
Ana mulai sedikit penasaran pada Bima. Ia ingin tau lebih tentang suaminya. Walau terkadang ia berfikir bahwa seharusnya sekarang ia sangat membenci Bima.
Bima dan keempat istrinya duduk di meja makan menyantap sarapan mereka. Tetapi kali ini agak sedikit berbeda pada biasanya. Keempat istri Bima terlihat seperti menahan pembicaraan.
"Kalian kenapa? kok pada diam?" tanya Bima merasa aneh.
Tiba-tiba Rahma berdiri dan pergi tanpa sepatah kata pun. Bima bingung apa yang terjadi pada istri keduanya.
"Rahma.. kamu kemana.....?" sahut Bima memanggil Rahma tapi tak di acuhkan sama sekali. "Nisa.. Rahma kenapa?" tanya Bima pada Nisa yang duduk di dekatnya.
"Abang lanjut makan aja.. biar aku yang cari tau." balas Nisa sambil mengikuti Rahma.
Rahma terus berjalan menuju kamarnya diikuti Nisa dari belakang. Rahma kemudian membanting dengan keras pintu kamarnya lalu terjun keatas ranjang. Nisa juga ikutan masuk dan melihat Rahma dengan mata yang berair.
"Rahma kamu kenapa?" tanya Nisa penasaran.
"Kamu kenapa aku tak suka dengan Ana?" tanya Rahma yang dibalas Nisa dengan menggelengkan kepalanya. "Itu karena dia lebih spesial dari ku... aku takut suatu saat bang Bima jatuh ke tangannya dan membuat bang Bima meninggalkan ku." jelas Rahma dengan air mata yang mulai menetes.
"Rahma gak usah mikir begitu... aku tau yang kamu rasakan, karena aku juga pernah merasakannya.. percayalah, suami kita tak akan pernah mencampakkan kita." balas Nisa dengan kepala dingin.
__ADS_1
"Maaf Nisa... tapi aku tetap takut.. bukan karena tak percaya pada bang Bima tapi karena Ana sangat memberi pengaruh pada Bima." jelas Rahma sekali lagi.
"Rahma, udahlah." kata Nisa menenangkan Rahma sambil memeluknya.
Sementara itu bi Asih pelan-pelan datang menghampiri Bima.
"Bi Asih ayo sarapan.." ajak Bima.
"Gak usah tuan... saya cuma mau minta izin untuk pulang kampung beberapa hari,, karena anak gadis saya akan menikah." jelas bi Asih kepada Bima.
"Anak gadis bi Asih? si Nala maksud bi Asih?" tanya Bima penasaran.
"Iya tuan." jawab bi Asih menundukkan kepala.
"Iya tuan.. tapi setelah menikah Nala masih tetap sekolah kok tuan." jelas bi Asih lagi.
"Emang kenapa Nala harus menikah muda bi?" tanya Bima yang semakin penasaran.
"Heee i..tu.. buka..n kenapa-kenapa kok tuan." jawab bi Asih terbata-bata.
__ADS_1
"Bi Asih sembunyikan sesuatu dari saya.. bi Asih sudah saya anggap keluarga saya sendiri dan Nala sudah saya anggap sebagai keponakan saya.. jadi bi Asih tolong ceritakan apa masalah yang sebenarnya." kata Bima dengan tegas.
"Sebenarnya Nala dipaksa menikah sama juragan dikampung saya tuan.. gara-gara bapak saya ada hutang sama juragan tersebut." jelas bi Asih agak sedikit cemas.
"Di paksa... jaman sekarang masih berlaku pemaksaan?" Bima kaget mendengar penjelasan bi Asih.
"Ekhm..ekhm.." kode ledekan dari Ana.
Bima melirik kearah Ana. "Kenapa?" tanya Bima kesal melihat gaya Ana.
Kemudian Ana menghadap ke bi Asih. "Bi Asih... kayaknya nasib anak bi Asih ga jauh beda sama saya.. berakhir dengan paksaan." kata Ana dengan nada sindiran.
"Saya malah senang kalau nasibnya sama kayak nyonya.." balas bi Asih.
"Bi.. sekarang dengarkan saya baik-baik... bi Asih setuju gak dengan pernikahan anak bi Asih? kalau gak biar saya yang nolong bi Asih.. tapi kalau bi Asih setuju saya bisa kasih izin bi Asih untuk pulang." kata Bima menanyakan keputusan bi Asih.
"Saya setuju-setuju aja dengan pernikahan ini tuan.. juragan tersebut juga sudah lama membujang dan kata orang-orang dia juga ramah orangnya." jawab bi Asih.
"Hmm ya udah kalau begitu keputusan bi Asih.. jadi bi Asih mau berangkat jam berapa? biar saya pesan tiket pesawatnya sekarang.. untuk uang belanja nanti juga saya transfer ke rekening bi Asih." jelas Bima sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ni orang emang beda ya.. kadang dia tegas bagaikan seorang raja.. kadang dia sangat lembut dan ramah bagai malaikat dari surga." gumam Ana dalam hati.
"Makasih tuan.." kata bi Asih sambil memberi hormat.