
Bukan suatu tempat pemandian yang nyaman bagi Rahma dan Indah. Apalagi ini kali pertama mereka merasakan mandi di tempat seperti itu. Terletak di antara rumah-rumah warga. Hanya berdinding seng dan tanpa atap membuat hati mereka berdua tidak tenang.
“Na.. apa nanti tidak ada yang akan mengintip?” Tanya Rahma sambil melihat-lihat keseliling.
Ana mendekat dan berbisik di telinga Rahma dan Indah. “Nanti kak Rahma sama Indah mandinya duduk.. jangan berdiri.. soalnya ada bapak-bapak yang tinggal di rumah dua lantai warna kuning itu suka ngintip dari rumahnya.. jika kita jongkok atau duduk maka gak bakalan kelihatan.” Jelas Ana pada Rahma menunjuk sebuah rumah di bagian depan tempat pemandian.
Karena rasa khawatir di intip pria mesum, Rahma dan Indah mandi dengan begitu cepat seperti anak sekolah yang bangun kesiangan. Kurang dari sepuluh menit mereka telah meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah.
Ketika hendak masuk ke rumah, seorang tetangga berteriak memanggil Ana. “Na.. belum lama ini ada wanita yang keluar dari rumah kamu sambil nangis-nangis.. dia lari keluar kompleks.. kami tak berani mencegahnya karena dia membawa pisau.”
“Kak Nisa.”
Tanpa pikir panjang mereka bertiga langsung berlari mengejar Nisa yang berlari meninggalkan rumah. Sudah di pastikan bahwa Nisa berada di bawah tekanan batin yang besar.
Beruntung Nisa belum pergi terlalu jauh. Tepat berada di depan gang kompleks segerombolan warga kompleks tampak sedang memegangi Nisa yang sedang mengamuk. Melihat itu Ana berlari semakin cepat untuk segera menenangkan Nisa.
Ana langsung mendekap dan memeluk Nisa dengan erat. Pelukan Ana berhasil menenangkan Nisa. “Kak.. kak Nisa tenang.. apa masalah kak Nisa kita selesaikan bersama.”
“Na.. Rafa.. Rafa anakku Na.. ayo kita jemput dia Na.” Pinta Nisa dengan tangisan yang menjadi-jadi.
“Tenang kak.. besok kita jemput dia ya kak.. sekarang kita kembali ke rumah.” Bujuk Ana dengan lembut.
Kemudian Ana mengisyaratkan pada Rahma dan Indah untuk memandu Nisa kembali ke rumah. Ana berbalik menghadap warga yang tampak masih bertanya-tanya.
“Terima kasih pak atas bantuannya.. kalau tidak mungkin kakak saya tadi udah sampai kemana-kemana.” Ucap Ana sambil menundukkan kepala.
“Ya sama-sama.. tapi kalau boleh tau dia kenapa ya?” Tanya seorang warga gang depan tersebut.
“Dia habis kehilangan anaknya pak.” Jawab Ana sedikit tampak sedih.
“Hmm begitu.. kami turut berduka cita mendengarnya.”
“Baiklah pak saya mau balik ke rumah dulu.” Ucap Ana pamit sambil membalikkan badannya.
“Tunggu.. kamu Ana kan?” Tanya seorang pemuda gang depan itu. Memang warga gang depan belum tau dengan kedatangan Ana, karena rumah Ana berada di paling ujung kompleks tersebut.
__ADS_1
“Ana? Ana mana? Kamu kenal?” Tanya warga-warga yang lain kepada pemuda itu.
“Iya kalau gak salah dia ini Ana anak almarhum buk Ida yang tinggal di ujung kompleks.” Jelas pemuda itu.
“Ooo Ana anak almarhum buk Ida.. yang udah lama merantau itu ya?” Tanya warga-warga yang lain.
“Iya saya Ana pak.. saya tadi malam baru sampai sini.. cuman saya belum sempat lapor sama ketua RT kompleks ini pak.” Jelas Ana pada para warga.
“Na.. kamu ingat aku gak? Aku Andi teman SMA kamu dulu.” Ucap pemuda itu memperkenalkan dirinya.
“Ooo Andi.. aku ingat kok.” Jelas Ana yang sebenarnya sedang mencoba untuk mengingatnya lagi.
“Na.. kamu tau gak siapa ketua RT disini? dia sekaligus menjabat sebagai seorang bupati kota ini loh.” Tanya pemuda itu lagi.
“Siapa emangnya?”
“Nanti juga kamu bakal kenal Na.”
“Kalau gak mau jelasin gak usah bikin penasaran juga kali.” Gumam Ana dalam hati. “Ya udah aku balik dulu ya.” Ucap Ana langsung kembali ke rumahnya.
“Sekarang kita biarkan bang Bima dan kak Nisa disini.. kita bersihkan dulu kamar almarhum Ibu aku dulu baru kita pindahkan mereka kembali kesana.” Jelas Ana pada Rahma dan Indah.
Dengan bergotong royong mereka membersihkan kamar almarhum ibu Ana itu. Debu yang tebal dan jaring laba-laba telah menyelimuti kamar itu. Setelah membersihkan seluruh kamar itu, Ana kemudian membuka lemari almarhum ibunya kemudian mencari beberapa daster ibunya yang masih bagus.
Ana memberikan sebuah daster pada Rahma dan Indah. Karena tak ada pakaian lain mereka terpaksa mengenakkannya. Setelah itu mereka bertiga berdiri di hadapan cermin.
“Na.. aku kok udah kayak ibuk-ibuk aja Na.” Ucap Indah merasa malu mengenakannya.
“Mendingan kamu Ndah.. kamu gak liat ini dasternya sempit sama aku.” Balas Rahma menarik-narik daster itu biar lapang.
“Hahaha hahaha.” Ana tertawa melihat Rahma dan Indah karena memang daster itu tak cocok untuk mereka. Sedangkan untuk Ana sendiri daster itu sangat pas dan cocok untuk tubuhnya.
“Udah pake aja dulu.. sampai nanti kita beli yang baru.” Ucap Ana sambil berhenti tertawa. “Oh ya kamarnya udah bersih.. kita pindahkan lagi bang Bima sama kak Nisa kesini.. baru kita bersihkan kamar sebelah untuk kita bertiga.”
“Jadi kamar ini hanya untuk Nisa dan bang Bima?” Tanya Rahma.
__ADS_1
“Iya kak.. untuk sementara mengalah aja dulu.” Jawab Ana tau bahwa Rahma tak menyukai hal itu.
“Hmm oke lah.”
Setelah memindahkan Nisa dan Bima ke kamar yang telah di bersihkan, mereka lanjut membersihkan kamar lama Ana yang banyak buku berserakan di lantai. Terlebih dahulu mereka membersihkan tempat tidur dan mengganti alas kasur dengan yang masih bersih di lemari kamar Almarhum ibu Ana tersebut.
Indah merapikan buku yang berserakan dan membuka lemari lama Ana untuk memasukkan buku-buku itu kesana. Ketika hendak memasukkan buku itu ke lemari, Indah melihat sebuah album foto milik Ana waktu masih SMA. Karena rasa pemasaran Indah pun mengambil dan membukanya.
“Na.. wah ini pas kamu SMA kelas berapa Na?” Tanya Indah duduk santai di ranjang sambil melihat-lihat foto Ana.
“Ehhh jangan..” teriak Ana menjangkau album foto itu.
Dengan cekatan Indah menyembunyikan album foto itu di belakang punggungnya. Ana terus berusaha untuk mengambilnya kembali. Tapi Indah tetap tak mau memberikannya.
“Kak Rahma tangkap.” Sahut Indah melempar buku itu ke arah Rahma. “Jangan kasih itu ke Ana.. itu album fotonya Ana pas SMA.” Sambung Indah.
“Kak.. jangan liat kak.. aku malu.. balikin ke aku kak.” Pinta Ana pada Rahma.
“Ah gak mau ah.. Hmm bagaimana kita liat sama-sama.” Ucap Rahma membuat kesepakatan.
“Hmm ya udah tapi biar aku yang pegang.”
“Biar adil aku aja yang pegang Na.. kan aku yang nemuin.”
Indah duduk di tengah-tengah Rahma dan Ana sambil memegang album foto tersebut. Ia buka perlahan lembaran demi lembaran menyaksikan keceriaan Ana waktu SMA.
“Na.. ternyata dari dulu kamu Emang udah cantik ya.” Puji Indah melihat foto-foto Ana ketika menggunakan seragam SMA. “Ini foto kamu kelas berapa Na?” Sambung Indah beratanya melihat sebuah foto bersama di kelasnya.
“Oh itu.. itu waktu aku kelas sebelas di saat perpisahan sama wali kelas yang pindah dinas.” Jelas Ana pada Indah.
“Ternyata kamu pun juga yang paling cantik di kelas ya Na.” Puji Indah sekali lagi.
“Hahaha tapi kamu lebih cantik dari aku kok Ndah.” Balas Ana merendah.
Tiba-tiba Indah membuka sebuah lembaran foto yang terlihat Ana sedang berdiri berdua dengan seorang siswa yang tampan. Dengan reflek Ana menutup foto itu dengan kedua tangannya. Sangat terlihat jelas bahwa Ana tak ingin Rahma dan Indah melihat foto itu.
__ADS_1