
Dimana lagi keberuntungan buat keempat istri tersebut. Suami mereka masih dalam keadaan sekarat dan telah kehilangan seluruh harta bendanya. Bahkan saat ini mereka tak punya lagi tempat tujuan untuk bertahan hidup.
Ana dan Indah saat ini sedang berada di kantor polisi demi dimintai keterangan tentang pelanggaran yang mereka lakukan. Di dalam suatu ruangan, seorang inspektur berbadan gendut dan berkumis tebal duduk dihadapkan mereka.
“Jelaskan kenapa kalian mencoba melawan para petugas patroli saya?” Tanya inspektur itu dengan gaya angkuhnya.
“Pak.. saya sudah bilang.. saya itu kaget kenapa tiba-tiba ada polisi yang mengejar saya, sedangkan saya tak tau salah apa.” Jelas Ana dengan sedikit tegang.
“Hmm menurut laporan para petugas saya.. kalian juga hampir menabrak mereka.. apa benar begitu?” Tanya sang inspektur lagi.
“Pak.. itu kami cuma.. aaa..” Ana sedikit ragu dalam menjawab.
“Ayo.. kenapa kamu gak bisa jawab?” Bentak sang inspektur.
“Kami cuma mencoba membela diri pak.” Jawab Ana dengan spontan tanpa berpikir.
“Ooo jadi kamu anggap petugas saya adalah seorang kriminal gitu? Ya sudah lah, karena tanpa adanya keterangan yang jelas dari kalian berdua terpakasa kalian saya tahan disini selama dua minggu sambil saya dan tim saya melakukan penyelidikan terhadap kalian.” Balas sang inspektur sambil kembali bersantai.
“Pak.. ga bisa gitu dong.. salah kami apa? Petugas bapak tadi melepaskan tembakan makanya kami kabur.” Bantah Ana sambil mencoba mencari alasan.
“Dengar ya.. petugas saya tidak pernah menembak kalian.. mereka hanya beri tembakan peringatan agar kalian segera berhenti.. tapi kalian malah hampir menabrak mereka.. sampai disini apa kalian sudah sadar dengan kesalahan kalian?” Ucap sang inspektur membuat Ana tak bisa membantah lagi.
Sang inspektur kemudian menatap dengan tajam ke arah Ana dan Indah. Jelas sang inspektur sedang merencanakan sesuatu.
“Hmm sebenarnya saya bisa saja melepaskan kalian berdua secara cuma-cuma asalkan kalian mau melakukan sesuatu untukku.” Ucap sang inspektur sambil menyudu kopi yang terletak di mejanya.
__ADS_1
“Melakukan apa?” Tanya Ana mulai merasa ada yang janggal dengan pemikiran sang inspektur.
“Kalian berdua harus melayani saya malam ini.” Jawab sang inspektur tersenyum dengan sangat menjijikkan.
Mendengar itu Ana langsung naik darah. Ingin rasanya ia pecahkan kepala sang inspektur tersebut. “Apa anda pikir kami ini wanita murahan.. dan asal kamu tau, kami berdua juga sudah punya suami.” Balas Ana dengan sangat marah.
“Hahaha sepertinya kalian sangat ahli berbohong.. saya sudah tau jelas ciri-ciri orang yang sudah menikah sama orang yang belum menikah.. jadi ga usah bodo-bodohi saya.. sebaiknya kalian terima saja tawaran saya atau kalian akan membusuk di penjara selamanya.” Ucap sang inspektur sambil tertawa.
“Anda jangan macam-macam dengan saya.. anda belum tau dengan saya.” Balas Ana menggertak sang inspektur.
“Hahaha siapa kamu? Ooo apa kamu istri pemilik BIM Grup yang sangat kaya itu.. saya dengar istrinya ada empat.. apa kalian berdua salah satu istrinya? Hahaha sungguh kalian berdua sangat lucu.” Sang inspektur semakin tertawa mendengar gertakan Ana.
Ana menjadi semakin geram. Ia kepalkan tangannya kuat-kuat dan ia hempaskan kemeja membuat seluruh benda yang di atas meja berhamburan. “Saya tidak main-main dengan ucapan saya.. berani anda macam-macam dengan saya bukan hanya jabatan anda yang hilang, tapi kepala anda juga akan hilang.” Ucap Ana yang semakin bertambah marah.
Sang inspektur menjadi sedikit gentar melihat keberanian Ana dalam melawannya. Baru kali ini ia temui seorang wanita yang berani membentaknya bahkan memukul mejanya. Tak ingin melihat Ana semakin mengamuk sang inspektur langsung memanggil anak buahnya.
Ana menatap mata sang inspektur dengan sangat tajam. Sungguh tatapan mata Ana seperti harimau yang siap menerkam mangsanya. Sang inspektur lalu mengalihkan pandangannya karena mulai merasa takut.
Tiba-tiba seorang laki-laki masuk kedalam ruangan itu. Dengan menggunakan pakaian rapi dan jas hitam sedikit memberi informasi bahwa laki-laki ini seorang pengusaha atau pejabat. Sang inspektur lalu berdiri dan memberi hormat pada laki-laki itu.
Laki-laki itu kemudian menoleh ke arah Ana dan Indah yang sedang duduk di kursi. “Hah? Nyonya Ana.. ada urusan apa nyonya datang kemari?” Tanya laki-laki itu kaget dan seperti sangat mengenal Ana.
Wajah laki-laki itu memang cukup asing bagi Ana, tapi ia yakin bahwa ia pernah melihatnya. Setelah diingat-ingat Ana baru sadar ternyata laki-laki itu adalah salah satu anggota BIM Grup yang mengelola sebuah anak perusahaan dikota ini.
“Apa bapak kenal wanita ini?” Tanya sang inspektur mulai merasa gelisah.
__ADS_1
“Iya bagaimana mungkin saya tak mengenalnya.. dia adalah bos saya.. pimpinan kedua di BIM Grup serta istri dari pemilik BIM Grup itu sendiri.” Jawab laki-laki itu.
Bagaikan kilat yang menyambar, menghanguskan telinga sampai ke otak ketika sang inspektur mendengar kata-kata laki-laki. Keringat dingin menetes di pipinya. Dengan segera ia berlutut dihadapan Ana dan Indah. “Ampuni saya nyonya.. saya tak tau apa-apa.. saya khilaf dengan kata-kata saya yang tadi.. mohon nyonya agar mengampuni kesalahan saya yang bodoh ini.” Ucap sang inspektur memohon ampunan.
Melihat momen ini Ana punya sedikit kesempatan untuk menghajar sang inspektur walau sebenarnya ia sudah kehilangan segala yang dimaksud laki-laki itu. Untuk melepaskan amarahnya yang tadi Ana langsung melayangkan sebuah pukulan keras ke kepala sang inspektur yang membuat sang inspektur langsung tersungkur di lantai.
“Itu hukuman untuk mu yang lancang kepada saya.. untuk kali ini saya akan memaafkanmu.. tapi tidak untuk lain kali.” Ucap Ana sambil berdiri dari tempat duduknya.
Sang inspektur segera bangkit dan kembali berlutut. “Terima kasih nyonya.. terima kasih.” Balas sang inspektur merasa lega.
Ana dan Indah langsung meminta kunci mobil truknya dan keluar dari ruangan itu. Di ikuti laki-laki dan inspektur dari belakang mencoba mengiringi Ana.
“Nyonya.. pertanyaan saya belum nyonya jawab.. ada perlu apa nyonya datang kesini? Apa kunjungan nyonya untuk melihat anak perusahaan nyonya?” Tanya laki-laki itu dengan sangat penasaran.
Tampak jelas laki-laki itu belum mengetahui tentang apa yang telah menimpa Bima dan keluarganya. Ana sadar ia belum bisa mempercayai siapapun termaksud laki-laki ini. Bagaimanapun ia harus tetap bisa bersembunyi dari kejaran Rehan yang masih mengincar nyawa suaminya.
“Tidak.. saya hanya sedang melakukan piknik di daerah sini.. tapi saya telah kehilangan barang-barang saya karena di curi orang.. jadi saya menyewa truk ini untuk saya kembali ke kediaman saya.. sayangnya tanpa alasan yang jelas polisi ini malah menangkap saya.” Jawab Ana mencoba mengarang cerita.
“Aduh nyonya.. saya turut menyesal dengan apa yang menimpa nyonya di kota ini.. tak pantas lah rasanya nyonya pulang membawa truk rongsokan ini.. ini pakailah mobil saya.. karena mobil saya juga mobil nyonya.” Ucap laki-laki itu sambil menyodorkan kunci mobilnya.
“Terima kasih atas kebaikan mu.. pasti suatu saat akan saya balas semua kebaikanmu ini.” Balas Ana tersenyum pada laki-laki itu.
“Nyonya tak perlu membalas kebaikan saya.. apa yang selama ini diberikan oleh BIM Grup kepada saya sungguh sudah sangat berlebih saya dapatkan.” Ucap laki-laki itu sambil menundukkan kepalanya.
“Tak apa-apa kok.. saya cuma tak suka berhutang budi.. ingat saya tak akan melupakan kebaikanmu.” Balas Ana sambil berpamitan dan masuk kedalam mobil sedan laki-laki itu.
__ADS_1
“Na.. kamu hebat dan sudah terkenal ya.. sungguh beruntung kita gak jadi di penjara.” Ucap Indah merasa senang ketika mereka sudah meninggalkan kantor polisi.
“Untungnya laki-laki tadi belum tau kalau aku sudah gak jadi bos nya.. kalau dia tau, bisa-bisa bukannya selamat tapi malah tambah hancur hidup kita Ndah.” Balas Ana mempercepat laju kendaraannya mencari suaminya yang ia tinggalkan bersama Rahma dan Nisa.