4 Istri

4 Istri
Ch 15 Pertengkaran


__ADS_3

Ketika Bima, Indah dan Ana hampir menyelesaikan sarapannya Nisa dan Rahma kembali ke meja makan. Kedua mata Rahma masih bengkak karena menangis. Bima yang memperhatikan itu mulai khawatir.


"Semuanya,, tinggalkan aku dengan Rahma disini.. aku ingin bicara berdua dengannya." perintah Bima dengan tegas.


Nisa, Indah dan juga Ana segera meninggalkan meja makan. Ketika Ana hendak menuju kamarnya, Nisa langsung menarik tangan Ana.


"Ana ikut aku dulu!" kata Nisa sambil menuju lantai atas.


"Ada apa kak?" tanya Ana penasaran.


"Udah ikut aja dulu." jawab Nisa sambil menaiki anak tangga.


Disisi lain, Rahma terus menunduk tanpa menoleh kearah Bima. Bima tau Rahma sedang merasa cemburu terhadap Ana, jelas terlihat dari cara pandang Rahma terhadap Ana dari awal.


"Rahma.. kamu harus tau.. semua yang hidup di rumah ini adalah orang yang sangat aku sayang.. tak ada perbedaan dari mereka di mataku.. dan juga tak ada orang yang perlakuan yang lebih sepesial dari yang lain.. dan ingat juga, bahwa aku menikahimu karena aku sangat menyayangimu.. aku mohon jangan ada cemburu terhadap istriku yang lain." kata Bima mencoba menasehati.


Rahma kembali menangis karena tak tahan lagi dengan perasaan dan unek-unek yang selalu ia pendam. Sedangkan di atas Ana merasa tak enak ketika Nisa terus menarik tangannya.


"Kak.. gak usah berlama-lama.. kak Nisa mau apa? bilang aja!" bentak Ana dengan keras sambil melepaskan tangannya dari genggaman Nisa.


"Ana gak usah marah.. aku cuma mau bilang bahwa Rahma cemburu dengan kamu.. jadi aku mau kamu jaga sikap didepan dia." balas Nisa dengan lembut.

__ADS_1


"Sikap apa yang harus aku jaga?.. aku gak pernah menggoda suaminya.. aku gak pernah mau menikahi suaminya.. dan aku juga gak mau ada disini!!" Ana semakin marah.


"Ana tenang.. aku gak bermaksud menyinggung perasaan kamu.." balas Nisa menenangkan Ana.


"Udah lah kak.. ini bukan salah kak Nisa juga.. tapi ini gak bisa dibiarin.. aku harus bicara sama laki-laki biadab itu." kata Ana sambil berlari menuruni anak tangga.


"Ana jangan!" kata Nisa sambil mengejar Ana.


Indah yang mempunya karakter yang lemah hanya bisa terdiam melihat Ana yang sangat marah dia pun turut mengikuti Ana dan Nisa. Ana berjalan sangat cepat dengan emosi yang sudah meledak.


"Heh laki-laki biadab.. sekarang aku mau tanya sama kamu!!" kata Ana ketika menghampiri Bima. "Aku mau tanya sebuah pertanyaan yang mungkin istri-istrimu tak berani menanyakannya... kamu bilang kamu sangat menyayangi mereka.. kamu bilang mereka spesial di hati kamu.. tapi kenapa kamu terus menikah dan menikah lagi? apa tak cukup bagimu dengan hadirnya satu wanita dihidupmum.. dan kenapa kamu tega menikahiku yang sebenarnya tak mau menikah denganmu?" tanya Ana yang semakin meninggikan nadanya.


Dengan sigap Nisa kemudian menarik mundur Ana. "Ana.. aku mohon tenang dulu." bujuk Nisa yang juga sudah meneteskan air mata melihat keributan ini.


"Kak lepasin aku.. aku sangat ingin bicara dengannya!!" kata Ana sambil memberontak melepaskan pelukan Nisa dari belakang.


"Nisa.. lepaskan dia." perintah Bima sambil berdiri dari kursi meja makan. "Ya... aku ini memang egois dan merasa tak pernah cukup .. tapi kamu tau kenapa? karena dari kecil aku tak memiliki satupun orang yang aku sayang.. bahkan dari bayi aku tak pernah melihat ibuku. Aku hanya hidup bersama ayahku yang satu-satunya orang yang kusayang. Tapi ketika aku baru berumur lima tahun aku juga kehilanganya. Perasaanku benar-benar terluka dan aku sangat kesepian.. jadi dalam hidupku sekarang aku kumpulkan setiap orang yang ku sayang, aku jaga dan aku satukan mereka.. kenapa? karena aku takut kehilangan.. dengan memiliki banyak orang yang disayang maka luka kehilangan satu orang masih bisa terobati!!" kata Bima dengan air yang berlinang dimatanya.


"Dan memang hanya kamu yang ku paksa menikah denganku.. aku tak tau bagaimana perasaan mu terhadapku yang jelas kamu adalah cinta pertama ku." tambah Bima dalam hati.


Ana sebenarnya cukup sedih mendengar kata-kata Bima tapi itu tidak menyurutkan emosinya.

__ADS_1


"Seperti katamu... alasanmu pun juga sangat egois.. apa kamu tak pernah berfikir bagaimana jika kami yang kehilangan dirimu? dapatkah kami mencari penggantimu? apakah kami nantinya juga tidak akan kesepian?" tanya Ana lagi yang masih marah.


"Ketika kalian kehilanganku maka aku tak akan melarang kalian mencari penggantimu.. bukankah aku juga belum menyentuh kalian?" balas Bima sambil mencoba menenangkan diri.


"Tapi sampai kapan kamu tetap membiarkan istrimu seperti ini?" tanya Ana lagi dengan emosi yang sedikit mereda.


"Sampai kita semua aman." jawab Bima sambil menatap semua wajah istrinya.


"Aman?.. emang apa yang mengancam kita bang? dan apa nantinya kami bisa kehilangan abang? jadi itu alasan abang belum menyentuh kami? kenapa abang tak pernah bilang sebelumnya?" tanya Rahma yang mulai menegakkan kepalanya.


"Iya.. aku tak tau apakah aku akan selamat dari bahaya itu atau tidak dan mungkin sebentar lagi kalian akan tau tentang bahaya itu!" jawab Bima yang mulai tenang.


"Kenapa?.. kenapa kamu juga menikahi kami ketika kamu tau kehidupanmu dan orang disekitarmu ada dalam bahaya?" tanya Ana yang mencoba menekan emosinya.


"Aku benar-benar minta maaf.. tapi kamu tau kenapa? Karena aku juga ingin memiliki masa indah bersama orang yang aku sayang sebelum aku mati." balas Bima sambil menundukkan kepala.


"Tegakkan kepalamu!! aku tak suka laki-laki pengecut.. dan karena kamu sudah menikahi kami.. maka kamu harus tanggung jawab.. kamu harus tetap hidup untuk kami dan singkirkan semua bahaya yang kamu maksud!!.. satu lagi sekarang kamu harus berjanji padaku bahwa kamu tak akan menikah lagi dan aku adalah yang terakhir.. jika kamu tak ingin berjanji maka ceraikan aku sekarang!!" kata Ana dengan tegas.


"Baiklah aku berjanji tak akan menikah lagi.. dan aku akan coba untuk terus bersama kalian sampai kapanpun." balas Bima menatap wajah Ana.


Suasana yang ribut kini sudah terkendali. Ana pun juga sudah mulai tenang. Bima kemudian memeluk istrinya satu persatu. Termaksud Ana yang mulai mencoba menerima Bima menjadi suaminya.

__ADS_1


__ADS_2