4 Istri

4 Istri
Ch 47 Bertemu Kembali


__ADS_3

“Ada apa kak?” Tanya Ana setelah masuk ke kamar Nisa.


“Bang Bima udah sadar Na.” Jawab Nisa sambil mencoba mendudukkan Bima.


“Syukurlah.” Ucap Ana Indah dan Rahma serempak.


Ana mengambil sebotol minuman kemasan lalu meminumkannya ke Bima yang masih sempoyongan. Kepalanya masih pusing dan masih belum bisa mengucapkan apapun. Kemudian Bima kembali terbaring dengan perlahan.


“Kak Nisa.. biarkan bang Bima istirahat terlebih dahulu.. aku yakin kondisi tubuhnya masih belum membaik.”


Nisa mengangguk mengisyaratkan setuju dengan ucapan Ana. Ia menyelimuti Bima dan membiarkannya untuk kembali beristirahat.


“Kalian semua tunggu disini dulu.. aku akan keluar membeli makanan.. aku yakin kalian semua sangat lapar.” Sahut Ana yang hendak keluar kamar.


“Kenapa gak kita masak aja Na?” Tanya Indah sambil mencoba memberi saran.


“Ide bagus.. kalau begitu kamu ikut aku Ndah.. kita akan ke pasar.. sekalian kita bawa tabung gas yang di dapur.” Balas Ana setuju dengan saran Indah.


“Oke.. tapi pakaian ku gimana?”


“Udah pake itu aja.. kita ke pasar tradisional kok bukan ke mall.”


“Hah? Iya tapi, ah ya sudah lah.” Indah pasrah.


Ana menghidupkan mesin mobilnya dan langsung berangkat ke pasar. Ana tampak santai sedangkan Indah mulai merasa berat hati. Baju daster lusuh yang ia kenakan membuat tampilannya seperti seorang emak-emak. Tapi apalah daya karena ia tak punya sehelai pakaian pun saat ini.


Perasaan Indah semakin berkecamuk ketika sampai di pasar. Para bapak-bapak pedagang terus memperhatikan mereka berdua. Ana tetap berjalan santai merasa tak peduli, tapi Indah sangat risih dan malu terhadap perhatian orang-orang di pasar.


“Na.. kita beli apa aja.. ayo cepetan.” Bisik Indah meminta Ana bergegas.


“Indah.. udah santai aja.. jangan pedulikan mereka.” Balas Ana dengan tegas.


Ana terus berjalan dan akhirnya berhenti di depan meja penjual ayam potong. “Ayamnya berapa potong kak?” Tanya penjual ayam potong yang kelihatan masih muda.


“Setengah aja bang.” Jawab Ana pada si penjual.

__ADS_1


Si penjual lalu membungkus setengah potong ayam tersebut lalu menyodorkan pada Ana. “Ini kak ayamnya.” Ucap si penjual.


“Berapa bang?”


“24 ribu kak.”


Ana menyodorkan uang selembar pecahan lima puluh ribu kepada si penjual. Setelah menerima kembalian Ana lanjut membeli beberapa bahan makanan lainnya. Tak lupa ia membeli minyak goreng dan beberapa bumbu masakan. Setelah semuanya terbeli mereka kembali ke mobil.


“Astaga iya aku lupa beli beras.” Ucap Ana ketika baru saja sampai di dekat mobil. “Ndah.. ini semua kamu masukan ke mobil.. abis itu, selagi nunggu aku.. kamu tukarkan tabung gas ini ke toko ujung jalan ini.. nih uangnya.” Perintah Ana pada Indah.


“Na berdua aja yuk.. aku gak pede pakai baju ini jalan sendirian.”


“Indah.. jangan manja.. gak bakalan ada yang ngetawain kamu.. kamu tenang aja.. kamu pakai pakaian apa pun tetap cantik dan menawan kok.”


“Ya udah.. iya.”


Ana kembali masuk ke pasar mencari pedagang beras. Cukup jauh Ana berjalan karena orang yang menjual berada di los pasar paling ujung.


“Pak.. beras sekarung ini berapa pak?” Tanya Ana pada si penjual beras.


“130 ribu dek.” Jawab bapak pedagang beras.


“Oh iya bisa.”


Ana lanjut berjalan bersama bapak pedagang beras yang mengiringnya dari belakang. Di tengah pasar langkah Ana terhenti melihat begitu banyak aparat polisi berjalan bersama orang-orang yang menggunakan jas hitam. Ana tersentak dan jantungnya berdebar kencang. Traumanya terhadap para polisi kemarin yang mengejarnya masih belum menghilang. Ia sedikit takut dan mencoba bertanya kepada bapak pedagang.


“Pak.. itu polisi ngapain rami-rami di pasar pak.”


“Oh itu pak bupati yang baru datang kemari.. katanya mau merenovasi pasar.”


“Syukurlah.” Ana sedikit lega. “Pak bupatinya yang mana ya pak?” Tanya Ana melihat-lihat sekumpulan manusia berpakaian rapi tersebut.


“Itu yang paling muda.. masak kamu gak tau.. padahal dia sangat terkenal di kalangan Anak gadis sekarang loh.” Jawab si bapak pedagang sambil menunjuk ke arah seorang pemuda yang membelakanginya.


Ana terus melirik karena sangat penasaran dengan wajah sang bupati baru. Tiba-tiba sang bupati muda itu berbalik menghadap ke arah Ana. Ana terkejut bukan main ketika melihat wajah sang bupati. Begitu juga sebaliknya sang bupati juga sangat terpaku menatap wajah Ana.

__ADS_1


“Pak ayo jalan.” Perintah Ana dengan langkah jalan yang sangat cepat.


“Dika? Apakah benar sang bupati muda itu adalah Dika? Astaga apakah dia masih mengenali ku barusan? Ah semoga aja tidak.” Gumam Ana dalam hati.


Perasaan Ana mulai berkecamuk antara rasa bersalah dan takut. Ia sungguh tak ingin Dika tau tentang kehadirannya kembali di kota ini. Ia terus mempercepat langkahnya yang tanpa ia sadari itu membuat bapak si pedagang beras kewalahan mengikuti langkahnya.


“Ana...” tiba-tiba terdengar sahutan orang memanggil namanya.


Ana memutar badannya melihat Dika berlari menghampirinya. Jantung Ana semakin menggebu-gebu. Perasaannya terombang ambing seperti di terpa badai. Ia sungguh tak tau apa yang akan di katakan Dika padanya sekarang. Marah, rindu, atau hanya sekedar sapa. Dika semakin dekat dengan Ana diikuti puluhan pasang mata yang menyaksikan kejadian tersebut.


“Ana.. kamu kapan pulang dan kenapa tadi pergi begitu saja pas liat aku.”


“Hah.. ee Dika.. aku mau segera pulang untuk masak.” Jawab Ana dengan sangat grogi.


“Oh.. ya udah.. nanti malam main ke rumah ya.. ibu sama ayah ku pasti senang lihat kamu pulang.. aku mau lanjut survei pasar dulu.. dahh.” Balas Dika berbalik kembali melanjutkan pekerjaannya.


“Syukurlah ia tak banyak bertanya.”


Perasaan Ana semakin menjadi tidak enak. Mendengar ucapan Dika yang seperti masih berharap dengannya membuat hatinya menjadi tak tenang. Ana takut jika nanti Dika bisa patah hati dan orang tua Dika yang pernah baik padanya juga akan marah terhadapnya.


“Oh kamu kenal sama bupati muda itu nak.” Tanya si pedagang beras yang menyaksikan semua secara langsung dari dekat.


“Cuma teman lama pak.”


“Tadi dia bilang di suruh main ke rumah.. berarti dulu kalian sangat dekat ya.”


“Astaga ini bapak kok kepo amat ya?” Gumam Ana dalam hati. “Iya ayo cepat pak.. keluarga saya udah kelaparan nunggu saya.” Ana mengalihkan suasana tak mau menjawab pertanyaan si bapak.


Indah sudah menunggu dan membuka bagasi belakang mobil. Baru saja sampai Ana langsung memerintahkan si bapak menaruh karung beras tersebut di dalam bagasi. Setelah dipikir semuanya beres Ana pun menutup bagasi.


“Terima kasih pak bantuannya.” Ucap Ana segera masuk ke mobil.


Indah melihat seperti ada yang lain dari Ana. Tampak jelas ekspresi wajah Ana benar-benar berubah dari sebelumnya.


“Na.. kamu baik-baik aja kan?”

__ADS_1


“Hah? Ya aku baik-baik aja kok Ndah.”


Ana menghidupkan mesin mobilnya dan langsung tancap gas meninggalkan pasar.


__ADS_2