
Namun ketika Refan memasukkan Pizza kemulutnya ia merasa telingganya berdenging hingga potongan pizza yang berada ditangannya terjatuh.
"Kenapa? Kamu kenapa?" tanya Yumna terkejut ketika melihat Refan yang menutup telinganya dan seperti seorang yang sedang kesakitan.
"Telingaku berdenging sangat nyaring,rasanya sangat sakit sekali" jawab Refan masih denganposisi yang sama menutup telinganya,semua yang berada disana merasa kebingungan apa yang harus mereka lakukan sekarang mereka juga tidak mengetahui apa yang terjadi pada Refan dan apa penyebabnya.
"aaaaaaahhhhh sakit sekali"Erang Refan namun tiba-tiba seperti ada cahaya yang menyilaukan membuat, Jia,Emy,Yumna,Raka,Tian dan Aryan, tidak melihat dengan jelas apa yang terjadi, ketika cahaya itu menghilang Refan pun ikut menghilang membuat mereka semua kebingungan.
"Dimana Refan?" ucap Emy ketika ia menurunkan tangannya ternyata Refan sudah tidak ada lagi didepannya.
"Sepertinya Refan kembali kedunianya" ucap Raka sambil menatap kesekelilingnya memastikan apakah Refan berada disana atau tidak.
"Apakah dia akan ingat menghubungi kita?" ucap Jia.
"Entahlah apa kau tadi menyimpan no ponselnya?" tanya Aryan.
"Aku lupa"ucap Jia menepuk dahinya dan mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Apakah dia bisa menghubungi kita?" ucap Tian bertanya-tanya, semua yang berada disana sekarang otak mereka dipenuhi dengan banyak pertanyaan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Sementara didunia lain Refan terbangun, ia pingsan beberapa saat lalu terbangun, ia memang berada ditempat yang sama sebelum ia kehilangan kesadarannya, ia berada di rumah yang sama persis dengan rumahn 3 detektif, hanya saja 3 polisi dan 3 detektif tidak berada disana.
Refan bangun dan melihat sekitarnya, ia mencari keberadaan teman-temannya tadi namun ia tidak menemukan siapa pun ia menegelilingi rumah tersebut.
Tiba-tiba saja ada suara heboh dari luar rumah dan pintu pun terbuka tepat ketika Refan berada didepan pintu, ia dan orang yang membuka pintu mereka terdiam sesaat.
"Jia"ucap Refan dengan antusias ia melompat dan memeluk Jia menurutnya.
"Kau siapa?" teriak perempuan itu dan mendorong Refan yang memeluknya.
"Jia jangan bercanda"ucap Refan.
"Apa aku sudah kembali?" ucap Refan menatap sebentar perempuan yang berada dihadapannya ia pun berlari keluar lalu pergi dan menghentikan taksi lalu pergi begitu saja.
"Hey kemana kau.... Hey"Teriak perempuan itu dengan kesal lalu masuk kedalam rumah dan mengecek kedalam rumah apakah ada yang hilang atau tidak.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Refan melihat keksekelilingnya semua terlihat sama.
"Apakah aku kembali kedunia ku? Atau aku tersesat lagi kedunia lain?"Gumam Refan masih terus memperhatikan jalan yang berada didepan, ia juga memperhatikan semua bangunan yang ia lalui semuanya benar-benar terlihat sama.
.
.
.
Beberapa saat kemudian ia sampai dikantornya dan segera masuk kedalam kantor dan mencari sahabatnya.
"Rima,apa kau kenal aku?" tanya Refan pada sahabatnya itu dengan panik, Rima menatap Refan dari atas sampai bawah membuat Refan semakin panik dan tidak sabar menunggu jawaban.
"Rima"ucap Refan frustasi ia benar-benar panik dan ketakutan.
"Iya-iya Refan, bagaimana bisa aku tidak kenal denganmu yang sudah sama-sama sejak kecil"Ucap Rima puas setelah mengerjai Refan.
"Berarti aku kembali ditempat yang benar hah syukurlah" ucap Refan lalu duduk dibangku milik Rima.
__ADS_1
"Kamu sakit? Ngigo?atau apa?" tanya Rima khawatir pada Refan.
"Aku mau memberi tau kamu satu rahasia, tapi jangan beri tau siapa-siapa"ucap Refan menarik Rima mendekat dan melihat situasi sekelilingnya.