Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
Kate Louise


__ADS_3

Kate berjalan tertatih-tatih menyusuri pinggir jalan. Siapa yang sangka di tengah malam begini ia malah dirampok oleh seorang laki-laki yang menyamar menjadi supir Uber pesanannya.


Laki-laki sialan. Maki Kate.


Supir gila itu bukan hanya ingin merampoknya tapi juga berniat memperkosanya. Seluruh tas dan alat komunikasinya tertinggal di dalam mobil ketika ia dengan nekat menjatuhkan diri keluar saat mobil sedang berjalan. Sepatunya juga entah kemana saat ia terjatuh tadi.


Panik dengan tindakan Kate, laki-laki itu langsung tancap gas dan meninggalkan dirinya yang tersungkur di tepi jalan. Beruntung ia jatuh ke rerumputan dan hanya mengalami lecet ringan. Tapi tetap saja rasanya sakit dan menyebalkan. Ia bisa merasakan darah mengalir dari lututnya yang tergores batu.


Dimana ini, kenapa tidak ada marka jalan sama sekali. Gumamnya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia tidak mengenali tempat dimana dirinya sekarang. Hanya rerumputan dan pepohonan pinus yang terlihat di pinggir jalan.


Bagus sekali. Aku dirampok dan sekarang tersesat. Umpat Kate kesal. Aku harap ada mobil patroli yang lewat.


Susah payah Kate menyeret langkahnya. Ia hanya berusaha mengikuti jalan raya dimana mobil tadi membawanya. Setidaknya jika ia memutar balik rute, ia akan kembali ke tempat awal ia memesan mobil. Daerah yang bisa ia kenali.


Ini masih tengah malam, lebih baik aku terus jalan daripada menunggu di tepi jalan dan bertemu dengan orang jahat lainnya. Gumam Kate dalam hati. Ia sudah mulai merasakan kram di kedua kakinya. Belum lagi luka akibat jatuh tadi. Rasanya benar-benar perih dan sakit.


Setelah berjalan beberapa lama melewati jalan sepi tanpa pemukiman, Kate sampai pada sebuah terowongan kecil. Ia tidak ingat kalau tadi ia melewatinya saat di mobil, tapi ia juga yakin sejak tadi belum ada persimpangan jalan yang ia temui. Terowongan itu tidak gelap dan tidak terang. Hanya saja Kate merasa ragu untuk memasukinya. Ia tidak bisa memastikan kalau terowongan itu aman baginya.



Sejenak ia berdiri mematung di ambang terowongan itu. Tidak terlalu panjang, tapi lampu penerangan jalan juga tidak cukup menerangi jalan di dalamnya. Ia hanya bisa melihat cahaya terang pada ujung terowongan tersebut. Setelah bergumam tidak jelas Kate akhirnya memutuskan untuk terus berjalan ke dalamnya.


Rasa dingin semakin menjalar di tubuhnya. Ia yakin kalau telah meninggalkan jaketnya juga di mobil perampok itu. Hanya kemeja tipis dan rok kerjanya yang menempel pada tubuhnya sekarang.


Kau bisa melalui ini semua, Kate. Kita akan segera sampai ke keramaian dan kembali ke kamarmu yang hangat. Bisik Kate menghibur dirinya sendiri.


Ia menyilangkan tangannya memeluk dirinya sendiri. Wajahnya ia tundukkan ke bawah untuk menghindari hawa dingin dari angin yang sejak tadi menampar-nampar wajahnya. Cahaya dari ujung terowongan semakin dekat hingga ia akhirnya keluar dari terowongan tersebut.


......................


Sinkkkkkkk.


Cermin besar yang diletakkan di atas kolam itu mengeluarkan sinar terang menyilaukan. Seorang gadis dengan kemeja berwarna merah dan rok span hitam selutut berjalan muncul melangkah keluar dari cermin. Rambut cokelatnya tergerai dan ia tampak terhuyung-huyung berjalan dengan kaki telanjangnya terjatuh ke arah kolam. Semua orang terhenyak dalam keheningan. Begitu juga sang gadis yang terkejut disambut oleh kerumunan para jemaah kuil yang terkesiap melihat kearahnya.



What?— Kate mengernyitkan keningnya. Ia tampak kebingungan sekaligus kikuk. Bagaimana bisa. Terowongannya.....

__ADS_1


Langkah gadis itu tertahan dan berulangkali dirinya bolak-balik menoleh ke belakang cermin dan ke arah kerumunan orang-orang itu. Ia ingat baru saja menyusuri terowongan gelap tadi. Segera Kate tersadar bahwa sepertinya seharusnya dia tidak berada di sana dan buru-buru berlari keluar dari kolam untuk kembali ke arah cermin, tapi—


BRAKKK


Gadis itu terjatuh menabrak keras cermin besar tersebut. Dirinya kini terduduk menghadap bayangannya sendiri. Basah dan kedinginan. Ia kembali menoleh ke arah keramaian.


Tidak mungkin. Aku pasti berhalusinasi. Bisik Kate menelan ludahnya. Bisa-bisanya aku melintasi sebuah portal yang tersambung entah kemana.


"Saintess..... Dia adalah saintess!" teriak salah seorang pendeta berjubah putih menunjuk kepada sang gadis sekaligus memecah keheningan di ruangan itu.


Beberapa orang akhirnya mendapatkan kesadarannya kembali. Suasana riuh kini memenuhi ruangan tempat kolam penyucian. Tidak ada yang menyangka bahwa cermin besar yang mereka kira hanya pajangan biasa adalah artefak suci yang dapat berubah menjadi semacam portal antar dimensi.


Gadis yang keluar dari cermin itu jelas bukan berasal dari kerajaan mereka. Terlihat jelas dari penampilannya yang memakai pakaian asing. Dan bagaimana bisa manusia biasa berjalan menembus cermin. Dia telah berjalan keluar dari cermin yang ada di dalam kuil dewi cahaya. Dia pasti seorang saintess cahaya. Itulah yang kini ramai dibisikkan oleh orang-orang yang menyaksikan kemunculan Kate.


"Siapkan ruangan untuk gadis itu. Kita harus mengamankan saintess yang baru muncul." Ujar seorang pendeta tua. Dia adalah kepala pendeta di kuil tersebut.


......................



Jacob bersama para ksatrianya kini dalam perjalanan pulang dari kediaman Morratz. Rencana pertunangan dan pernikahannya dengan Lady Anna sudah disetujui oleh kedua belah pihak. Gadis itu duduk bersamanya dalam satu kereta kuda.


"Ya, Yang Mulia" Anna hanya mengangguk sopan. Ia ragu untuk balik bertanya, dan hanya bisa mengucapkan terimakasih karena Grand Duke sudah memperhatikannya.


Kenapa kau jadi kikuk begitu, Ann. Kau seharusnya bersikap hangat padanya seperti pada kehidupan-kehidupanmu sebelumnya. Suara Shayn terdengar di kepala Anna. Kemana Anna yang menyukai Grand Duke dengan sepenuh hatinya itu.


Gadis itu tidak menghiraukannya. Ia kembali mengamati sang Grand Duke yang kini juga sedang menatapnya.


Baiklah. Aku mengaku kalah. Ujar Anna dalam hati. Ia memalingkan pandangannya dari Jacob dan melontarkan pertanyaan pada pria itu untuk mengalihkan perhatiannya.


"Yang Mulia, mengapa Anda tidak terlihat seperti biasanya?"


"Apa maksudmu?"


"Tidak biasanya Anda menanyakan keadaanku. Biasanya Anda begitu datar dan ...... dingin."


"Mungkin karena aku jatuh cinta padamu, Ann. Sudah kubilang sikapku yang dahulu hanyalah kamuflase."

__ADS_1


Anna tertegun. Ia hampir tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Jacob. Dan rayuan gombal macam apa yang sedang ia katakan padanya sekarang.


Kamuflase? Sembilan kehidupanmu telah kau lalui dengan apa yang kau sebut kamuflase itu. Pikir Anna menggerutu. Tidak, tidak. Ini benar-benar aneh.


"Anda benar, Yang Mulia. Aku senang karena Anda akhirnya melamarku." Ujar Anna sembari tersenyum tipis kepada Jacob.


Krieett...


Tiba-tiba kereta kuda mereka berhenti mendadak. Suara ramai terdengar dari luar. Kepala ksatria mengetuk pintu kereta.


"Ada apa?" tanya sang Grand Duke dingin kepada sang pengawal.


"Beberapa orang dari kuil sedang menangkap seorang wanita, Yang Mulia. Gadis itu menghadang rombongan kereta kita", kepala pengawal itu melaporkan


"Bawa mereka ke hadapanku" balas Grand Duke singkat.


Ahh. Ini Grand Duke yang aku kenal. Gumam Anna dalam hati.


Beberapa saat kemudian masih dari dalam kereta, Jacob bisa melihat beberapa pendeta kuil yang sedang memegangi seorang gadis yang terus menerus meronta-ronta minta dilepaskan.



Kate?! Desis Jacob dalam hati. Matanya terbelalak.


Ia tidak mungkin tidak mengenali gadis pemeran utama dalam dunia yang sedang ia masuki sekarang. Walaupun kini gadis itu tampak lusuh dan tak terurus tapi jelas bahwa ia adalah si gadis modern.


Bukankah ia akan muncul di istana sebulan lagi? Mengapa sekarang dia diperlakukan seperti pencuri oleh para pendeta kuil ?


Jacob sedikit heran. Ia tidak mengingat ada adegan pertemuannya dengan Kate dan Anna bersamaan seperti sekarang. Pandangannya beralih ke Anna. Wajah gadis itu juga terlihat terkejut.


"Maafkan kami, Yang Mulia. Ada masalah yang harus kami urus dan tidak sengaja menghalangi jalan Anda" ucap salah seorang pendeta.


Jacob berusaha menjaga agar suaranya tetap tenang dan datar, "Masalah apa sampai kalian membuat keributan seperti ini pendeta?"


Para pendeta itu saling melemparkan pandangan. Mereka terlihat sedikit cemas dan ketakutan.


"I-ini calon pendeta wanita di kuil kami. Dia kabur karena merasa bosan—"

__ADS_1


"TIDAK!! Aku tidak kabur, kalianlah yang mencu— Emmphh..." Teriak Kate yang tentu saja langsung dibungkam oleh tangan pendeta yang memeganginya.


...****************...


__ADS_2