
Bima dan Ana mulai melangkah menuju garasi mobil.
"Bang Ajis... tolong antarin kami ke pasar." ucap Bima pada bang Ajis.
"Siap Bos!!!"Jawab bang Ajis membuka pintu mobil.
"Tunggu.. aku mau kita pergi berdua aja!" ucap Ana menghentikan langkah bang Ajis.
"Lah... kemana-mana bos itu selalu sama saya!!!" balas bang Ajis nyolot.
"Ok.. bang sini kunci mobilnya." kata Bima sambil meminta kunci mobil.
"Eits.... siapa bilang kita naik mobil.. aku ingin naik motor.. biar gak macet." ucap Ana lagi dengan wajah ngeselin.
"Aku kan gak punya motor!!" balas Bima sedikit kesal.
"Wah.. bener-bener wanita gila." sambung bang Ajis ikutan kesal.
"Siapa suruh nikah sama aku!!!" balas Ana memlototi mata Bima.
"Ok.. bang Ajis.. tolong telpon dealer terdekat.. suruh mereka antar motor kesini." ucap Bima pada bang Ajis.
"Lah.. kelamaan.. pinjam tetangga aja." balas Ana terus mempersulit keadaan.
"Rumah orang terdekat ada 500 meter dari sini Na.." jawab Bima semakin jengkel.
"Ya udah kita jalan aja dulu." balas Ana tak mau tau.
"Wah.. gak usah dengerin bos.. emang udah gak waras nih istri bos!!" ucap bang Ajis bertambah kesal.
"Eh supir diam!!" balas Ana kembali memlototi.
"Ok ok ok.. ayok lah dari pada kelamaan." ajak Bima dengan segera mulai berjalan.
"Wah.. bos beneran mau dengerin dia.." sahut bang Ajis tak percaya apa yang ia lihat.
Ana tersenyum jahat mendapati rencananya mengerjai Bima berhasil.
Sudah 200 meter mereka berjalan. Ana kembali ingin mengerjai Bima. Ia pun mulai melancarkan rencananya.
"Aduh.. kaki aku sakit." rengek Ana dari belakang Bima.
Bima segera balik badan dan langsung menolong Ana. "Kamu gak apa-apa? masih kuat jalan kah?" tanya Bima khawatir.
__ADS_1
"Kayaknya aku udah gak kuat jalan.. kamu gendong aku ya." jawab Ana dengan akting wajah kesakitan.
"Hah gendong?" tanya Bima sedikit kaget.
Ana hanya menatap wajah Bima pertanda bahwa tak ada pilihan lain.
"Ya udah iya..." ucap Bima sambil membungkuk menghadapkan punggungnya ke arah Ana.
Ana naik ke punggung Bima sambil tertawa geli. Ia tak menyangka bahwa Bima akan se patuh ini padanya. Hanya dengan akting abal-abal Bima langsung menuruti kemauannya.
Ana memeluk pundak Bima dengan erat dan menyandarkan kepalanya ke bahu Bima.
"Ini kendaraan ternyaman yang pernah aku naiki." gumam Ana dalam hati.
"bang.. kamu kalau capek bilang aja.. kayaknya kaki ku sudah gak keram lagi." ucap Ana merasa tak tega setelah berjalan lebih 100 meter.
"Ga apa-apa Na.. ini tu ganti yang kemarin sore." balas Bima sambil tertawa kecil.
Tanpa pikir Ana langsung mengigit lehernya Bima.
"Ih.. kanibal!!" ucap Bima karena sedikit geli.
"Yang kemarin gak bisa diganti dengan ini.. harus kamu lanjutin!!" ucap Ana spontan.
Ana langsung menyembunyikan wajahnya dibalik pundak Bima merasa malu karena keceplosan.
"Bang.. itu rumah orang udah kelihatan.. turunin aku disini aja.. ntar kamu malu dilatin orang." kata Ana meminta turun.
"Udah... gak apa-apa kok Na.. aku kan gendong istri sendiri.. bukan istri orang lain.. jadi ngapain malu?" balas Bima tak mau menurunkan Ana.
"Pak!!" sahut Bima dari kejauhan.
"Tuan muda.. ada apa tuan?" tanya bapak itu penasaran.
"Pinjam motor pak!!" pinta Bima yang masih menggendong Ana.
"Motor? buat apa tuan?" tanya bapak itu lagi penasaran.
"Ga usah banyak tanya ..cepetan!!" bentak Bima.
"Heh.. gak boleh marah-marah kalau minjam punya orang." balas Ana memarahi Bima.
"Baik tuan.. saya keluarkan motor saya dulu." ucap bapak itu sambil tertawa geli setelah membelakangi Bima.
__ADS_1
Setelah sang bapak mengeluarkan motornya. Bima dan Ana langsung menuju pasar. Dalam perjalanan banyak mata yang memperhatikan mereka. Ada yang terperangah, ada yang tertawa, ada juga yang tak yakin bahwa orang yang dilihatnya adalah Gashar.
"Bang kita parkir disitu." ucap Ana sambil menunjuk tempat parkir.
Setelah memarkirkan kendaraannya Bima dan Ana langsung masuk ke los sayur di pasar. Ana melihat banyak sayuran segar dan sangat ingin membelinya.
"Harga sayur bayamnya seikat berapa buk?" tanya Ana pada salah seorang pedagang.
"Rp 3.500 dek." jawab ibu-ibu pedagang tersebut.
"Aku beli 2 ikat ya buk." ucap Ana sambil memilih bayam yang bagus.
"Bang duit..." pinta Ana pada Bima.
Bima langsung mengeluarkan uang Rp 50.000 dari sakunya dan membayar sayur tersebut.
"Bang.. bawa ini!!" ucap Ana sambil memberi kantong sayuran tersebut.
Bima kemudian menerimanya dari tangan Ana dan mereka lanjut mencari kebutuhan lainnya.
Semua mata orang dipasar tersebut tertuju ke arah Bima. Mereka merasa tak percaya orang sebesar Bima masuk ke pasar. Biasanya ia hanya lewat menggunakan jip di iringi pasukannya.
"Na.. aku teringat pas liat kamu disini.. apa benar anak yang kamu tolong itu adek kamu?" tanya Bima.
"Bukan.. dia adalah anak seorang ibuk-ibuk yang sangat takut padamu hingga tak mampu menolong anaknya." jawab Ana sambil terus melihat segala arah di pasar tersebut.
"Emang kenapa?" sambung Ana bertanya sambil melihat wajah Bima.
"Ehmm gak apa-apa kok." jawab Bima singkat.
Setelah merasa semuanya cukup Bima dan Ana segera meninggalkan pasar. Ketika sedang berjalan menuju parkiran seseorang tak dikenali langsung menyerang Bima diam-diam. Dia menusuk punggung Bima dari belakang dengan pisau.
Melihat itu Ana dengan reflek langsung mendorong laki-laki itu. Bima terkapar kesakitan karena luka tusukan. Orang itu langsung melarikan diri setelah melihat Bima yang terkapar.
"Jangan lari kau bedebah!!" teriak Ana pada orang itu.
Dengan segera Ana menelfon bang Ajis. "Bang.. ada orang yang nyerang bang Bima.. dia pakai jaket warna hitam dengan tulisan adidas dipunggungnya.. ia juga menggunakan celana jeans hitam.. badannya kurus dan tingginya kira-kira 170cm.. cepat bawa dia padaku hidup atau mati." perintah Ana dengan nada suara berat menahan tangis.
"Baik nyonya!!" balas bang Ajis menutup telfon dan langsung menuju pasar bersama seluruh pasukannya.
"Bang.. bertahan aku akan cari bantuan." ucap Ana sambil terus menangis.
Banyak orang yang menyaksikan kejadian itu. Dan mereka beramai-ramai segera menolongnya.
__ADS_1