
Kerumunan masa mendekat dan berkumpul menolong Ana. Bagaimana pun mafia yang terluka itu sangat berarti bagi perem
konomian masyarakat.
Seorang supir angkot lalu memberhentikan kendaraannya. "Ayo bawa naik tuan Gashar kesini." kata supir angkot tersebut dari tempat duduknya.
Dengan sekuat tenaga Ana dibantu beberapa orang di sana menopang tubuh Bima naik ke atas angkot.
Tangisan tiada henti mengalir di pipi Ana. Dia berfikir semua terjadi karena kesalahannya. Dia terus menopang tubuh suaminya yang sudah kehilangan banyak darah dan tak sadarkan diri di atas pangkuannya.
"Bang.. bertahan lah sedikit lagi.." gumam Ana dalam hati sambil memeluk leher suaminya.
Sang supir angkot semakin menaikkan kecepatan mobilnya. Hingga dalam waktu 15 menit mereka sudah sampai di rumah sakit umum kota tersebut.
"Tuhan selamatkan lah suami ku."
Mendengar kabar tentang Bima. Ketiga istri Bima yang di rumah segera menuju rumah sakit. Kecemasan dan kekhawatiran menyelimuti mereka.
Ana hanya bisa terus-terusan menangis melihat suaminya dibawa masuk ke ruang UGD. Mulutnya tak ada henti berdoa agar suaminya akan baik-baik saja.
Nisa yang baru sampai di rumah sakit bergegas menghampiri Ana. "Na.. apa yang terjadi.. bagaimana keadaan bang Bima sekarang?" tanya Nisa begitu cemas.
"Ana!!! jika terjadi apa-apa pada bang Bima.. maka sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkan mu!!!" ucap Rahma sangat marah karena khawatir.
2 jam lebih mereka menunggu tapi masih belum ada kabar. Nisa mencoba sedikit mengintip dari celah kecil dari jendela walaupun usahanya sia-sia karena tetap tidak bisa melihat dengan jelas.
Rahma dan indah termenung dan hanyut dalam perasaan khawatir yang amat deras. Sedangkan Ana masih saja menangis seperti ada danau di matanya.
15 menit kemudian seorang dokter di iringi beberapa suster keluar dari ruangan tersebut.
Keempat istri Bima langsung berdiri dan menghampiri dokter. "Apakah kalian keluarga korban?" tanya sang dokter melihat mereka yang berkerumunan menghampirinya.
__ADS_1
"Kami istrinya dok."
Sang dokter sedikit terperangah melihat 4 orang wanita cantik yang hampir sebaya dengan ekspresi cemas di wajah mereka. Yang membuat dokter terperangah bukan ekspresi mereka, tapi bagaimana seorang laki-laki bisa mendapatkan 4 wanita cantik sekaligus dengan usia hampir sebaya.
"Suami kalian baik-baik saja. Beruntung luka tusukanya tidak parah.. walau sebenarnya sedikit melukai organ dalam tubuh korban tapi tidak terlalu fatal.. jadi untuk sementara waktu kalian belum bisa melihat suami kalian sampai kondisinya kembali stabil." ucap dokter lalu beranjak pergi.
"Makasih banyak dok." jawab mereka berempat serempak.
Perasaan Ana benar-benar lega. Kekhawatirannya sudah sedikit berkurang. Sekarang dia teringat orang yang menikam suaminya.
Tiba-tiba handphone Ana berdering. Satu panggilan masuk dari bang Ajis tertera dilayar handphonenya. Dengan segera Ana mengangkatnya.
"Nyonya.. kami sudah berhasil menangkapnya." kata bang Ajis dari telepon.
"Bagus.. sekarang kalian dimana?" tanya Ana yang sudah tak sabar ingin mencabik-cabik tubuh pelaku penikaman suaminya.
"Kami ada di gudang pabrik tekstil sekarang.. kami menyekapnya disini." jawab bang Ajis.
Hanya dalam hitungan menit anak buahnya sudah sampai di rumah sakit.
"Ana mau kemana?" tanya Nisa penasaran.
"Kak aku titipkan suamiku padamu." ucap Ana membalikan badan dan menghadap ke anak buahnya. "Kalian tiga orang jaga disini.. satu orang antar saya ketempat pelakunya." perintah Ana dengan sangat tegas seperti suaminya.
Ana dan anak buahnya langsung menuju ke gudang tekstil tempat pelakunya di tahan. Ana masuk melalui pintu depan gudang yang sedikit terbuka.
Ana meraih balok kayu yang ada didekatnya. Ia berjalan dengan penuh amarah yang tak terbendung. Satu pukulan telak di ayunkan Ana ke kepala pelaku tersebut hingga terjatuh dari kursinya.
"Nyonya tahan.. kita belum tau siapa yang menyuruhnya melakukan itu." ucap bang Ajis menahan tangan Ana dan coba menenangkannya.
"Ok.. aku akan buat dia mengatakannya.. bawakan aku seember air panas yang mendidih." perintah Ana pada anak buahnya.
__ADS_1
"Baik nyonya." salah seorang Anak buah langsung pergi mengambil air panas yang mendidih.
"Cepat bangunkan dan sadarkan dia." perintah Ana lagi sambil ingin melakukan sesuatu.
Ana mengumpulkan sejumlah potongan kayu ditempat yang agak lapang. Kemudian dia menyusun kayu-kayu itu dengan saling bertumpuk. "Bakar kayu ini!" perintah Ana sambil mengambil sebuah belati yang digunakan si pelaku untuk menikam Bima.
Setelah apinya hidup Ana lalu melemparkan belati tersebut kedalam kobaran Api. "Biarkan belati ini terbakar hingga memerah." ucap Ana sambil berjalan ke arah sang pelaku.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini?" tanya Ana yang sangat garam pada orang yang telah menikam suaminya tersebut.
Orang itu hanya diam tak menjawab. Dia seperti benar-benar tak akan mau mengatakan sepatah kata pun.
"Nyonya.. ini air panasnya." ucap seorang anak buahnya yang telah kembali dari mengambil air panas.
"Siramkan se gayung air tersebut pada tubuhnya." perintah Ana dengan wajah yang Amat serius.
"Akhh...aaaa!!" teriak pelaku tersebut tak kuat menahan rasa sakit air mendidih yang menyiram tubuhnya.
"Ambilkan aku belatinya yang sudah terbakar itu." pintanya pada anak buahnya. Seorang anak buahnya mengambil belati yang sudah memerah tersebut lalu membungkus pegangannya dengan kain.
Dengan sangat sadis Ana menempelkan belati panas tersebut ke wajah si pelaku hingga terkelupas lah kulitnya.
Hal ini membuat semua orang yang menyaksikan termaksud bang Ajis terperangah. Bagaimana wanita ini bisa lebih ganas dari suaminya. Bahkan Bima tak pernah menyiksa musuhnya sampai sekejam ini.
"Katakan padaku siapa yang menyuruhmu atau penyiksaan ini tidak akan ada habisnya." ucap Ana sambil melepas belati tersebut dari wajah si pelaku.
"Aku.. tak akan pernah mengatakannya.. ******!" balas si pelaku sambil tertawa.
"Akhaaak..aaaa..aaaaa!!!" teriak si pelaku kembali ketika Ana kembali menempelkan belati panas tersebut di dadanya.
"Kalian semua teruskan siksa dia buat sampai dia mengaku!!" perintah Ana dengan sangat tegas.
__ADS_1