
Wajah Ana memerah antara panik dan malu. Foto siapa yang disembunyikannya? Rasa penasaran membuat Rahma sekuat tenaga mengangkat tangan Ana yang menutupi foto tersebut.
“Wah ini kamu sama siapa Na? ganteng banget Na.. mantan kamu ya?” Tanya Indah pada Ana sekaligus kagum melihat foto siswa yang berdiri di samping Ana.
“Jangan di liatin.. dia bukan siapa-siapa kok.” Jelas Ana sambil membalikkan lembaran album foto tersebut.
“Ayo lah Na.. cerita sama kami.. kami janji tidak akan menceritakan pada bang Bima.” Bujuk Indah memaksa Ana untuk bercerita.
“Janji ya.. gak bakal cerita aneh-aneh sama bang Bima.”
“Iya janji.” Ucap Rahma dan Indah serempak.
“Namanya Dika. Satu angkatan di atas ku. Banyak yang bilang dia murid paling ganteng di sekolah ku dulu. Dia juga siswa berprestasi dan terpandang. Ayahnya seorang Mayor Jendral angkatan darat. Ibunya seorang direktur bank. Rumahnya pun juga berada di area kompleks ini.”
“Tunggu.. rumahnya juga di kompleks ini.. berarti bisa CLBK dong.. hahaha.” Sela Indah memotong pembicaraan.
“Ih Indah jangan ngomong aneh-aneh.. aku kan udah jadi istri bang Bima.” Balas Ana sedikit kesal.
“Hahaha iya iya.. ya udah lanjut.”
“Awal aku kenal dia ketika aku kelas sepuluh dan dia kelas sebelas. Waktu itu aku sedang menunggu bus di gang depan. Tiba-tiba dia lewat dan berhenti tepat di hadapanku dengan sepeda motornya. Lalu dia tanya ‘lagi nunggu bus ya?’ belum sempat aku jawab terus dia bilang ‘ayo barengan’. Karena merasa lumayan dapat tumpangan gratis aku pun naik ke sepeda motornya.
Sumpah aku merasa malu setengah mati ketika akan sampai di sekolah. Seluruh murid di sekolah melirik ke arahku. Aku tau tau mau kemana akan ku sembunyikan wajahku saat itu. Yang aku lakukan hanya membatu mencoba tak memperdulikan mereka yang menatapku.”
__ADS_1
“Ya iya lah pasti banyak yang iri Na.” Potong Rahma.
“Kalau cuma iri tak masalah kak, tapi aku sungguh tak menyangka ketika ada kakak kelas yang melabrak ku di saat jam istirahat. Dia menginterogasi ku bersama teman-temanya. Aku jawab semua pertanyaan mereka dengan jujur. Akhirnya mereka Melepaskan ku dengan syarat untuk tak pernah dekat-dekat lagi dengan Dika. Karena takut aku pun menyetujuinya.
Namun, semakin aku menjauhi Dika malah semakin dia mendekati ku. Aku tak bilang bahwa ada kakak kelas yang melarang aku dekat dengannya, tapi aku berbohong dengan bilang bahwa ibuku tak ingin aku dekat dengan anak laki-laki.
Sampai aku terkejut entah bagaimana cara ia bisa datang ke rumah ini. Ia juga tau makanan kesukaan ibu ku. Ia ramah dan sopan. Tutur cara bahasanya membuat ibuku senang. Aku mengintip mereka dari dalam kamar ketika Dika bertanya pada ibuku.
‘Bu.. apa aku boleh berteman dengan Ana?’
Ibuku bingung dan balik bertanya. ‘Bukannya kalian sudah temenan?’
‘Belum bu.. soalnya kata Ana, ibu gak bolehin Ana dekat sama anak laki-laki.’ Jelas Dika pada ibuku.
Dika termenung mendengar penjelasan ibuku. Dia seperti memikirkan sesuatu. Setelah itu dia berpamitan pulang pada ibuku dan aku.”
“Gitu aja Na?” Potong Rahma lagi.
“Masih belum kak.. kalian tau? Besoknya ketika aku datang ke sekolah langsung pagi itu kakak kelas yang melabrak aku datang meminta maaf. Tampak jelas ia seperti habis menangis. Cara minta maafnya pun juga tak ikhlas. Aku yakin di pasti habis di marahin Dika.
Waktu jam istirahat aku sangat penasaran dan mencoba mencari tau tentang kakak kelas yang melabrak ku itu. Namanya Rosa dan ternyata dia adalah mantanya Dika. Dia putus sehari sebelum aku berboncengan dengan Dika ke sekolah. Itu alasan mengapa dia melabrak ku karena mengira aku selingkuhannya Dika.” Ana berhenti bercerita sambil melihat fotonya yang berdua dengan Dika itu.
“Abis itu Na?” Tanya Indah mulai penasaran.
__ADS_1
“Sepulang sekolah aku temui Dika dan bertanya langsung padanya tentang Rosa. Benar itu adalah mantannya. Aku merasa sakit hati ketika dia berkata bahwa ia memutuskan Rosa karena sudah tak ada perasaan dengannya. Aku berpikir bahwa dengan mudahnya ia mempermainkan perasaan seorang wanita dengan ketampanan dan ketenarannya. Dan saat itu juga aku berkata padanya bahwa aku tak mau punya seorang teman yang suka mempermainkan perasaan orang lain.”
“Jika begitu kenapa di foto ini kamu kelihatan dekat dengannya?” Tanya Rahma pada Ana.
“Semenjak itu dia seperti berubah drastis. Aku tak tau pasti tentang alasannya untuk berubah. Entah itu karena ucapanku atau karena hal lain. Ia menjauhi seluruh wanita disekolah kecuali aku. Biasanya waktu jam istirahat dia selalu duduk dengan di kelilingi banyak wanita sambil bermain gitar. Tapi setelah itu ia hanya selalu membuntuti ku kemanapun aku pergi. Aku ke kanti dia juga ada di kantin. Aku ke perpus dia juga ada di perpus. Aku di kelas dia juga ada berdiri di depan kelas ku.
Nilai sekolahnya juga menurun. Ketika kelas satu dia merupakan siswa juara umum sekolah. Tapi nilai ujian tengah semester pertama kelas sebelasnya cukup parah. Dia berada di peringkat dua puluh dari tiga puluh siswa di kelasnya. Membuat seluruh guru merasa tak percaya akan hal itu.
Orang tuanya datang langsung ke sekolah dan menemui wali kelasnya Dika untuk mempertanyakan tantang nilai anaknya itu. Dika sendiri tak mau menjelaskan apa masalahnya kepada kedua orang tuanya. Wali kelasnya pun juga tak tau. Sampai akhirnya teman dekatnya Dika yang bernama Andi bilang bahwa Dika sedang patah hati karena aku.”
“Terus Na?”
“Waktu itu aku juga dipanggil untuk menemui wali kelas dan orang tuanya Dika. Aku takut setengah mati. Lutut ku gemetaran. Wajah ayahnya Dika cukup sangar, tapi untung wajah ibunya cukup lembut. Disana aku di tanyai tentang hubungan ku sama Dika. Aku jawab bahwa aku sama Dika cuma sebatas saling kenal. Mendengar ucapanku Dika langsung pergi begitu saja.
Wali kelasnya Dika menatap mataku tajam. Yang aku takutkan saat itu adalah masalah ini juga mempengaruhi nilai ku yang juara 1 di kelas. Aku ingin mempertahankan juaraku agar dapat beasiswa di kelas sebelas.”
“Terus wali kelasnya Dika sama orang tuanya bilang apa sama kamu?” Tanya Indah yang asik menyimak cerita Ana.
“Mereka bilang bahwa aku harus jadi temannya Dika dan juga membantu Dika belajar.” Jelas Ana seperti sedikit kesal mengingat momen itu.
“Hahaha untung gak di jodohin disana Na.” Balas Indah tertawa. “Habis itu Na.”
“Ya aku tolak lah. Bagaimana mungkin siswa kelas sepuluh membantu siswa kelas sebelas belajar? Kan gak logis. Tapi wali kelas dan orang tuanya Dika terus memaksa. Sungguh waktu itu aku merasa seperti anak kecil yang di bujuk-bujuk dengan permen. Segala cara mereka lakukan untuk membujuk ku bahkan mereka mau memberi apa saja yang aku mau agar aku mau dekat dengan Dika. Merasa jenuh dengan mereka yang tak henti membujuk ku akhirnya aku mau menerima tawaran mereka dengan syarat yang harus di penuhi Dika.”
__ADS_1