
Tatapan Rahma ke arah Ana agak berbeda dari Nisa. Tampak jelas bahwa Rahma tidak menyukai Ana. Rahma memang istri Bima yang paling cemburuan. Tapi dia tidak punya keberanian mengutarakan rasa cemburunya kepada Bima.
"Ana dengar.. aku mau terus terang saja!! Sebenarnya aku tak terlalu suka sama kamu... jadi aku cerita karena hanya permintaan Nisa saja." kata Rahma dengan tegas kepada Ana.
"Sebenarnya kamu mau cerita apa enggak ya bodo amat!!!" balas Ana dalam hati.
"Kisah ku bertemu bang Bima jauh berbeda dari kisahnya Nisa. Tak ada baku tembak dan tak ada bunuh-bunuhan. Tapi ada kisah pilu juga yang menyelimutiku. Disaat aku baru menyelesaikan kuliah S1 ku. Ayahku menjual diriku pada seorang laki-laki hidung belang. Ayahku berhutang banyak pada laki-laki itu yang tak bisa ditebus olehnya. Jadi ia menjadikan aku sebagai tebusannya.
Aku tak pernah menyangka ayahku akan berbuat demikian. Tengah malam ku kemasi seluruh barang-barangku dan kabur dari rumah. Usahaku untuk kabur hampir gagal ketika aku dipergoki ayahku yang terbangun dari tidurnya. Dengan usaha yang keras aku berhasil kabur dari rumah walaupun seluruh barang-barangku terpaksa ku tinggalkan demi menyelamatkan diri... huhhhh!" Rahma sedikit menghembus poninya.
"Tengah malam aku berjalan seorang diri dan tak tau harus kemana...diperjalanan malam tersebut aku dihampiri seorang laki-laki dengan mobil mewahnya. Namanya adalah Andi. Dia mengajakku untuk ikut bersamanya. Awalnya aku menolak karena takut, tapi dari pada tak tau harus kemana akhirnya aku mengikutinya.
Dalam perjalanan dia terus bertanya-tanya tentangku, siapa aku? dan kenapa aku ada dijalanan sendirian?. Aku hanya diam tak menjawab karena takut. Aku sempat merasa menyesal ikut pergi dengannya. Dia sempat menawarkan untuk mengantarku pulang tapi aku menolak. Pada akhirnya aku malah terus ikut sampai kerumahnya." nada bicara Rahma mulai memberat.
Ana melihat raut wajah Rahma tampak tak kuat untuk bercerita. Tergambar diwajahnya betapa suram hidupnya pada kala itu.
__ADS_1
Rahma kembali bercerita. "Sungguh benar firasat ku. Laki-laki itu memang mau berniat buruk pada ku. Dia memaksaku masuk kedalam rumahnya. Aku mencoba melarikan diri tapi dia dengan cekatan memelukku dari belakang. Bahkan dia dengan ganasnya memegang kedua buah dadaku. Aku terus berteriak tapi malam itu sangat sunyi. Beruntung saat itu tanganku berhasil meraih vas bunga di teras rumahnya dan memukulnya dengan sangat kuat. Dia langsung terkapar dilantai. Ketika dia hendak bangun aku langsung menimpa kepalanya dengan sebuah pot bunga besar dihalaman terasnya tersebut.
Dia pingsan tak sadarkan diri. Dengan segera aku mengambil kunci mobilnya dan kabur mengunakan mobilnya. Seharian sampai pagi aku terus berkendara didalam mobil tanpa arah dan tujuan" Rahma menghentikan ceritanya.
"Kenapa kak?" tanya Ana yang melihat Rahma termenung.
"Kau tau?.. pagi itu juga aku dikejar-kejar polisi atas tuduhan penyerangan serta pencurian mobil. Hanya dalam waktu 10 menit pengejaran, polisi berhasil menangkap ku. Bukti-bukti atas tuduhan ku sangat lah kuat hingga aku langsung dijatuhkan hukuman dua tahun penjara.
Kehidupan dalam penjara sangat lah kejam. Diantara para polisi tersebut ada seorang polisi yang bejat. Beberapa kali di mencoba menyetubuhiku tapi selalu gagal karena ketika dia hendak menyetubuhiku aku kotori tubuhku dengan kotoranku sendiri yang membuatnya jijik dan membatalkan niatnya." Rahma tak kuasa lagi menahan tangisnya.
"Kak... kenapa kak Rahma mampu berbuat hal segila itu?" tanya Ana yang juga sangat merasa sedih.
"Kau tau? bagi seorang wanita yang punya perasaan malu, lebih baik mati dari pada kehilangan harga dirinya." jawab Rahma dengan tegas walaupun air mata menetes di pipinya.
Tersentak hati Ana mendengar jawaban Rahma. Ini menunjukan bahwa Rahma adalah wanita yang sangat menjaga harga dirinya. Dia tidak mau sembarangan orang merusak tubuhnya.
__ADS_1
"Tiga bulan aku berada dipenjara. Tubuhku berubah sangat drastis. Kulitku mulai memburuk. Tumbuh nanah dan bengkak hampir disekujur tubuhku. Ditambah penyiksaan yang dilakukan oleh para napi wanita disana membuat tubuhku benar-benar hancur. Tapi setiap cobaan pasti ada hikamahnya. Pertama kali aku bertemu dengan bang Bima yang sedang melepaskan salah seorang anak buahnya yang ditangkap polisi.
Dia terus menatapku seperti rasa kasihan dan iba. Dia kemudian berbincang banyak dengan kepala lapas. Dan setelah dia berbincang dua orang petugas lalu membuka pintu jeruji besi ku dan meminta ku keluar. 'Sekarang kau sudah dibebaskan.' begitu katanya pada ku seraya menyerahkan pakaianku yang terakhir kali ku pakai." Rahma mulai menghapus air matanya.
Dengan menghirup nafas panjang Rahma kembali melanjutkan ceritanya. "Pertama yang dilakukan bang Bima adalah merawatku dirumah sakit. Setelah sembuh dia memintaku menceritakan semua masalah ku hingga aku bisa dipenjara. Ketika melihat wajahnya saja aku sudah sangat percaya padanya. Dengan berani aku menceritakan semua kisah ku padanya. Dia bahkan menangis mendengar ceritaku. Setiap hari dia datang kerumah sakit untuk menjengukku. Dan disana aku mulai menyukainya.
Setelah sembuh dia langsung mengantarku pulang. Aku sempat menolak tapi dia berkata bahwa dia sudah membayar semua hutang ayahku dan aku tak perlu khawatir lagi." Rahma mulai tersenyum.
"Aku benar-benar tak rela melepas pandangannya setelah aku sampai dirumah. Aku terus mengingat wajahnya dimanapun aku berada. Aku tau bang Bima sudah menikah tapi aku tak bisa membohongi perasaanku. Dengan berani ketemui dia dan ku ungkapkan semua perasaanku padanya. Bahkan aku juga pergi menemui Nisa. Aku tau waktu itu Nisa sangat marah padaku tapi tak ada hati seorang perempuan yang kukenal dalam hidupku sebaik hati Nisa yang mau menerimaku sebagai istri kedua suaminya. Karena itu bang Bima dan Nisa adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku." Rahma tersenyum dan memegang tangan Nisa.
"Begitulah akhir ceritaku tidak terlalu panjang, tapi begitulah masa-masa hidupku sebelum aku bertemu bang Bima." Rahma mengakhiri ceritanya.
"Indah sekarang giliranmu!" perintah Nisa sambil menatap Indah.
"Hmmm." Indah sedikit ragu-ragu.
__ADS_1
\*\*\*