
Hari yang sulit untuk Bima dan keempat istrinya. Ana dan Inda yang telah meninggalkan kantor polisi langsung kembali ke jalan dimana ia menurunkan Bima dan dua istrinya yang lain. Namun di sepanjang jalan tersebut mereka tak menemukan tanda-tanda keberadaan Bima dan dua istrinya itu.
“Indah.. terus perhatikan semua toko di pinggiran jalan ini.. jangan sampai mereka terlewatkan oleh kita.” Perintah Ana sambil terus memperhatikan sisi kiri dan kanan jalanan.
“Baik Na.” Balas Indah singkat.
Ternyata cukup sulit untuk bisa kembali menemukan keberadaan Bima dan dua istrinya tersebut. Tidak ada lagi alat untuk menghubungi mereka. Selama satu jam Ana dan Indah mondar-mandir di jalan tersebut, tapi masih belum menemukan mereka. Merasa lelah akhirnya Ana memberhentikan mobilnya di tempat ia menurunkan Bima dan dua istrinya, kemudian Ia meminta Indah untuk bertanya pada orang-orang yang berada disana.
Indah segera turun dari mobil dan menghampiri seorang pedagang yang berjaga di sebuah toko di pinggiran jalan itu.“Buk.. ibuk tadi liat gak ada laki-laki yang lagi sakit wajahnya pucat sedang dipapah oleh dua orang wanita.” Tanya Indah pada penjaga toko itu.
“Oh ya saya liat.” Jawab ibuk itu yang membuat Indah sedikit lega.
“Kira-kira mereka pergi kemana ya buk?” Tanya Indah lagi.
“Kalau gak salah mereka terus jalan lurus kesana.. tapi ibuk gak tau pastinya mereka kemana.” Jawab ibuk itu menunjuk lurus ke arah kiri dari tempat mereka menurunkan Bima dan kedua istrinya tersebut.
“Terima kasih buk informasinya.” Ucap Indah langsung kembali ke mobil.
“Gimana Ndah? Apa kata ibuk itu.” Tanya Ana ketika Indah baru masuk ke mobil.
“Kata ibuk itu mereka jalan lurus terus kesana.. tapi gak tau pastinya kemana.” Jawab Indah pada Ana.
“Kita kan sudah telusuri jalan ini Ndah.. apa mungkin mereka ke suatu tempat?” Pikir Ana mulai merasa khawatir.
“Bisa jadi.. Mungkin mereka pergi ke rumah sakit Na.. soalnya tadi aku liat ada rumah sakit di sebelah kiri tak jauh dari sini.” Ucap Indah yang memilki firasat tak enak dengan kondisi tubuh Bima.
“Baiklah kita coba cek kesana.” Balas Ana kembali melajukan kembali kendaraannya.
Tebakan Indah benar. Baru saja mereka masuk rumah sakit tersebut, dari luar ruang UGD Rahma langsung memanggil mereka. Tampak wajah Rahma sangat khawatir dan takut. Air matanya pun sedikit berlinang. Mungkin suatu hal buruk sedang terjadi.
__ADS_1
“Ada apa kak? Ada apa dengan bang Bima? Dan kak Nisa mana?” Tanya Ana merasa khawatir.
“Mereka berdua sedang di rawat Na.” Jawab Rahma yang langsung menangis.
“Mereka berdua kenapa kak?” Tanya Ana lagi sambil memegang kedua pundak Rahma.
“Kata dokter bang Bima mengalami infeksi pada lukanya.. sejumlah daging pada sekitaran lukanya membusuk.. terpaksa sekarang bang Bima harus di operasi agar infeksi tak menjalar ke seluruh tubuhnya.. dan sedangkan Nisa harus kembali dirawat karena tubuhnya kian melemah dan terjadi pendarahan dari rahimnya.
Ana tertunduk mendengar penjelasan Rahma“Tuhan cobaan macam apakah ini?” Keluh Ana mulai ikut menangis.
Tak sanggup Menahan kesedihan, mereka pun berpelukan dan berdoa untuk keselamatan Bima dan Nisa. Cukup membuat hati mereka hancur. Bagaimana tidak, selama ini mereka hidup dalam kebahagiaan dan tanpa beban. Mereka tidak siap dalam cobaan yang menimpa mereka. Oleh karena itu tak ada dari mereka yang kuat menahan kesedihan yang mereka rasakan ini.
Setelah setengah jam mereka bertiga duduk termenung di ruang tunggu rumah sakit tersebut. Perut mereka mulai terasa sangat lapar karena memang sudah sehari penuh mereka belum makan apapun.
“Apa kalian lapar?” Tanya Rahma melihat Indah dan Ana yang sedang memegangi perut mereka.
“Hmm iya kak.” Jawab Indah pada Rahma.
***
Disisi lain secara tak terduga ternyata seorang kaki tangan Rehan yang bernama Roki telah sampai di kota ini. Rehan memang telah menyebar seluruh pasukannya ke seluruh kota di negeri ini demi mencari keberadaan Bima.
Tak lama berkeliling di kota ini, secara tak sang aja salah seorang pasukan Rehan melihat mobil truk yang dikendarai Ana untuk kabur terparkir di halaman kantor polisi. Dengan segera mereka berhenti dan turun untuk memeriksa mobil truk tersebut.
“Bos.. benar ini mobil mereka.. plat nomornya sama persis bos.” Ucap salah seorang dari mereka kepada Roki.
“Kalau begitu ayo kita masuk kedalam.” Ajak Roki kepada seluruh pasukannya.
Melihat begitu banyaknya orang yang masuk ke kantor polisi tersebut, sang inspektur langsung keluar dari ruangannya. “Hei.. siapa kalian? Berani-beraninya masuk seenaknya ke kantor saya.” Ucap sang inspektur tersebut.
__ADS_1
Roki berjalan menghampiri sang inspektur. “Mana orang yang mengendarai mobil truk yang terparkir di halaman depan kantor mu?” Tanya Roki pada sang inspektur.
“Oh nyonya Ana.. mereka sudah kembali ke kediaman mereka kok.. maaf kalau saya tak bisa menemani mereka pulang.” Ucap sang inspektur mengira mereka adalah anak buahnya Bima.
“Dengan apa mereka pergi?” Tanya Roki lagi pada sang inspektur.
“Dengan mobil sedan pak Joko yang mengelola salah satu perusahaan Gashar disini.” Jawab sang inspektur.
“Sudah berapa lama mereka pergi?” Roki bertanya lagi dengan memberikan tatapan tajam.
“Baru sekitar dua jam yang lalu.” Jawab inspektur merasa ada yang janggal.
“Berarti mereka pasti belum terlalu jauh.. dengar wahai inspektur.. sekarang seluruh kekuasaan Gashar sudah jatuh ke tangan adik tirinya.. saat ini Gashar dan seluruh istrinya adalah buronan kami.. jika kamu mau bekerja sama dengan kami untuk menemukannya dikota ini maka kamu akan kami beri imbalan.” Jelas Roki pada sang inspektur.
Sang inspektur cukup terkejut mendengar penjelasan Roki. Ini membuatnya menyesal telah melepaskan Ana begitu saja. Dengan sangat bersemangat ia setuju bekerja sama dengan Roki. Selain akan mendapat imbalan ia juga bisa membalaskan dendamnya terhadap pukulan Ana di wajahnya.
Sejumlah mobil polisi kembali berpatroli menyelusuri ke seluruh penjuru kota di ikuti Roki beserta pasukannya mencari keberadaan Bima dan keempat istrinya tersebut. Beruntung Rahma yang sedang membeli makanan di sekitar rumah sakit melihat Roki yang mengendarai mobil jip yang biasa di pakai pasukan Bima.
Rahma segera sadar bahwa itu pasti anak buahnya Rehan. Dengan cepat Rahma kembali ke rumah sakit dan memberitahu semuanya pada Ana.
“Ana.. kita harus segera tinggalkan tempat ini.” Ucap Rahma yang tampak sangat panik.
“Kenapa kak? Bang Bima masih dirawat.. bagaimana mungkin kita akan tinggalkan tempat ini.” Tanya Ana merasa penasaran.
“Dengarkan aku Na.. manusia biadab itu telah mengirim orang-orangnya sampai dikota ini.. sepertinya mereka tau keberadaan kita.. aku juga melihat banyak mobil polisi yang ikut bersama mereka.” Jelas Rahma sambil memegang pundak Ana.
“Apa kamu yakin yang kamu lihat adalah orang-orangnya manusia biadab itu?”
“Sangat yakin Na.. aku tau persis mobil jip bang Bima itu seperti apa.. mereka yang aku liat mengendarai mobil itu.”
__ADS_1
Apa yang akan mereka lakukan di saat seperti ini. Suami mereka masih di operasi dan istri pertama suami mereka juga masih di rawat. Bagaimana cara mereka akan selamat dari kejaran orang-orang Rehan yang mungkin akan segera menemukan mereka. Yang bisa mereka lakukan hanyalah berdoa agar Tuhan menyelamatkan nyawa mereka lagi.