertinya ia tertangkap mata oleh gadis itu sedang mengamatinya dengan mesum. Wajah sang Lady merah padam tersipu malu karenanya.


Bukankah gadis ini menggilai Grand Duke? Kenapa sikapnya sekarang sangat menggemaskan? Aku kira dia akan bersikap agresif kepadaku, tapi sepertinya tidak.


Jacob terus sengaja memandang ke arah Anna. Matanya tidak lepas dari gadis itu. Ia sengaja membuat Anna merasa risih dengan tatapan intensnya. Bahkan sampai sang Marquess berdeham memecah keheningan di antara mereka.


"Aku telah membawakan perjanjian yang kau minta, Tuan Marquess. Katakan jika isinya masih belum sesuai dengan yang kau inginkan." Ujar Jacob tanpa basa-basi. Ia melambaikan tangannya ke ksatria disampingnya. Ksatria itu memberikan sebuah gulungan perkamen kepada Marquess Morratz.


Sang Marquess menerima gulungan itu dan mulai membacanya dengan seksama. Keningnya terus berkerut, ia menelan ludahnya dengan susah payah. Berkali-kali ia menatap sang Grand Duke lalu kembali membaca isi dari perjanjian pernikahan yang telah disusun oleh laki-laki itu.


Sang Marquess berencana mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari perjanjian yang akan mereka buat. Ia ingin agar sang putri bisa tetap aman walaupun ini hanya pernikahan politik baginya.


Tapi sepertinya Jacob Rothesand, orang di depannya ini telah memberikan kejutan yang tak terduga baginya.


"......Ini. Benarkah Grand Duke menyetujuinya?" tanya Marquess tak percaya. Ia menyeka keringat di wajahnya dengan saputangan.


"Tentu saja. Aku tidak pernah tidak serius dengan segala urusanku. Apalagi menyangkut calon istriku. Tambahkan klausul yang Anda dan putri Anda inginkan di dalamnya jika menurut Marquess itu masih belum cukup." Ujar Jacob tenang. Pandangannya tidak pernah lepas dari Lady Anna walaupun sedang berbicara dengan sang Marquess.


Marquess menyerahkan kertas perjanjian itu kepada Anna. Tangannya terlihat bergetar. Anna ikut merasa cemas melihat perilaku sang ayah namun ia tetap berusaha untuk bersikap tenang. Gadis itu mulai membaca surat perjanjian tersebut dan berakhir dengan membelalakkan kedua mata hijaunya. Tangannya meremas gelisah tepi kertas yang ia pegang.


...Perjanjian Pernikahan...


Pihak kesatu, Jacob Rothesand Grand Duke of Hannover dan pihak kedua, Lady Anna Elizabeth Morratz dengan ini berjanji akan mematuhi setiap butir perjanjian berikut.


1. Pihak kesatu dan pihak kedua akan menjalani pertunangan dan pernikahan yang sah dengan semua biaya ditanggung oleh pihak kesatu.


2. Jika pihak kesatu membatalkan pernikahan secara sepihak, maka pihak kesatu akan memberikan setengah dari pendapatan wilayah Duchy Hannover kepada pihak kedua setiap tahunnya dan kompensasi sebesar 10.000 emas setiap bulannya kepada pihak kedua sampai pihak kedua menikah lagi dengan orang lain.


3. Jika pihak kedua membatalkan pernikahan secara sepihak, maka pihak kesatu akan tetap memberikan kompensasi sebesar 10.000 emas setiap bulannya kepada pihak kedua sampai pihak kedua menikah lagi dengan orang lain.


4. Jika pernikahan kedua pihak terus berlanjut, maka pihak kesatu akan memberikan pihak kedua setengah dari pendapatan pertambangan, pertanian, dan jual beli di wilayah Duchy Hannover setiap tahunnya dan tunjangan untuk Grand Duchess sebesar setengah dari pengeluaran rumah tangga kediaman Hannover serta dukungan penuh atas militer dan wilayah keluarga Morratz.


Semua poin yang ditulis oleh Grand Duke tidak ada yang merugikan Anna sama sekali. Bahkan bunyi perjanjian itu terkesan menguntungkan keluarga Morratz dari segi manapun. Apapun bentuk konsekuensinya, Grand Duke lah yang akan lebih banyak kehilangan.

__ADS_1


"Saya harap Lady tidak keberatan dengan tawaran ini?" Jacob tersenyum ke arah Anna. Ia benar-benar ingin menggoda gadis itu sampai akhir.


Anna meletakkan kertas perjanjian itu di atas meja, "Bisakah kita membicarakannya berdua saja, Yang Mulia?" Ia berkata lirih wajahnya menunduk, menghindari tatapan sang Grand Duke.


"Tentu saja jika itu yang calon istriku inginkan." Balas Jacob sembari beranjak dari duduknya dan menawarkan tangannya kepada Anna, "Aku rasa akan lebih baik kalau Anda menemaniku melihat-lihat taman kediaman keluarga Morratz."



"Katakan pada saya, Yang Mulia." ujar Anna memulai perbincangan mereka. Keduanya berjalan berdampingan menyusuri taman yang ada di rumah kaca kediaman Marquess Morratz.


"Apa yang ingin Anda ketahui, Lady?" balas Jacob tenang.


Anna menghentikan langkahnya.


"Alasan. Apa alasan Anda tiba-tiba datang dengan semua ini. Sebenarnya apa yang Grand Duke rencanakan?"


"Saya sudah memutuskan, Lady. Saya berencana untuk membuat keluarga dengan Anda, dengan Lady sebagai Grand Duchess of Hannover. Bukankah hal itu yang selalu Anda inginkan? Seluruh kerajaan bahkan sudah tahu kalau kita berdua telah dijodohkan sejak kecil. Apakah aku salah?" jawab Jacob panjang lebar dengan senyum menyunggingnya.


Apa ini? Kenapa sekarang laki-laki ini sering sekali tersenyum? Pikir Anna melihat kejanggalan dalam diri Jacob. Baiklah, ayo kita ikuti permainannya sebentar.


"Perjodohan yang bahkan sebelumnya tidak pernah Anda anggap ada? Saya tidak bodoh, Yang Mulia. Maafkan kata-kata hamba yang kasar. Anda bahkan tidak bergeming saat wanita manapun menggoda Anda," desis Anna tersenyum sinis," ......bahkan saat saya melemparkan diri kepada Anda sekalipun."


Jacob kembali tersenyum tipis, ia meraih lengan Anna dan menarik gadis itu lebih dekat ke pelukannya, "Dengar Lady, Selama. Ini. Saya. Selalu. Berusaha untuk menahan diri terhadap Anda." Jacob mendekatkan wajahnya ke Anna, kedua tangannya kini memeluk erat pinggang sang Lady.


Anna tercengang, ia masih tidak menyadari apa yang Jacob lakukan. Jacob menatapnya lekat dan menekan pinggang Anna ke arahnya.


Gadis itu mulai panik, tubuhnya berusaha berkelit dari pelukan Jacob. Lengannya meronta-ronta dan bibirnya mencoba mengalihkan pembicaraan mereka, "Apa maksud Anda Yang Mulia—".



Hhmphh. Jacob membungkam bibir Anna dengan ciumannya. Ia menarik leher Anna agar tetap terikat dalam pelukannya dan lengannya yang lain menahan pinggang gadis itu.


Damn. Akhirnya aku bisa merasakan bibir manis ini. Ujar Jacob dalam hati.


Bibir keduanya kini saling terpagut. Jacob terus ******* dan menggigit lembut bibir Anna tanpa ragu. Lidahnya terus memaksa masuk ke dalam rongga mulut Anna hingga gadis itu akhirnya menyerah dan membiarkan lidahnya dipermainkan oleh Jacob. Kedua lidah mereka kini saling melilit beradu bertukar air liur.


Jacob menikmati bibir calon istrinya itu dengan rakus. Gadis ini masih sangat polos. Selama beberapa detik Jacob mengerahkan konsentrasinya kepada Anna. Melancarkan serangan-serangan dengan lidahnya. Mata Anna terlihat sedikit berkaca-kaca.


Pikiran Anna kosong, ini merupakan pengalaman ciuman pertamanya, "Y-yang M..mulia. H-hen.." Anna berusaha melepaskan diri dari ciuman Jacob. Ia sekuat tenaga mendorong laki-laki itu.


Tapi Jacob dengan mudah menyerang kembali bibir Anna, "Sstt..... " desis Jacob.

__ADS_1


Ia hanya melepaskan Anna sesekali selama beberapa saat untuk mengambil nafas lalu kemudian kembali ******* bibirnya dengan intens. Gelungan rambut Anna terlepas hingga rambutnya kini terurai berantakan.


Setelah puas menciuminya, Jacob pun melepaskan Anna dengan perlahan. Nafas keduanya kini tersengal-sengal. Ia tetap memeluk gadis itu dan melingkarkan tangannya di pinggang Anna. Jemarinya yang lain menyentuh bibir sang Lady dan menyeka perona bibirnya yang berantakan karena ulahnya.


"Maafkan aku, tapi itulah yang selalu aku rasakan padamu Lady. Aku hanya berusaha jujur terhadap perasaanku padamu. Aku tidak bisa menahannya lagi kali ini, dan ingin menunjukkannya langsung padamu." ujar Jacob sembari menatap mata Anna dalam-dalam.


Lady Anna menundukkan wajahnya dari Jacob, ia memalingkan wajahnya yang kini merah padam karena amarah. Tangannya memegang dada pria itu sebagai penghalang dari pelukannya.


"A-apa yang Anda maksud dengan menahannya? Aku bahkan hampir tidak mengenali siapa pria di hadapanku sekarang, Yang Mulia." ucapnya sinis dan terbata. Suaranya sedikit tertahan seperti ingin menangis dan hampir tak terdengar, "Tidakkan Anda berpikir bahwa Anda telah melecehkan saya yang bahkan belum menjadi tunangan Anda?!" Teriak Anna.


Suara isak tangis kini pecah dari mulutnya. Bulir air mata mulai menggenang dan mengalir perlahan dari kedua matanya. Tangannya memukul-mukul dada sang Grand Duke.


Oh ****. Dasar bodoh kau Jake! Lihat akibat perbuatanmu sekarang. Maki Jacob dalam hati.


Jacob menarik Anna lebih erat ke dadanya. Ia mengelus kepala gadis itu dan berusaha menenangkannya. Membiarkan sang Lady puas tersedu dalam pelukannya, "Sshhh... Maaf. Maafkan aku."


"Aku bahkan telah meminta agar pertunangan kita diselenggarakan di pekan ini. Aku benar-benar serius ingin menikahimu secepat yang aku bisa, Anna." ujar Jacob hati-hati dengan suara rendah sambil mengelus kepala gadis itu.


Sambil masih terisak Anna mencoba untuk menjawab, "Tapi— Saya masih tidak memahami perubahan sikap Anda yang terjadi secara drastis ini, Yang Mulia. Sikap Anda selama ini... Itu..." matanya berkaca-kaca memandang Jacob.


Jacob menempelkan jemarinya di bibir Anna, "Ssttt...", ujarnya menenangkan, matanya masih menatap lekat gadis itu, "Dengar Lady, selama ini, aku tidak ingin menarik perhatian para bangsawan dan anggota kerajaan lainnya. Aku tidak mau membahayakan dirimu di saat aku masih belum bisa melindungimu sepenuhnya."


"Apa bedanya dengan sekarang? Anda pasti hanya mengada-ngada dan berniat mempermainkanku. Bukankah Anda selama ini telah menjadi Grand Duke yang hebat dan berpengaruh." balas Anna dengan pandangan menuntut.


Jacob menggelengkan kepalanya, "Tidak ini berbeda, Sayangku. Kepulanganku kali ini dari medan perang, aku telah memintamu secara khusus pada Yang Mulia Raja untuk menjadi istriku sebagai hadiah kemenanganku. Dengan begitu, hubungan kita bukan lagi alat politik bagi orang-orang yang ingin memanfaatkan keluargamu. Tidak ada yang berhak mengambilmu dariku begitu kita menikah nanti. Bahkan raja sekalipun."


Anna menghentikan tangisnya, tapi suaranya masih sedikit bergetar, "A-aku masih tidak mengerti, Yang Mulia. Mengapa ada yang ingin mengambilku darimu jika hamba nanti sudah menikah dengan Anda?"


"Tentu saja itu belum terjadi, Sayang. Tapi suatu saat nanti pasti akan ada yang merasa iri dengan ku yang mendapatkan seorang istri paling cantik di kerajaan ini. Dan aku tidak akan membiarkan ada orang lain yang berani menginginkan milikku." Jacob tersenyum lagi kepada Anna. Lalu keningnya tiba-tiba berkerut, "Tunggu. Apa kau tidak meyukainya, Lady? Kau tidak ingin menjadi Grand Duchess?"


Anna cepat-cepat menggeleng, "B-bukan begitu, Yang Mulia. Maafkan hamba, hamba...", hanya saja ia masih bingung dengan perubahan sikap sang Grand Duke kepadanya.


Jacob perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Anna, "Kalau begitu. Apa kau Lady Anna Elizabeth Morratz bersedia untuk menerimaku menjadi milikmu sebagai suamimu nanti?", ia berlutut di hadapan Anna dan mengeluarkan sekotak cincin berlian bermata hijau dari balik pakaiannya.


Mata Anna kembali berkaca-kaca. Suaranya bergetar, "Yang Mulia—"


Anna mengangguk kecil diiringi senyum bahagia di wajahnya.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2