
“Kita harus segera pergi dari sini.. anak buah manusia biadab itu pasti sudah berkeliaran dimana-mana.” Ucap Ana yang baru saja selesai melakukan transfusi darah.
“Tapi kita harus kemana Na?” Tanya Rahma yang berdiri di dekat jendela depan puskesmas.
“Aku juga belum tau.. yang jelas kita harus segera tinggalkan kota ini.” Jawab Ana dengan tegas.
“Ana.. apakah lebih baik kamu beristirahat dulu.. kondisi kamu juga masih belum stabil.” Ucap Nisa ketika melihat Ana yang masih kelihatan lemas dan pucat.
“Aku baik-baik saja kak.. lebih bahaya lagi jika kita masih terus berada disini.”
“Iya kak Nisa.. Ana ada benarnya juga.. kita harus segera tinggalkan tempat ini.. biar aku yang mengendarai mobil.” Sambung Indah setuju dengan pendapat Ana.
“Baiklah kalau begitu.”
Dengan segera Rahma dan Indah menggendong tubuh Bima menuju mobil yang di parkirkan di halaman belakang puskesmas. Sedangkan Ana dan Nisa tampak sangat sempoyongan dalam berjalan.
Setelah membaringkan Bima di dalam countainer truk Indah segera menghidupkan mesin mobil tersebut. Ana memilih duduk disebelah Indah agar nantinya dapat memandu Indah dalam memberikan petunjuk arah jalan dan Nisa sendiri masuk kedalam countainer untuk menemani Bima bersama Rahma.
Mereka mulai menempuh perjalanan menuju luar kota dengan masih tanpa tempat tujuan yang jelas. Yang mereka pikirkan hanya bagaimana cara agar suami mereka bisa selamat dan kembali sehat seperti biasa.
Beruntung perjalanan yang mereka tempuh cukup mulus. Mereka berhasil keluar kota dengan selamat. Pertama yang mereka cari tentu adalah sebuah tempat peistirahatan. Tapi masih ada satu masalah. Sekarang mereka sudah tak punya apa-apa lagi. Seluruh harta benda mereka semuanya tertinggal di rumah bahkan pakaian mereka hanya tersisa yang ada di tubuh mereka.
“Na apa yang akan kita lakukan sekarang.. bensin mobil ini akan segera habis.. sedangkan kita tak punya uang sepeser pun.” Tanya Indah mulai merasa kebingungan.
“Indah.. kamu yang tenang.. aku masih punya cincin dan kalung.. nanti pagi kita cari toko perhiasan dan aku akan jual ini terlebih dahulu.. sambil menunggu pagi ada baiknya kita beristirahat di mobil saja dulu.” Jelas Ana yang sangat kelihatan letih.
“Baik lah.. kak Nisa, kak Rahma.. kita berhenti sebentar ya.” Ucap Indah melalui jendela kaca di belakangnya sambil menepikan mobilnya di jalanan yang masih kelihatan sepi.
Mereka mula beristirahat menunggu pagi yang masih tersisa beberapa jam lagi.
__ADS_1
***
Tuk.. tuk.. tuk. Seorang dari luar sedang mengetuk kaca mobil membangunkan Ana. “Dek.. parkir mobil jangan disini.. toko saya mau buka nih.” Ucapnya yang kelihatan sangat tidak senang dengan keberadaan Mobil Ana.
Ana segera membuka matanya dan menurunkan kaca mobil. “Oh ya maaf pak.. kami habis melakukan perjalanan jauh jadi agak kelelahan.. kalau boleh nanya toko yang menjual perhiasan di daerah sini ada dimana ya pak?” Tanya Ana setelah meminta maaf.
Bapak itu kemudian menatap Ana dengan sinis seperti memendam suatu kecurigaan. “Emang kamu dari mana? dan ngapain cari toko perhiasan? Dan isi countainer ini apaan?” Sang bapak balik menyerang Ana dengan pertanyaan.
“Hah? Apa bapak ini juga salah satu mata-mata manusia biadab itu? Kalau benar dia gak boleh tau ada bang Bima didalam countainer truk ini.” Gumam Ana dalam hati. “Oh isinya kosong kok pak.. cuma barang-barang perlengkapan soalnya kami berdua mau pindah.” Jawab Ana sambil mengisyaratkan Indah agar mengangguk.
“Boleh saya liat?” Pinta sang bapak.
“Ooo kami sekarang lagi buru-buru pak.. maaf ya.” Balas Ana yang langsung mengisyaratkan Indah untuk meninggalkan tempat ini.
Mendapat isyarat dari Ana, dengan segera Indah menghidupkan mesin mobilnya dan beranjak dari tempat itu. Dari kaca spion Ana melihat wajah sang bapak yang masih memendam kecurigaan kepadanya. Ana semakin cemas ketika melihat sang bapak mengambil ponselnya dan menelefon seseorang.
“Indah buruan.. kayaknya bapak itu salah satu mata-matanya si manusia biadab.” Pinta Ana dengan sangat cemas.
“Iya aku mau jual.. tapi kita harus pergi jauh-jauh dari sini terlebih dahulu.”
Setelah merasa cukup jauh dari toko sang bapak yang tadi Indah mencoba berkeliling dengan mobil mencari toko perhiasan. Tak lama berkeliling mereka berhasil menemukan sebuah toko perhiasan yang terlihat lagi sepi. Ana turun dari mobil dan Langsung masuk kedalam toko.
“Cari apa dek?” Tanya sang pemilik toko.
“Pak saya mau jual cincin sama kalung saya.. kira-kira bisa saya jual berapa ya?” Ucap Ana sambil menyodorkan cincin dan kalungnya.
“Hmm ini kalung emas ya.. apa kamu punya surat-suratnya.” Tanya sang pemilik toko lagi.
“Eee saya lupa bawa surat-suratnya pak.” Jawab Ana sedikit panik.
__ADS_1
“Wah kalau begitu saya gak berani beli dek.. takut nantinya kena razia.. soalnya sekarang lagi banyak kasus perampokan.. jadi para polisi hampir setiap hari melakukan pemeriksaan kepada toko-toko perhiasan.. dan nantinya jika kedapatan emas yang tanpa surat-surat bisa langsung mereka sita dek.” Jelas sang pemilik toko.
“Pak tolong lah pak.. saya lagi butuh uang pak untuk keluarga saya.” Pinta Ana dengan cara sedikit memohon.
“Hmm baiklah saya akan beli.. tapi harganya saya potong setengah bagaimana?” Balas sang pemilik toko mencoba melakukan penawaran.
“Emang saya akan dapat berapa pak?” Tanya Ana ingin tau.
“Ya setelah saya timbang kamu akan dapat 5jt saja dari cincin dan kalung kamu.. ya karena harga emas sekarang juga lagi turun.” Jawab sang pemilik toko.
Ana merasa tak ada pilihan lain dan dengan lugunya mau menerima penawaran sang pemilik toko. “Oke deh pak.. pak tapi saya mohon untuk cincin saya jangan bapak jual ya.. soalnya itu cincin pernikahan saya.. jika saya ada uang saya akan ambil lagi cincin saya.” Pinta Ana lagi pada si pemilik toko.
“Ya akan saya simpan dulu.. tapi kamu jemputnya jangan lama-lama.. takutnya nanti kelupaan.”
“Iya Oke pak.”
Ana kembali ke mobil dengan membawa uang tunai yang ia dapatkan dari menjual kalung dan cincinnya. Meski sebenarnya hatinya cukup sedih setelah melepaskan cincinnya tersebut. Tapi mau gimana lagi ia sangat membutuhkan uang saat ini.
Belum lama meninggalkan toko sebuah mobil patroli polisi tampak berjalan mendekat ke arah mereka. Tak salah lagi mobil tersebut memang sedang mengejar mereka.
“Kepada pengendara mobil truk mini dengan plat nomor ***** harap segera berhenti.. sekali lagi mobil truk mini dengan plat nomor ***** harap segera berhenti atau kami paksa berhenti.” Ucap pak polisi melalui pengeras suara yang berada di atas mobil patroli tersebut.
“Na bagaimana ini.. apa kita berhenti saja?” Tanya Indah yang kelihatan panik.
“Jangan.. kita tak bisa mempercayai siapapun saat ini.. bisa jadi mereka adalah orang-orangnya manusia biadab itu.. pokoknya jangan sampai ada yang tau tentang bang Bima sekarang.” Jawab Ana agar Indah tak berhenti.
Mobil patroli itu semakin mendekat dan mendesak mobil Ana agar segera berhenti.
“Indah.. sekarang biar aku yang nyetir.” Pinta Ana yang langsung mencoba mengganti posisi.
__ADS_1
Ada apa sesungguhnya mengapa para polisi mengejar mereka? Apa benar mereka orang suruhan Rehan?.