4 Istri

4 Istri
Ch 6 Malam Pertama 2


__ADS_3

Tak seperti majikan pada umumnya. Gashar sangat menghargai orang-orang didekatnya. Setiap orang yang dia percayai adalah keluarga baginya.


Makan malam itu sangatlah mengejutkan bagi Ana. Bukan hanya para majikan yang duduk dimeja makan, tapi Bi Asih, Agus dan juga Bang Ajis turut makan bersamanya.


Suasana meja makannya sangatlah ramai. Tertawaan dan candaan menghiasi makan malam tersebut. Itu sangat membuat Ana bingung.


"(Pasti Si Manusia Biadab ini memaksa semua orang untuk bersandiwara.. aku tak akan mudah tertipu)." Ana bergumam dalam hati tak mempercayai yang ia lihat.


"Ana kenapa? itu makanannya belum dimakan?" tanya Nisa yang sedang memperhatikan Ana.


"Ga apa-apa.. cuman lagi ga enak badan.. aku mau kekamar dulu." jawab Ana dengan jutek.


Dengan segera Ana meninggalkan meja makan dan masuk kedalam kamarnya. Sebenarnya dia lapar, tapi rasa laparnya tertutupi dengan rasa bencinya terhadap Gashar.


"Tunggu sebentar.. aku akan ke kamarnya Ana" kata Gashar berdiri dari tempat duduknya.


"Ga usah bang.. kami tau bagaimana perasaan dia sekarang." balas Nisa menghentikan Gashar.


"Bi Asih tolong antar makanan ini ke kamarnya Ana.. saya yakin dia pasti lapar." lanjut Nisa memerintahkan Bi Asih.


"Baik Nyonya." jawab Bi Asih seraya mengambil makanan untuk Ana.


"Yang semalam jadi lanjut ga nih?" tiba-tiba Rahma sedikit memberi kode kepada Gashar.


"Hahaha gak sabaran banget.. ayok lah lanjutin." jawab Gashar bersemangat.


"Ya ampun Rahma.. ini makanannya belum habis loh." kata Nisa dengan cemberut.


"Ya udah lah ga apa-apa.. ini ronde terakhir loh." balas Gashar membujuk Nisa.


Akhirnya Gashar dan ketiga Istrinya menuju suatu ruangan tengah. Mereka berempat duduk dan membuka papan catur.


"Ini ronde terakhir.. kalau abang kalah akan dapat hukuman.. ga boleh curang ya." kata Rahma sangat bersemangat.

__ADS_1


"Hahaha walaupun kalian bertiga.. ga bakal kalah aku." balas Gashar juga sangat bersemangat.


Perang pikiran pun dimulai. Rahma yang menjadi komando penggerak bidak catur, sedangkan istri yang lain hanya menggangu konsentrasi Gashar.


Pertandingannya bukan berlangsung sengit, tapi selalu berlangsung rusuh. Mereka berempat seperti anak kecil yang tak mau kalah. Seperti ctrl+z dikomputer, pasti selalu ada pengulangan disetiap langkah yang salah. Tak heran sering terjadi cekcok kocak antara mereka. Gashar sebagai sang suami lebih sering mengalah.


Dari dalam kamar Ana mendengar suara hiruk pikuk dari ruang tengah. Ia sangat penasaran. Dengan rasa penasaran yang amat besar, Ana mencoba mengintip Apa yang sedang terjadi.


"Mereka lagi ngapain ya?" pikir Ana melihat mereka dari jauh.


"Nyonya ngapain?" tiba-tiba Bi Asih dari belakang menegur Ana.


"Astaga Bi Asih bikin kaget aja." Ana kesal karena kaget.


"*Ya habis Nyonya ngapain berdiri disini?" tanya Bi Asih penasaran.


"Hmmm... aku lagi liatin mereka... kira-kira mereka lagi ngapain ya Bi*?" Ana bertanya dengan ekspresi wajah yang sangat ingin tau.


"Ooo... mereka lagi main catur." jawab Bi Asih pelan.


"Iya Nyonya... itulah kepribadian Tuan yang Nyonya belum ketahui... dia memang sangat dewasa dan tegas ketika diluar rumah... tapi ketika bersama istri-istrinya, ia seperti halnya anak kecil." jelas Bi Asih kepada Ana.


Kemudian Ana berjalan mendekati mereka. Dia ingin melihat dari dekat, memastikan itu bukan sandiwara Gashar.


"Ana sini duduk!" kata Nisa menarik tangan Ana untuk duduk disampingnya.


Ana memperhatikan posisi bidak di papan catur. Posisi bidak catur Gashar sangat diunggulkan. Sudah dipastikan jika terus dilanjutkan maka Gashar lah yang akan menang.


Ketika Rahma hendak mengangkat bidak caturnya, Ana langsung berkata. "Jangan kesitu... itu jebakan... gerakan aja Ratunya terlebih dahulu."


Rahma pun menuruti kata Ana. Bahkan setelah itu Ana terus membantu Rahma dalam menggerakkan bidak caturnya.


Melihat kondisi yang telah berubah, Gashar pun berkata. "*Ah curang... masak 4 lawan 1... pertandingan dibatalkan."

__ADS_1


"Hahaha Abang kalah... pokoknya Abang kalah... harus terima hukuman*!" balas Rahma tak mau tau.


"Ih iya... jadi suami kok gak konsisten." balas Nisa cemberut.


"Ya udah iya... hukumannya apa?" kata Gashar pasrah.


Nisa, Rahma dan Indah kemudian berbisik. Gashar mulai merasa gak enak karena udah sering dijahili istri-istrinya.


"Ok... kami bertiga sudah buat keputusan... hukumannya Abang harus kami make up." kata Nisa sambil tertawa geli.


"Astaga... enggak ah!" balas Gashar menolak.


"Ayok lah Bang.. please!" bujuk Indah dengan wajah imutnya.


"Ah... ya udah iya." balas Gashar pasrah.


"Yess... yok langsung kekamar aku... Ana ikut juga ayo!" kata Rahma sembari menarik tangan Ana.


Gashar diiringi keempat Istrinya masuk kekamar Rahma. Bagaikan seorang yang tak berdaya, Gashar hanya bisa pasrah ketika para istrinya mulai mengotak-atik wajahnya. Mulai dari lipstik, bedak, eye liner, pensil alis, semua digunakan untuk mengotak-atik wajahnya Gashar.


Disini Rahma yang paling jahil. Dia bukan me-makeup dengan benar, tapi lebih kearah mencoret-coret wajahnya Gashar.


Penampilan Gashar tak lebih seperti seorang Badut setelah di make-up. Semua istri Gashar tertawa geli melihat wajahnya termaksud Ana. Ana benar-benar merasa terhibur.


"Udah puaskan?... aku mau tidur dulu." kata Gashar dengan wajah kesal.


Ketiga Istrinya masih saja tertawa hanya Ana yang tiba-tiba terdiam lalu berkata. "*Apa dia tidak marah diberlakukan seperti itu?"


"Ana... kamu masih baru disini... dan kamu belum mengenalnya betul... dia adalah seorang suami sempurna yang selalu bisa menghibur istri-istrinya... kamu tak akan menemukan suami sepertinya didunia ini*." balas Nisa dengan merangkul bahu Ana.


"Na... awalnya kami juga sama seperti kamu... kami takut dan benci padanya... tapi setelah hidup dan tinggal bersama ya kami langsung merasa sangat nyaman." sambung Rahma.


"Jika kamu mau dengar cerita pernikahan kami bertiga dengan Gashar... kami mau kok menceritakannya." tambah Indah.

__ADS_1


Malam itu Ana mulai mendengarkan cerita dari ketiga Istri Gashar tersebut.


__ADS_2