4 Istri

4 Istri
Ch 30 Menghibur Bima


__ADS_3

Bang Ajis tidak main-main dengan kata-katanya. Dua hari setelah kejadian tersebut bang Ajis tak pernah menampakkan dirinya lagi di rumah. Ada yang bilang dia telah pergi keluar kota.


Kehidupan di rumah terasa sedikit hambar. Bagaimana tidak, orang kepercayaannya telah menghilang, orang yang selalu menjaganya juga sudah meninggalkannya dan orang yang selalu merawat rumahnya masih belum kembali.


Keempat istri Bima sadar akan hal ini. Terutama Nisa dan Ana. Mereka berdua merasa ini semua terjadi karena ulahnya.


Tepat sore hari ketika sinar mentari tidak lagi menyengat Ana datang menuju kamar Bima.


"Ada apa Na?" tanya Bima melihat Ana masuk ke kamarnya.


"Bang ikut aku sekarang." jawab Ana mengacungkan tangannya.


"Kemana Na?" tanya Bima sedikit penasaran.


"Udah ikut aja!!" balas Ana langsung menarik tangan Bima.


Dengan sedikit lari-lari kecil Ana menarik Bima keluar rumah dan menuju pantai. Ternyata disana bukan hanya ada mereka berdua melainkan Nisa, Rahma dan Indah pun juga sudah menunggu.


"Ana!! bang Bima!! cepetan!!" teriak Nisa melambaikan tangan dari tepi bibir pantai. Ana langsung mempercepat larinya.


"Kita ngapain?" tanya Bima lagi penasaran.


"Mumpung hari ini cerah kita berenang yuk." jawab Nisa membuka pakaiannya dan hanya menyisakan pakaian bikini nya. Dia sadar bahwa di rumah mereka sedang tidak ada siapa-siapa karena anak buah Bima sedang beristirahat.


Melihat Nisa membuka pakaiannya, ketiga istri Bima yang lain ikutan membuka pakaiannya. Mereka menghamburkan pakaiannya ke wajah Bima dan memamerkan tubuh seksi beserta kulit putih mereka. Setelah itu dengan cepat mereka menarik Bima ke menuju air.

__ADS_1


Sungguh membuat Bima tergoda tapi. "Tunggu.. tunggu!! luka di punggung ku bagaimana?" tanya Bima memutar kepala untuk melihat punggungnya.


"Udah kering kok bang.. udah gak masalah kena air walaupun air laut." jawab Indah yang langsung mengangkat baju Bima melihat punggungnya.


Langsung saja mereka menarik Bima masuk kedalam air. Dengan riang mereka menyiram tubuh suami mereka itu beramai-ramai. Mereka bercanda dan bergelut bagaikan anak kecil. Tujuan mereka menghibur suaminya mereka cukup berhasil karena bisa membuat suami mereka kembali tertawa.


Ana mendekat dan berbisik ke telinga Bima. "Bang tau gak?.. Indah itu gak bisa berenang.. coba kamu kerjain."


Bima mengangguk dan setuju karena ini merupakan ide yang cukup bagus. Akan tetapi Indah sudah mengetahui niat mereka. Indah mencoba berlari, namun sayangnya Bima berhasil menangkapnya dan menyeretnya kembali kedalam air.


Langsung saja Bima membawa istri ketiganya itu menuju tempat yang agak dalam. Meski mendapat sedikit perlawanan, Bima hanya tertawa dan tak memperdulikannya.


"Bang.. bang Bima.. ga lucu bang.." rengek Indah ketika ia berada di perairan agak dalam. Ia semakin takut ketika ia ulurkan kakinya kebawah mencari pijakan tapi kakinya tidak menemukan sedikitpun pijakan. "Bang.. jangan.." teriak Indah sangat ketakutan.


Bima semakin tertawa lepas melihat ekspresi istri ketiganya ini. Wajah lugunya berubah menjadi wajah cengeng nan manja. Terlebih ketika Bima mencoba meninggalkannya. Indah berteriak dengan sangat keras.


Ketiga istri Bima yang lain langsung menghampiri mereka. Bukan untuk menolong, tapi kembali mengerjai Indah. Mereka bertiga mencoba melepaskan tangan indah yang memeluk Bima. Ketika sudah berhasil mereka kembali membawa Indah agak ketengah.


"Kak.. Nisa jangan.." Indah mulai menangis.


Melihat itu mereka jadi tidak tega dan membawanya kembali ke bibir pantai. Ketika berada dibibir pantai pun mereka malah lanjut menertawai Indah melihat ekpresi tangisnya yang sangat lucu.


Tak tega melihat istri ketiganya menangis Bima langsung datang memeluknya. "Udah gak usah nangis lagi.. aku kan cuma bercanda." ucap Bima sambil mengusap kepala Indah.


"Ah.. bang Bima jahat." balas Indah dengan manjanya seperti anak kecil.

__ADS_1


"Cup.. cup .. cup.. adek jangan nangis lagi ini kakak kasih permen.. hahaha." ledek Ana sambil tertawa lepas.


"Ana awas kamu ya!!" Indah melemparkan pasir kearah Ana. Kemudian Ana kembai memeluk Bima dengan erat. "Liat.. suami kalian milik aku malam ini." sambungnya mencibir ke arah Ana.


Ana mendekat dan menarik tangan Indah. "Indah sayang.. sebelum kak Nisa hamil dan punya anak kamu belum boleh ngapa-ngapain sama bang Bima." ucap Ana melepaskan pelukan Indah kepada Bima.


"Pokoknya aku gak mau tau.. aku harus sama bang Bima malam ini." balas Indah bersikeras.


Ana langsung menatap Bima, mengisyaratkan agar Bima bisa menjelaskannya pada Indah. Bima mengerti, namun ia menjelaskan pada indah bukan lewat kata-kata tetapi lewat ciuman dari bibirnya yang langsung melekat pada bibir Indah.


Indah benar-benar kaget. Tubuhnya tersentak. Jantungnya berdebar kencang tak karuan. Matanya terpejam mencoba merasakan sensasi luar biasa yang keluar dari dalam tubuhnya.


Perasaan Indah semakin melonjak ketika Bima mengisap lidahnya dan juga memegang lehernya. Indah sedikit terangsang karena ia baru merasakan ini pertama kalinya.


Bima perlahan melepas ciumannya. Tapi indah menolak melepasnya. Ia tetap menahan ciuman tersebut sampai ia puas. Ketika Indah sudah sedikit lengah, baru lah Bima bisa melepas ciumannya.


"Indah udah ya.. aku mau bersihin badan dulu." ucap Bima membujuk Indah.


"Aku ikut.." balas Ana memegang tangan Bima.


"Kenapa indah bisa begini.. apa karena film dewasa yang kami tonton ya?" pikir Ana dalam hati. "Indah kamu disini aja sama aku dan kak Rahma.. biar kak Nisa yang menemani bang Bima." ucap Ana sambil mengisyaratkan Nisa untuk pergi bersama Bima.


Nisa pun beranjak pergi bersama Bima menuju rumah. Terlihat bagaimana Bima menggendong Nisa dengan mesranya.


"Na.. kenapa kamu bisa begitu kuat menahan hasrat mu." tanya Indah menatap Ana.

__ADS_1


"Sebenarnya aku juga sudah pengen untuk merasakan itu.. tapi aku ingin bang Bima tetap berlaku adil.." jawab Ana tersenyum


__ADS_2