
Sebenarnya ini merupakan hal wajar jika Bima bersenda gurau bersama istrinya yang lain. Tapi karena Ana merasa di perlakukan tidak adil sebab itu lah ia merasa marah.
Bima mencoba bangkit dari tempat tidurnya dengan bersusah payah. "Bang jangan banyak gerak." ucap Nisa menahan tubuh Bima untuk tidak berdiri.
"Nisa.. aku harus bicara sama Ana.. tolong mengerti aku." balas Bima mencoba kembali berdiri. Dengan terpaksa ketiga istrinya itu membantu mengangkat tubuhnya. Dan dengan langkah pelan mereka menopang tubuh Bima menuruni tangga hingga sampai ke kamar Ana.
"Biarkan aku sendiri yang masuk." ucap Bima menghentikan ketiga istrinya di depan pintu kamar Ana.
Bima lalu masuk ke kamar Ana karena juga pintunya tidak dikunci. "Na.. kamu udah pulang." ucap Bima sambil menahan sakit di punggungnya.
Ana hanya duduk diam di kasur menatap kearah laut dari jendela kacanya yang terbuka. Terlihat jelas raut wajah Ana sedang tertimpa badai amarah.
Bima berjalan semakin dekat dan duduk di samping Ana. Melihat hal itu Ana langsung bergeser menjauhi Bima. Tapi Bima cukup jahil ia terus menempel di samping Ana sampai Ana tersudut di bagian kepala ranjang. Ana kesal dan semakin cemberut dia berdiri dan memilih duduk di lantai. Tapi Bima terus mengikuti gerakannya.
"Na ada apa? cobalah untuk cerita." ucap Bima memegang pundak Ana.
"Aku mau tanya.. apa tujuan mu sebenarnya menikahi ku?" tanya Ana dengan nada suara agak berat.
"Bukannya kamu tau.. kalau aku menikahi seseorang karena tertarik dan ada rasa suka padanya." jawab Bima menatap wajah Ana.
Ana membalas tatapan mata Bima dengan tajam. "Ya benar.. tapi itu untuk istri mu yang lain bukan aku." ucap Ana dengan sedikit air mata yang berlinang.
__ADS_1
"Apa maksud mu?" tanya Bima sedikit bingung.
"Apa bedanya aku dengan istrimu yang lain!!! kenapa mereka boleh ada disini menemanimu sedangkan aku harus kerja menggantikan mu di luar sana.. peran ku bukan hanya sementara tapi akan berlanjut seterusnya.. seharusnya jika kau butuh seorang asisten untuk menggantikan mu bilang saja dari awal!!! tak usah repot-repot menikahi ku!!! seperti kata bang Ajis.. kau punya bakat.. bakat untuk menggantikan posisi mu jika kamu sedang berhalangan.. itu kan tujuanmu menikahi ku?.. maaf saja aku tak butuh uang mu!!!" jawab Ana sambil marah-marah.
"Na.. kenapa engkau sampai berpikiran sampai demikian?.. Na tenang lah jangan sampai termakan emosi." ucap Bima memegang kedua bahu Ana.
"Aku tidak bodoh!! bagaimana mungkin jika ini bukan tujuan mu menikahi ku.. aku belum sampai seminggu bersamamu tapi sudah kau percayakan perusahaan mu padaku.. Sedangkan tiga istrimu yang lain tidak pernah sekalipun kau bolehkan bekerja!!! apa itu adil?" balas Ana semakin termakan amarah.
"Na.. kamu itu salah paham.."
"Keluarlah sekarang!!" ucap Ana pelan.
"Na..."
Mendengar teriakan dan tangisan Ana, Bima langsung menuruti kata Ana. Ia terus berjalan mundur menghadap ke arah Ana.
"Na.. kamu salah paham." ucap Bima dalam hati.
Bima melangkah keluar dari kamar Ana. Disana masih menunggu ketiga istrinya yang lain.
"Bang.. Ana kenapa dia?" tanya indah sambil segera menopang tubuh Bima dibantu juga oleh Rahma.
__ADS_1
"Ana sedang butuh waktu.. jadi biarkanlah dia menenangkan diri." jawab Bima dengan ekspresi wajah seperti orang yang merasa bersalah.
Nisa yang menyaksikan ekspresi wajah Bima itu mulai merasa iba. Dia yang sedang sakit dan butuh perhatian malah diteriaki istrinya karena salah paham. Nisa mulai sedikit kesal terhadap Ana.
"Rahma, Indah.. bawa bang Bima ke kamarnya.. aku mau bicara dulu sama Ana. perintah Nisa yang kemudian masuk ke kamar Ana.
Ana sempat menoleh tapi kembali tertunduk memeluk kedua lututnya. Ia sedang tak ingin bicara dengan siapapun.
"Apa kau disuruh Gashar untuk bersandiwara dan membujukku." ucap Ana mendengar suara telapak kaki Nisa yang mendekat.
Dengan sangat brutal Nisa menarik kepala Ana dan menamparnya dengan keras. Ana langsung terkapar walau hanya dalam hitungan detik kembali berdiri dan mencoba membalas tamparan Nisa.
Nisa menangkis tamparan Ana dan menahannya. "Jangan pernah menghujat suami ku!!" ucap Nisa dengan garang.
Kemudian Nisa sekuat tenaga mendorong Ana hingga kembali membuatnya terjatuh.
"Betapa malangnya suamiku yang diam-diam sangat mencintaimu.. asal kau tau.. semua ini adalah sarannya bang Ajis.. dia yang mengatur semuanya.. karena dia melihat bahwa kamu bisa menggantikan posisi suami ku jika berhalangan dan kamu juga bisa membawa suamiku menuju puncak kejayaannya.. tapi dengan keras suami ku menolak hal itu.. walau lama kelamaan akhirnya bang Ajis berhasil membujuk suamiku untuk menyetujui sarannya.. belum lima menit kamu meninggalkan rumah dia sudah mondar-mandir dari kamarnya sampai ke halaman rumah.. perasaannya tak tenang.. dia khawatir kan kamu.. bahkan dia nekat mencoba menyusul mu.. karena itu kami bertiga berkumpul menemaninya di kamar untuk menenangkannya... tapi setelah kamu pulang kamu malah meneriakinya..
Seumur hidupku jangankan berteriak, berkata dengan nada tinggi saja aku belum pernah padanya.. jadi jika sekali lagi kau meneriaki suami ku aku tidak hanya akan menamparmu tapi akan membunuhmu.. camkan itu." Ucap Nisa menceritakannya panjang lebar.
Ucapan Nisa benar-benar membuat hati Ana tersentak. Perasaan bersalah mulai ia rasakan. Dengan penuh penyesalan ia berdiri dan mengejar Bima ke kamarnya.
__ADS_1
Dia menerobos pintu kamar Bima lalu dengan segera memeluk Bima dengan erat.
"Maafkan aku!"