
Tunggu sebentar aku ingin mengirimkan pesan pada Refan"ucap Aryan lalu sibuk mengetik tanpa memperdulikan teman-temannya yang penasaran dengan apa yang sedang diketik olehnya.
"Apa yang baru saja kau ketik?"Tanya Jia pada Aryan dengan rasa penasarannya.
"Aku hanya mengirim poin dari apa yang kita perlukan"Ucap Aryan lalu memberikan ponsel pada Jia.
Jia yang penasaran lalu langsung mencari pesan yang dikirimksn oleh Aryan, ia langsung mengerti mengapa orang-orang mengatakan Aryan adalah orang yang sangat profesional, Pria itu hanya mengatakan apa yang perlu dikatakan tanpa bertele-tele.
(Langsung cari tau apakah ada sesuatu yang aneh terjadi 20 - 30 tahun lalu diduniamu? Tepatnya dikantor tempatmu bekerja), kirim Aryan pada Refan tanpa basa-basi.
"Harusnya kita berikan waktu untuk Refan beristirahat dulu, tenaganya pasti sangat terkuras berpindah dari satu dunia ke dunia lainnya"ucap Jia yang mulai mengetik sebuah pesan,namun belum selesai ia mengetik ponselnya lagi-lagi dirampas oleh Aryan.
"Tidak bisa,kita harus cepat menyelesaikan tugas kita"Ucap Aryan lalu kembali menyandarkan kembali badannya pada sofa.
"Kamu sangat Egois"Ucap Jia lalu bangkit dari sofa dan menuju dapur untuk mengambil air minum.
"Kamu mau kita tua dulu baru kasus yang kita tanganni selesai?" ucap Aryan mencibir Jia.
"Baiklah terserah kau saja kapten"Ucap Jia yang berjalan menuju tempat duduknya sambil membawa segelas air minum dan meminumnya, Aryan mengulum senyumnya melihat ekspresi kesal Jia yang menggemaskan.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Beberapa menit mereka terdiam tiba-tiba saja Tian menanyakan sesuatu yang sensitif bagi 3 detektif.
"Emy, aku bingung, kenapa kalian dipanggil 3 detektif, bukannya kalian belum lulus kuliah?" tanya Tian dengan wajah tanpa dosanya.
"Hm benarkah?" ucap Tian yang masih ragu dengan jawaban dari Emy.
"Kami sejak kecil memang bercita-cita menjadi detektif,sejak kecil kami memang dipanggil detektif"Jelas Jia.
"Tadi katanya Pimpinan Lin yang memberikan gelar detektif, sekarang sejak kecil dipanggil detektif, yang mana yang benar?" ucap Tian yang belum mengerti penjelasan Jia.
"Begini, Neneknya Jia adalah seorang detektif yang bekerja sama dengan Pimpinan Lin, jadi waktu kecil kami sempat bertemu dengan pimpinan Lin dan saat itulah beliau, memanggil kami Detektif" Emy mencoba kembali menjelaskan pada Tian.
"Oh jadi Pimpinan Lin itu Rekannya nenek Jia? Dan kalian bercita-cita menjadi detektif karena Neneknya Jia seorang detektif?"ucap tian mengangguk faham lalu kembali bertanya.
__ADS_1
"Ya sejak muda Nenekku dan Pimpinan Lin selalu bekerja sama untuk menyelesaikan sebuah misi"Jawab Jia terus memperhatikan ponselnya.
"Benarkah? Lalu Kenapa tidak menyelesaikan tugas yang diserahkan pada kita juga?" ucap Tian yang mulai melunjak.
"Nenek dan Pimpinan Lin sudah Pensiun ketika kasus ini kembali dibuka"Jawab Jia masih berusaha tenang menjawab pertanyaan-pertanayaan dari Tian.
"Apakah nenekmu detektif yang terkenal?" tanya Tian lagi.
"Hm Kau tau Detektif Gracia?"Tanya Jia.
"Gracia? yang terkenal Detektif Wanita tercantik dan juga terhebat yang memecahkan kasus besar Dunia? Yang mempunyai IQ diatas rata-rata?" Ucap Tian terkejut.
"Ya dan kau tau Arga Prabu Aksa?"Tanya Jia lagi pada Tian kini giliran Jia yang bertanya pada Tian.
"Arga Prabu Aksa? Beliau ilmuan dan suami dari Graciakan?" jawab Tian.
"Ya benar, lalu apa kau tau Alsad Rajka?" Tanya Jia lagi.
"Hm Ya sorang yang terkenal dengan kecerdasannya"Jawab Tian.
"Beliau adalah kakek buyutku, kakek dari ayahku"Ucap Jia yang membuat semua yang berada disana terkejut dan tak percaya.
__ADS_1