Would You Like To Be My Grand Duchess ?

Would You Like To Be My Grand Duchess ?
Manipulation Attempts


__ADS_3


Kate berdiri di dalam kuil itu lagi. Kuil dewi cahaya. Tapi bukan di tempat ia pertama kali datang. Melainkan salah satu ruangan kosong dengan atap terbuka. Ia sangat terkejut dan sekarang tubuhnya mulai panik karena tidak bisa digerakkan.


Apa ini?? Desis Kate berusaha menggerakkan anggota tubuhnya.


Tidak ada seorangpun di tempat itu. Hening tanpa ada tanda-tanda kehidupan lainnya. Hanya tubuh mematungnya yang menghadap ke arah perapian dengan sinar bulan yang menyinari dari atas kuil.


"Aku yang mengirimkanmu ke dunia ini." Tiba-tiba sebuah suara laki-laki terdengar di dalam kuil. Suaranya menggelegar dan menyebar ke seluruh penjuru ruangan.


Sialan. Dimana dia.


Kate mulai mencari-cari arah datangnya suara dengan matanya. Nihil. Gerakannya terbatas. Ia segera menyahut. "Siapa kau? Keluarkan aku dari sini!"


"Itu bukanlah hal yang penting. Apa kau tidak mau mengetahui alasannya. Mengapa kau dikirimkan ke dunia ini?" Ujar suara tersebut berusaha membangkitkan rasa penasaran gadis itu. Hening sejenak.


Gadis itu tertawa miris, "Jangan bilang padaku kalau aku adalah saintess seperti orang-orang itu menyebutku. Lebih baik sekarang kau memberitahukan aku cara untuk keluar dari dunia ini." Ujar Kate pada akhirnya sembari memutar bola matanya.


Tawa sang pria menggelegar ke seluruh ruangan kuil. " Hhahaha... Kau memang wanita yang pintar."


"Berhenti bergurau. Kau pasti menginginkan sesuatu dariku." Kate menjawab datar. Ia sudah lebih dulu curiga dan bersikap waspada.


"Aku suka caramu bicara. Dan kau memang bukan seorang saintess." Akhirnya suara pria itu menjelaskan.


Sigh. Sialan kau.


"Sudah kubilang!! Mereka benar-benar bodoh menganggapku saintess hanya karena aku keluar dari cermin itu." Kate tertawa menyeringai.


"Aku yang membuatnya seperti itu." Balas suara itu tetap dingin dan datar.


Mata Kate mendelik marah, "Dasar gila!!"


Air mukanya berubah menjadi keruh.


"Aku yang membuatmu memasuki dunia ini melalui cermin itu. Sudah kubilang sejak tadi aku yang mengirimmu kesini, kan?" Terang suara itu lagi tetap tenang seakan-akan semua itu hanya perbuatan isengnya saja.


Tapi kenapa??? Apa yang ia rencanakan sebenarnya? Kate berpikir keras. Ia tidak suka merasa dipermainkan seperti ini.


"Baiklah kalau begitu. Segera katakan padaku apa maksud semua ini." Kate mulai kehilangan kesabarannya. Ia benar-benar merasa ingin meledak.

__ADS_1


"Kau akan menemukannya sendiri nanti. Kalau kau ingin kembali ke duniamu, temui Grand Duke Hannover. Dia pria yang menolongmu saat di gua dan membawamu kembali ke istana." Jelas pria tersebut kepada Kate.


Tunggu, gua?? Dan siapa Grand Duke itu? Gumam Kate berbisik pada dirinya sendiri.


"Jadi...... kau mengetahui juga apa yang terjadi padaku selama ini?" Tanya Kate menahan amarahnya. Ingatannya lagi-lagi membawanya kembali ke peristiwa memalukannya bersama sang putra mahkota.


"Tentu saja." Jawab pria itu ringan.


Kate sudah tidak bisa menutupi emosinya yang meluap seketika, sumpah serapah keluar dari lisannya, "Brengsek kau!! Bajingan kurang ajar!!! Mempermainkan hidup orang lain seenaknya!! Kau pasti bukan manusia—"


"Kau benar. Aku bukan manusia."


Kate terbangun dari tidurnya sambil setengah menjerit. Gadis itu masih terkurung di kamarnya di istana Lawrence. Nafasnya terengah-engah menahan kesal dan tangis. Ia bermimpi rupanya. Mimpinya kali ini benar-benar terasa nyata. Siapa pria itu sebenarnya?


......................



Malam itu Jacob memanggil sang spirit cahaya saat saintess sedang tertidur lelap. Tidak mudah, ia memancingnya dengan pura-pura akan menyerang tuannya. Shayn langsung bereaksi dan melindungi sang saintess.


"Hallo Shayn." Sapa sang Grand Duke ramah. Senyum tersungging di bibirnya melihat sang spirit dalam wujud peri cahaya mungil yang terbang mengelilingi Anna.


Shayn segera terkejut mematung, "Bagaimana bisa...???". Tidak ada seorangpun manusia yang bisa melihatnya kecuali saintess atau para pemilik spirit lainnya.


"Aku mau berbincang sedikit denganmu." Bisik Jacob sembari membawa Shayn ke luar balkon kamarnya.


Grand Duke melepaskan sang spirit. Ia berujar pada Shayn, "Perhiasan dari tambang Queta yang kuberikan untuknya. Biarkan sang saintess memakainya. Itu akan meningkatkan energi sucinya dan mempercepat proses kebangkitan."


Shayn memicingkan matanya.


"Kau pasti bukan Grand Duke. Siapa kau?" Tanyanya menyelidik.


"Mengapa kau berkata seperti itu." Ujar Jacob tertawa ringan.


"Tidak ada yang tahu kalau gadis itu adalah saintess. Dan tidak ada yang bisa melihat spirit sepertiku kecuali kau juga memiliki kekuatan spirit. Grand Duke bukan pemilik kekuatan spirit." Spirit itu menjawab curiga.


Ah benarkah? Aku baru tahu itu. Grand Duke di dalam cerita memang tidak pernah mengetahui keberadaan Shayn. Tapi aku juga tidak memiliki kekuatan spirit yang ia maksud. Batin Jake.


"Kau adalah spirit guide nya. Yang perlu kau tahu adalah aku tidak akan membahayakan sang saintess." Ucap Jacob segera.

__ADS_1


"Ck...Pantas saja sikapmu berubah terhadap gadis itu. Apakah kau ingin menikahinya karena sudah tahu dia adalah saintess?" sang spirit memandang Jacob tajam. Memendarkan berkas-berkas cahaya di sekitar tubuhnya.


"Ya aku tahu dia adalah sang saintess. Tapi aku memang menyukainya dan ingin menikahinya. Kau bisa bilang kalau aku bukanlah seperti Grand Duke yang dulu lagi. Dan akan kupastikan Anna mendapatkan kekuatan saintess nya dengan aman selama berada bersamaku." Jelas Jacob pada akhirnya. Ia masih enggan menjelaskan dirinya yang sesungguhnya.


"Tidakkah kau menyukai Kate si saintess itu?" Shayn mencoba memancing Grand Duke.


"Hmm.... Sepertinya aku lebih menyukai Anna dibandingkan dia. Karena Anna memiliki spirit guide yang imut sepertimu." Jacob terkekeh menggoda Shayn dan mencoba untuk tidak mengatakan kalau ia juga sudah tahu bahwa Kate adalah saintess palsu.


"Cih. Aku tidak akan termakan omonganmu, Grand Duke. Lalu..... Apakah dewi yang mengirimmu?" Tanya Shayn lagi. Ia berusaha menyelidiki modus sang Grand Duke yang sebenarnya.


"Entahlah. Apakah itu penting?" Jacob mengangkat kedua tangannya.


Shayn terbang tepat ke wajahnya, "Kau tahu kalau pernikahanmu dengan Anna akan membuat kalian berbagi umur kehidupan kan?" Ungkap Shayn.


Jacob tersenyum tipis, "Tentu saja. Aku akan menandainya juga saat kami menikah. Untungnya aku telah mendengarmu mengatakan bahwa Anna tidak bisa menjadi saintess jika kehilangan kesuciannya sebelum menikah. Apakah ada lagi hal-hal yang perlu kuketahui tentangnya?" Ujarnya mencoba berusaha memancing informasi dari sang spirit.


Spirit itu menjawab datar, "Jika seorang saintess menikah maka umur pasangannya akan tertaut padanya."


"Apa maksudnya?" Tanya Jacob terlihat bingung. Apa bedanya dengan berbagi umur.


"Kalau sang saintess mati. Maka kau juga akan mati, Yang Mulia." Tandasnya singkat.


Jacob terhenyak. Matanya menerawang ke luar balkon. Keheningan tercipta di antara keduanya.


"Bukankah aku bisa membagi umurku padanya? Bagaimana kalau aku yang mati lebih dulu?" Tanyanya setelah beberapa waktu.


Sang spirit berkata, "Dalam kasus saintess tidak bisa. Berbagi umur hanya berlaku kalau dia yang membagi umurnya padamu. Bukan sebaliknya. Konsekuensinya hanya berjalan satu arah. Kecuali kalau kau yang lebih dulu mati maka kalian bisa saling berbagi umur kehidupan agar tetap hidup."


Di dalam cerita Anna terus bertahan sampai akhir. Aku rasa sudah tepat jika aku menikahinya kalau begitu. Dia bukan hanya menjadi investasiku saja, tapi asuransi jiwaku. Cetus Jacob di pikirannya.


"Baiklah. Jadi aku hanya perlu menjaga keselamatan Anna saja kan agar nyawaku selamat." Ujar Jacob sembari menggangguk tipis.


"Aku tidak akan memberitahukan konsekuensi pernikahan ini kepadanya." Shayn menatapnya tajam, "Dilarang, lebih tepatnya."


"Benar. Jangan beritahukan hal ini padanya. Dia pasti akan menolak pernikahan ini kalau tahu." Jacob tersenyum menyungging.


Shayn menghela nafas, "Aku harap kau melakukan hal yang benar di kehidupan ini Grand Duke." Ujar spirit itu serius.


"Tentu saja." Jacob menjawab tegas.

__ADS_1


Kecanggungan menguar di antara keduanya sampai Jacob bertanya, "Apa raja spirit api sudah menemui kalian?"


...****************...


__ADS_2